Sabtu, 1 Agu 2026
light_mode

Gurita BBM Melilit Selang Pompa Pertumbuhan Ekonomi

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
  • print Cetak

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum

 

Ketika Negara Sibuk Menghitung Liter, Sementara Ekonomi Kehilangan Triliunan Rupiah Produktivitas

Ada kalanya sebuah bangsa harus berhenti sejenak, bukan untuk menghitung berapa banyak BBM yang telah disalurkan, melainkan untuk merenungkan berapa banyak energi ekonomi yang telah hilang sia-sia.

Sebab hari ini, yang bocor dari sistem distribusi BBM bersubsidi bukan sekadar solar atau Pertalite.

Yang bocor adalah produktivitas. Kepercayaan. Masa depan pertumbuhan ekonomi itu sendiri.

Lihatlah apa yang terjadi di banyak daerah, termasuk Mandailing Natal. SPBU tidak lagi hanya menjadi tempat membeli bahan bakar.

Stasiun itu berubah menjadi arena perebutan akses. Arena perebutan kuota. Perebutan rente. Rebutan selisih harga.

Di sana, petani berdiri dalam antrean yang sama dengan pemburu kuota. Nelayan menunggu dalam antrean yang sama dengan pemain pasar gelap. Pedagang kecil bersisian dengan mereka yang mengejar keuntungan dari setiap liter subsidi.

Negara kemudian datang membawa barcode. Bikin aturan. Imbauan. Razia.

Namun antrean tetap panjang. Pasar gelap tetap hidup. Solar makin langka. Harga pun merangkak naik.

Pertanyaannya sederhana: Kalau penyakitnya terus berulang, jangan-jangan yang salah bukan pasiennya, tetapi resep pengobatannya?

Mari kita bicara apa adanya. Gurita BBM hari ini tidak lahir dari satu pelaku.
Mereka lahir dari persekutuan berbagai kepentingan yang menemukan keuntungan dalam ketidakteraturan.

Ada yang memburu volume. Dapat akses. Masuk ke semua celah.

Ada yang memburu setoran. Mengejar margin. Meraup untung sesaat.

Masing-masing memang mengambil sedikit. Tetapi ketika semuanya digabungkan dan berkesinambung, yang hilang menjadi sangat besar.

Begitulah cara gurita bekerja. Tidak menyerang dengan satu tangan. Tapi melilit dengan banyak jari sekaligus.

Namun ada satu tentakel yang jarang disentuh dalam diskusi publik. Yakni, kebijakan energi itu sendiri.

Pemerintah sering bertanya mengapa masyarakat berbondong-bondong mengejar BBM subsidi. Padahal, jawabannya berada di depan mata.
Ketika Pertamax semakin mahal. Dexlite semakin mahal. Ongkos hidup pun semakin mahal.

Ketika pendapatan masyarakat tidak naik secepat harga kebutuhan. Maka, subsidi akan menjadi magnet raksasa. Tidak perlu teori yang rumit. Tanpa seminar berhari-hari.

Manusia selalu bergerak menuju pilihan yang paling mampu mereka jangkau. Selama jarak harga itu menganga lebar, selama itu pula tekanan terhadap BBM subsidi akan terus membesar.

Yang mengkhawatirkan, banyak pejabat masih melihat persoalan ini sebagai urusan distribusi semata. Padahal, ini sudah menjadi ancaman ekonomi.

Mari kita renungkan.

Berapa jam kerja hilang setiap hari di antrean SPBU? Berapa ton hasil pertanian terlambat diangkut?
Berapa biaya logistik membengkak? Usaha kecil kehilangan margin.

Berapa kendaraan produktif berhenti beroperasi?

Berapa investor yang diam-diam mengurungkan niat karena melihat biaya energi yang tidak pasti?

Angka-angka ini tidak pernah muncul di papan SPBU.

Tidak pernah masuk laporan penyaluran. Tetapi dampaknya nyata. Dan nilainya bisa jauh lebih besar daripada kebocoran subsidi yang selama ini diperdebatkan.

Karena sesungguhnya pertumbuhan ekonomi tidak dibangun di ruang rapat.
Pertumbuhan ekonomi dibangun oleh truk yang berjalan. Petani yang mengangkut hasil panen. Nelayan yang melaut.

Oleh pedagang yang berdagang.

Oleh alat berat yang bekerja. Mesin-mesin yang terus hidup.

Ketika energi untuk semua aktivitas itu terganggu, pertumbuhan ikut tersendat.
Tidak hari ini mungkin.
Tetapi perlahan.
Diam-diam.
Menggerogoti dari dalam.

Karena itu solusi tidak boleh lagi setengah hati. Razia saja tidak cukup. Barcode saja tidak cukup.

Menangkap pemain kecil saja tidak cukup.

Negara harus berani membongkar seluruh ekosistem rente dari hulunya.

Pertama, audit menyeluruh pola distribusi BBM subsidi berbasis wilayah, bukan sekadar kuota nasional. Daerah luas seperti Madina tidak bisa diperlakukan sama dengan kota besar.

Kedua, transparansi digital real-time terhadap distribusi dan penjualan BBM subsidi. Bukan sekadar barcode pengguna, tetapi juga keterbukaan data penyaluran yang dapat diawasi publik.

Ketiga, penindakan tanpa pandang bulu terhadap seluruh mata rantai penyimpangan. Bukan hanya pengecer di pinggir jalan, tetapi siapa pun yang menikmati keuntungan dari kebocoran sistem.

Keempat, evaluasi serius terhadap kesenjangan harga antara BBM subsidi dan non-subsidi. Sebab selama selisih harga menjadi terlalu menggiurkan, pasar akan terus menciptakan cara baru untuk memburu rente.

Kelima, memperluas akses distribusi resmi ke daerah-daerah yang masih bergantung pada pengecer karena faktor jarak dan geografis.

Pada akhirnya, persoalan BBM bukan soal bahan bakar. Ini soal arah negara.
Apakah subsidi akan menjadi instrumen keadilan sosial?

Ataukah berubah menjadi ladang rente yang diperebutkan dari tahun ke tahun?
Apakah SPBU akan menjadi simpul pelayanan publik? Ataukah menjadi titik panas ekonomi yang tak pernah selesai?

Apakah negara akan terus sibuk menghitung berapa liter yang keluar?

Ataukah mulai menghitung berapa besar kerugian ekonomi yang ditanggung rakyat akibat sistem yang gagal dikendalikan?

Sebab, jika gurita ini terus dibiarkan, yang tercekik bukan hanya selang pompa. Tapi juga produktivitas rakyat.

Yang tercekik adalah daya saing daerah. Investasi. Dan pada akhirnya, yang tercekik adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia itu sendiri.

Mungkin sudah saatnya negara berhenti sekadar memadamkan api di SPBU.

Dan mulai membongkar gudang tempat bensin bagi seluruh persoalan itu disimpan.

Karena selama sumber apinya tetap ada, antrean akan kembali. Pasar gelap akan kembali. Rente akan kembali.

Dan, kita akan terus mengulang drama yang sama, dengan aktor yang berbeda, tetapi kerugian yang semakin besar. ***

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gordang Sambilan Menggema di Istana Merdeka

    Gordang Sambilan Menggema di Istana Merdeka

    • calendar_month Jumat, 17 Agt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Jakarta (MO) – Untuk kali pertama, Gordang Sambilan dipertunjukkan di istana merdeka, Jakarta. Alat musik tradisional Mandailing tersebut dipagelarkan dalam acara HUT RI, Jum’at (17/8). Sebanyak 4 orang pemain gordang dari Desa Hutagodang, Ulu Pungkut, Kabupaten Mandailing Natal berangkat pekan lalu ke Jakarta untuk memenuhi pertunjukan Goradang Sambilan. Pemain tambahan diisi oleh orang Mandailing yang […]

  • Peringatan HUT Satpam Ke-32 Polres Madina

    Peringatan HUT Satpam Ke-32 Polres Madina

    • calendar_month Jumat, 18 Jan 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN,(Mandailingonline)— Kepolisian Resor Mandailing Natal menggelar upacara dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Satuan Pengamanan yang ke-32 dan diikuti oleh seluruh Satpam se-Kabupaten Madina, Rabu (16/1) di halaman mapolres Madina. Bertindak sebagai Inspektur Upacara adalah Kepala Polres Madina AKBP Achmad Fauzi Dalimunthe, S.iK. Dalam kesempatan tersebut, Kapolres Madina membacakan amanat dari Kapolri Jenderal Polisi Drs. […]

  • Pilkada 2024, Pedagang di Madina Harapkan Perubahan

    Pilkada 2024, Pedagang di Madina Harapkan Perubahan

    • calendar_month Minggu, 6 Okt 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA ( Mandailing Online ): Dimomen pemilihan kepala daerah (Pilkada) tahun 2024, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), seperti beberapa pedagang tradisional Pasar Baru Panyabungan, Kecamatan Panyabungan, mengharapkan perubahan Madina kedepan. Selain memberikan perubahan, beberapa pedagang juga mengharapkan calon bupati dan wakil bupati ini dapat membawa harapan baru untuk Madina. Mereka beralasan, ditengah tingginya harga beberapa kebutuhan […]

  • Ketika Hamka Menggugat Sejarah Indonesia

    Ketika Hamka Menggugat Sejarah Indonesia

    • calendar_month Minggu, 31 Jul 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Hamka telah dikenal luas sebagai cendekiawan Islam dan pengarang roman ternama seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wicjk. Namun sebetulnya Hamka juga seorang penulis sejarah. Cukup banyak karya tulisnya yang membahas sejarah Islam dan sejarah Indonesia. Menariknya, beberapa karangannya tentang sejarah bersifat gugatan, terutama gugatan atas penulisan sejarah Indonesia. Apa yang digugat Hamka ialah penulisan sejarah […]

  • Pergeseran Jabatan Terjadi, Eli Mahrani Lantik 6 Ketua PKK Baru

    Pergeseran Jabatan Terjadi, Eli Mahrani Lantik 6 Ketua PKK Baru

    • calendar_month Rabu, 18 Jan 2023
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pergeseran jabatan yang terjadi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) turut berimbas pada posisi ketua PKK di beberapa kecamatan. Atas hal tersebut, Ketua TP PKK Madina Eli Mahrani melantik enam ketua PKK kecamatan. Keenam ketua PKK kecamatan yang baru dilantik adalah Emmy Kholidah sebagai ketua TP PKK Kecamatan Panyabungan, Rohima […]

  • Anggaran Pendidikan 2011 Capai Rp 248 T

    Anggaran Pendidikan 2011 Capai Rp 248 T

    • calendar_month Rabu, 5 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA-Pemerintah kembali merilis rancangan porsi pembiayaan untuk pos pendidikan pada 2011. Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) menyatakan bahwa pendidikan tinggi (dikti) mendapat porsi besar dalam perencanaan anggaran 2011 yakni sekitar Rp28 triliun atau sekitar 51 persen anggaran Kemendiknas 2011. “Jumlah tersebut termasuk anggaran dari pendapatan negara bukan pajak (PNBP),” ujar Mendiknas Mohammad Nuh, Selasa (4/1). Tahun […]

expand_less