Refleksi Pawai Obor 1 Muharram 1448 H: Di Sini Bersalawat, Di Sana Menghujat
- account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
- calendar_month 1 menit yang lalu
- print Cetak

Oleh: Moechtar Nasution*
Suatu malam di tahun lalu, sesudah salat isya, saya duduk di teras Masjid Jamik Kota Siantar bertepatan dengan malam 1 Muharram. Sepertinya hampir setiap tahun, masyarakat didominasi anak-anak di kelurahan ini memang selalu menggelar pawai obor berkeliling kampung. Malam ini juga dipastikan ada karena sudah dipost di linimasa facebook saudara saya, Ludfan Nasution.
Saat melihat arak-arakan mereka malam itu, di sela kepulan asap minyak tanah, ada rasa cemas yang mendadak muncul pas apinya padam. Bau gosong di ujung gang itu seperti menampar wajah kita dan bertanya: apa yang tersisa di dalam diri setelah acara selesai? Kalau besok pagi kita kembali ke dunia nyata lalu langsung saling mencaci dan menghujat di linimasa, ya tradisi keliling kampung di Kota Siantar kemarin itu dan yang sekarang cuma jadi tontonan teater yang menyedihkan. Hiburan semalam saja.
Jujur, kadang saya merasa cara kita beragama dan bernegara sekarang ini kok semakin hari semakin kekanak-kanakan ya? Kita ini hobi sekali terkotak-kotak. Ribut buat hal-hal kecil, lalu lanjut saling maki dan lempar hujatan di medssos. Lelah kita melihatnya. Padahal kalau mau sedikit saja membuka mata dan melihat kenyataan di luar sana, dunia ini sedang mengerikan. Anomali global nyata-nyata sedang mengintai kita. Mulai dari krisis lingkungan yang makin kacau, cuaca yang tidak menentu, harga energi yang melambung, sampai bayang-bayang krisis pangan yang siap bikin miliaran perut kelaparan.
Melihat situasi segawat itu, ngeri ngeri sedap rasanya menatap kondisi kita hari ini. Sebagai sebuah bangsa, negara, dan masyarakat, kita seperti sedang berjalan beriringan di tepi jurang yang dalam. Apa yang menanti kita di depan sana amat sangat mengkhawatirkan. Benang tipis? Mana cukup! Di tengah badai sekacau ini kita butuh tali tambang—tali yang benar-benar besar, kasar, dan kokoh—untuk mengikat erat ego kita masing-masing. Tanpa tali tambang itu? Badai di depan sana akan dengan sangat mudah mencerai-beraikan kita semua sampai tidak bissa tersisa.
Bagaimana mungkin kita, sebagai umat dan sesama anak bangsa, bisa ikut andil memberi solusi buat dunia kalau energi kita habis cuma buat meributkan urusan internal yang remeh? Bagaimana mau menyelamatkan masa depan negara ini kalau isi hati kita isinya cuma curiga dan gersang dari rasa saling percaya?
Zaman boleh maju, silakan. Tapi modernisasi itu harusnya beriringan dengan iman yang makin matang. Teknologi tanpa rem spiritual cuma bakal melahirkan orang-orang pintar yang hatinya batu. Tipe orang yang tidak punya perasaan, tapi luar biasa jago bikin hoaks di gawaian cuma demi menjatuhkan saudaranya sendiri. Kita memang butuh sains untuk membaca situasi dunia, tapi kita jauh lebih butuh ketakwaan yang konsisten—bukan yang musiman—biar kepintaran kita tidak berbalik menjadi senjata yang kejam untuk saling hancurkan.
Padahal, sejarah kita di Nusantara sudah pernah memberi pelajaran yang teramat mahal dan getir soal ini. Bayangkan, di zaman kerajaan dahulu, saat belum ada pabrik hoaks, belum ada buzzer bayaran, dan internet pun belum lahir, kehancuran akibat adu domba sudah sedashat itu.
Kesultanan Banten yang dulu begitu kuat dan disegani, runtuh berantakan bukan karena diserang pasukan besar dari luar. Bukan. Kerajaan itu tumbang hanya lewat desas-desus, kasak-kusuk mulut ke mulut, dan adu domba manual. Sultan Haji dihasut sampai tega mencurigai ayahnya sendiri, Sultan Ageng Tirtayasa. Begitu rasa percaya hilang, pecahlah perang saudara, dan penjajah tinggal masuk mengambil alih dengan mudah tanpa perlu buang banyak peluru.
Hal yang sama menimpa Mataram yang akhirnya terbelah jadi kerajaan-kerajaan kecil lewat Perjanjian Giyanti karena elite dan masyarakatnya gampang termakan intrik politik dan hobi saling menghujat. Kalau tanpa teknologi saja fitnah bisa merubuhkan kerajaan sebesar itu, apalagi hari ini ketika hoaks dan fitnah diproduksi secara massal oleh industri digital? Sejarah mencatat dengan jelas: sekuat apa pun kita, benteng negara ini pasti hancur kalau kebencian sudah merusak akal sehat masyarakatnya.
Namun di sisi lain, sejarah juga mengajarkan hal yang sebaliknya. Ada kebahagiaan dan keagungan yang luar biasa ketika persatuan dan kesatuan diutamakan. Ketika para pendiri bangsa ini mampu menyingkirkan ego pribadi dan kelompoknya, mereka berhasil melahirkan kejayaan dan keunggulan yang membuat kita merdeka. Sejarah yang mengajari kita untuk memercayai bahwa di dalam kerapatan barisan, selalu ada kemenangan.
Kita harus sadar kalau situasi dunia sekarang menuntut kita buat dewasa sebagai sebuah bangsa. Jangan biarkan persatuan ini cuma jadi slogan semalam saat pawai.
Mari kita genggam erat tali tambang persaudaraan ini. Kita jaga barisan masyarakat ini biar tetap rapi, tetap di jalur yang benar, bahkan ketika riuh pawainya sudah tidak ada lagi. Jangan biarkan malam ini menjadi malam terakhir untuk membuktikan persatuan kita. Barisan ini harus tetap tegak berdiri menghadapi apa pun di depan sana, tidak peduli hari berganti atau bulan berlalu.
Perbanyak sholawat, hindari menghujat supaya hidup selamat. InsyaAllah…
*Penulis adalah ASN pada Dinas Pariwisata Madina
- Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

