Kamis, 5 Mar 2026
light_mode

Keadilan Islam dan Demokrasi?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 21 Des 2020
  • print Cetak

Oleh : Enni Etika Mardia, S.Pd

Aktivis Peduli Ummat / tinggal di Padangsidempuan

 

Baru- baru ini media di hebohkan dengan beredar kabar tewasnya enam orang laskar Front Pembela Islam(FPI). Diketahui, enam orang laskar pengawal Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) meninggal dunia setelah ditembak aparat.

Menurut keterangan dari pihak kepolisian bahwa pada saat di tol kendaraan petugas dipepet dan diberhentikan oleh dua kendaraan dari laskar FPI. Laskar FPI disebut melawan polisi dengan menodongkan senjata api dan senjata tajam berupa samurai, celurit kepada anggota.

Karena alasanya membahayakan keselamatan jiwa petugas pada saat itu, terpaksa petugas melakukan tindakan tegas sehingga enam orang meninggal dunia dan emapt orang lainnya melarikan diri. Untuk kerugian petugas berupa kerugian materil yaitu kerusakan kendaraan karena ditabrak pelaku dan adanya bekas tembakan pelaku pada saat di TKP.

Berbeda dengan keterangan dari pihak FPI,  Jika mengacu pada keterangan resmi DPP FPI menyebutkan bahwa anggota mereka justru yang menjadi korban atas kejadian ini dan  anggota mereka tidak membawa senjata api maupun senjata tajam sebagaimana dituduhkan oleh Polri.

Dan mereka beranggapan pihak kepolisian yang telah menebar fitnah. Siapa yang benar, siapa yang memutarbalikkan fakta masih belum jelas.

Meskipun demikian,  publik sudah menyaksikan bagaimana rekam jejak aparat hukum dalam menegakkan keadilan. Tak bisa dipungkiri  bahwa sering kali  hukum di negeri ini digunakan sebagai alat pukul bagi siapa saja yang menentang pemerintah. Seolah berkata, hukum adalah pemerintah. Keadilan adalah pemerintah. Yang melawannya, harus siap-siap berhadapan dengan hukum dan keadilan penguasa.

Sebenarnya muncul tanda tanya di benak publik, Mengapa harus ada korban jiwa dalam pengawalan HRS di tol Cikampek saat itu? Pelaku kriminal saja jika melawan hanya ditembak lengan atau kakinya.

Menurut Indonesia Police Watch (IPW) sendiri menyebut ada banyak kejanggalan dari peristiwa penembakan enam laskar FPI. Mereka mendesak agar dibentuk Tim Pencari Fakta Independen untuk mengusut tuntas dan mengungkap kebenarannya. Sebab, cerita antara Polri dan FPI berbeda. Fakta sebenarnya masih kabur.

Yang jelas adalah ada korban meninggal. Ada rasa ketidakadilan. Ada hukum yang dijadikan alat bagi mereka yang berseberangan pemerintah. Ada fobia terhadap bangkitnya kesadaran politik umat. Ada kekhawatiran upaya penggulingan kekuasaan. Kekhawatiran yang sebenarnya karena takut kekuasaannya hancur.

Islam adalah ajaran yang cinta damai. Islam tentu sangat  menentang keras tindakan barbar seperti ini. Islam melarang pembunuhan tanpa alasan yang belum dipastikan kebenarannya. Satu nyawa itu sangat berharga bahkan lebih berharga di banding dunia. “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Tapi di sistem demokrasi, nyawa seperti tak ada harganya. Demi nafsu berkuasa menghalalkan segala cara. Hal itu biasa terjadi dalam sistem demokrasi.

Lagipula, makna keadilan dalam sistem demokrasi mustahil bebas dari kepentingan. Sebab, demokrasi memberi peluang tegaknya hukum sesuai kehendak manusia. Disinilah kelemahan demokrasi. Bagaimana mau mewujudkan keadilan sementara hukumnya sendiri bisa berubah-ubah sesuai kepentingan manusia itu sendiri?

Dalam Islam, yang dinamakan adil itu harus sesuai dengan hukum Islam. Hukum ditegakkan berdasarkan pandangan syariat Islam.  Keadilan hanya bisa diraih jika kita menerapkan  Islam secara keseluruhan dalam kehidupan. Namun dalam negara demokrasi,  menegakkan hukum Allah dalam peraturan perundang-undangan hampir mustahil terjadi. Hal ini disebabkan, akidah sekularisme yang menolak peran agama dalam kehidupan.

Wallahu a’lam bishshawwab.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Insiden Batangtoru karena polisi kaku

    Insiden Batangtoru karena polisi kaku

    • calendar_month Jumat, 2 Nov 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN, (MO)– Penyebab terjadinya bentrok antara ratusan warga Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan dengan ratusan aparat kepolisian terkait penolakan warga terhadap pemasangan pipa pembuanganb air sisa (limbah) PT Agincourt Resourcer (AR) kesungai Batangtoru karena kepolisian menggunakan pengamanan berdasarkan legal formal. “Pihak kepolisian melakukan pengamanan berdasarkan legal formal yakni berdasarkan peraturan saja bukan berdasarkan bukan berdasarka pendekatan […]

  • BPBD Madina Cari Korban Hanyut di Aek Galoga

    BPBD Madina Cari Korban Hanyut di Aek Galoga

    • calendar_month Selasa, 13 Nov 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tim BPBD Madina bersama warga hingga kini masih melakukan pencarian Roni Rizky yang hanyut di Sungai Batang Gadis, titik Aek Galoga, Selasa (13/11/2018). Berdasar informasi yang dihimpun di lapangan, remaja warga Aek Galoga, Panyabungan, Mandailing Natal itu hanyut ketika melompat ke sungai mengejar bola. Dia dan rekan-rekannya bermain bola di lapangan […]

  • Pejabat Pemkab Madina Tembak Warga Pakai Pistol

    Pejabat Pemkab Madina Tembak Warga Pakai Pistol

    • calendar_month Senin, 13 Feb 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PUNCAK SORIK MARAPI (Mandailing Online) – Seorang pejabat di Pemkab Mandailing Natal berinisial G dilaporkan ke polisi atas tuduhan menembak warga Desa Hutanamale menggunakan pistol. G dilaporkan menembak seorang warga Hutanamale, Kecamatan Puncak Sorik Marapi, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) pada Minggu dini hari (12/2/2017) di satu warung kopi di desa itu. Warga yang ditembak bernama […]

  • Ekonomi Dunia Masih Pengaruhi Harga Karet Alam

    Ekonomi Dunia Masih Pengaruhi Harga Karet Alam

    • calendar_month Kamis, 20 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SUMUT (Mandailing Online) – Harga karet di pasar ekspor terus melemah dalam dua bulan terakhir. Ini terjadi akibat perlambatan ekonomi dunia yang mengakibatkan permintaan karet ikut berkurang. Sehingga, pabrikan juga mengikuti perkembangan pasar dengan menurunkan harga beli dan harga jual. Sekretaris Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatra Utara Edy Irwansyah menggambarkan, pada akhir Mei lalu […]

  • Tagihan Listrik Nyentrik? Kebijakan Kapitaliatik Yang Mencekik!

    Tagihan Listrik Nyentrik? Kebijakan Kapitaliatik Yang Mencekik!

    • calendar_month Senin, 22 Jun 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Nahdoh Fikriyyah Islam Dosen dan Pengamat Politik Belakangan ini masyarakat dihebohkan dengan lonjakan tagihan listrik. Meskipun PLN mengklaim bahwa kenaikan tarif listrik karena peningkatan pemakaian, banyak warga tak terima.Warga Depok pun sempat mendatangi kantor PLN yang memprotes besarnya tagihan yang naik hingga berkali-kali lipat. Kenaikan yang dirasakan warga pun bermacam-macam. Sehingga PLN pun […]

  • Saifullah-Atika Pasangan Pendaftar Pertama

    Saifullah-Atika Pasangan Pendaftar Pertama

    • calendar_month Rabu, 28 Agt 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pasangan Saipullah Nasution – Atika Azmi Utammi Nasution resmi mendaftar ke KPU Madina, Rabu (28/8/2024). Ini menjadikan pasangan ini pendaftar pertama sebagai calon bupati/wakil bupati Mandailing Natal (Madina) di perhelatan Pilkada 2024. Enam partai politik mengusung Saifullah-Atika: PKS, PKB, Partai Demokrat, Partai Nasdem, PPP dan Perindo. Sebelum mendaftar ke KPU Madina, […]

expand_less