Selasa, 28 Jul 2026
light_mode

Ketika Hamka Menggugat Sejarah Indonesia

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Minggu, 31 Jul 2022
  • print Cetak

Hamka telah dikenal luas sebagai cendekiawan Islam dan pengarang roman ternama seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wicjk.

Namun sebetulnya Hamka juga seorang penulis sejarah. Cukup banyak karya tulisnya yang membahas sejarah Islam dan sejarah Indonesia.

Menariknya, beberapa karangannya tentang sejarah bersifat gugatan, terutama gugatan atas penulisan sejarah Indonesia.

Apa yang digugat Hamka ialah penulisan sejarah Indonesia yang dinilainya sangat Jawasentris.

Ia melihat sejumlah bahaya yang terkandung dalam penulisan narasi sejarah Indonesia yang Jawasentris ini.

Pada 17 Januari 1957, tak lama setelah Dewan Banteng didirikan, saat gejolak di Sumatera kian intens, Hamka menulis sebuat artikel berjudul “Tinjaulah Sejarah (Penulisan Sejarah)” di surat kabar Haluan.

Dalam artikel yang kemudian dibukukan oleh Gusti Asnan dalam Demokrasi, Otonomi, dan Gerakan Daerah: Pemikiran Politik Orang Minang Tahun 1950-an ini, Hamka melihat, selain persoalan pembagian ekonomi yang tidak adil, gejolak di daerah juga ikut dipicu oleh penulisan sejarah Indonesia yang tidak adil.

Di dalam buku-buku sejarah yang ‘diakui’ oleh pihak pendidikan, lebih diutamakanlah ‘Sejarah Jawa’ di zaman purbakala. Kalau hendak mengetahui ‘Sejarah Indonesia’, hendaklah didahulukan Jawa, hendaklah dikaji sedalam-dalamnya tentang Majapahit. Hendaklah disanjung tinggi Gajah Mada dan Hayam Wuruk,” tulis Hamka.

Sementara itu, protes Hamka, dalam buku-buku sejarah untuk anak sekolah, sejarah daerah seperti sejarah panjang Kerajaan Aceh justru hanya ditampilkan sekilas “…paling banyak 5 lima lembar”.

Gajah Mada yang diagungkan sebagai pahlawan pemersatu Nusantara, di banyak daerah di luar tanah Jawa justru dilihatnya sebagai “penanam dendam”.

Majapahit yang digambarkan sebagai sistem pemerintahan yang ideal, bagi daerah, lanjut Hamka, adalah simbol penaklukan.

Hamka kemudian memperingatkan bahwa, “selama sejarah Indonesia masih dipusatkan di Jawa, sampai 200 atau tiga 300 halaman, sedang sejarah seluruh kepulauan Indonesia di Luar Jawa—termasuk Batam dan Cirebon—hanya 30 atau 40 halaman, selama itu pula rasa tidak puas seluruh daerah tidak akan dapat dihalangi.”

Gugatan kembali diajukan Hamka dalam artikelnya-artikelnya yang terhimpun dalam Dari Perbendaharaan Lama (1963).

Artikel-artikel dalam buku itu berasal dari serial tulisan Hamka mengenai sejarah Islam dan Indonesia di Mingguan Abadi dari tahun 1950-1960. Di sini ia mulai melihat hubungan tidak sehat antara penulisan sejarah Jawasentris dengan pembentukan identitas nasional Indonesia.

Masa-masa ketika Hamka melontarkan gugatan-gugatannya, yaitu antara 1950-1965, memang dikenal sebagai masa-masa pemantapan identitas nasional dengan narasi sejarah sebagai salah satu instrumen pentingnya.

Hamka sendiri menyadari bahwa suatu “sejarah kebangsaan” dibutuhkan sebagai landasan persatuan bagi bangsa yang baru terbentuk dan tengah bergolak itu.

Namun menurut Hamka, nasionalisme atau kebangsaan yang diasalkan pada sejarah kebesaran Majapahit malah akan merusak persatuan.

Jika sejarah nasion Indonesia yang diisi oleh berbagai kebudayaan diasalkan pada Majapahit dan sejarah Indonesia yang ditulis menonjolkan sejarah dan kebudayaan Jawa, maka akan muncul pertentangan-pertentangan karena tiap-tiap budaya punya pahlawan-pahlawan dan kebanggaan tersendiri.

Pengagungan Majapahit yang berlebihan juga akan mendorong munculnya sentimen agama. Saat mencari sebab-sebab kemunduran kejayaan Majapahit, orang dengan mudah akan menuduh Islam sebagai sebabnya. Saat itu menurut Hamka sudah ada kalangan yang “berkata bahwa keruntuhan Majapahit adalah karena serangan Islam.”

Bagi Hamka, nasion Indonesia yang diasalkan pada Majapahit, meski terlihat megah, tapi rapuh di dasarnya. Selain berpotensi menjadi cikal bakal “hitler-isme”, menurutnya, kurun sejarah kejayaan Majapahit adalah kurun yang penuh pertentangan antara orang Indonesia sendiri. Jika ini digali-gali terus, maka perpecahanlah yang akan timbul.

Karenanya persatuan macam itu dapat terpecah dengan gampang, baik karena konflik Internal antar daerah-daerah dalam kesatuan itu, maupun oleh intervensi dari pihak luar yang memanfaatkan kerapuhan tersebut.

Sejarah “…kebangsaan yang demikian, dapatlah memecah persatuan yang telah kita capai dan kemerdekaan yang ada di tangan kita,” tulisnya.

Visi Hamka Atas Sejarah Indonesia

Selain menggugat, Hamka turut punya cara pandang berbeda terhadap sejarah kebangsaan Indonesia.

Berbeda dengan narasi sejarah Indonesia Jawasentris yang dilihatnya hendak me-Majapahit-kan Republik Indonesia, Hamka melihat bahwa nasion Indonesia adalah sesuatu yang sifatnya modern. Yang lahir dalam zaman modern di abad ke-20 yang pada gilirannya melahirkan masyarakat serta sistem pemerintahan yang modern pula.

Pandangan tersebut tergambar kuat dalam karya Hamka lainnya, yaitu Sedjarah Umat Islam di Sumatera (1950).

Meski buku kecil ini secara khusus membahas proses masuk dan berkembangnya Islam di Sumatera, tapi secara umum narasi yang dibangun Hamka mengembang ke soal yang lebih luas: proses pembentukan bangsa Indonesia yang modern, serta peran sentral Islam dalam proses tersebut.

Bangsa Indonesia dalam pandangan Hamka lahir di masa-masa yang disebut Hamka sebagai “kebangunan gerakan Islam”, di paro kedua abad ke-20.

Masa-masa ini ditandai dengan munculnya organisasi-organisasi pergerakan Islam modernis yang bersifat lintas budaya lintas geografis. Jawa dan Sumatera yang berbeda secara budaya dan terpisah secara geografis, dipersatukan oleh semangat kebangkitan Islam di bawah kepeloporan “kaum muda”.

Organisasi-organisasi dan sekolah-sekolah modern yang didirikan kaum muda di seluruh Hindia Belanda, menyediakan dasar bagi terbentuknya bangsa Indonesia. Itu juga semacam inkubator tokoh-tokoh pemimpin pergerakan nasional yang kelak memimpin Indonesia menuju kemerdekaan.

“Kebangunan Gerakan Islam di Indonesia” sendiri ditempatkan Hamka sebagai bagian tidak terpisahkan dari gerakan pan-Islam di tingkat global. Sebagian kaum muda adalah para sarjana yang baru saja kembali dari menuntut ilmu di Mekah pada awal 1900-an, di saat gagasan pembaharuan Islam tengah menggelora di dunia Islam, terutama Mesir dan Turki.

Dengan kata lain, Hamka melihat sejarah bangsa Indonesia sebagai bagian dari gerakan pembaharuan Islam di dunia.

Secara hati-hati Hamka menyamakan gerakan kaum muda dengan Renaisans di Eropa.

Kemajuan Eropa dilihat sebagai keberhasilan pembaruan di dalam cara berpikir, dari ketundukan terhadap otoritas lama yang macet ke cara berpikir baru yang modern dan maju.

Ini bisa dinilai sebagai upaya Hamka untuk mengontraskan antara Majapahit, yang sering digambarkannya secara implisit sesuatu yang kuno dan kolot, dengan Indonesia sebagai nasion-state yang baru dan modern.

Gugatannya dan visinya atas penulisan sejarah Indonesia ini, seperti ditulis James Rush dalam Adicerita Hamka: Visi Islam Sang Penulis Besar untuk Indonesia Modern (2017:251) merupakan bagian dari suatu Adicerita. “…di mana Indonesia, suatu negara modern, bakal bersatu di sekeliling nilai-nilai dan ajaran Islam.”

Dicopy dari: Tirto.id/Randi Reimena

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Teror 2 PNS: HP dan Dompet Korban Dirampok

    • calendar_month Rabu, 29 Mei 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Berdasar pengakuan para korban aksi teror dua tersangka PNS Pemkab Madina, para korban ditodong dengan pistol lalu menyuruh menyerahkan dompet dan HP. Saat memberikan kesaksian di Mapolres Madina, tiga korban masing-masing Hoirul, Sakban dan Febri menceritakan pada hari Sabtu tanggal 11 Mei 2013 sekira pukul 00.00 Wib mereka sedang duduk menunggu […]

  • Gerakan Pangan Murah Pemkab Madina, Harga Diklaim Paling Murah

    Gerakan Pangan Murah Pemkab Madina, Harga Diklaim Paling Murah

    • calendar_month Senin, 4 Mar 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal melalui Dinas Ketahanan Pangan gelar pasar murah. Agenda tersebut merupakan atensi pemerintah bagi masyarakat lantaran melonjaknya harga beras Jelang Ramadhan. Pantau Mandailing Online, pasar beras murah yang dilaksanakan di pasar lama panyabungan pagi tadi 4/3/2024 langsung di serbu warga. Antrian mendapatkan beras yang harga perkilonya Rp.10.250 itu […]

  • Kejari Buka Layanan Pengaduan

    Kejari Buka Layanan Pengaduan

    • calendar_month Selasa, 4 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Guna memerangi kasus korupsi, Kejaksaan Negeri Medan membuka layanan pengaduan kasus korupsi Tahun 2011 ini. Bagi masyarakat yang menemukan adanya bukti kecurangan silahkan melapor ke Kejari Medan. “Jadi kalau menemukan adanya indikasi silahkan melapor kepada pihak kejaksaan. Namun demikian laporan tersebut harus dilengkapi dengan bukti-bukti kongkrit supaya pengaduan langsung ditindaklanjuti,” kata Kasi Pidsus Kejari […]

  • Kebijakan Sertifikasi Guru Tak Meningkatkan Mutu, Uang Negara Triliyunan Terbuang

    Kebijakan Sertifikasi Guru Tak Meningkatkan Mutu, Uang Negara Triliyunan Terbuang

    • calendar_month Senin, 20 Okt 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        BATANG NATAL (Mandailing Onlne) – Program pendanaan terhadap guru bersertifikasi dinilai tak memiliki output fositif, bahkan negara dirugikan triliyunan rupiah, sebab antara guru yang bersertifikasi dengan guru non sertifikasi tak ada bedanya, masa jam mengajar tetap sama. Uang triliyunan yang dikucurkan kepada para guru sertifikasi ini pun menjadi semacam uang berfoya-foya ditengah tidak […]

  • Sandi: OK OCE Luncurkan 30 Rumah Siap Kerja Tahun Depan

    Sandi: OK OCE Luncurkan 30 Rumah Siap Kerja Tahun Depan

    • calendar_month Senin, 21 Okt 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      BANGKA – Founder OK OCE Sandiaga Uno sebut tahun depan OK OCE akan meluncurkan rumah siap kerja yang tersebar di seluruh Indonesia. Rumah siap kerja sendiri sebagai penyedia akses informasi mengenai lapangan kerja khusus anak muda. Hal itu disampaikan oleh Sandiaga saat mengisi seminar tentang kewirausahaan di Pangkalpinang, Bangka Belitung, Senin (21/10/2019). “Tahun depan […]

  • Kantor Imigrasi di Madina Resmi Buka Hari Ini

    Kantor Imigrasi di Madina Resmi Buka Hari Ini

    • calendar_month Rabu, 26 Jan 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kantor Imigrasi Kelas II TPI Sibolga di Mandailing Natal (Madina) diresmikan hari ini, Rabu ( 26/01/2022 ). Kantor yang berlokasi di Mompang, Panyabungan Utara ini sudah bisa melayani penerbitan pasport. Peresmian dilakukan Kepala kantor Imigrasi Hukum dan HAM Wilayah Sumatera Utara, Imam Suyudi. Suyudi menyatakan bahwa kantor ini sudah bisa melayani […]

expand_less