Kamis, 21 Mei 2026
light_mode

Suara Terbungkam

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 13 Des 2021
  • print Cetak

Prosa Karya : Halvionata Auzora Siregar

 

Ketika mendengar sebuah jeritan menyayat hati dari seorang perempuan yang dianggap sebagai tiang dari sebuah negara, di akhir tahun yang penuh duka, duka bagi perempuan, negara bahkan apa yang diperjuangkan oleh sang feminisme Indonesia R.A Kartini dan Dewi Sartika telah dirobohkan oleh hawa nafsu.

Akhir tahun kini penuh tanda tanya, apakah kami sebagai perempuan hanya menemani pemuas nafsu ketika pria ingin kami layani?

Bolehkah kami bersuara layaknya seorang panglima yang berhak menyuruh anggota maju dalam medan laga?

Apakah kami boleh memiliki aksebilitas sama seperti pria?

Ataukah kami hanya pengisi rumah sahaja?

Untaian syair merujuk pada kasus pelecehan bahkan kekerasan, pemerkosaan yang banyak terjadi akhir tahun ini, apalagi seorang pelaku bertindak sebagai aparat keamanan yang memang tupoksinya ialah melindungi dan mengayomi. Yang paling menyayat hati, sang korban depresi hingga akhirnya bunuh diri di dekat pusara ayahnya, yang telah melindungi anak gadisnya dengan penuh sayang dan kasih.

Kasus ini bagaikan gunung es membeku lama tak mencair akibat lemahnya legitimasi, atau sengaja ditutup-tutupi bahkan dengan dalih kurangnya barang bukti.

Bukti apa yang perlu digali ketika seorang mahasiswi yang mengajukan skripsi kepada dosen, tetapi malah dilecehkan bahkan diancam dengan kalimat “percuma kamu lapor tidak ada yang mempercayai”.

Ketika kami melapor, tetapi malah dilaporkan balik atas tuduhan pencemaran nama baik, nama baik seperti apa yang ingin oknum itu lindungi? Bukankah oknum itu sendiri yang menjilat ludahnya sendiri?

Ada legitimasi yang perlu harus kita benahi, ada hak kami (perempuan) untuk bersuara, beraktivitas, bahkan kami memiliki aksebilitasi sama seperti pria. Kita adalah negara hukum, salah satu prinsip negara hukum ialah equality before the law yang artinya persamaan di hadapan hukum. Kita semua sama di hadapan hukum, tetapi makna yang lebih dalam ialah ketika kita ingin meng-akses hukum tersebut haruslah sama, bukan terbatasi oleh gender pria-wanita bahkan terbatasi oleh yang namanya aparat dan rakyat jelata dan salah satu asas hukum berbunyi salus populi suprema lex esto yang mengandung arti keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi.

Maka dari itu, legitimasi hukum jangan sesekali dihadang oleh yang namanya kepentingan pribadi apalagi berdalih untuk menutupi.

Halvionata Auzora Siregar adalah mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh/anggota Ikatan Mahasiswa Batang Natal-Aceh

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kendala dan Peluang Terkait Visi Ekonomi “Dana Desa”

    Kendala dan Peluang Terkait Visi Ekonomi “Dana Desa”

    • calendar_month Sabtu, 8 Okt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIABU (Mandailing Online) – Dilematika program Dana Desa terhadap sektor ekonomi terus menjadi topik bahasan di Mandailing Natal. “Wajar saya kira ketika kita merasa bahwa ‘Dana Desa’ yang diproyeksikan untuk menunjang potensi ekonomi masyarakat, tidak maksimal,” kata Ketua Dewan Pendiri Gerep Institute, Askolani Nasution, Jum’at (7/10/2016) di Simaninggir, Siabu. Dia melihat, setidaknya ada dua persoalan […]

  • Georgette Lepaulle Tak Pernah Merasa Terlambat Ucapkan Syahadat

    Georgette Lepaulle Tak Pernah Merasa Terlambat Ucapkan Syahadat

    • calendar_month Jumat, 13 Des 2013
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Ia memutuskan menjadi seorang Muslimah karena tertarik dengan keramahan Muslim di sekelilingnya. Dalam usianya yang menginjak 91 tahun, Georgette Lepaulle memutuskan masuk Islam. Meski sudah tua nan renta, ia tidak pernah merasa terlambat dalam membuat langkah terbaik dalam hidupnya. Georgette sebenarnya sudah lama tahu tentang Islam karena ia mempunyai tetangga Muslim. Rumahnya yang berada di […]

  • Harga Naik di Panyabungan

    Harga Naik di Panyabungan

    • calendar_month Rabu, 19 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Dalam dua hari terakhir harga kebutuhan merangkak naik di pasar Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Pantaun wartawan di pasar lama Panyabungan, Rabu (19/6/2013) harga beras yang seharga 240.000 per sak menjadi 250.000 rupiah. Minyak goreng curah dari 10.000 menjadi 11.000 rupiah per kilo gram. Telur ayam ras dari 28.000 rupiah menjadi […]

  • Diimingi Diberikan Kunci Jawaban,	 Pelamar CPNS Ngaku Diminta Rp40 Juta

    Diimingi Diberikan Kunci Jawaban, Pelamar CPNS Ngaku Diminta Rp40 Juta

    • calendar_month Rabu, 6 Nov 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PALUTA (Mandailing Online) – Pelaksanaan ujian penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) untuk honorer Kategori II di lingkungan Kemenag Padang Lawas Utara (Paluta) yang dilaksanakan di Padangsidimpuan (Psp), Minggu (3/11), diduga ada permainan uang. Pasalnya, sejumlah pelamar CPNS mengaku dimintai sejumlah uang antara Rp2 juta hingga Rp40 juta per orang. Permintaan ini diduga dilakukan oknum […]

  • 11 Ranperda Disahkan DPRD Madina

    11 Ranperda Disahkan DPRD Madina

    • calendar_month Jumat, 1 Nov 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – DPRD Kabupaten Mandailing Natal (Madina) mensahkan 11 Rancangan Peraturan Daerah menjadiu Perda pada rapat paripurna, Kamis (31/10/2013). Paripurna itu dipimpin Ketua DPRD Madina As Imran Kahaitamy Daulay SH, dihadiri fraksi-fraksi, Plt.Bupati Dahlan Hasan, sekda, asisten, para kepala SKPD, camat dan undangan lainnya. Ketua Badan Legislasi DPRD Madina, Dodi Martua dalam laporannya […]

  • Warga Rantonatas Masih Takut ke Kebun

    Warga Rantonatas Masih Takut ke Kebun

    • calendar_month Kamis, 18 Feb 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN  TIMUR (Mandailing Online) –  Penduduk Rantonatas Kecamatan Panyabungan Timur masih takut ke kebun pasca bentrokan dengan warga Pardomuan. Meski Polres Mandailing Natal sudah menempatkan personilnya siang malam di Desa Rantonatas, tetapi hingga Kamis (18/2) ketakutan berada di kebun masih mendominasi penduduk. Warga Desa Rantonatas bentrok dengan warga Desa Pardomuan pada Jum’at (12/2) lalu menyebabkan […]

expand_less