Rabu, 21 Okt 2026
light_mode

Menunggu Lemang

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Minggu, 1 Mei 2022
  • print Cetak

Catatan kecil: Askolani Nasution

 

Selasa, 12 Agustus 1980. Pagi-pagi pancuran sudah ramai. Anak-anak berebut delapan bilah pancuran di sebelah mesjid. Semua membawa bambu untuk memasak lemang. Sudah dipotong-potong setiap ruasnya, lalu diikat dengan tali dari kulit batang pisang. Kami menyebutnya “sarisir”, dan tentu cukup kuat untuk mengikat 6-10 ruas bambu.

Anak-anak riuh. Ada yang baru datang, ada beranjak pulang membawa bambu yang sudah bersih. Beberapa, sama seperti aku, masih sibuk menggosok bilah-bilah bambu dengan serabut kelapa.

Menyambut lebaran selalu antusias. Baju baru sudah dilipat di lemari. Bairpun hanya satu dua stel, sudah dua kali disetrika. Kalau cuma sekali tak afdol rasanya.

Ah, ini hari terakhir puasa. Beberapa anak tidak puasa karena tak sabar menunggu buka puasa untuk makan lemang. Tentu, hanya setahun sekali. Kata ibu, rasa lemang jauh lebih manis saat masih panas.

“Mak, masih lama ya masaknya,” cetusku sambil duduk di atas karung goni, di dekat ‘adaran’, tungku kayu tempat menyandarkan lemang.

“Nanti, sebentar lagi,” kata Emak. “Bambunya saja belum kering.”

Aku merapikan bara api. Tentu agar panasnya merata. Bara api terasa panas di wajah. Sesekali kulap dengan kain basahan yang sengaja dibasahkan.

Emak bernyanyi-nyanyi. Entah lagu apa. Mungkin nyanyian anak-anak di masa mudanya. Atau lagu kenang-kenangannya bersama ayah, almarhum ayah maksudku.

Atau itu lagu abang-abangku waktu mereka kecil dulu. Karena anak paling kecil, jarak usia kami sangat jauh, banyak hal dalam kehidupan masa kecil mereka yang aku tidak tahu.

Beberapa kali aku menelan ludah. Tentu karena membayangkan rasa lemang yang masih panas. Makin ditahan, makin kuat selera.

“Sebentar lagi akan tiba abangmu,” cetus Emak. Emak tampak tak bisa menyembunyikan rasa senangnya akan bertemu anak-anaknya pulang dari rantau. Karena itu, Emak memasak lemang. Untuk anak-anaknya yang pulang lebaran. Padahal, semalam Emak harus menjual minyak kelapa kami yang baru diolah sendiri, agar bisa menebus beberapa kilo beras ketan.

Bagian mencari bambu untuk lemang tentu urusanku sebagai satu-satunya anak laki-laki di rumah, sekalipun usiaku masih SD ketika itu. Karena itu, sore kemarin aku sudah menyandarkan dua batang bambu di dinding rumah.

Saat aku mencari bambu, Emak mencari daun pisang untuk lapis bambu bagian dalam. Malamnya, langsung dipotong Emak. Tentu juga sambil merendam beras ketan. Malam, rendaman itu ditabur dalam tampi agar kering.

Begitu pagi, tentu setelah bambu aku bersihkan, Emak langsung dengan terampil memasukkan lapis daun pisang ke dalam ruas bambu. Daun pisang dipotong, digulung, lalu dijepit dengan pelepah pisang untuk mendorongnya ke dalam ruas. Rapi dan telaten. Lalu Emak tinggal memasukkan beras ketan yang sudah ditiriskan di atas tampi. Berikutnya memasukkan santan kelapa secukupnya. Karena aku tidak puasa, tentu menjadi tugasku mencoba rasa asin santan yang sudah diberi garam.

Emak kembali bernyanyi-nyanyi. Beberapa anak lewat sambil membawa mainan pistol air yang dibuat dari bambu. Aku tak bisa menolak ketika mereka ajak bermain.

“Masih lama masaknya, pergilah,” kata Emak.

Aku berlari ke pancuran. Tentu sambil membawa pistol bambu yang dirakit sendiri. Pancuran menjadi riuh. Menyedot air ke dalam selongsong bambu, lalu kita tekan keras untuk menyemburkannya. Siapa yang paling jauh semburannya itu yang menang. Akhirnya kami semua basah kuyup.

Beduk mesjid berbunyi. Tanda sholat Zuhur sudah masuk. Semua anak-anak berlarian pulang. Lemang yang masih panas sudah menunggu untuk disantap.

Benar saja. Begitu sampai di rumah, Emak langsung mengambil sebatang. Dipenggal dua. Aku memilih bagian ujung, karena rasa asinnya lebih terasa dan lebih lembek. Emak langsung membelahnya.

“Makan di rumah, banyak orang lewat ke mesjid,” kata Emak. Tentu, rumah kami memang hanya berjarak 20 meter dari mesjid.

Kami anak-anak sebaya banyak yang puasanya tidak penuh. Namanya juga masih SD, semua makanan amat menggoda. Apalagi makanan yang hanya dibuat sekali setahun seperti lemang dan Alame.

Selesai makan lemang, aku kembali membuka lemari, memastikan baju baruku masih ada di sana. Baju kemeja warna biru dan celana pendek warna coklat. Kalau sekarang, pasti kutolak, karena dua warna itu tidak akur banget. Tapi zaman itu, setiap baju baru pasti keren. Ada baju baru saja sudah hebat. Banyak anak yang hanya memakai baju lebaran lebaran sebelumnya.

Beberapa kawan datang mengajak membuat mainan obor. Tentu, baru saja kami membuat lampu obor dari bambu pada malam 27 ramadhan kemarin. Kami menyebutnya ‘pasang-pasang palito’.

Seruas bambu ditungkai mendatar dengan dua batang kayu bercabang. Bagian atas ruas bambu dilobangi, 5 -10 lobang berjarak empat jari. Lalu ke dalam lobang itu ditancapkan potongan bambu kecil bersumbu. Dibuat berjejer membentuk kurva V atau U. Lalu diisi minyak tanah. Malamnya, setelah buka puasa, langsung dinyalakan. Begitu semua berjejer di depan setiap rumah.

Kampung yang belum masuk listrik menjadi benderang, bunga api dari bambu bersumbu menari-nari sepanjang kampung karena dihembus angin. Anak-anak tentu riuh. Ada yang menontoni api sambil bercerita, ada yang berkejaran.

Terus, ini malam lebaran kita buat apa? Katanya lampu dari tempurung. Kayu dipatok lima berjejer. Lalu masing-masing diisi dengan tempurung. Disusun rapi bergunduk-gunduk. Malam hari semua dibakar. Lidah apinya hijau kuning, menari-nari ditiup angin.

Sore, Emak mencariku sampai ke tepi kampung. Katanya abang yang dari rantau sudah tiba. Harus segera menangkap ayam di kandang kolong rumah. Biar ada gulai untuk lebaran. Karena pintu kandang kecil, hanya aku yang bisa masuk.

Begitulah kesibukan setiap momen sehari menjelang lebaran. Di sini kami menyebutnya “Sadari Mangalomang.” Atau hari untuk memasak lemang. Tentu saja semua sudah berubah. Setelah kematian Emak, kami juga tak pernah masak lemang lagi.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Partai Berkarya Desak Indonesia dan Organisasi Islam Tekan India

    Partai Berkarya Desak Indonesia dan Organisasi Islam Tekan India

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Ketua DPD Partai Berkarya Kabupaten Madina, Onggara Lubis mendesak pemerintah Indonesia melakukan tekanan diplomatik untuk melindungi muslim di India. Dia juga menyerukan seluruh organisasi muslim serta organisasi kemanusiaan di Indonesia menggulirkan gerakan menekan India. Itu dinyatakan Onggara Lubis kepada Mandailing Online, Minggu (1/3/2020) di Panyabungan. Puluhan orang tewas dalam kerusuhan […]

  • Dosen penjual ijazah palsu terancam

    Dosen penjual ijazah palsu terancam

    • calendar_month Rabu, 30 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN (Mandailing Online)- Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah I Aceh-Sumut, Dian Armanto menegaskan, oknum dosen Sug (50) yang ditangkap Kepolisan Langsa, Aceh menjual ijazah sarjana S-1 palsu kepada warga Langkat bisa diberhentikan. “Perbuatan oknum dosen tersebut, sangat tidak terpuji, memalukan dan harus diproses secara hukum,” katanya ketika dihubungi di Medan, hari ini. Oknum dosen […]

  • POTRET BURAM NEGERI

    POTRET BURAM NEGERI

    • calendar_month Selasa, 30 Mar 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Riani,S.Pd.I Guru di Medan Angka kemiskinan di Indonesia masih cukup tinggi. Ditambah harus berhadapan dengan wabah covid-19 yang hingga kini belum sirna, diperkirakan bisa bertambah. Bukan hanya kaum laki-laki yang banyak kehilangan pekerjaan. Tak jarang, perempuan pun harus ikut terjun mencari nafkah demi untuk kebutuhan hidup. Seorang nenek dan cucunya viral di sosial media. […]

  • Manuver Politik Murahan Sang Bupati

    Manuver Politik Murahan Sang Bupati

    • calendar_month Rabu, 24 Apr 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : M. Amin Nasution,SH.MH Ketua LBH Al-Amin Madina   Hari gini ada Bupati yang tidak tahu prosedur pengunduran diri dari jabatan adalah sungguh sangat ironis mengingat jabatan Bupati adalah jabatan politik yang sangat prestise yang mengemban amanat mayoritas suara rakyat dalam satu kabupaten. Sahdan, tanggal 18 April 2019 (sehari setelah Pilpres/Pileg) Bupati Mandailing Natal […]

  • Zubeir Lubis Ditetapkan Calon Wakil Ketua DPRD Madina

    Zubeir Lubis Ditetapkan Calon Wakil Ketua DPRD Madina

    • calendar_month Selasa, 29 Mar 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online) – Rapat paripurna DPRD Kabupaten Mandailing Natal, Selasa (29/3) menetapkan  Ir. Zubeir Lubis sebagai calon wakil ketua DPRD. Penetapan ini  berdasar Surat Keputusan DPP Partai Kebangkitan Bangsa nomor : 10978/DPP-03/VI/A/2016 tertanggal 26 Januari 2016 mengisi kekosongan kursi wakil ketua DPRD Mandailing Natal (Madina) yang ditinggalkan Jakfar Sukhairi Nasution  karena ikut Pilkada […]

  • Jalan lingkungan yang dirusak desa tanpa ada pelepasan aset daerah ( ist )

    Bupati Madina : Kades Jambur Baru Akan Ditindak Tegas Jika Terbukti Rugikan Negara

    • calendar_month Kamis, 2 Apr 2026
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA||Mandailing Online- Terkait Kepala Desa Jambur Baru, Kecamatan Batang Natal , Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) yang melakukan perusakan terhadap aset daerah demi memuluskan proyek jalan desanya, Bupati dengan tegas mengatakan apabila ada temuan kerugian negara, perbuatan melanggar hukum yang menyangkut ke jabatan, akan menindak sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan. ” kita tidak boleh […]

expand_less