Rabu, 15 Apr 2026
light_mode

Atika dan Realitas Birokrasi, Peluang dan Kendala

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 22 Jul 2021
  • print Cetak

Pasangan Sukhairi-Atika

Oleh: Askolani Nasution

Setelah melewati perjalanan yang tidak mudah, akhirnya  M Ja’far Sukhairi Nasution dan Atika Azmi Utammi Nasution dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Mandailing Natal. Saya membayangkan saja apa yang ada dalam pikiran beliau. Terutama Atika.

Saya yakin, ada moment ketika Atika merenung. Duduk, mungkin sambil senyum, karena tiba-tiba berada di jalur pemerintahan. Padahal baru beberapa waktu yang lalu beliau ada di Australia, mungkin duduk di perpustakaan kampus, ada di sebuah coffe house sambil membuat studi analisis keuangan, ada di taman kota, ber-say-hallo dengan para bule yang berpapasan dengan bahasa Inggris cas-cus, atau ada di sebuah kantor perusahaan multinasional sambil mengkalkulasi break event point.

“My Way”, begitu mungkin bisiknya menirukan lagu Frank Sinatra itu. Ia yang dulu hidup dalam dunia serba rasional, terukur, efisiensi, atau bebas protokoler; lalu tiba-tiba berada di jalur birokrasi yang kaku dan aneh untuk mereka yang sepanjang hidup ada di jalur akademis, Barat lagi. Beliau harus taat aturan kapan boleh batuk, kapan berbasa-basi, kapan setengah tertawa meskipun tidak benar-benar lucu, kapan bla-bla.

Itu berat. Tapi menjadi kemestian baru. Dulu, mantan dosen saya seorang profesor. Tiba-tiba diangkat menjadi kadis pendidikan sebuah kota. Hanya satu tahun, ia langsung mengeluh. “Saya berhenti menjadi diri saya selama setahun ini,” katanya. Lalu balik lagi ke kampus.

Itu yang terberat di dunia birokrasi. Karena kita harus menjadi orang lain, yaitu orang yang dibentuk untuk diinginkan semua orang.

Bahkan orang teater seperti saya, yang melatih orang lain terampil berpura-pura, juga tak tahan. Iya. Karena dalam tidur pun kita tetap menjadi orang lain, bukan orang yang kita inginkan. Dengkur misalnya tiba-tiba menjadi aib, padahal itu tanda merdeka.

Nah di dunia baru itu seorang Atika mencemplungkan diri. Menenggelamkan diri tepatnya.

Coba kita kilas balik ke latar akademisnya. Lulus dari Magister of Finance UNSW, Australia, yang sangat bergengsi, karena universitas itu peringkat 45 dunia. Ia bergulat dengan segala kerumitan bisnis, dengan cara berpikir yang amat rasional, tiba-tiba harus berhadapan dengan berbagai kerawitan kekuasaan, politik praktis, dan seterusnya.

Saya yakin beliau banyak membaca soal konsep politik ekonomi makro. Karena politik dan ekonomi seperti mata uang logam, bersisihan.

Saya yakin beliau matang soal inflasi, pertumbuhan ekonomi, PDRB, neraca keuangan, investasi, modal, dan seterusnya. Konon lagi ekonomi pembangunan, pasti beliau sangat matang.

Saya yakin juga beliau amat paham soal realitas ekonomi pembangunan di kawasan Asia Tenggara, apalagi di dunia Barat. Semua latar akademiknya amat membantu memahami potensi ekonomi dan keterbatasan daerah ini.

Saya yakin beliau setidaknya juga sudah punya peta dasar tentang itu semua, karena sudah melihat kontekstualitas Mandailing Natal selama kunjungannya ke berbagai daerah.

Beliau melihat potensi, melihat keterbatasan ekonomi ummat, melihat kemiskinan, potensi PAD, atau kemungkinan peta investasi. Orang semuda beliau, dengan latar akademik yang matang, tentu sudah mampu menjabarkan, membuat formula, dan solusi yang aplikatif atas semua kesemrautan ekonomi daerah.

Dan ini, Mandailing Natal itu seperti piring kecil dalam jamuan makan. Ada banyak menu yang harus dicoba dan berjejal dalam piring kecil itu. Ada politik yang tidak rasional, ada pola-pola penganggaran yang tidak efektif dan efisien, ada sisi-sisi yang macet, dan berbagai distorsi lain untuk sebuah akselerasi pembangunan ekonomi daerah (berpotensi tapi tertinggl). Bahkan ada bandit-bandit yang cerdas memainkan konsep fait accompli, menjebak dan memaksa orang untuk melakukan hal yang tidak ingin dilakukannya.

Harus menjaga bandul politis, memelihara dukungan yang terus menerus, sambil harus juga melaju di jalur prioritas; ah, itu butuh energi yang luar biasa. Diperlukan dukungan dan pengertian yang luar biasa dari segenap ummat juga.

Untung, saya yakin Atika sudah punya sikap yang teguh untuk menginfaqkan dirinya bagi Mandailing Natal. Bahasa klasiknya sebutlah membangun kampung halaman. Apalagi kalau jalannya dimudahkan dengan pemberian ruang yang lebih luas untuk mencoba konsep-konsep baru misalnya; ada dukungan kaum milineal dan perempuan, dan sedikit rendah hati dari DPRD untuk membuka hati terhadap hal yang berbeda.

Jangan dulu selalu berpikir politis. Jangan dulu berpikir siapa makan menu apa. Sudah 22 tahun Mandailing Natal, masa begini-begini saja, masa jargon-jargon saja macam pepesan kosong? Gagah di motto tapi miskin kreativitas.

Semoga bupati dan wakil bupati baru mampu menguatkan harga diri kita kembali.

Askolani Nasuton adalah budayawan, sutradara dan juga birokrat. Pernah menjabat Kabag Humas DPRD Madina; Kabag Risalah dan Persidangan di DPRD Madina; Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan Madina. Kini masih non job.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tim Basarnas Masih Kesulitan Mengevakuasi Korban

    Tim Basarnas Masih Kesulitan Mengevakuasi Korban

    • calendar_month Jumat, 8 Feb 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Hingga hari kedua kegiatan evakuasi jenazah korban reruntuhan tambang emas di Huta Bargot, Jum’at (8/2), tim Basarnas (Badan SAR Nasional) masih mengalami kendala. Pada hari pertama kehadiran tim Basarnas, Kamis (7/2) petugas Basranas dibantu 4 orang relawan tambang telah memasuki lobang TKP untuk mengetahui kondisi dan peta lobang sebagai langkah awal […]

  • Ratusan Orang Berseragam OKP Serang Polantas

    Ratusan Orang Berseragam OKP Serang Polantas

    • calendar_month Senin, 9 Des 2013
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    MEDAN –  Ratusan orang mengenakan atribut Organisasi Kepemudaan (OKP) Ikatan Pemuda Karya (IPK), menyerang tiga orang petugas Polisi Lalu Lintas Polresta Medan yang sedang bertugas di Jalan Balaikota perempatan Jalan Raden Saleh Kecamatan Medan Barat, Sabtu (7/12) sore. Bahkan, ratusan orang mengenakan atribut IPK yang mengendarai sepeda motor itu sempat menyerang Pos Lalu Lintas di […]

  • RAMADHAN DI KAMPUNG KAMI (bagian satu)

    RAMADHAN DI KAMPUNG KAMI (bagian satu)

    • calendar_month Minggu, 10 Apr 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Diceritakan Tagor Lubis dari Pojok Kedai Lontong Medan (kenangan masa kecil di Mandailing 1970 – 1980)   Ramadhan bulan penuh rahmat,  bulan penuh berkah, serta bulan penuh ampunan. Dan banyak lagi sebutan untuknya. Dahulu, waktu kami masih kanak kanak, saat saat seperti ini adalah hari hari yang sangat menyenangkan, bagaimana tidak sebentar lagi kami akan […]

  • Harga Karet Naik ke Level 8.600

    Harga Karet Naik ke Level 8.600

    • calendar_month Kamis, 16 Jan 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Harga karet alam di Panyabungan, Mandailing Natal mengalami kenaikan dalam tiga pekan terakhir. Pantauan di lokasi pertimbangan karet, Gunungtua Iparbondar, Panyabbungan, Kamis (16/1/2020) harga karet basah di terrendah Rp 8.200 per Kg, tertinggi Rp 8.600 per Kg. Sahrin Nasution, penyadap karet dari Gunungtua Julu mengungkapkan harga karet alam ini mengalami […]

  • Berkunjung ke Madina, Kapoldasu Sebut Ada Alat Pendeteksi Tanaman Ganja

    Berkunjung ke Madina, Kapoldasu Sebut Ada Alat Pendeteksi Tanaman Ganja

    • calendar_month Kamis, 16 Mei 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online)- Kapolda Sumut Irjen pol Agung Setya Imam Efendi berkunjung Polres Madina. Kunjungan nya itu berkaitan dengan penemuan ladang ganja oleh polisi di bukit tor sihite Madina. Ada dua titik lokasi yang ditemukan petugas dalam operasi Antik ( anti narkoba ) itu yakni di desa ranto natas dan wilayah desa tambangan. Kedua titik […]

  • TKW Asal Batubara Diterlantarkan di Malaysia

    TKW Asal Batubara Diterlantarkan di Malaysia

    • calendar_month Senin, 29 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN : Tenaga kerja wanita asal Kabupaten Batubara, Sumatera Utara, Nurmadaniyah (16) mengaku ditelantarkan di Malaysia, meski telah empat bulan berada di negara itu. Pengakuan tersebut disampaikan orang tua kandung Nurmadaniyah, Effendi penduduk Dusun 7 Desa Bogak, Kecamatan Tanjung Tiram, Batubara, di Medan, Senin 29 November 2010. Sebenarnya, kata Effendi, cukup banyak masalah dengan keberangkatan […]

expand_less