Jumat, 6 Mar 2026
light_mode

SI-GOTAP ULU

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 5 Sep 2023
  • print Cetak

Oleh: Dr. M. Daud Batubara, MSi

Si-Gotap Ulu, merupakan kata yang cukup mengerikan dan dirasakan sebagai ancaman bagi anak-anak di masa sekitar 60 sampai 70-an.

Karena kata ini berasal Gotap (bahasa Mandailing) artinya potong atau penggal, sedang ulu artinya kepala. Bila kata ini digabungkan, artinya menjadi penggal kepala. Sedangankan penggunaan kata Si pada awal kata sebagai penguatan sebutan atau panggilan yang menyatakan bahwa yang disebut itu mempunyai sesuatu atau menyerupai sesuatu yang sama dengan sebutan itu, sehingga keseluruhannya diartikan sebagai Si Pemenggal Kepala.

Pantas disebut bahwa sebutan ini mengerikan bagi anak-anak masa itu, karena Si-Gotap Ulu ditafsirkan dibenak anak-anak sebagai mahkluk yang bekerja sebagai pencari anak-anak untuk memenggal kepala. Artinya mahkluk yang memotong leher manusia hingga lepas kepala dari tubuhnya. Begitu mendengar kata Si-Gotap Ulu, yang muncul adalah traumatik ketakutan, karena persepsi yang buruk dan menakutkan terhadap makna kata tersebut.

Entah siapa yang memulai menggunakan kata-kata itu, namun di daerah Mandailing terutama di wilayah Ulupungkut kata-kata tersebut kerap terdengar dari orang-orang yang lebih tua. Munculnya kata-kata ini biasanya saat-saat adanya pembangunan jalan dan jembatan.

Bahasan ini muncul ketika di sela-sela kombur (bergurau) di lopo, kata-kata ini tak sengaja terungkap kembali, tanpa tujuan tertentu, yang hanya menyebut salah satu dari anggota kombur sebagai Si-Gotap Ulu.

Kosa kata yang sudah lama tidak pernah terdengar itu, tiba-tiba melintas begitu saja, hingga mengundang rasa ingin tahu apa dan mengapa kata-kata Si-Gotap Ulu ada pada masa lalu sedang sekarang sudah sangat jarang terdengar lagi.
Namanya juga sedang kombur, jawaban tentang Si-Gotap Ulu banyak yang muncul, namun dominan bentuk kelakar sehingga tidak ada makna yang jelas.

Sukurnya, seorang yang dituakan menjelaskan arti dan makna serta histori munculnya kata tersebut.
Penjelasan beliau yang telah disusun kembali, menyebut bahwa dahulunya anak-anak di pedesaan terutama di Ulupungkut, bila ada fenomena baru terutama yang datang dibawa orang lain dari luar kampung, akan menjadi perhatian bagi orang di pedesaan.  Masa itu pesulap dan pengelana masih dirindukan dan diladeni dengan baik di kampung. Di tahun 60-an ini kenderaan roda empat yang datang ke pedesaan Ulupungkut-pun akan disambut meriah oleh anak-anak.

Bagaimana tidak meriah, karena di tahun-tahun tersebut angkutan untuk orang dan barang untuk jarak jauh masih didominasi pedati. Kenderaan yang ditarik dengan kerbau itu, tentu uniknya tidak sebanding dengan kenderaan yang memiliki mesin sehingga bersuara khas. Warna cat yang begitu menarik, mampu mengangkut banyak orang pula. Jangankan anak-anak, orang tua pun banyak yang ikut mendekat.
Banyak hal yang diperiksai dan diamati mereka dengan rasa keheranan dengan semangat keingintahuan atas hal yang jarang bagi mereka. Jangankan bodi kenderaan, asap kenderaan pun diakomodir sebagai perdebatan tentang baunya. Ada yang mengatakan wangi, ada pula yang mengatakan tidak.

Responsibnya anak-anak yang sangat tinggi untuk menambah pengalaman membuat mereka sering tidak mengontrol diri terhadap kondisi baru. Bahkan tidak jarang sampai menganggu terhadap benda atau pekerjaan jenis baru yang ada. Inilah yang mengawali munculnya kata-kata Si-Gotap Ulu, yang biasanya muncul pada saat pembangunan jalan atau jembatan.
Pembangunan di masa lalu dilakukan dengan dominan sistem yang manual, mulai dari pembukaan, pelebaran maupun peningkatan kapasitas jalan dan jembatan yang menggunakan tenaga manusia. Sehingga tidak jarang, secara tidak sengaja anak-anak mengganggu proses pengerjaan jalan. Di sisi lain, pengerjaan tersebut juga sangat beresiko tinggi dan membahayakan bagi anak-anak.

Disebut saja contohnya pemecahan batu kali untuk peningkatan sarana kapasitas jalan/Onderlagh (orang Ulupungkut biasa menyebutnya onderlak) yang dilakukan dengan pukulan martil besar, sangatlah beresiko terpercik serpihan batu yang dapat melukai anak-anak. Atau aspal panas yang sangat beresiko saat memasaknya dan atau saat menyebarkan aspal mendidih tersebut yang disiramkan di atas permukaan onderlak.

Di sisi lain para orang tua saat itu, sejak pagi sampai sore hari berada di ladang atau di sawah untuk bekerja mencari nafkah. Artinya mereka sebagai orangtua dengan rasa tanggungjawab yang tinggi terhadap anak, maupun terhadap kemungkinan terganggunya pekerjaan pihak lain, sehingga berusaha mencegah anak-anak dari berbagai kemungkinan risiko dan gangguan tersebut.

Mengatasi kondisi inilah, munculnya pemikiran arif para pendahulu kita untuk menghindarkan anak-anak dari risiko yang akan timbul dan juga meminimalisir terganggunya pekerja dari kontraktor yang ada di desa mereka. Sesuai dengan kapasitas pendidikan masyarakat saat itu yang masih kuat mistis, muncul lagi pemikiran menggunakannya dengan pendekatan seakan adanya penumbalan dari pihak perusahaan.
Orang-orang tuapun mulai cerita bahwa pembangunan jembatan yang pondasinya dengan galian lubang yang cukup dalam, akan menggunakan tumbal untuk jaminan kekuatan jembatan. Tumbal yang paling baik adalah kepala manusia. Sehingga perlu kepala manusia untuk ditanam dibagian paling dalam pondasi. Pemikiran mistis ini diserap anak-anak sesuai batas pemikiran mereka.

Keperluan inilah yang membutuhkan kepala manusia menurut versi cerita yang sesungguhnya diciptakan sebagai kearifan. Kepala manusia ini – dipersepsikan oleh orang-orang tua – dicari oleh orang tertentu untuk kepentingan jembatan yang digambarkan dengan sebutan Si-Gotap Ulu. Inilah munculnya kata-kata Si-Gotap Ulu.

Jelas sudah bahwa kata-kata Si-Gotap Ulu, munculnya hanya sebagai upaya mempersepsikan mahkluk menakutkan bagi anak-anak yang merupakan bagian dari pencegahan anak-anak dari risiko pada proses pembangunan jalan dan jembatan.

Bila dilihat dari nilai pendidikan, maka ini bagian dari kearifan lokal sebagai pendidikan luar sekolah pada keluarga dalam mendidik anak. Kearifan seperti ini dapat berfungsi efektif sesuai dengan kondisi adat dan karakteristik pemahaman orang di daerah. Dipahami bahwa pola pendidikan tersebut kurang tepat karena adanya nilai mistis di dalamnya, namun efektif untuk mencegah anak-anak dari resiko yang lebih fatal.

Sedemikian banyak kearifan lokal di Mandailing yang masih tersimpan bahkan terkadang hampir terkubur, padahal masih dibutuhkan dan efektif dugunakan dalam mendidik anak dengan pendekatan pendidikan luar sekolah yang dilakukan keluarga.

Rasanya saat ini perlu kembali digali untuk mendapat tempat dengan cara yang lebih baik. Terutama dengan adanya pendekatan praktik di sekolah-sekolah dalam implementasi kurikulum merdeka.

*Penulis adalah Pembina Forum Kajian dan Penulis Madina

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Atika: BPBD Garda Terdepan di Lokasi Bencana

    Atika: BPBD Garda Terdepan di Lokasi Bencana

    • calendar_month Selasa, 12 Okt 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) –  Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) adalah garda terdepan menanggulangi bencana. Oleh karena itu, dukungan peralatan patut dipenuhi agar BPBD bisa gesit di segala medan bencana. Di sisi lain, kemampuan keuangan Pemkab Mandailing Natal (Madina) masih terbatas. Kondisi itu harus diperhatikan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) terutama pemenuhan peralatan untuk daerah. Itu […]

  • Anggota DPRD Tersandung Kasus Cabul

    Anggota DPRD Tersandung Kasus Cabul

    • calendar_month Sabtu, 27 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Oknum Anggota DPRD Kabupaten Mandailing Natal (Madina) berinisial BEH, dilaporkan ke Polres Madina, terkait kasus pencabulan. Oknum anggota dewan yang terhormat dilaporkan NA, penduduk Desa Hutapuli, Kecamatan Siabu, Madina. Oknum Anggota DPRD Madina BEH tidak berhasil dikonfirmasi melalui telepon, Kamis (25/11/2010). Dicek ke Kantor DPRD Madina, juga belum berhasil dijumpai. Menurut staf yang oknum […]

  • Ical Sambangi Amru Daulay

    Ical Sambangi Amru Daulay

    • calendar_month Minggu, 28 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Sebelum kembali ke Jakarta usai membuka Rakerda Partai Golkar Sumut di Hotel Polonia, Medan, Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie singgah ke kediaman Wakil Ketua DPD I Partai Golkar Sumut Amru Daulay di Jalan Samanhudi, Medan, Sabtu (27/11/2010). Aburizal yang biasa disapa Ical itu tampak akrab dengan mantan Bupati Mandailing Natal tersebut. Didampingi […]

  • Kades Batumundom Bantah Laporan Masyarakatnya ke DPRD Madina terkait Narkoba

    Kades Batumundom Bantah Laporan Masyarakatnya ke DPRD Madina terkait Narkoba

    • calendar_month Selasa, 9 Des 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – buntut laporan sejumlah warga desa Batumundom, Kecamatan Muara Batang Gadis, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) ke Polres dan DPRD Madina yang menuding Kepala Desa Batumundom Kazwan Siregar tidak peduli terhadap pengusunan Perdes terkait pemberantasan narkoba. Kazwar selaku kades membantah dan menilai warga yang melapor itu telah melakukan perbuatan fitnah terhadap […]

  • Oknum Perwira Polisi Dilaporkan ke Polresta Medan

    Oknum Perwira Polisi Dilaporkan ke Polresta Medan

    • calendar_month Kamis, 2 Agt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Dua omak-omak R Purba (55) warga Jalan Selambo Toba, Patumbak, dan S Siburian (45) warga Jalan Balai Desa, Pasar XII, Patumbak, mendatangi Mapolresta Medan melaporkan oknum perwira polisi yang melakukan tindakan kekerasan, Senin (30/07/2012). Kedua omak-omak ini pun curhat tentang apa yang dialami oleh keluarganya kepada sejumlah media di Ruangan Media Centre Mapolresta Medan. R […]

  • Kadis Perhubungan Ditahan Polres Madina

    Kadis Perhubungan Ditahan Polres Madina

    • calendar_month Sabtu, 2 Apr 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Harlan Batubara ditahan Polres Madina, Jum’at malam (1/4/2016). Informasi yang dihimpun di Mapolres Madina, selain Harlan, PPTK pengadaan lahan terminal bernama Zulalikan juga ikut ditahan. Keduanya ditahan setelah menjalani pemeriksaan sejak siang harinnya. Penahanan ini terkait penetapan mereka sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi […]

expand_less