Sabtu, 7 Nov 2026
light_mode

Marsialapari Tradisi Gotong Royong Masyarakat Mandailing

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 13 Mei 2014
  • print Cetak

Oleh: Harvina, S.Sos

Tradisi gotong royong telah lama hidup dalam masyarakat Indonesia. Tradisi ini dapat terlihat dari kebiasaan masyarakat kita yang saling membantu dalam melakukan setiap kegiatan, misalnya dalam prosesi pernikahan, kematian, menjaga lingkungan dan bercocok tanam. Namun, beberapa tahun terakhir, tradisi gotong royong tanpa disadari mulai terkikis keberadaannya, terutama pada masyarakat yang hidup di daerah perkotaan, yang lebih mementingkan kepentingan individu daripada kelompok.

Pada masa sekarang tradisi gotong royong mulai digalakkan kembali oleh pemerintah, dan masyarakat juga mulai menyadari betapa pentingnya gotong royong yang merupakan budaya lokal bangsa Indonesia. Masyarakat Mandailing yang berada di Sumatera Utara juga memiliki budaya atau tradisi-tradisi yang didalamnya mengandung aspek tolong-menolong. Mereka berusaha tetap mempertahankan tolong-menolong yang didalamnya mengandung nilai-nilai luhur yang diteruskan dari generasi ke generasi. Hal ini dapat terlihat pada tradisi-tradisi pengelolaan lingkungan alam. Salah satunya masyarakat Mandailing masih melakukan tradisi marsialapari.

Dalam tradisi marsialapari tersebut ada tradisi untuk saling bantu-membantu, bekerjasama dan bergotong-royong dalam mengerjakan sawah. Sehingga pekerjaan yang berat akan terasa ringan apabila dikerjakan bersama-sama.

APA ITU MARSIALAPARI?
Marsialapari merupakan salah satu tradisi yang ada di masyarakat Mandailing. Mandailing adalah salah satu etnis yang ada di Sumatera Utara. Dulu Mandailing merupakan daerah Kabupaten Tapanuli Selatan, akan tetapi setelah mengalami pemekaran menjadi beberapa kabupaten/kota yaitu menjadi Kab. Mandailing Natal (Madina), Kota Padangsidimpuan, Kab. Tapanuli Selatan, Kabupaten Padanglawas Utara (Paluta). Kelima daerah ini disebut Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel).

Di wilayah Mandailing inilah masih hidup tradisi marsialapari. Marsialapari merupakan budaya lokal yang dimiliki oleh masyarakat Mandailing dalam pengelolaan sawah mereka. Marsialapari berasal dari dua suku kata yaitu alap (panggil) dan ari (hari), kemudian ditambah kata awalan mar yang berarti saling, sementara si adalah kata sambung yang kemudian menjadi kata marsialapari, yang dapat diartikan sebagai saling menjemput hari.

Marsialapari oleh masyarakat Mandailing dikenal sebagai suatu kegiatan tolong menolong dan gotong royong. Dimana pada saat itu masyarakat Mandailing secara sukarela dengan rasa gembira saling tolong menolong/ membantu saudara mereka yang membutuhkan bantuan, yang biasanya dilakukan di sawah atau kebun. Jadi, dapat disimpulkan bahwa marsialapari adalah suatu kegiatan menolong orang lain secara bersama-sama dengan rasa gembira dan dengan harapan orang lain dapat menolong kita di waktu lain ketika kita membutuhkan. Jumlah harinya juga dihitung berapa hari, misalnya kita pergi ke sawah si A selama 7 hari, maka si A juga akan datang ke sawah kita dengan jumlah hari yang sama.

PROSESI MARSIALAPARI
Marsialapari dilakukan pada prosesi manyabii (memanen padi) ataupun prosesi marsuaneme (menanam padi), Pada saat marsuaneme (menanam padi), dibantu oleh enam hingga sepuluh orang yang berasal dari teman atau sanak saudara, baik yang muda ataupun yang tua untuk marsialapari ke sawah kita. Dalam satu hari bisa selesai marsuaneme (menanam padi), hal ini dikarenakan ada saling tolong menolong (marsialapari).

Meskipun marsialapari merupakan kerja sukarela tetapi ada pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki mendapat bagian pekerjaan yang tergolong lebih berat dari perempuan. Pekerjaan laki-laki berkaitan dengan perbaikan atau penyiapan saluran air, tanggul atau jalan. Sementara perempuan cenderung mengerjakan bagian-bagian yang berkaitan dengan penanaman dan pemanenan.

Puncaknya dari kegiatan marsialapari adalah manyabi (panen). Manyabi (panen) itu bagaikan pesta yang dilakukan di sawah. Saat manyabi (panen) adalah saat paling ditunggu-tunggu baik oleh peserta marsialapari maupun anak-anak. Manyabi (panen) penuh kenangan dan sangat membahagiakan mereka karena semua dikerjakan secara bersama-sama.

Dari kegiatan marsialapari ini terlihat bahwa pekerjaan yang sulit akan terasa lebih ringan apabila dikerjakan secara bersama-sama, Sehingga mengerjakan sawah yang luas tidak perlu mengeluarkan uang yang banyak, cukup dengan marsialapari. Kegiatan marsialapari ini dapat bertahan karena masyarakat Mandailing masih memegang teguh nilai-nilai budaya yang ada dalam tradisi ini.

TRADISI MARSIALAPARI PERLU DIPERTAHANKAN
Dalam tradisi marsialapari terdapat kegiatan saling bantu-membantu, bekerjasama, bergotong-royong dalam menyelesaikan sesuatu perkara yang dihadapi bersama dalam lingkup kehidupan bersama. Oleh karena itu, hendaknya tradisi ini tetap dipertahankan, sebab tradisi ini merupakan cerminan budaya lokal dari masyarakat Mandailing itu sendiri.

Selain itu, dalam tradisi marsialapari tercermin nilai-nilai budaya masyarakat Mandailing Hal ini dikarenakan adanya esensi “kasih sayang (holong)” dan “persatuan (domu)” yang hidup dalam khazanah budaya masyarakat Mandailing. Dimana rasa kasih sayang (holong) dan persatuan (domu) telah tertanam dalam diri masyarakat Mandailing.

Kasih sayang dan persatuan (holong dan domu), pada masyarakat Mandailing merupakan implementasi dari adat Dalian Na Tolu, yang menjelma dalam jejaring tiga dimensi Kahanggi, Mora dan Anak Boru.

Sistem sosial dari Dalian Na Tolu tersebut yang menggiring masyarakat Mandailing untuk senantiasa memiliki rasa saling membantu dan bekerjasama dalam menyelesaikan suatu persoalan yang menyangkut kehidupan bersama. Pelaksanaan dari prinsip adat terlihat dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Mandailing yang masih menjalankan aturan adat sebagaimana yang telah ditradisikan oleh leluhur mereka.

PENUTUP
Marsialapari yang merupakan budaya lokal masyarakat Mandailing harus bisa dijaga dan dilestarikan keberadaannya. Hal ini dikarenakan dalam pelaksanaan tradisi marsialapari ini tersirat kegiatan saling bekerjasama dan bergotong-royong yang merupakan cerminan masyarakat Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Mandailing pada dasarnya telah mempraktekkan kegiatan gotong royong sejak dahulu dan hendaknya tetap kita jaga kelestariannya.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Penemuan Ladang Ganja Terus Berulang, MPC PP: Seluruh Stakeholder Harus Duduk Bersama

    Penemuan Ladang Ganja Terus Berulang, MPC PP: Seluruh Stakeholder Harus Duduk Bersama

    • calendar_month Senin, 21 Feb 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Menanggapi penemuan ladang ganja yang terus berulang di Mandailing Natal (Madina), Majelis Pimpinan Cabang Pemuda Pancasila (MPC PP) meminta agar stakeholder duduk bersama mencari solusi terbaik. Demikian disampaikan Ketua Bidang (Kabid) Keagamaan dan Kerohanian Syamsul Hidayat Borotan, S.Pd.I kepada Mandailing Online, Senin (21/2). “Penemuan 2 hektare berisi 10.000 ribu batang ganja […]

  • DPC Ima Madina Unimed Galang Dana Untuk Palestina

    DPC Ima Madina Unimed Galang Dana Untuk Palestina

    • calendar_month Kamis, 17 Jul 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Para kader DPC Ima Madina Unimed berhasil mengumpul dana sebanyak Rp.4.411.000 dalam kegiatan penggalangan dana untuk Palestina di pasar Panyabungan, Mandailing Natal, Minggu (13/07/2014) lalu. Koordinator Kegiatan, Maradil Hasbuan menyatakan penggalangan dana itu dilakukan dengan menampung partisipasi masyarakat, pedagang pasar dan pengendara yang melintas di kawasan pasar baru dan pasar lama […]

  • Lagi, LBH Al Amin Berangkatkan 4 Yatim ke SMK Penerbangan

    Lagi, LBH Al Amin Berangkatkan 4 Yatim ke SMK Penerbangan

    • calendar_month Rabu, 17 Jul 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) : LBH Al-Amin kembali memberangkatkan empat anak yatim dari Madina untuk disekolahkan di SMK Penerbangan, Jakarta. Keempat anak yatim itu berangkat dengan bus ALS dari Ladang Sari, Panyabungan, Rabu (17/7/2019). Isak tangis tak terbendung dari masing-masing ibu melepaskan keberangkatan anak-anak mereka. Bukan saja derai air mata perpisahan, tetapi juga tangisan melepaskan […]

  • Jakfar Lubis Asal Madina Utusan Sumut Lomba Kopetensi Siswa Tingkat Nasional

    Jakfar Lubis Asal Madina Utusan Sumut Lomba Kopetensi Siswa Tingkat Nasional

    • calendar_month Jumat, 20 Mei 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Jakfar Lubis siswa kelas XI SMK Negeri 2 Panyabungan menjadi utusan Sumatera Utara di Lomba Kopetensi Siswa (LKS) bidang Kabinet Making tingkat Nasional. Jakfar Lubis diberangkatkan Sekretaris Daerah Kabupaten Mandailing Natal, Syafei Lubis, Jum’at (20/5/2016) dari perkantoran Pemkab Madina  menuju Malang, Jawa Timur lokasi Lomba Kopetensi Siswa. Lomba tingkat nasional itu […]

  • Perempuan Bersuara di Mandailing Online

    Perempuan Bersuara di Mandailing Online

    • calendar_month Senin, 20 Jul 2026
    • account_circle Moechtar Nasution
    • 0Komentar

    (Catatan Menjelang Ulang Tahun ke-16 Mandailing Online)   Oleh: Moechtar Nasution Penggiat GEREP INSTITUTE (Pusat Kajian Mandailing Natal)   Pernahkah anda membayangkan sebuah ruang diskusi ideal yang dulu sering digagas oleh Jurgen Habermas, filsuf dan sosiolog terkemuka asal Jerman yang lahir pada 18 Juni 1929? Tokoh penting ini melahirkan sebuah  konsep besar bernama ruang publik […]

  • Atika Sebut, Sanitasi dan Spam Pengaruhi Penurunan Angka Stunting

    Atika Sebut, Sanitasi dan Spam Pengaruhi Penurunan Angka Stunting

    • calendar_month Sabtu, 26 Agt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online ) Wakil Bupati Mandailing Natal Atika Azmi Utammi mengaku dana DAK tahun 2024 senilai 28,6 miliar untuk proyek sanitasi dan air berseih sangat berkaitan dengan progrem pengentasan stunting di Kabupaten ini. Ia mengaku, 23 Desa yang memperoleh proyek sanitasi di 2024 ini adalah desa desa yang memang perlu perhatian khusus karena minimnya […]

expand_less