Kamis, 9 Jul 2026
light_mode

Beranikah Orang Sumut Mendirikan “Pusat Dokumentasi Willem Iskander”?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
  • print Cetak

Oleh: Muhamad Ludfan Nasution
Anggota Komunitas Pengusul Willem Iskandar Pahlawan Nasional

 

Sati Nasution glr Sutan Iskandar (Willem Iskander)

 

Ada pertanyaan yang layak diajukan kepada kita semua Bangsa Indonesia, khususnya kepada orang Sumatera Utara:

Jika kita begitu yakin bahwa Willem Iskander adalah salah satu pelopor pendidikan bumiputera terbesar yang pernah lahir dari tanah ini, beranikah kita mendirikan sebuah Pusat Dokumentasi Willem Iskander?

Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi sesungguhnya sangat menohok.

Sebab selama puluhan tahun, kita nyaris tidak pernah kekurangan pidato tentang pentingnya Willem Iskander. Kita juga tidak kekurangan seminar, webinar, diskusi, lomba menulis, bahkan film dokumenter. Nama Willem Iskander terus disebut dari waktu ke waktu.

Namun, ketika ditanya:

Di mana pusat arsip dan dokumentasi Willem Iskander?

Jawabannya, masih sunyi.
Padahal hampir semua tokoh besar dunia dikenang bukan hanya melalui monumen, melainkan melalui dokumentasi yang terawat.

Mereka memiliki pusat studi. Punya museum. Perpustakaan. Arsipnya terus diperbarui.

Bagaimana dengan tokoh kebanggaan Willem Iskander, Sutan Iskander atau Sati Nasution?

Banyak dokumennya masih tercerai-berai. Sebagian berada dalam buku-buku lama. Sebagian tersimpan di perpustakaan. Tak sedikit yang masih berada di tangan peneliti.

Nah, sebagian lagi, diduga masih bersembunyi di arsip Belanda.

Padahal, semakin jauh kita menelusuri jejak Sati Nasution, semakin tampak betapa besar pekerjaan rumah yang belum kita selesaikan.

Kita tahu nama kecilnya adalah Sati Nasution bergelar Sutan Iskandar.

Kita tahu Sutan Iskander belajar di sekolah bumiputera di Panyabungan.

Kita tahu ia berangkat ke Belanda untuk memperdalam ilmu keguruan.

Kita tahu keponakan Sutan Kumala Yang Dipertuan Hutasiantar itu mendirikan Kweekschool Tanobato pada tahun 1862.

Kita tahu ia menulis Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk.

Kita tahu, Sutan kelahiran Pidoli ini wafat di Amsterdam pada tahun 1876. Tetapi, tahukah kita di mana salinan resmi akta kematiannya?

Tahukah kita nomor register perkawinannya dengan Maria Jacoba Christina Winter?

Tahukah kita seluruh murid yang pernah belajar di Kweekschool Tanobato?

Tahukah kita berapa banyak arsip pendidikan kolonial yang menyebut namanya?

Pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan satu hal:

Penelitian tentang Willem Iskander belum selesai.

Bahkan, mungkin baru dimulai.

Ironisnya, ketika daerah lain berlomba-lomba membangun pusat dokumentasi tokoh mereka, Sumatera Utara masih sering terjebak pada kebanggaan simbolik.

Kita, tentu saja, sangat bangga memiliki Willem Iskander. Pribumi yang sudah berjasa besar untuk Bumiputera di Nusantara.

Tetapi belum sungguh-sungguh menginventarisasi seluruh jejaknya.

Kita bangga menyebutnya pelopor pendidikan. Tetapi belum mengumpulkan seluruh bukti yang menunjukkan bagaimana pengaruhnya menjalar ke Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh melalui murid-muridnya.

Kita bangga mengusulkannya sebagai Pahlawan Nasional.

Tetapi belum memiliki satu lembaga khusus yang bertugas menghimpun, merawat, dan mengembangkan seluruh pengetahuan tentang dirinya.

Padahal, justru di situlah fondasi pengakuan sejarah dibangun.

Bayangkan jika suatu hari berdiri sebuah Pusat Dokumentasi Willem Iskander.
Tidak harus megah.
Tidak harus mahal.
Bisa dimulai dari satu ruangan.
Satu rak buku.
Satu komputer.
Satu tim kecil yang bekerja dengan tekun.
Di sana terkumpul:
• buku-buku tentang Willem Iskander;
• skripsi, tesis, dan disertasi;
• artikel jurnal;
• kliping koran;
• film Senandung Willem Iskander;
• arsip keluarga;
• foto-foto lama;
• hasil wawancara ahli waris;
• hingga dokumen yang diperoleh dari Belanda.
Lalu semua itu didigitalisasi.
Dibuka untuk peneliti.
Dibuka untuk mahasiswa.
Dibuka untuk masyarakat.
Bukankah itu jauh lebih berharga daripada sekadar memasang spanduk dan baliho setiap tahun?

Lebih jauh lagi, pusat dokumentasi seperti itu bukan hanya tentang Willem Iskander.
Ia akan menjadi rumah bagi ingatan kolektif Mandailing.

Di sana kelak bisa dihimpun pula dokumen tentang tokoh-tokoh lain, termasuk Syekh Mustafa Husein, para raja, ulama, guru, dan pejuang yang membentuk wajah sejarah Mandailing Natal.

Karena bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling sering memuji para pendahulunya.

Melainkan bangsa yang paling tekun merawat jejak mereka.

Karena itu, pertanyaan sesungguhnya bukan lagi:
Apakah Willem Iskander layak menjadi Pahlawan Nasional?

Pertanyaan yang lebih mendesak adalah:
Apakah kita sudah cukup serius merawat warisan intelektualnya?

Sebab sebelum negara memberi gelar kepada Willem Iskander, sejarah terlebih dahulu menguji kesungguhan kita.

Dan mungkin ujian itu dimulai dari sesuatu yang sederhana:
Beranikah orang Sumatera Utara mendirikan sebuah Pusat Dokumentasi Willem Iskander?***

Referensi
1. Ardi Ansyah, Willem Iskander (1840–1876): Pelopor Pendidikan di Mandailing Sumatra Utara, Skripsi S1, Universitas Negeri Yogyakarta, 2014.
2. Basyral Hamidy Harahap, berbagai tulisan mengenai Willem Iskander dan sejarah Mandailing.
3. Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk, karya Willem Iskander.
4. Arsip dan kajian mengenai Kweekschool Tanobato yang dikutip dalam penelitian sejarah pendidikan Mandailing.
5. Data biografis Willem Iskander yang tersimpan pada repository Universitas Negeri Yogyakarta dan berbagai publikasi sejarah Mandailing.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Polres Madina Sita 205 Pucuk Senjata Mainan

    Polres Madina Sita 205 Pucuk Senjata Mainan

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Polres Madina menyita 205 pucuk senjata mainan dalam beberapa hari terakhir. Selain itu disita juga 8 ketapel plastik, 98 buah petasan berbagai jenis. Penyitaan penyitaan itu berlangsung dalam rangkaian razia petasan dan senjata mainan. Penertiban dan razia petasan dilakukan menjelang hari raya Idul Fitri. Sementara penertiban senjata mainan menggunakan peluru butiran […]

  • Belajar di Luar Ruangan, TK Satap SDN 048 Malintang Kunjungi Silangit Koi

    Belajar di Luar Ruangan, TK Satap SDN 048 Malintang Kunjungi Silangit Koi

    • calendar_month Kamis, 18 Nov 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Belajar tidak hanya bisa dilakukan di dalam kelas, tapi juga bisa dilaksanakan di luar rungan. Bahkan belajar di luar ruangan bisa memberikan stimulus positif bagi anak-anak. TK Satu Atap (Satap) SDN 048 Malintang mengunjungi wisata Silangit Koi Hutasiantar di Kotasiantar, Panyabungan pada Kamis (18/11). Setidaknya ada 29 murid, 5 orang guru, […]

  • Empat Tahun Plt, Akhirnya Madina Punya Sekda Defenitif

    Empat Tahun Plt, Akhirnya Madina Punya Sekda Defenitif

    • calendar_month Selasa, 1 Okt 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Akhirnya Kabupaten Mandailing Natal (Madina) memiliki Sekda defenitif di era pemerintahan bupati Dahlan Hasan Nasution. Gozali Pulungan,SH.MM dilantik menjadi Sekretaris Daerah (Sekda) oleh Bupati Madina, Dahlan Hasan Nasution di gedung Serbaguna, Panyabungan, Selasa (1/10/2019). Pelantikan itu berdasar Surat Keputusan Bupati Madina Nomor 821.2/0812/K/2019 tanggal 30 September 2019. Berdasar catatan Mandailing […]

  • Kepala Desa Harus Transparan Kelola Dana Desa

    Kepala Desa Harus Transparan Kelola Dana Desa

    • calendar_month Rabu, 24 Agt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN(Mandailing Online) – Para kepala desa di Mandailing Natal harus transparan mengelola Dana Desa agar tidak terjebak dalam masalah hukum. “Karena jika penggunaanya disalahgunakan akan menimbulkan proses hukum yang bisa menjerumuskan kades ke penjara,” kata Ketua DPC PDI Perjuangan Madina, Iskandar Hasibuan kepada Mandailing Online di Panyabungan, Rabu (24/8/2016). Dia juga mengingatkan para kepala desa […]

  • Kapolres Madina Belum Periksa Pemilik Lahan Tambang Emas Ilegal

    Kapolres Madina Belum Periksa Pemilik Lahan Tambang Emas Ilegal

    • calendar_month Kamis, 6 Feb 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Komitmen Kapolres Mandailing Natal (Madina) AKBP Arie Sofandi Paloh untuk memanggil dan memeriksa sejumlah pemilik lahan tambang emas ilegal di perbukitan Kilometer II, Desa Hutabargot Nauli, Kecamatan Hutabargot, Kabupaten Madina, hingga kini belum terbukti. Selain itu, Kapolres Madina juga berjanji memanggil dan memeriksa kepala Desa Hutabargot Nauli yang diduga terlibat aktivitas […]

  • KMP Demo ke Kementerian ESDM, Pertanyakan Akuisisi Saham PT SMGP

    KMP Demo ke Kementerian ESDM, Pertanyakan Akuisisi Saham PT SMGP

    • calendar_month Rabu, 18 Mei 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA (Mandailing Online) – Komunitas Mandailing Perantauan (KMP), Rabu (18/5/2016) berunjuk rasa ke Kementerian ESDM, mempertanyakan akuisisi 100 persen PT Sorik Marapi Geothermal Power (PT SMGP) kepada KS Orka Renewables Pte Ltd Singapura (KS Orka) April 2016. PT. SMGP selama ini melakukan eksplorasi pertambangan pembangkit listrik tenaga panas bumi di Kabuapten Mandailing Natal (Madina). Membawa […]

expand_less