Jumat, 21 Agu 2026
light_mode

Refleksi Pawai Obor 1 Muharram 1448 H: Di Sini Bersalawat, Di Sana Menghujat

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
  • print Cetak

Oleh: Moechtar Nasution*

 

Suatu malam di tahun  lalu, sesudah salat isya, saya duduk di teras Masjid Jamik Kota Siantar bertepatan dengan malam 1 Muharram. Sepertinya hampir setiap tahun, masyarakat didominasi anak-anak di kelurahan ini memang selalu menggelar pawai obor berkeliling kampung. Malam ini juga dipastikan ada karena sudah dipost di linimasa facebook saudara saya, Ludfan Nasution.

Saat melihat arak-arakan mereka malam itu, di sela kepulan asap minyak tanah, ada rasa cemas yang mendadak muncul pas apinya padam. Bau gosong di ujung gang itu seperti menampar wajah kita dan bertanya: apa yang tersisa di dalam diri setelah acara selesai? Kalau besok pagi kita kembali ke dunia nyata lalu langsung saling mencaci dan menghujat di linimasa, ya tradisi keliling kampung di Kota Siantar kemarin itu dan yang sekarang cuma jadi tontonan teater yang menyedihkan. Hiburan semalam saja.

Jujur, kadang saya merasa cara kita beragama dan bernegara sekarang ini kok semakin hari semakin kekanak-kanakan ya? Kita ini hobi sekali terkotak-kotak. Ribut buat hal-hal kecil, lalu lanjut saling maki dan lempar hujatan di medssos. Lelah kita melihatnya. Padahal kalau mau sedikit saja membuka mata dan melihat kenyataan di luar sana, dunia ini sedang mengerikan. Anomali global nyata-nyata sedang mengintai kita. Mulai dari krisis lingkungan yang makin kacau, cuaca yang tidak menentu, harga energi yang melambung, sampai bayang-bayang krisis pangan yang siap bikin miliaran perut kelaparan.

Melihat situasi segawat itu, ngeri ngeri sedap rasanya menatap kondisi kita hari ini. Sebagai sebuah bangsa, negara, dan masyarakat, kita seperti sedang berjalan beriringan di tepi jurang yang dalam. Apa yang menanti kita di depan sana amat sangat mengkhawatirkan. Benang tipis? Mana cukup! Di tengah badai sekacau ini kita butuh tali tambang—tali yang benar-benar besar, kasar, dan kokoh—untuk mengikat erat ego kita masing-masing. Tanpa tali tambang itu? Badai di depan sana akan dengan sangat mudah mencerai-beraikan kita semua sampai tidak bissa tersisa.

Bagaimana mungkin kita, sebagai umat dan sesama anak bangsa, bisa ikut andil memberi solusi buat dunia kalau energi kita habis cuma buat meributkan urusan internal yang remeh? Bagaimana mau menyelamatkan masa depan negara ini kalau isi hati kita isinya cuma curiga dan gersang dari rasa saling percaya?

Zaman boleh maju, silakan. Tapi modernisasi itu harusnya beriringan dengan iman yang makin matang. Teknologi tanpa rem spiritual cuma bakal melahirkan orang-orang pintar yang hatinya batu. Tipe orang yang tidak punya perasaan, tapi luar biasa jago bikin hoaks di gawaian cuma demi menjatuhkan saudaranya sendiri. Kita memang butuh sains untuk membaca situasi dunia, tapi kita jauh lebih butuh ketakwaan yang konsisten—bukan yang musiman—biar kepintaran kita tidak berbalik menjadi senjata yang kejam untuk saling hancurkan.

Padahal, sejarah kita di Nusantara sudah pernah memberi pelajaran yang teramat mahal dan getir soal ini. Bayangkan, di zaman kerajaan dahulu, saat belum ada pabrik hoaks, belum ada buzzer bayaran, dan internet pun belum lahir, kehancuran akibat adu domba sudah sedashat itu.

Kesultanan Banten yang dulu begitu kuat dan disegani, runtuh berantakan bukan karena diserang pasukan besar dari luar. Bukan. Kerajaan itu tumbang hanya lewat desas-desus, kasak-kusuk mulut ke mulut, dan adu domba manual. Sultan Haji dihasut sampai tega mencurigai ayahnya sendiri, Sultan Ageng Tirtayasa. Begitu rasa percaya hilang, pecahlah perang saudara, dan penjajah tinggal masuk mengambil alih dengan mudah tanpa perlu buang banyak peluru.

Hal yang sama menimpa Mataram yang akhirnya terbelah jadi kerajaan-kerajaan kecil lewat Perjanjian Giyanti karena elite dan masyarakatnya gampang termakan intrik politik dan hobi saling menghujat. Kalau tanpa teknologi saja fitnah bisa merubuhkan kerajaan sebesar itu, apalagi hari ini ketika hoaks dan fitnah diproduksi secara massal oleh industri digital? Sejarah mencatat dengan jelas: sekuat apa pun kita, benteng negara ini pasti hancur kalau kebencian sudah merusak akal sehat masyarakatnya.

Namun di sisi lain, sejarah juga mengajarkan hal yang sebaliknya. Ada kebahagiaan dan keagungan yang luar biasa ketika persatuan dan kesatuan diutamakan. Ketika para pendiri bangsa ini mampu menyingkirkan ego pribadi dan kelompoknya, mereka berhasil melahirkan kejayaan dan keunggulan yang membuat kita merdeka. Sejarah yang mengajari kita untuk memercayai bahwa di dalam kerapatan barisan, selalu ada kemenangan.

Kita harus sadar kalau situasi dunia sekarang menuntut kita buat dewasa sebagai sebuah bangsa. Jangan biarkan persatuan ini cuma jadi slogan semalam saat pawai.

Mari kita genggam erat tali tambang persaudaraan ini. Kita jaga barisan masyarakat ini biar tetap rapi, tetap di jalur yang benar, bahkan ketika riuh pawainya sudah tidak ada lagi. Jangan biarkan malam ini menjadi malam terakhir untuk membuktikan persatuan kita. Barisan ini harus tetap tegak berdiri menghadapi apa pun di depan sana, tidak peduli hari berganti atau bulan berlalu.

Perbanyak sholawat, hindari menghujat supaya hidup selamat. InsyaAllah…

 

*Penulis adalah ASN pada Dinas Pariwisata Madina

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bulung Gadung Naiduda Goreng dari Mandailing Malaysia (bagian 2 – selesai)

    Bulung Gadung Naiduda Goreng dari Mandailing Malaysia (bagian 2 – selesai)

    • calendar_month Jumat, 23 Des 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Dahlan Batubara   Bicara cita rasa dan aroma, bulung gadung naiduda goreng ini ternyata sangat berbeda dengan bulung gadung naiduda gulai. Ada semacam rasa orisinil dari kaldu daun ubi di dalam bulung gadung naiduda goreng tersebut. Saya bukan ahli kuliner, tetapi saya bisa merasakan zat-zat ekstraktif yang terdapat di dalam bulung gadung naiduda […]

  • Tim Dainang Dukung Dahlan-Aswin

    Tim Dainang Dukung Dahlan-Aswin

    • calendar_month Senin, 18 Mei 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pasangan Dahlan-Aswin mendapat kunjungan kehormatan kalangan kaum ibu dari daerah Mandailing Godang. Komponen kaum ibu itu terasosiasi dalam Tim Dainang. Tim Dainang ini tumbuh di desa desa dalam mengejawantahkan hak hak politik dan aspirasi kaum ibu rumah tangga. Kunjungan itu dirangkai dalam silaturrahmi dan buka puasa bersama di Kampoeng Kaos Madina, […]

  • Komisi I Kunjungi SD Simpang Bambu Yang Memprihatinkan

    Komisi I Kunjungi SD Simpang Bambu Yang Memprihatinkan

    • calendar_month Jumat, 8 Nov 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      NATAL (Mandailing Online) – Komisi I DPRD Madina meninjau kondisi SD Negeri 405 Simpang Bambu, Desa Sundutan Tigo Kecamatan Natal, Jum’at (8/11/2019). Tinjauan ini dilakukan Komisi I karena gedung dan mobiler sekolah ini sangat memprihatinkan. Bahkan jauh dari memenuhi standar kelayakan. Sekolah ini belum pernah memperoleh perehaban dalam rentang 15 tahun. Kondisinya berlantai tanah, […]

  • Pasca Mengadu ke Polisi, Korban Pencabulan Kena Teror

    Pasca Mengadu ke Polisi, Korban Pencabulan Kena Teror

    • calendar_month Selasa, 18 Apr 2023
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Satu keluarga korban pencabulan di Muara Batang Gadis, Madina, Sumut, saat ini menghadapi teror dan penganiayaan. Teror diduga berasal dari pihak pelaku pencabulan. Sekelompok orang yang melakukan penganiayaan tersebut diduga tidak terima karena salah satu keluarganya dilaporkan oleh korban ke polisi terkait kasus pencabulan di bawah umur. Satu rekaman video berdurasi […]

  • Bupati Madina Dahlan Hasan Dirangkul Warga di Aek Mata

    Bupati Madina Dahlan Hasan Dirangkul Warga di Aek Mata

    • calendar_month Kamis, 15 Okt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kunjungan Bupati Madina Dahlan Hasan Nasution ke kawasan Aek Mata ternyata memiliki makna tersendiri. Sebab, kedatangan bupati itu, menurut pengakuan warga, rupanya merupakan kunjungan pertama dari seorang bupati sejak Mandailing Natal (Madina) berdiri tahun 1998 lalu. “Bagaimana tidak, baru kali ini bupati Madina datang ke desa ini sejak kabupaten kita […]

  • Bupati Madina: Pramuka Harus Dimasyarakatkan

    Bupati Madina: Pramuka Harus Dimasyarakatkan

    • calendar_month Senin, 20 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Bupati Mandailing Natal selaku Ketua Majelis Pembina Kwartir Cabang Mandailing Natal Ir Aspan Sofyan Batubara mengharapkan kepada Saka Bhayangkara Polres Mandailing Natal untuk memasyarakatkan Pramuka dan membhayangkarakan Pramuka. Hal itu disampaikan Bupati Madina Ir. Aspan Sofyan Batubara MM selaku majelis Pembimbing cabang pada acara pelantikan Kapolres Mandailing Natal AKBP Hirbak Wahyu Setiawan menjadi Kamabisaka, di […]

expand_less