Senin, 20 Jul 2026
light_mode

Refleksi Pawai Obor 1 Muharram 1448 H: Di Sini Bersalawat, Di Sana Menghujat

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
  • print Cetak

Oleh: Moechtar Nasution*

 

Suatu malam di tahun  lalu, sesudah salat isya, saya duduk di teras Masjid Jamik Kota Siantar bertepatan dengan malam 1 Muharram. Sepertinya hampir setiap tahun, masyarakat didominasi anak-anak di kelurahan ini memang selalu menggelar pawai obor berkeliling kampung. Malam ini juga dipastikan ada karena sudah dipost di linimasa facebook saudara saya, Ludfan Nasution.

Saat melihat arak-arakan mereka malam itu, di sela kepulan asap minyak tanah, ada rasa cemas yang mendadak muncul pas apinya padam. Bau gosong di ujung gang itu seperti menampar wajah kita dan bertanya: apa yang tersisa di dalam diri setelah acara selesai? Kalau besok pagi kita kembali ke dunia nyata lalu langsung saling mencaci dan menghujat di linimasa, ya tradisi keliling kampung di Kota Siantar kemarin itu dan yang sekarang cuma jadi tontonan teater yang menyedihkan. Hiburan semalam saja.

Jujur, kadang saya merasa cara kita beragama dan bernegara sekarang ini kok semakin hari semakin kekanak-kanakan ya? Kita ini hobi sekali terkotak-kotak. Ribut buat hal-hal kecil, lalu lanjut saling maki dan lempar hujatan di medssos. Lelah kita melihatnya. Padahal kalau mau sedikit saja membuka mata dan melihat kenyataan di luar sana, dunia ini sedang mengerikan. Anomali global nyata-nyata sedang mengintai kita. Mulai dari krisis lingkungan yang makin kacau, cuaca yang tidak menentu, harga energi yang melambung, sampai bayang-bayang krisis pangan yang siap bikin miliaran perut kelaparan.

Melihat situasi segawat itu, ngeri ngeri sedap rasanya menatap kondisi kita hari ini. Sebagai sebuah bangsa, negara, dan masyarakat, kita seperti sedang berjalan beriringan di tepi jurang yang dalam. Apa yang menanti kita di depan sana amat sangat mengkhawatirkan. Benang tipis? Mana cukup! Di tengah badai sekacau ini kita butuh tali tambang—tali yang benar-benar besar, kasar, dan kokoh—untuk mengikat erat ego kita masing-masing. Tanpa tali tambang itu? Badai di depan sana akan dengan sangat mudah mencerai-beraikan kita semua sampai tidak bissa tersisa.

Bagaimana mungkin kita, sebagai umat dan sesama anak bangsa, bisa ikut andil memberi solusi buat dunia kalau energi kita habis cuma buat meributkan urusan internal yang remeh? Bagaimana mau menyelamatkan masa depan negara ini kalau isi hati kita isinya cuma curiga dan gersang dari rasa saling percaya?

Zaman boleh maju, silakan. Tapi modernisasi itu harusnya beriringan dengan iman yang makin matang. Teknologi tanpa rem spiritual cuma bakal melahirkan orang-orang pintar yang hatinya batu. Tipe orang yang tidak punya perasaan, tapi luar biasa jago bikin hoaks di gawaian cuma demi menjatuhkan saudaranya sendiri. Kita memang butuh sains untuk membaca situasi dunia, tapi kita jauh lebih butuh ketakwaan yang konsisten—bukan yang musiman—biar kepintaran kita tidak berbalik menjadi senjata yang kejam untuk saling hancurkan.

Padahal, sejarah kita di Nusantara sudah pernah memberi pelajaran yang teramat mahal dan getir soal ini. Bayangkan, di zaman kerajaan dahulu, saat belum ada pabrik hoaks, belum ada buzzer bayaran, dan internet pun belum lahir, kehancuran akibat adu domba sudah sedashat itu.

Kesultanan Banten yang dulu begitu kuat dan disegani, runtuh berantakan bukan karena diserang pasukan besar dari luar. Bukan. Kerajaan itu tumbang hanya lewat desas-desus, kasak-kusuk mulut ke mulut, dan adu domba manual. Sultan Haji dihasut sampai tega mencurigai ayahnya sendiri, Sultan Ageng Tirtayasa. Begitu rasa percaya hilang, pecahlah perang saudara, dan penjajah tinggal masuk mengambil alih dengan mudah tanpa perlu buang banyak peluru.

Hal yang sama menimpa Mataram yang akhirnya terbelah jadi kerajaan-kerajaan kecil lewat Perjanjian Giyanti karena elite dan masyarakatnya gampang termakan intrik politik dan hobi saling menghujat. Kalau tanpa teknologi saja fitnah bisa merubuhkan kerajaan sebesar itu, apalagi hari ini ketika hoaks dan fitnah diproduksi secara massal oleh industri digital? Sejarah mencatat dengan jelas: sekuat apa pun kita, benteng negara ini pasti hancur kalau kebencian sudah merusak akal sehat masyarakatnya.

Namun di sisi lain, sejarah juga mengajarkan hal yang sebaliknya. Ada kebahagiaan dan keagungan yang luar biasa ketika persatuan dan kesatuan diutamakan. Ketika para pendiri bangsa ini mampu menyingkirkan ego pribadi dan kelompoknya, mereka berhasil melahirkan kejayaan dan keunggulan yang membuat kita merdeka. Sejarah yang mengajari kita untuk memercayai bahwa di dalam kerapatan barisan, selalu ada kemenangan.

Kita harus sadar kalau situasi dunia sekarang menuntut kita buat dewasa sebagai sebuah bangsa. Jangan biarkan persatuan ini cuma jadi slogan semalam saat pawai.

Mari kita genggam erat tali tambang persaudaraan ini. Kita jaga barisan masyarakat ini biar tetap rapi, tetap di jalur yang benar, bahkan ketika riuh pawainya sudah tidak ada lagi. Jangan biarkan malam ini menjadi malam terakhir untuk membuktikan persatuan kita. Barisan ini harus tetap tegak berdiri menghadapi apa pun di depan sana, tidak peduli hari berganti atau bulan berlalu.

Perbanyak sholawat, hindari menghujat supaya hidup selamat. InsyaAllah…

 

*Penulis adalah ASN pada Dinas Pariwisata Madina

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • FMPM : Oknum Penyudut EEL Diduga Tidak Memahami Regulasi

    FMPM : Oknum Penyudut EEL Diduga Tidak Memahami Regulasi

    • calendar_month Kamis, 19 Sep 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA ( Mandailing Online ) “Semakin rancu” adalah dua kata yang menggambarkan mereka yang mencoba menyudutkan Ketua DPRD Mandailing Natal (Madina) periode 2019-2024, Erwin Efendi Lubis (EEL). Kerancuan ini terlihat ketika mereka mengomentari tentang keterkaitan EEL dalam seleksi PPPK Madina tahun 2023 tanpa memahami regulasi.”demikian dikatakan Alwinsyah Nasution Ketua Forum Mahasiswa Pemikir Madina (FMPM) dalam […]

  • Aneh, Pemda Kontrak Mobil 170 Juta Pertahun Untuk Dinas Wakil Bupati Madina

    Aneh, Pemda Kontrak Mobil 170 Juta Pertahun Untuk Dinas Wakil Bupati Madina

    • calendar_month Selasa, 25 Jul 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online): Aneh, Pemda Mandailing Natal merental mobil dinas untuk menunjang aktifitas Wakil Bupati Mandailing Natal Atika Azmi Utami. Rentalnya mencapai Rp.170.000.000 per tahunnya. Hal ini terungkap setelah diketahui mobil dinas yang biasa di pakai oleh Wakil Bupati ber merk Hyundai mengalami kerusakan meski tergolong baru. Kepala Bagian Umum Sekretariat Pemkab Mandailing Natal Irsan […]

  • Isu Mutasi Merebak di Pemkab Madina

    Isu Mutasi Merebak di Pemkab Madina

    • calendar_month Selasa, 12 Jan 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Dalam beberapa hari terakhir issu mutasi besar-besaran menjadi pembicaraan hangat dikalangan PNS Pemkab Mandailing Natal. Bahkan beberapa nama sudah diproyeksikan jatah menduduki jabatan eselon II, III dan IV. Perbincangan hangat di kalangan PNS itu menyebutkan bahwa nama-nama yang akan menduduki jabatan itu merupakan mereka aktif ikut dalam kunjungan kerja bupati di […]

  • Visi Misi Dahlan Hasan Nasution-Jakfar Sukhairi Nasution (1)

    Visi Misi Dahlan Hasan Nasution-Jakfar Sukhairi Nasution (1)

    • calendar_month Jumat, 11 Sep 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Mandailing Natal Yang Berkedaulatan Pangan Mandiri Ekonomi Sehat, Cerdas Didukung Sarana Prasarana Infrastruktur Yang Kuat Masyarakat Religius Dan Berbudaya Misi Memenuhi Kebutuhan Pangan Secara Swasembada. Mewujudkan Kemandirian Ekonomi. Meningkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat. Meningkatkan Kualitas Pendidikan Dan Sumber Daya Manusia. Memenuhi Kebutuhan Sarana, Prasarana, Infrastruktur, Permukiman Dan Membuka Akses Ke Daerah-daerah Terisolir Dan Tertinggal. Meningkatkan […]

  • PACARAN BERUJUNG TRAGIS

    PACARAN BERUJUNG TRAGIS

    • calendar_month Senin, 13 Des 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Anita Safitri, S.Pd Aktivis dakwah & anggota Komunitas Madina Menulis Bunuh diri dijadikan jalan terakhir oleh mahasiswi cantik berinisial NWR yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Brawijaya (UB) Malang. NWR ditemukan warga dalam kondisi tewas di sebelah makam ayahnya pada Kamis (2/12/2021) dengan menenggak racun. Polisi menemukan sisa cairan dalam botol plastik di lokasi […]

  • Fraksi PDIP Minta Pengusutan Pemberi Izin PT TBS

    Fraksi PDIP Minta Pengusutan Pemberi Izin PT TBS

    • calendar_month Kamis, 19 Des 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      MEDAN – Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan DPRD Sumut, Syahrul Efendi Siregar meminta Kapolda Sumut dan Kejatisu yang baru menindak tegas oknum pemberi izin PT TBS. Penegasan itu disampaikan Syahrul kepada wartawan, Kamis (19/12/2019) di Medan. Syahrul menegaskan dirinya sudah melihat langsung areal perkebunan sawit milik PT Tri Bakhtera Srikandi (TBS) di Desa Sikara-Kara, Kecamatan […]

expand_less