Rabu, 22 Apr 2026
light_mode

Lasiak Lumban Dolok, di Gantian Air

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 19 Feb 2019
  • print Cetak

Petani cabai di Lumban Dolok, Siabu, Mandailing Natal

 

Catatan : Dahlan Batubara

 

Lasiak dari Lumban Dolok termasuk cabai yang populer. Terutama di kalangan pedagang. Keterkenalannya itu serupa dengan keterkenalan lasiak Sibanggor.

Lasiak dalam bahasa Mandailig. Cabai bahasa Indonesia-nya.

Desa Lumban Dolok berada di Kecamatan Siabu. Mandailing Natal. Sumatera Utara.

Lasiak Lumban Dolok tak sepedas lasiak Sibanggor.

Tapi, tak sepedas Sibanggor ini pula penyebab lasiak Lumban Dolok disukai tanah Minang.

Alhasil, mayoritasnya justru “diekspor”” ke Sumatera Barat.

Lasiak Lumban Dolok lebih cocok untuk saus. Untuk sambal balado. Boleh jadi, sambal yang melumuri Kerupuk Sanjai Balado. Yang dari Minangkabau itu. Cabainya dari Lumban Dolok. Perlu ditelusuri.

Berdasar pengakuan petani Lumban Dolok. Produksi lasiak mereka bisa lebih 1 ton per minggu. Data detailnya tak saya peroleh. Saya tak berhasil berjumpa dengan saudagar lasiak di sana.

Karena “ekspor” itulah, makanya tak banyak lasiak Lumban Dolok beredar di Mandailing Natal.

Dan, lasiak Lumban Dolok yang hanya sedikit beredar di sini itu, ditambah lasiak Sibanggor serta cabai dari berbagai kawasan di Mandailing Natal tak sanggup memenuhi kebutuhan konsumsi cabai di Mandailing Natal.

Coba pantau pagi hari. Sekitar pukul 4.00 WIB. Di Pasar Baru Panyabungan. Akan ada selalu truk yang bongkar muatan. Membongkar cabai. Dari daerah Siborong-borong. Untuk disebarkan di pasar-pasar Mandailing Natal.

Cabai dari Soborong-borong ini. Memberikan fakta. Bahwa cabai masih kurang di Mandailing Natal. Untuk kebutuhan rumah tangga, rumah makan dan segala kuliner yang bersentuhan dengan bahan baku cabai.

Tetapi, mungkin cukup, jika lasiak Lumban Dolok tak “diekspor”.

Saya tak tahu berapa kebutuhan cabai di Madina. Per hari.

Saya juga belum tahu berapa produksi cabai lokal. Per hari. Mendatanya sangat rumit.

Tetapi, lasiak Lumban Dolok selalu berproduksi. Nyaris tiada henti. Dari tiga hamparan yang berbeda. Dengan cara : aplusan menanam cabai.

Saat ini. Bulan Pebruari ini. Hamparan Saba Sialang yang dapat giliran nanam cabai.

Sebelumnya hamparan Saba Padang dan Saba Aek Latong yang nanam cabai.

Aplusan alias bergilir alias gantian.

2 hamparan lawan 1 hamparan.

Jika giliran hamparan Saba Salang bercabai, maka hamparan Saba Padang dan Saba Aek Latong menanam padi.

Jika giliran Saba Padang dan Saba Aek Latong yang bercabai, maka hamparan Saba Salang bertanam padi.

Makanya cabai dari Lumban Dolok tak pernah berhenti.

Kok aplusan?

Ya, karena desa itu kekurangan air untuk pertanian. Sumber air hanya ada satu : Aek Latong. Yang debitnya tak mampu mengairi tiga hamparan itu sekaligus.

Makanya dilakukan gantian.

Awal Pebruari lalu saya ke Lumban Dolok. Rapat KTNA. Kontak Tani Nelayan Andalan. Rapatnya di rumah ketua KTNA Madina, Rosmala Dewi Nasution. Lalu rapat berlanjut ke pinggir sawah. Di satu saung.

Usai rapat itu, saya bertemu sejumlah petani. Petani cabai, eh..juga petani padi dong. Bertanya : sudah berapa lama aplusan ini?

Sudah lebih 30 tahun.

Padi butuh air mengalir ke hamparan sawah. Cabai tak butuh air mengalir, meski wajib untuk kebutuhan menyiram tanaman.

Karena air kurang. Maka diputuskan bergantian memakai air. Keputusan itu dulu. Hampir setengah abad lalu. Keputusan berdasar kearifan lokal.

Kekurangan air ini sebenarnya membawa berkah. Bukan membawa kesulitan.

Tanah yang ditanami padi harus basah. Harus digenangi air. Tetapi, tanah yang ditanami palawija pastinya kering. Tidak digenangi air.

Unsur hara akan semakin bagus di dalam tanah yang kering selama 6 bulan. Selama berpalawija.

Itu akan menyuburkan ketika giliran bertanam padi. Jumlah batang di tiap rumpun padi akan banyak. Padi subur. Panen melimpah. Dibanding yang senantiasa bertanam padi.

Saya teringat masa kecil. Dulu. Akhir 70-an. Petani di Panyabungan hanya bersawah sekali setahun. 6 bulan bersawah. 6 bulan berpalawija. Pupuk kimia belum terlalu dominan. Rumpun-rumpun padinya gemuk-gemuk. Malai padi rimbun-rimbun.

Aplusan padi-palawija itu berakhir di Panyabungan. Juga di Mandailing secara luas. Juga se-Indonesia secara nasional. Ketika pemerintah Indonesia di akhir 70-an mengumandangkan Revolusi Hijau. Di sektor pertanian.

Revolusi Hijau menekankan kepada petani memakai pupuk kimia, pestisida, bibit impor. Ujung-ujungnya : padi ditanam 2 kali setahun. Tak ada lagi selingan berpalawija.

Terhenti pula penyuburan tanah melalui pengembangan unsur hara selama berpalawija.

Dampak I : tanaman padi kecanduan pupuk kimia dan pestisida. Ibarat narkoba, kecanduan ganja atau sabu-sabu.

Dampak II : tanah jadi gersang. Akibat dampak negatif kimiawi. Padi tak akan subur lagi jika tak dibius sabu-sabu eh pupuk kimia.

Belakangan pemerintah sadar. Lalu muncul kampanye pupuk organik. Agar unsur hara kembali normal.

Tetapi Lumban Dolok tetap berpadi dan berpalawija. Seperti sebelum 70-an itu. Gara-gara debit Aek Latong yang kurang debit itu.

Dan, petani di Lumban Dolok kian mahir menguasai hama cabai, penyakit cabai, parasit pengganggu akar tanaman cabai, pola pupuk, pengaruh perubahan cuaca terhadap cabai. Dan itu tadi, lasiak Lumban Dolok merambah Sumatera Barat. Untuk sambal. Untuk saus.

Jadinya : Lumban Dolok selain menghasilkan padi, juga tukang “ekspor” lasiak ke negeri Minangkabau.

Tetapi, Lumban Dolok tak hanya bertanam cabai.

Ada juga petani yang bertanam kacang, tomat dll yang tidak membutuhkan air mengalir. Ketika giliran berpalawija.***

 

 

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ivan Batubara Gagas Bengkel Mujahid Ekonomi di Madina

    Ivan Batubara Gagas Bengkel Mujahid Ekonomi di Madina

    • calendar_month Senin, 27 Apr 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Ketua Kadin Sumut, Ivan Iskandar Batubara menggagas pendirian Bengel Mujahid Ekonomi dalam upaya pengembangan ekonomi di Mandailing Natal (Madina). Bengkel Mujahid ini berfungsi mencetak pengusaha-pengusaha yang memiliki jiwa tarung yang tinggi, bermartabat serta menjadi pengusaha pembayar zakat baru. Itu dikatakan Ivan dalam Rapat Kerja Kadin Sumut dan Kadin Madina Dalam […]

  • Berdalih Reklamasi, Pelaku Tambang Emas Ilegal  di Kotanopan Kembali Beroperasi

    Berdalih Reklamasi, Pelaku Tambang Emas Ilegal di Kotanopan Kembali Beroperasi

    • calendar_month Rabu, 26 Mar 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Kotanopan( Mandailing Online ): tak takut memang, oknum P dan G pelaku tambang emas ilegal di wilayah hukum Polsek Kotanopan,Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) kembali beroperasi. Mereka kembali menggunakan alat berat jenis excavator untuk melakukan pengerukan material tanah yang mngandung amas. Lokasi operasi aktifitas tambang ini di belakang masjid Al Muhtadin Desa Jambur Tarutung. […]

  • Kebijakan Anggaran Dana Desa Beraroma Busuk Kapitalisme

    Kebijakan Anggaran Dana Desa Beraroma Busuk Kapitalisme

    • calendar_month Rabu, 26 Agt 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Nahdoh Fikriyyah Islam Dosen dan Pengamat Politik Anggaran Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) direncanakan sebesar Rp796,3 triliun pada tahun 2021 dengan 7 (tujuh) arah kebijakan. Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat menyampaikan Keterangan Pemerintah atas RUU tentang APBN Tahun Anggaran 2021 Beserta Nota Keuangannya di depan Rapat Paripurna DPR […]

  • Ditanya soal Kemungkinan Jadi Wakapolri, Ini Jawaban Komjen Buwas

    Ditanya soal Kemungkinan Jadi Wakapolri, Ini Jawaban Komjen Buwas

    • calendar_month Jumat, 10 Apr 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    JAKARTA – Wakapolri Komjen (Pol) Badrodin Haiti tak lama lagi akan segera naik jabatan jadi Kapolri. Kini, pertanyaan selanjutnya adalah siapa yang bakal menggantikan posisi Badrodin sebagai Wakapolri. Sejumlah nama jenderal bintang tiga santer disebut-sebut. Salah satunya adalah Kepala Bareskrim Polri Komjen Budi Waseso. Namun, Buwas -sapaan Budi Waseso- justru mengaku saat ini masih fokus […]

  • Zikir di HUT Madina

    Zikir di HUT Madina

    • calendar_month Rabu, 5 Mar 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Zikir – Seribuan kaum muslimin dan muslimat melakukan zikir dan do’a di halaman masjid agung Nur Ala Mur, Panyabungan dalam rangka menyongsong Milad Kabupaten Mandailing Natal (Madina) 1998-2014 yang jatuh pada 9 Maret 2014. (foto: Mandailing Online/Maradotang Pulungan)

  • Tak Lampirkan Print Out, Surat Lamaran CPNS Ditolak

    Tak Lampirkan Print Out, Surat Lamaran CPNS Ditolak

    • calendar_month Kamis, 11 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA-; Seluruh pelamar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Mandailing Natal (Madina), yang mengirimkan berkas lamaran tanpa melampirkan print out atau registerasi lewat internet, maka surat lamaran ditolak. “Tanpa print out itu berkas lamaran ditolak dan akan dikirim balasan surat lamarannya melalui Kantor Pos,” kata Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Madina, […]

expand_less