Selasa, 20 Okt 2026
light_mode

Lasiak Lumban Dolok, di Gantian Air

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 19 Feb 2019
  • print Cetak

Petani cabai di Lumban Dolok, Siabu, Mandailing Natal

 

Catatan : Dahlan Batubara

 

Lasiak dari Lumban Dolok termasuk cabai yang populer. Terutama di kalangan pedagang. Keterkenalannya itu serupa dengan keterkenalan lasiak Sibanggor.

Lasiak dalam bahasa Mandailig. Cabai bahasa Indonesia-nya.

Desa Lumban Dolok berada di Kecamatan Siabu. Mandailing Natal. Sumatera Utara.

Lasiak Lumban Dolok tak sepedas lasiak Sibanggor.

Tapi, tak sepedas Sibanggor ini pula penyebab lasiak Lumban Dolok disukai tanah Minang.

Alhasil, mayoritasnya justru “diekspor”” ke Sumatera Barat.

Lasiak Lumban Dolok lebih cocok untuk saus. Untuk sambal balado. Boleh jadi, sambal yang melumuri Kerupuk Sanjai Balado. Yang dari Minangkabau itu. Cabainya dari Lumban Dolok. Perlu ditelusuri.

Berdasar pengakuan petani Lumban Dolok. Produksi lasiak mereka bisa lebih 1 ton per minggu. Data detailnya tak saya peroleh. Saya tak berhasil berjumpa dengan saudagar lasiak di sana.

Karena “ekspor” itulah, makanya tak banyak lasiak Lumban Dolok beredar di Mandailing Natal.

Dan, lasiak Lumban Dolok yang hanya sedikit beredar di sini itu, ditambah lasiak Sibanggor serta cabai dari berbagai kawasan di Mandailing Natal tak sanggup memenuhi kebutuhan konsumsi cabai di Mandailing Natal.

Coba pantau pagi hari. Sekitar pukul 4.00 WIB. Di Pasar Baru Panyabungan. Akan ada selalu truk yang bongkar muatan. Membongkar cabai. Dari daerah Siborong-borong. Untuk disebarkan di pasar-pasar Mandailing Natal.

Cabai dari Soborong-borong ini. Memberikan fakta. Bahwa cabai masih kurang di Mandailing Natal. Untuk kebutuhan rumah tangga, rumah makan dan segala kuliner yang bersentuhan dengan bahan baku cabai.

Tetapi, mungkin cukup, jika lasiak Lumban Dolok tak “diekspor”.

Saya tak tahu berapa kebutuhan cabai di Madina. Per hari.

Saya juga belum tahu berapa produksi cabai lokal. Per hari. Mendatanya sangat rumit.

Tetapi, lasiak Lumban Dolok selalu berproduksi. Nyaris tiada henti. Dari tiga hamparan yang berbeda. Dengan cara : aplusan menanam cabai.

Saat ini. Bulan Pebruari ini. Hamparan Saba Sialang yang dapat giliran nanam cabai.

Sebelumnya hamparan Saba Padang dan Saba Aek Latong yang nanam cabai.

Aplusan alias bergilir alias gantian.

2 hamparan lawan 1 hamparan.

Jika giliran hamparan Saba Salang bercabai, maka hamparan Saba Padang dan Saba Aek Latong menanam padi.

Jika giliran Saba Padang dan Saba Aek Latong yang bercabai, maka hamparan Saba Salang bertanam padi.

Makanya cabai dari Lumban Dolok tak pernah berhenti.

Kok aplusan?

Ya, karena desa itu kekurangan air untuk pertanian. Sumber air hanya ada satu : Aek Latong. Yang debitnya tak mampu mengairi tiga hamparan itu sekaligus.

Makanya dilakukan gantian.

Awal Pebruari lalu saya ke Lumban Dolok. Rapat KTNA. Kontak Tani Nelayan Andalan. Rapatnya di rumah ketua KTNA Madina, Rosmala Dewi Nasution. Lalu rapat berlanjut ke pinggir sawah. Di satu saung.

Usai rapat itu, saya bertemu sejumlah petani. Petani cabai, eh..juga petani padi dong. Bertanya : sudah berapa lama aplusan ini?

Sudah lebih 30 tahun.

Padi butuh air mengalir ke hamparan sawah. Cabai tak butuh air mengalir, meski wajib untuk kebutuhan menyiram tanaman.

Karena air kurang. Maka diputuskan bergantian memakai air. Keputusan itu dulu. Hampir setengah abad lalu. Keputusan berdasar kearifan lokal.

Kekurangan air ini sebenarnya membawa berkah. Bukan membawa kesulitan.

Tanah yang ditanami padi harus basah. Harus digenangi air. Tetapi, tanah yang ditanami palawija pastinya kering. Tidak digenangi air.

Unsur hara akan semakin bagus di dalam tanah yang kering selama 6 bulan. Selama berpalawija.

Itu akan menyuburkan ketika giliran bertanam padi. Jumlah batang di tiap rumpun padi akan banyak. Padi subur. Panen melimpah. Dibanding yang senantiasa bertanam padi.

Saya teringat masa kecil. Dulu. Akhir 70-an. Petani di Panyabungan hanya bersawah sekali setahun. 6 bulan bersawah. 6 bulan berpalawija. Pupuk kimia belum terlalu dominan. Rumpun-rumpun padinya gemuk-gemuk. Malai padi rimbun-rimbun.

Aplusan padi-palawija itu berakhir di Panyabungan. Juga di Mandailing secara luas. Juga se-Indonesia secara nasional. Ketika pemerintah Indonesia di akhir 70-an mengumandangkan Revolusi Hijau. Di sektor pertanian.

Revolusi Hijau menekankan kepada petani memakai pupuk kimia, pestisida, bibit impor. Ujung-ujungnya : padi ditanam 2 kali setahun. Tak ada lagi selingan berpalawija.

Terhenti pula penyuburan tanah melalui pengembangan unsur hara selama berpalawija.

Dampak I : tanaman padi kecanduan pupuk kimia dan pestisida. Ibarat narkoba, kecanduan ganja atau sabu-sabu.

Dampak II : tanah jadi gersang. Akibat dampak negatif kimiawi. Padi tak akan subur lagi jika tak dibius sabu-sabu eh pupuk kimia.

Belakangan pemerintah sadar. Lalu muncul kampanye pupuk organik. Agar unsur hara kembali normal.

Tetapi Lumban Dolok tetap berpadi dan berpalawija. Seperti sebelum 70-an itu. Gara-gara debit Aek Latong yang kurang debit itu.

Dan, petani di Lumban Dolok kian mahir menguasai hama cabai, penyakit cabai, parasit pengganggu akar tanaman cabai, pola pupuk, pengaruh perubahan cuaca terhadap cabai. Dan itu tadi, lasiak Lumban Dolok merambah Sumatera Barat. Untuk sambal. Untuk saus.

Jadinya : Lumban Dolok selain menghasilkan padi, juga tukang “ekspor” lasiak ke negeri Minangkabau.

Tetapi, Lumban Dolok tak hanya bertanam cabai.

Ada juga petani yang bertanam kacang, tomat dll yang tidak membutuhkan air mengalir. Ketika giliran berpalawija.***

 

 

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Siap Edar

    Siap Edar

    • calendar_month Kamis, 15 Sep 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Kapolres Madina AKBP Fauzi SIK menunjukkan dua karung ganja siap edar yang ditemukan di salah satu rumah warga saat dilakukan penggerebekan di Desa Hutatinggi Kecamatan Panyabungan Timur, Rabu (14/9). (medanbisnis / henri) Sumber : Medanbisnis

  • Peran Negara dalam Kapitalisme vs Peran Negara dalam Islam

    Peran Negara dalam Kapitalisme vs Peran Negara dalam Islam

    • calendar_month Kamis, 3 Jun 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Djumriah Lina Johan Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban Pemerintah mempersiapkan penerapan prosedur standar tatanan baru new normal di sarana publik karena wabah virus Corona COVID-19 belum bisa dipastikan berlalu. Wakil Ketua DPR dari Fraksi Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad tampaknya mendukung wacana pemerintah tersebut. Karena menurut dia, rakyat tidak mungkin dibiayai oleh negara dalam jangka waktu […]

  • Universitas Sains Malaysia Kunjungi Darul Mursyid

    • calendar_month Kamis, 23 Mei 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SAIPAR DOLOK HOLE (Mandailing Online) – Dua guru besar Universitas Sains Malaysia (USM) berkunjung ke pesantren Darul Mursyid, Jum’at (17/5/2013) lalu untuk memantau lebih dekat pada pesantren modern unggulan terpadu ini. Kedua guru besar itu adalah Dr.Sofri B.Yahya,Ph.D,CFIA,MIM dan Dr.Md.Harashid Bin Haron,Ph. Keduanya disambut oleh ketua umum Yayasan Pendidikan Haji Ihutan Ritonga (Yaspenhir) selaku pengelola […]

  • Mendadak, Pemuda Pancasila Madina Sambangi Kantor Koramil 13 Panyabungan

    Mendadak, Pemuda Pancasila Madina Sambangi Kantor Koramil 13 Panyabungan

    • calendar_month Selasa, 5 Okt 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Rombongan pengurus MPC Pemuda Pancasila Madina Menyambangi Kantor Koramil 13 Panyabungan di Kayujati, Selasa (5/10) malam. Rombongan yang dipimpin oleh Dan Koti Mahatidana MPC PP Madina Safruddin Lubis tiba di kantor Koramil sekitar pukul 21.45 WIB. Kedatangan anggota Pemuda Pancasila ini untuk memberikan kejutan kepada Dan Ramil 13 Panyabungan Kapten Inf. […]

  • Ketua DPRD Madina : Pemda Harus Tegas Ke PLN Terkait Pembayaran LPJU

    Ketua DPRD Madina : Pemda Harus Tegas Ke PLN Terkait Pembayaran LPJU

    • calendar_month Senin, 14 Agt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online ) Ketua DPRD Mandailing Natal (Madina) Erwin Efendi Lubis menegaskan Pemerimtah Daerah harus tegas ke pihak PLN apabila PLN tidak mau rekonsoliasi MoU terkait pembayaran listrik LPJU ( Lampu Penerangam Jalan Umum ). Hal ini dikatakannya pada wartawan senin 14/8/2023. ” harus ada penghitungan yang akurat sehingga pembayaran yang dilakukan pemerintah […]

  • Ogah Larut di Isu “Siti Mawarni”, Bobby Fokus Gas Sumut

    Ogah Larut di Isu “Siti Mawarni”, Bobby Fokus Gas Sumut

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh: Tim Mandailing Epicentrum   Di akhir pekan ini, publik bolek pilih santai. Ogah bicara soal politik. Tapi, politik hari ini tidak selalu keras, ketus atau sarkas. Kebijakan politis juga punya sisi human interest. Karena itu, ngobrol soal politik tak harus tegang. Bisa santai. Tergantung sudut pandang. Seperti juga Gubernur Sumatera Utara Bobby Afif […]

expand_less