Selasa, 20 Okt 2026
light_mode

Dinasti dan Aji Mumpung Politik Demokrasi Kapitalis

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 23 Jul 2020
  • print Cetak

Oleh : Nahdoh Fikriyyah Islam
Dosen dan Pengamat Politik

Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI Perjuangan akhirnya angkat bicara soal pemberian “tiket” kepada putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi) Gibran Rakabuming Raka di Pemilihan Walikota (Pilwalkot) Solo yang disebut-sebut bagian dari dinasti politik. Pencalonan Gibran telah melalui proses politik elektoral sejak di internal PDI Perjuangan dan akan bertarung pada Desember mendatang. Karena itu, majunya Gibran di Pilkada 2020 bukan bagian dari praktik dinasti politik.

Demikian ditegaskan Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Luar Negeri, Ahmad Basarah dalam keterangannya mengurai, politik dinasti itu berbeda merupakan politik regenerasi kekuasaan yang dilangsungkan turun-temurun tanpa melalui proses politik elektoral dan pemilu sesuai aturan yang berlaku. Dalam penjelasannya Basarah memastikan bahwa proses politik itu telah dilalui oleh Gibran sejak ikut kontestasi Pilkada Solo hingga mendapat tiket Pilkada Solo dari PDI Perjuangan. (gelora.co. 20/07/2020)

Nama Gibran Rakabuming alias Putra Presiden Jokowi sebenarnya jauh – jauh hari telah disebut-sebut sebagai calon kandidat penguasa masa depan. Dan nama Gibran dibincangkan dalam nominasi calon pemimpin daerah yaitu Solo. Kota yang pernah membuat nama Sang Ayah naik daun dan terkenal sebelum maju ke jenjang karir politik nasional. Tidak berbeda dengan Sang Ayah, Gibran ternyata juga diusung oleh partai PDIP, partai yang membuat nama Jokowi melambung ke kursi RI 1.

Kini, Gibran ingin mencoba keberuntungan yang sama dan menapaki jejak Jokowi. Apakah langkah Gibran tersebut salah dalam kacamata politik? Lalu, apa yang melatarbelakangi Gibran semakin percaya untuk maju ke gelanggang politik? Untuk menjawab teka-teki ini memang tidak mudah. Namun beberapa uraian analisis berikut dapat membantu memberikan jawabannya.

Pertama, Gibran adalah anak penguasa nomor satu di negeri ini. Tentu kehadirannya dalam panggung politik akan terus menjadi sorotan. Sebab, Gibran maupun beberapa saudaranya yang lain pernah dikabarkan tidak tertarik dengan dunia politik. Bahkan Sang Ayah, yaitu Presiden Jokowi sendiri juga mengatakan hal senada. Tetapi saat Pilkada tahun ini, ucapan tersebut berbalik arah. Nama Gibran justru naik ke permukaan.

Kedua, partai PDI- P mengusung Gibran tentunya tidak sembarangan. Partai PDIP telah melihat elektabilitas nama keluarga Jokowi di Solo masih dihargai. Sehingga PDIP kemungkinan merasa akan kembali meraih kemenangan di Solo sebagaimana meraih kemenangan di Pemilu Presiden. Syahwat kekuasaan yang diinginkan partai ini sangatlah kental dan selalu ditonjolkan dengan rasa bangga. Ditambah PDIP sebagai partai penguasa dan pemenang pemilu.

Ketiga, meskipun banyak yang menyangkal khususnya partai PDIP tentang praktik politik dinasti, tetapi fakta di lapangan menyatakan demikian. Para penguasa negeri ini menginginkan keluarganya terlibat dalam politik kekuasaan. Begitu juga partai penguasa ingin menguasai seluruh wilayah dengan kader-kadernya. Apakah ini bukan dinasti? Jika tidak, lalu namanya apa?

Keempat, jika memang menolak dikatakan dinasti politik apakah karena aji mumpung? Mumpung berkuasa, mumpung masih ada jabatan, mumpung jadi anak penguasa, dan sebagainya. Sehingga aji mumpung itulah yang dimanfaatkan. Tetapi apapun namanya, dinasti kah, aji mumpung kah, tetap saja praktek menjadi penguasa dipusaran keluarga pejabat turun temurun adalah fakta yang tidak terbantahkan.

Praktik kekuasaan turun temurun bukanlah perkara baru dalam sistem pemerintahan. Alaminya, seorang manusia pasti ingin memajukan orang-orang terdekatnya terlebih dahulu dan menjadikannya berkuasa ketika ia sedang menggengam kekuasaan. Dinasti politik kekuasaan telah ribuan tahun dipraktikkan manusia. Pertanyaannya adalah, apakah praktik dinasti politik membawa maslahat ataukah kerusakan bagi ummat khususnya kaum muslimin? Tentu melihatnya harus dengan kacamata Islam sebagai pegangan hidup dan aturan kepemimpinan.

Terjadinya dinasti politik dalam kekuasaan tidak lepas dari penerapan sistem demokrasi kapitalis yang melihat kursi kekuasaannya sebagai peluang untuk menarik anggota keluarga dan kelompoknya menjadi penguasa disekitarnya. Meskipun seperti kata Baharsah ada proses election dan keputusan hukum. Sebab, praktik election dan hukum yang digunakan bersandarkan kepentingan pribadi dan kelompok semata. Jadi, jelas tidak akan memberikan hasil yang fair dan bebas nepotisme.

Dinasti politik terbentuk karena dilatarbelakangi keserakahan jabatan dan juga profit yang tinggi. Tentu tidak begitu mudah untuk melepaskannya. Setidaknya, ketika kesempatan telah habis secara hukum maka eksistensi keberadaannya bisa dilanjutkan dengan memajukan anggota keluarga. Dalam hal ini, kemampuan dan ilmu bukanlah hal yang utama dalam pertimbangan.

Sangat berbeda dengan sistem perpolitikan dalam Islam. Jika seseorang ingin maju jadi seorang pemimpin, khususnya pemimpin daerah seperti Gubernur, Walikota, Bupati atau bahkan Kepala Desa, maka penentunya adalah kepala negara. Mandat langsung diberikan tanpa proses politik elektoral yang rumit dan mahal. Kepala negara harus mengutus wakil di daerah dengan kapasitas dan kemampuan yang tidak diragukan lagi. Baik dari segi keilmuan dan ketaqwaan.

Rasulullah SAW pernah mengutus Amru Bin Ash sebagai Gubernur Syam dan bertanggung jawab atas tugas-tugas yang diamanahkan kepadanya. Rasulullah SAW mengangkat Amru Bin Ash karena memang melihat kemampuannya.

Begitu juga ketika Rasulullah SAW menganggkat Abu Bakar dan Umat bin Khattab sebagai Wakil (wuzara) beliau. Secara kekerabatan, Abu Bakar dan Umar adalah mertua Rasulullah SAW. Apakah itu dinasti politik? Bukan! Sebab pengangkatan keduanya karena kemampuan dan kepercayaan Rasulullah SAW kepada kedua sahabatnya yang tidak diragukan lagi ilmu dan keimanannya. Sementara Umar Bin Khattab pernah melarang anaknya agar tidak menjadi bagian pemerintahan selama ia menjadi Khalifah. Bukan seperti praktik politik demokrasi-kapitalis yang membangun dinasti dengan aji mumpung.

Pengangkatan anggota keluarga menjadi bagian dari pusaran kekuasaan hanya karena ingin membangun sebuah dinasti politik turun-temurun dalam sistem demokrasi-kapitalis. Meskipun ada proses elektoral dan keputusan hakim, kesannya hanya sebatas formalitas untuk menutupi praktik dinasti kekuasaan. Tidak heran jiika jabatan di negeri ini diisi oleh mereka dari kelompok partai yang turun-temurun begitu juga dengan anggota keluarganya. Meskipun bukan pada keahliannya masing-masing.

Maka tidak ada jalan lain untuk menghentikan praktik dinasti politik yang aji mumpung kecuali dengan mencabut sistem demokrasi dari akarnya dan mencampakkan kapitalisme. Kemudian menggantikannya dengan sistem Islam yang memuliakan ilmu dan keimanan seseorang dalam memimpin negara juga wilayah. Meskipun terkadang ada beberapa keluarga yang terlibat dalam jabatan, semata-mata hal tersebut karena memang keahliannya bukan asal diangkat untuk membangun dinasti apalagi sebab aji mumpung. Wallahu a’lam bissawab.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kapolres Tapsel: Pembajak Akun Facebook Toni Darius Sitorus Sedang Diusut Polda

    Kapolres Tapsel: Pembajak Akun Facebook Toni Darius Sitorus Sedang Diusut Polda

    • calendar_month Kamis, 22 Sep 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      TAPANULI SELATAN (Mandailing Online) – Kapolres Tapsel, AKBP Roni Santana menyatakan Polda Sumut sedang mengusut oknum pembajak akun facebook Toni Darius Sitorus. Itu diutarakan Kapolres Tapsel di hadapan perwakilan Desa Pardomuan (Aek badak Siture) Sayur Matinggi, Tapanuli Selatan dan perwakilan Desa Sihepeng, Kecamatan Siabu, Mandailing Natal di di Ranto Natas, Kecamatan Sayur Matinggi, Kabupaten […]

  • Jual Beli Paket Proyek Penyebab Bangunan Pemerintah Amburadul

    Jual Beli Paket Proyek Penyebab Bangunan Pemerintah Amburadul

    • calendar_month Jumat, 6 Jun 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Salah satu penyebab bobroknya kualitas proyek di Mandailing Natal (Madina) ditengarai akibat terjadinya jual beli proyek antara pejabat di daerah dengan kontraktor. Penentuan pemenang tender proyek pemerintah bukan berdasar mekanisme proses tender, melainkan siapa kontraktor yang membeli paket kepada oknum pejabat dengan nilai rupiah tinggi. Uang pembelian ini masuk ke kantong […]

  • Ganja, Anggur, Fiqih

    Ganja, Anggur, Fiqih

    • calendar_month Minggu, 2 Feb 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        Oleh : Dahlan Batubara   Tanaman ganja harusnya bukan haram. Sebagaimana tanaman aren bukan tanaman haram. Pun singkong tidak haram. Buah anggur juga bukan haram. Tanaman ganja dibutuhkan dunia farmasi sebagai obat penyakit ganas, antara lain : kanker, parkinson, multiple sclerosis, efilepsi, arhtritis. Juga untuk kosmetik. Dari 1262 senyawa di dalam tanaman ganja, […]

  • 6 Tersangka Ditetapkan Dalam Kasus Pembunuhan Ferdiansyah. Polisi Terus Lakukan Pengembangan

    6 Tersangka Ditetapkan Dalam Kasus Pembunuhan Ferdiansyah. Polisi Terus Lakukan Pengembangan

    • calendar_month Kamis, 9 Apr 2026
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA ||Mandailing  Online- Kepolisian Resor Mandailing Natal (Polres Madina) menetapkan 6 orang sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan Ferdiansyah (36), warga Desa Panyabungan Tonga, yang terjadi di Desa Runding, Kecamatan Panyabungan Barat, Rabu (8/4/2026). Kasat Reskrim Polres Madina, AKP Ikhwan, mengatakan bahwa penetapan tersangka ini merupakan tindak lanjut penyelidikan intensif terhadap insiden yang sempat memicu kesimpangsiuran […]

  • Berikan Jam Komandan, Dandim 0212/Tapsel Tekankan Netralitas TNI

    Berikan Jam Komandan, Dandim 0212/Tapsel Tekankan Netralitas TNI

    • calendar_month Jumat, 1 Sep 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Padang Sidempuan ( Mandailing Online ) – Komandan Kodim 0212/Tapsel Letkol Inf Amrizal Nasution memberikan Jam Komandan kepada seluruh prajurit dan Pegawai Negeri Sipil (PNS) serta ibu-ibu Persit di Aula Daulay Simorangkir Makodim Jln. Imam Bonjol Kec. Padang Sidempuan Selatan Kota Padang Sidempuan, Jum’at (01/09/2023 Jam komandan merupakan forum komunikasi sekaligus bentuk kepedulian seorang Komandan […]

  • BBM Langka, Sopir Angkot Nginap di SPBU

    BBM Langka, Sopir Angkot Nginap di SPBU

    • calendar_month Selasa, 2 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA- Terhitung kemarin, sudah sebulan lebih BBM sulit diperoleh di Madina. Kelangkaan BBM ini sontak membuat sopir angkutan kota atau angkot yang beroperasi di Madina menginap di SPBU. Lho kok? Syahbudin (31) misalnya. Sopir angkutan umum di Panyabungan ini mengaku, sudah beberapa kali menginap di SPBU demi beberapa liter bensin. Pasalnya, dalam kurun waktu sebulan […]

expand_less