Sabtu, 13 Jun 2026
light_mode

Ketika Hamka Menggugat Sejarah Indonesia

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Minggu, 31 Jul 2022
  • print Cetak

Hamka telah dikenal luas sebagai cendekiawan Islam dan pengarang roman ternama seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wicjk.

Namun sebetulnya Hamka juga seorang penulis sejarah. Cukup banyak karya tulisnya yang membahas sejarah Islam dan sejarah Indonesia.

Menariknya, beberapa karangannya tentang sejarah bersifat gugatan, terutama gugatan atas penulisan sejarah Indonesia.

Apa yang digugat Hamka ialah penulisan sejarah Indonesia yang dinilainya sangat Jawasentris.

Ia melihat sejumlah bahaya yang terkandung dalam penulisan narasi sejarah Indonesia yang Jawasentris ini.

Pada 17 Januari 1957, tak lama setelah Dewan Banteng didirikan, saat gejolak di Sumatera kian intens, Hamka menulis sebuat artikel berjudul “Tinjaulah Sejarah (Penulisan Sejarah)” di surat kabar Haluan.

Dalam artikel yang kemudian dibukukan oleh Gusti Asnan dalam Demokrasi, Otonomi, dan Gerakan Daerah: Pemikiran Politik Orang Minang Tahun 1950-an ini, Hamka melihat, selain persoalan pembagian ekonomi yang tidak adil, gejolak di daerah juga ikut dipicu oleh penulisan sejarah Indonesia yang tidak adil.

Di dalam buku-buku sejarah yang ‘diakui’ oleh pihak pendidikan, lebih diutamakanlah ‘Sejarah Jawa’ di zaman purbakala. Kalau hendak mengetahui ‘Sejarah Indonesia’, hendaklah didahulukan Jawa, hendaklah dikaji sedalam-dalamnya tentang Majapahit. Hendaklah disanjung tinggi Gajah Mada dan Hayam Wuruk,” tulis Hamka.

Sementara itu, protes Hamka, dalam buku-buku sejarah untuk anak sekolah, sejarah daerah seperti sejarah panjang Kerajaan Aceh justru hanya ditampilkan sekilas “…paling banyak 5 lima lembar”.

Gajah Mada yang diagungkan sebagai pahlawan pemersatu Nusantara, di banyak daerah di luar tanah Jawa justru dilihatnya sebagai “penanam dendam”.

Majapahit yang digambarkan sebagai sistem pemerintahan yang ideal, bagi daerah, lanjut Hamka, adalah simbol penaklukan.

Hamka kemudian memperingatkan bahwa, “selama sejarah Indonesia masih dipusatkan di Jawa, sampai 200 atau tiga 300 halaman, sedang sejarah seluruh kepulauan Indonesia di Luar Jawa—termasuk Batam dan Cirebon—hanya 30 atau 40 halaman, selama itu pula rasa tidak puas seluruh daerah tidak akan dapat dihalangi.”

Gugatan kembali diajukan Hamka dalam artikelnya-artikelnya yang terhimpun dalam Dari Perbendaharaan Lama (1963).

Artikel-artikel dalam buku itu berasal dari serial tulisan Hamka mengenai sejarah Islam dan Indonesia di Mingguan Abadi dari tahun 1950-1960. Di sini ia mulai melihat hubungan tidak sehat antara penulisan sejarah Jawasentris dengan pembentukan identitas nasional Indonesia.

Masa-masa ketika Hamka melontarkan gugatan-gugatannya, yaitu antara 1950-1965, memang dikenal sebagai masa-masa pemantapan identitas nasional dengan narasi sejarah sebagai salah satu instrumen pentingnya.

Hamka sendiri menyadari bahwa suatu “sejarah kebangsaan” dibutuhkan sebagai landasan persatuan bagi bangsa yang baru terbentuk dan tengah bergolak itu.

Namun menurut Hamka, nasionalisme atau kebangsaan yang diasalkan pada sejarah kebesaran Majapahit malah akan merusak persatuan.

Jika sejarah nasion Indonesia yang diisi oleh berbagai kebudayaan diasalkan pada Majapahit dan sejarah Indonesia yang ditulis menonjolkan sejarah dan kebudayaan Jawa, maka akan muncul pertentangan-pertentangan karena tiap-tiap budaya punya pahlawan-pahlawan dan kebanggaan tersendiri.

Pengagungan Majapahit yang berlebihan juga akan mendorong munculnya sentimen agama. Saat mencari sebab-sebab kemunduran kejayaan Majapahit, orang dengan mudah akan menuduh Islam sebagai sebabnya. Saat itu menurut Hamka sudah ada kalangan yang “berkata bahwa keruntuhan Majapahit adalah karena serangan Islam.”

Bagi Hamka, nasion Indonesia yang diasalkan pada Majapahit, meski terlihat megah, tapi rapuh di dasarnya. Selain berpotensi menjadi cikal bakal “hitler-isme”, menurutnya, kurun sejarah kejayaan Majapahit adalah kurun yang penuh pertentangan antara orang Indonesia sendiri. Jika ini digali-gali terus, maka perpecahanlah yang akan timbul.

Karenanya persatuan macam itu dapat terpecah dengan gampang, baik karena konflik Internal antar daerah-daerah dalam kesatuan itu, maupun oleh intervensi dari pihak luar yang memanfaatkan kerapuhan tersebut.

Sejarah “…kebangsaan yang demikian, dapatlah memecah persatuan yang telah kita capai dan kemerdekaan yang ada di tangan kita,” tulisnya.

Visi Hamka Atas Sejarah Indonesia

Selain menggugat, Hamka turut punya cara pandang berbeda terhadap sejarah kebangsaan Indonesia.

Berbeda dengan narasi sejarah Indonesia Jawasentris yang dilihatnya hendak me-Majapahit-kan Republik Indonesia, Hamka melihat bahwa nasion Indonesia adalah sesuatu yang sifatnya modern. Yang lahir dalam zaman modern di abad ke-20 yang pada gilirannya melahirkan masyarakat serta sistem pemerintahan yang modern pula.

Pandangan tersebut tergambar kuat dalam karya Hamka lainnya, yaitu Sedjarah Umat Islam di Sumatera (1950).

Meski buku kecil ini secara khusus membahas proses masuk dan berkembangnya Islam di Sumatera, tapi secara umum narasi yang dibangun Hamka mengembang ke soal yang lebih luas: proses pembentukan bangsa Indonesia yang modern, serta peran sentral Islam dalam proses tersebut.

Bangsa Indonesia dalam pandangan Hamka lahir di masa-masa yang disebut Hamka sebagai “kebangunan gerakan Islam”, di paro kedua abad ke-20.

Masa-masa ini ditandai dengan munculnya organisasi-organisasi pergerakan Islam modernis yang bersifat lintas budaya lintas geografis. Jawa dan Sumatera yang berbeda secara budaya dan terpisah secara geografis, dipersatukan oleh semangat kebangkitan Islam di bawah kepeloporan “kaum muda”.

Organisasi-organisasi dan sekolah-sekolah modern yang didirikan kaum muda di seluruh Hindia Belanda, menyediakan dasar bagi terbentuknya bangsa Indonesia. Itu juga semacam inkubator tokoh-tokoh pemimpin pergerakan nasional yang kelak memimpin Indonesia menuju kemerdekaan.

“Kebangunan Gerakan Islam di Indonesia” sendiri ditempatkan Hamka sebagai bagian tidak terpisahkan dari gerakan pan-Islam di tingkat global. Sebagian kaum muda adalah para sarjana yang baru saja kembali dari menuntut ilmu di Mekah pada awal 1900-an, di saat gagasan pembaharuan Islam tengah menggelora di dunia Islam, terutama Mesir dan Turki.

Dengan kata lain, Hamka melihat sejarah bangsa Indonesia sebagai bagian dari gerakan pembaharuan Islam di dunia.

Secara hati-hati Hamka menyamakan gerakan kaum muda dengan Renaisans di Eropa.

Kemajuan Eropa dilihat sebagai keberhasilan pembaruan di dalam cara berpikir, dari ketundukan terhadap otoritas lama yang macet ke cara berpikir baru yang modern dan maju.

Ini bisa dinilai sebagai upaya Hamka untuk mengontraskan antara Majapahit, yang sering digambarkannya secara implisit sesuatu yang kuno dan kolot, dengan Indonesia sebagai nasion-state yang baru dan modern.

Gugatannya dan visinya atas penulisan sejarah Indonesia ini, seperti ditulis James Rush dalam Adicerita Hamka: Visi Islam Sang Penulis Besar untuk Indonesia Modern (2017:251) merupakan bagian dari suatu Adicerita. “…di mana Indonesia, suatu negara modern, bakal bersatu di sekeliling nilai-nilai dan ajaran Islam.”

Dicopy dari: Tirto.id/Randi Reimena

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Reformasi Birokrasi Harus Agenda Utama Pj Bupati Madina

    Reformasi Birokrasi Harus Agenda Utama Pj Bupati Madina

    • calendar_month Kamis, 4 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN : Carut marutnya birokrasi Pemkab Madina harus menjadi program utama Pj Bupati Madina Ir Aspan Sopian Batubara akibat tidak tegasnya Pj Bupati Madina kepada seluruh jajaran yang ada di pemerintahan mulai dari Sekda,SKPD,dan pejabat-pejabat teras maupun stap nya,demikian di sampaikan Katua Satma Madina Tan Gozali di dampingi Sekretaris Satma Iswadi Batubara,kabid social politik Khairul […]

  • Tidak Sesuai Spesifikasi, PU Madina Bongkar Pengaspalan Jalan Sawahan Kotanopan

    Tidak Sesuai Spesifikasi, PU Madina Bongkar Pengaspalan Jalan Sawahan Kotanopan

    • calendar_month Rabu, 16 Nov 2022
    • account_circle Ahmad Effendi
    • 0Komentar

    KOTANOPAN (Mandailing Online) – Dinas Pekerjaaan Umum Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumut melakukan pembongkaran aspal di Jalan Keliling Sawahan, Kotanopan. Pembongkaran ini dilakukan, karena pengerjaan pengaspalan jalan tidak sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan. Pantauan Mandailing Online, Rabu (16/11/2022) di lokasi, kondisi jalan sudah teraspal dengan aspal hotmix yang baru. Namun di beberapa titik terlihat aspal […]

  • Pemda se Tabagsel Teken Komitmen dengan KPK

    Pemda se Tabagsel Teken Komitmen dengan KPK

    • calendar_month Rabu, 22 Des 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIPIROK (Mandailing Online) – Bupati/Walikota beserta wakil masing-masing menadatangani komitmen bersama KPK. Komitmen itu berupa pencegahan korupsi di daerahnya masing-masing. Dari Mandailing Natal (Madina) ikut meneken adalah bupati Ja’far Sukhairi Nasution dan wakil bupati Atika Azmi Utammi Nasution. Penandatangan itu berlangsung dalam Rapat Koordinasi Pemberantasan Korupsi Terintegrasi di Pemerintahan Kabupaten/Kota Tapanuli Selatan, Padangsidimpuan, Tapanuli Tengah, […]

  • Bupati Madina: Generasi Muda Penerus Kepemimpinan

    Bupati Madina: Generasi Muda Penerus Kepemimpinan

    • calendar_month Kamis, 7 Nov 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bupati Mandailing Natal (Madina) HM. Jafar Sukhairi Nasution, menyatakan bahwa generasi muda adalah penerus estafet kepemimpinan di Madina. Oleh karena itu, generasi muda harus banyak melatih diri agar memiliki kemampuan fisik dan mental serta seportivitas yang mumpuni. Hal itu dikatakan bupati saat melepas kafilah Porsadin Madina dilaksanakan di Masjid Agung […]

  • NII Juga Rambah PNS, di Sumut Belum Ditemukan

    NII Juga Rambah PNS, di Sumut Belum Ditemukan

    • calendar_month Sabtu, 30 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA- Seluruh gubernur, bupati dan wali kota hingga camat diminta untuk mengawasi gerak-gerik para pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan masing-masing, jangan sampai terpengaruh ajaran kelompok radikal Negara Islam Indonesia (NII). Perintah Mendagri, Gamawan Fauzi ini menyusul pernyataan Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah yang mengaku mendapat laporan adanya anggota NII yang menjadi PNS. “Kita sudah […]

  • Pengacara Ragukan Keterangan Saksi Polisi

    Pengacara Ragukan Keterangan Saksi Polisi

    • calendar_month Selasa, 12 Nov 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIMALUNGUN (Mandailing Online) – Sidang lanjutan penganiayaan Kapolsek Dolok Pardamean, Kompol Anumerta Andar Siahaan kembali dilaksanakan di PN Simalungun, Senin (11/11). Pengacara terdakwa Wariyanto dan Jasarmen Sinaga, Gredo Tarigan mengatakan keterangan tiga anggota Polsek Dolok Pardamean yang dijadikan sebagai saksi, diragukan dan tidak faktual. Dalam tanggapan (duplik) penasihat hukum atas tanggapan (replik) Jaksa Penuntut Umum […]

expand_less