Selasa, 13 Okt 2026
light_mode

Bagas Godang dan Mandheling Coffee

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 29 Mar 2019
  • print Cetak

Rombongan Mandailing Malaysia di depan Bagas Godang di Hutanagodang, Ulu Pungkut. (foto : Ikatan Mandailing Malaysia-Indonesia)

 

Catatan : Dahlan Batubara

 

Bagas Godang. Di Mandailing. Rumah Besar bahasa Melayu-nya. Istana raja yang memerintah negerinya. Masa lalu. Sebelum ada negara Indonesia.

Setiap ada Bagas Godang selalu ada Sopo Godang.

Banyak pelajaran yang harus diperoleh dari Sopo Godang.

Sopo Godang melambangkan demokrasi kerajaan-kerajaan Mandailing masa lalu. Bahkan ketika Eropa masih gelap, otoritarian, Mandailing sudah lebih dulu berdemokrasi. Bukan demokrasi ala Barat.

Jika Indonesia memakai fungsi DPR. Di gedung DPR. Maka kerajaan-kerajaan Mandailing masa lalu sidang MPR-nya di Sopo Godang.

Rakyat akan ramai duduk di luar Sopo Godang. Menyaksikan sidang yang berada di lantai Sopo. Dari luar Sopo Godang rakyat juga diperkenankan menyampaikan usul.

Itulah Mandailing masa lalu.

Tapi, kini. Bagas Godang dan Sopo Godang tak lagi berfungsi. Apalagi bangunan fisiknya tak lagi dipelihara.

Silahkan pembaca mengujungi Bagas Godang di Hutanagodang, Ulu Pungkut, Mandailing Julu. Atau Bagas Godang di Mandailing Godang. Anda akan tahu bagaimana keadaannya kini.

Anda akan berasumsi bahwa Pemerintah Daerah tidak memiliki kepekaan terhadap sejarah Bagas dan Sopo Godang.

Rumah Gadang di Pagaruyung, Minangkabau pernah terbakar. Habis. Lalu dibangun ulang. Tidak ada istilah dana tak cukup.

Bagas Godang di Hutanagodang itu sudah nyaris ambruk atapnya. Lantai sudah rapuh. Dinding sudah rapuh. Tetapi pemerintah daerah diam membisu.

Saban tahun saya membawa rombongan Mandailing Malaysia ke Bagas Godang di Hutanagodang itu. Bagas Godang itu selalu menjadi pilihan utama bagi mereka yang mengunjungi tanah leluhur.

Kata mereka : Bagas Godang itu memiliki daya magis bagi jiwa. Daya tarik yang sulit terbahasakan. Daya sedotnya tinggi sehingga selalu buka internet untuk sekedar melihat kembali foto Bagas Godang itu. Terbayang bagaimana kerajaan-kerajaan di Mandailing masa lalu.

Kata mereka : meski terlihat cantik dengan cat warna warni Rumah Gadang Pagaruyung tak mampu menggugah jiwa.

Tetapi Bagas Godang Hutanagodang menggugah jiwa. Magnitnya berada di tidak adanya cat warna warni. Warna alam. Mengunjunginya seperti masuk ke masa lalu. Perasaan seolah dapat melihat raja ketika kita masuk ke dalam Bagas Godang itu.

Bukan karena mereka etnis Mandailing. Sekiranya orang Suriname pun yang berkunujung dipastikan akan berpendapat yang sama.

Bagas Godang di Hutanagodang, Ulu Pungkut, Mandailing Julu.

Seandainya pemerintah daerah nihil apresiasi sejarah. Nihil pelestarian peninggalan masa lalu. Nihil menghormati kerajaan-kerajaan Mandailing masa lalu. Setidaknya jangan nihil melihatnya dari sisi pariwisata.

Rumah Gadang di Pagaruyung membawa devisa yang banyak kepada Minangkabau. Candi Prambanan membawa devisa bagi Yogyakarta.

Saya pernah ke Candi Prambanan tahun 2014. Beli tiket masuk 50 ribu rupiah. Ada sekitar 100 pengunjung selama 1 jam saya berada di situ. 100 x 50.000 = 5 juta. Kalau 200 orang akan menjadi 10 juta.

Bukan lokal saja. Di komplek candi itu banyak turis asing. Ada kulit putih. Ada Jepang.

Saya bertemu pasangan Swedia. Prianya ganteng. Gadisnya cantik. Saya ajak gadisnya foto bersama dengan bahasa nekad : “Please ficture together”.

“Oh, yes,” kata gadis Swedia. Untung saya bukan pria ganteng sehingga pria Swedia itu tak bakalan cemburu. Yang bisa saja berpotensi mendua hati via facebook. Padahal foto berdua itu rapat. Saking rapatnya menyebabkan bahu kami menyatu.

Untung gadis itu bersandal jepit sehingga tak terlalu tinggi. Beruntung saya pakai hak sepatu tinggi jadinya agak tinggi. Serasi terlihat. Fotonya saya upload di Facebook. Banyak yang komentar.

Sejatinya Bagas Godang mendatangkan devisa. Juga mendatangkan rupiah dari wisatawan lokal.

Ulupungkut bukan saja memiliki Bagas Godang yang memiliki daya tarik. Tetapi juga memiliki tanah kopi. Mandheling Coffee. Yang termahsyur di dunia internasional. Di pasaran dunia Mandheling Coffe hanya punya satu saingan : kopi Brazil. Keduanya sama-sama kelas wahid.

Gambar mungkin berisi: 4 orang, orang tersenyum

Saya (memegang HP yang juga guide) hendak mengabadikan rombongan Mandailing Malaysia yang berkunjung di lokasi penjemuran Mandheling Coffee merek Banamon di Desa Alahan Kae, Ulu Pungkut.

 

Saking terkenalnya Mandheling Coffe menyebabkan orang Italia lebih sering mendengar kata “Mandheling” ketimbang nama “Indonesia”.

Nyaris di negara-negara Eropa ada Mandheling Coffee. Rusia hingga Jepang dan Tiongkok.

Keterkenalan Mandheling Coffee akan menimbulkan ketertarikan mengunjungi tanah kopi Mandailing.

Tentu itu potensi devisa.

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, orang berdiri, pohon, langit, luar ruangan dan alam

Bus pariwisata ukuran sedang saja masih sulit menjangkau Ulu Pungkut akibat jalan yang masih sempit.

 

Caranya : benahi Bagas Godang. Benahi jalan menuju ke sana agar terlalui bus besar. Termasuk jalan besar menuju perkebunan kopi. Sediakan tempat minum kopi di dekat kebun kopi. Sediakan juga kopi bubuk atau kopi beras. Turis pasti akan membawa buah tangan.

Tak sampai di situ. Selain promosi. Harus kerjasama dengan perusahaan-perusahan travel.

Toh, tiap hari bus pariwisata senantiasa melewati Mandailing. Yang berada di jalur lintas Sumatera.***

 

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Karut Marut Dana Desa (bagian 2)

    Karut Marut Dana Desa (bagian 2)

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Catatan : Askolani Nasution   Lima tahun Dana Desa berjalan. Apa yang berubah? (1) Rapat beton bersilang di tengah perkampungan tanpa urgensi apa pun terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. (2) Pertikaian masyarakat meninggi, antara mereka yang kecipratan dengan yang tidak. (3) Kesejahteraan Kepala Desa sebagian besar meningkat tajam, berbanding terbalik dengan kesejahteraan penduduk desa. Akumulasi dana […]

  • DCS Dapil 2 Hanura Madina

    DCS Dapil 2 Hanura Madina

    • calendar_month Selasa, 9 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Daftar Calon Sementara Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Pemilihan Umum Tahun 2014 Dapil 2 Hanura Madina

  • Warga Sihitang dan HMI Sidimpuan Kelola Parkir

    Warga Sihitang dan HMI Sidimpuan Kelola Parkir

    • calendar_month Sabtu, 6 Des 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Tapsel – Warga Lingkungan IV, Kelurahan Sihitang, Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara bekerjasama dengan HMI Cabang Padangsidimpuan, melakukan aksi pengalangan dana untuk kelanjuan pembangunan Mesjid Al-Barokah dengan cara mengelola parkir. Ketua Panitia Parkir Al-Barokah, Sukur Nasution kepada Medan Bisnis, mengatakan, momentum wisuda UGN periode XXXIII TA 2014/2015, di Aula Kampus III Eks Asrama Haji, Sihitang, melibatkan keikutsertaan […]

  • Tahun Ini tak Ada Penerimaan CPNS untuk Guru dan Tenaga Medis

    Tahun Ini tak Ada Penerimaan CPNS untuk Guru dan Tenaga Medis

    • calendar_month Kamis, 30 Jul 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    JAKARTA – Masyarakat yang berkeinginan menjadi pegawai negeri sipil harus bersabar. Pasalnya, pemerintah tahun ini tidak membuka formasi apapun untuk pelamar umum kecuali lulusan sekolah ikatan dinas. “Tidak ada itu penerimaan CPNS di luar sekolah ikatan dinas. Tahun ini masanya moratorium,” tegas‎ Asdep Koordinasi Kebijakan, Penyusunan, Evaluasi Program dan Pembinaan SDM Apratur Bambang Dayanto Sumarsono‎ […]

  • Ketika Koruptor dan Kapitalisme Berdisco di Atas Penderitaan Rakyat Batahan (bagian 2)

    Ketika Koruptor dan Kapitalisme Berdisco di Atas Penderitaan Rakyat Batahan (bagian 2)

    • calendar_month Selasa, 19 Jul 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Esai : Dahlan Batubara Pemimpin Redaksi Mandailing Online …………………………………………………………………………………………………………………….. Bisa jadi, bisa tidak, rekomendasi itu telah menjelma menjadi akrobat persubahatan. Sirkus  kemunafikan. Satu permufakatan permunafikan secara massif. Permunafikan massal di gedung legislatif yang konon gedung yang terhormat. Meski tak semua wakil rakyat ikut di permunafikan itu, tetapi wakil rakyat yang tak ikut di permunafikan itu […]

  • MENGKRITISI PERATURAN PRESIDEN NOMOR 33 TAHUN 2020 

    MENGKRITISI PERATURAN PRESIDEN NOMOR 33 TAHUN 2020 

    • calendar_month Selasa, 3 Jun 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    TENTANG STANDAR HARGA SATUAN REGIONAL : SENTRALISASI FISKAL DAN KETIMPANGAN KEBIJAKAN ANGGARAN ANTAR DAERAH   Oleh : Rahmad Daulay, ST*   Indonesia sebagai negara kepulauan dengan karakteristik geografis, ekonomi, dan sosial yang sangat beragam memerlukan pendekatan kebijakan anggaran yang adaptif dan responsif terhadap dinamika wilayah. Dalam konteks tersebut, hadirnya Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2020 […]

expand_less