Kamis, 5 Nov 2026
light_mode

Lahirnya Generasi Stres

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Minggu, 28 Nov 2010
  • print Cetak


MEDAN :Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait mengatakan, ketidaktahuan orang tua dalam

mendidik anak sering menyebabkan lahirnya “generasi stres”.

“Karena melupakan hak anak, tanpa sadar kita melahirkan `generasi stres`,” katanya dalam seminar “Anakku Masa

Depanku” yang diselenggarakan Blessing Community dan Dinas Pendidikan Kota Medan di di Medan, Sabtu 27 November

2010.

Sebenarnya, kata dia, mendidik anak tidak terlalu sulit jika memahami cara yang baik baik dan menyadari bahwa

keturunan merupakan amanah dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Namun sayangnya, sebagian orang tua jusru menunjukkan perasaan sayang dengan cara yang kurang tepat, sehingga

kontraproduktif dan menimbulkan akibat yang kurang baik bagi perkembangan anak.

Ia mencontohkan kewajiban anak untuk belajar tetapi tidak diimbangi porsi waktu bermain yang sesuai, sehingga

menyebabkan anak menjadi jenuh dan stress dengan kondisi yang ada.

“Di sekolah dituntut belajar, lalu ditanyai PR (pekerjaan rumah). Di rumah juga ditanyai PR lagi, akhirnya mereka

stres,” katanya.

Arist Merdeka mengatakan, dalam UU 23/2002 tentang Perlindungan Anak (PA) setidaknya ada empat hak anak yang harus

diperhatikan agar generasi penerus dapat berkembangan sesuai dengan yang diharapkan.

Hak pertama adalah hak hidup dengan mendapatkan identitas yang jelas, kebebasan beribadah sesuai dengan agama yang

dianut, mendapatkan layanan kesehatan yang baik dan memiliki status kewarganegaraan.

Untuk merealisasikan hak itu, setiap anak harus dididik dan dilayani dengan benar serta diberikan akta kelahiran

agar mudah mendapatkan berbagai layanan dalam ketatanegaraan.

“Karena itu, pemerintah harus memudahkan setiap pengurusan akta kelahiran anak, bahkan harus gratis. Kalau tidak,

berarti melanggar HAM anak,” katanya.

Kemudian, hak bertumbuh kembang dengan baik dengan memiliki pembagian waktu yang sesuai antara belajar, istirahat,

bermain dan bergaul dengan manusia di sekelilingnya.

“Anak yang tidak diberi waktu untuk bermain juga pelanggaran HAM,” kata Arist Merdeka Sirait.

Selain itu, kata dia, untuk menciptkan generasi yang bermental sehat, seorang anak harus memiliki hak partisipasi,

baik untuk menyampaikan saran mau pun diperhatikan pendapatnya.

“Jangan mentang-mentang masih kecil, seorang anak tidak dihargai pendapatnya. Itu dapat membuatnya stres,” katanya.

Sedangkan hak terakhir adalah mendapatkan perlindungan seluas-luasnya dari berbagai kegiatan yang dapat mengganggu

perkembangan anak seperti eksploitasi untuk kepentingan ekonomi dan seksual, penelantaran serta tindak kekerasan

dan penganiyaan.

Sementara itu, Pimpinan Blessing Community Rajamin Sirait mengatakan, pendidikan anak sangat dibutuhkan bagi

kalangan orang tua karena anak merupakan harapan di masa tua.

“Anak adalah `investasi` untuk masa depan,” katanya.

Menurut Rajamin, cukup banyak orang tua yang kurang menyadari bahwa anak adalah “harta” yang sangat berharga dan

harus dibina sejak dini agar menjadi generasi penerus yang mampu memenuhi harapan.

Hal itu dapat dilihat dari banyaknya kejadian yang cukup membuat prihatian mulai dari kekerasan dan penganiyaan

terhadap anak, pelecehan seksual hingga eksploitasi dalam ekonomi seperti diikutsertakan mengemis di jalanan.

Padahal sebagai generasi penerus, anak harus mendapatkan hak yang baik, khususnya pendidikan. “Bahkan, seorang anak

harus sudah mendapatkan pendidikan yang baik mulai dari dalam kandungan,” kata Ketua Pemuda Mitra Kamtibmas (PMK)

Sumut tersebut.

Ia mengatakan, pendidikan dan perlakuan yang baik harus diberikan kepada semua anak sejak dini, tanpa melihat

golongan dan status sosial kemasyarakatan.

Jika tidak, maka anak tersebut diperkirakan akan menjadi generasi yang tidak dapat memenuhi harapan orang tua.

“Kalau tidak dididik, 15 hingga 20 tahun lagi dia akan menjadi masalah,” kata Rajamin Sirait.

Pemberian pendidikan secara merata itu juga perlu dilakukan karena kerusakan generasi muda tidak melihat golongan

dan status sosial kemasyarakatan.

“Jangan kira anak orang kaya tidak banyak yang bermasalah. Kurangnya pendidikan juga menimbulkan masalah bagi

mereka, tetapi kurang kelihatan karena berlimpah materi,” kata Rajamin.(an)
Sumber : Eksposnews

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tim Survey Mulai Memeta Pembukaan Jalur Madina-Palas

    Tim Survey Mulai Memeta Pembukaan Jalur Madina-Palas

    • calendar_month Selasa, 10 Jun 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

          PALAS (Mandailing Online) – Pembukaan jalur Madina-Palas bakal diteruskan kembali. Tim survey akan melakukan kegiatan pemetaan mulai hari ini, Selasa (10/6/2025). “Tim hari ini turun ke lokasi untuk bisa mengkaji dan memetakan berupa jarak tempuhnya, panjang keseluruhan dan beberapa jembatan nanti yang akan dibangun,” ungkap Bupati Madina Saipullah Nasution di Sibuhuan, Padang […]

  • Jabatan Kasek Tak Tersentuh, LSM Merah Putih: Orang Tua Siswa Tinggal Berdoa dan Menunggu

    Jabatan Kasek Tak Tersentuh, LSM Merah Putih: Orang Tua Siswa Tinggal Berdoa dan Menunggu

    • calendar_month Kamis, 24 Feb 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Jabatan Kepala SDN 001 Sihepeng yang seakan tak tersentuh meski masyarakat, Komisi I, dan Ketua DPRD Mandailing Natal (Madina) Erwin Efendi Lubis telah bersuara membuat LSM Merah Putih turut angkat bicara. Ketua LSM Merah Putih Tabagsel Khairunnisah menilai saat ini yang bisa dilakukan masyarakat hanya tinggal berdoa dan menunggu saja. “Orang […]

  • Jembatan Kian Rusak, 7 Desa Di Naga Juang Diambang Terisolir

    Jembatan Kian Rusak, 7 Desa Di Naga Juang Diambang Terisolir

    • calendar_month Rabu, 6 Nov 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    NAGA JUANG (Mandailing Online) – Jembatan Naga Juang, Mandailing Natal (Madina) kian mengkhawatirkan, sebab abutmennya makin miring akibat hantaman arus Sungai Batang Gadis yang terus meluap di musim penghujan saat ini. Jembatan ini menghubungkan Kecamatan Naga Juang dengan jalan negara. Kondisi ini menyebabkan kecamatan yang memiliki 7 desa itu diambang terisolir. Saat ini jembatan itu […]

  • Melirik Kopi Mandailing di Ulupungkut

    Melirik Kopi Mandailing di Ulupungkut

    • calendar_month Minggu, 29 Mei 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Liputan: Arini Astri Rozak Kopi Mandailing adalah salah satu jenis kopi populer asli Indonesia. Bukan hanya di Indonesia, kopi yang menjadi primadona di Mandailing ini cukup terkenal di luar negeri. Seperti namanya, kopi Mandailing atau yang dikenal juga dengan Mandheling Coffe ini berasal dari Kabupaten Mandailing Natal, Pegunungan Bukit Barisan, Sumatera Utara. Kopi Mandailing memiliki […]

  • Guru bukan penentu nasib murid

    Guru bukan penentu nasib murid

    • calendar_month Selasa, 9 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Saat ini sudah sepantasnya guru tidak lagi menilai murid, tapi menetapkan kriteria-kriteria yang harus dilaksanakan murid dan jika murid tidak bisa maka sudah menjadi tugas guru untuk menjembatani dan memfasilitasi mereka untuk dapat mencapai kriteria tersebut. Hal tersebut dikatakan Rektor Universitas Negeri Medan Syawal Gultom, kepada Waspada Online, sembari mengatakan paradigma itu harus […]

  • Sistem Pemerintahan Kerajaan-Kerajaan Mandailing Sangat Egaliter

    Sistem Pemerintahan Kerajaan-Kerajaan Mandailing Sangat Egaliter

    • calendar_month Selasa, 17 Des 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Manailing Online) – System pemerintahan kerajaan-kerajaan di Mandailing terbukti sangat egalitar, bukan kerajaan absolut. Fungus Namora, Natoras dan Sopo Godang menjadi salah satu tolok ukur keterbukaan pemerintahan kerajaan-kerajaan di Mandailing, baik Mandailing Julu maupun Mandailing Godang. “Raja tak boleh sembarangan menerbitkan peraturan tanpa persetujuan oleh pihak Namora dan Natoras,” kata Budayawan Mandailing, Pandapotan Nasution […]

expand_less