Sabtu, 30 Mei 2026
light_mode

Mengunjungi Penghuni Gubuk di Sekitar Pemakaman Dusun Tanjung Tua

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 19 Nov 2010
  • print Cetak


Hidup Nomaden setelah Ayah Meninggal dan Ibu Sakit Jiwa
Sungguh tragis kehidupan yang dijalani kakak beradik, Kholia Harahap (35) dan Dian Harahap (7). Di tengah kemajuan zaman yang serba canggih, keduanya justru hidup serba kekurangan dalam segala hal.
eduanya tinggal di gubuk reyot seadanya di dekat kuburan umum Dusun Tanjung Tua, Desa Marsada, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel).

Ketika disambangi METRO, Kamis (18/11), kakak beradik ini mengaku, baru menempati gubuk yang dibuatnya sendiri sejak 3 minggu terakhir. Sebelumnya, mereka pindah dari gubuk ke gubuk lainnya. Alasannya hanya satu, mereka tak punya tempat tinggal. Dan hidup nomaden (berpindah-pindah,red) itu sudah dijalani sejak 6 tahun lalu.

“Kami hidup seperti ini sekitar 6 tahun terakhir, sejak ayah kami meninggal di Desa Hasahatan Dolok (Kecamatan Sipirok). Kami tak punya tempat tinggal,” kata Kholia.

Diceritakannya, untuk memenuhi kebutuhan hidup, keduanya harus menunggu jika ada warga yang meminta untuk bekerja secara upah di ladangnya. Dan upah kerja tersebut yang digunakan untuk membeli beras dan kebutuhan lainnya.

“Kalau ada yang mengajak kerja, biasanya ada upahnya Rp30 ribu per hari. Lalu, kami belikan beras dan kebutuhan lain. Jika tidak ada, sesekali kami mengunjungi famili di pasar untuk mendapatkan makanan,” terangnya.

Ditambahkannya, mereka 3 bersaudara, 1 laki-laki dan 2 perempuan dan setelah ayahnya meninggal dan dikebumikan di Desa Hasatan Dolok, ibunya mengalami gangguan jiwa dan saat ini bersama keluarga lain di Padangsidimpuan (Psp), sedangkan adiknya yang laki-laki, Hotman Saputra (13) saat ini bekerja di salah satu kedai nasi di Pasar Sipirok.

“Mereka tak sekolah, ibu kami stres setelah ayah meninggal dan sekarang di Psp. Adik saya membantu rumah makan di Pasar Sipirok dan sesekali dia datang membawa makanan,” ungkapnya.

Pantauan METRO Kamis (18/11), kondisi kehidupan kedua kakak beradik tersebut sangat memprihatinkan, baju yang dikenakan sudah kumal, kulit tampak lusuh, rambut kucel. Di dalam gubuk, ada tikar plastik yang dibalut daun salak serta ilalang kering berukuran sekitar 2 x 1,5 meter persegi. Ironinya, itu semua tak berguna bila hujan turun.

Kholia tidak pernah mengenyam sekolah, demikian juga Dian, sementara Hotman pernah tapi tidak sampai tamat SD. Mereka tidak punya keluarga lagi. Soal makan, tidak tentu, kadang sekali, kadang dua kali dalam sehari.

Di gubuk yang berjarak sekitar 300 meter dari pemukiman warga tersebut mereka bertahan entah sampai kapan. (*)
Sumber : Metro Tabagsel

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Komisi VII Ragui Sosialisai SMGP

    Komisi VII Ragui Sosialisai SMGP

    • calendar_month Kamis, 4 Feb 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA (Mandailing Online) – Insiden paparan gas PLTP Mandailing Natal ke warga sekitar menuai kecamanan dari DPR. Dalam rapat Komisi VII DPR dengan Kementerian ESDM dan operator PLTP, PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP), sejumlah anggaota DPR meminta ada sanksi yang harus dijatuhkan. Wakil Ketua Komisi VII Alex Noerdin mengungkapkan sudah semestinya SMGP mendapatkan sanksi karena adanya […]

  • MARSIDAO-DAO (episode 26)

    MARSIDAO-DAO (episode 26)

    • calendar_month Jumat, 3 Jun 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Novel Mandailing Nanisuratkon : Dahlan Batubara Sogot ni ari, Siti mambangkit gule na madung masak tingon uali i dalian tataring i. Isonduksa indahan tu pinggan Si Siti dohot si Poso nagiot mangan manyogot marayak kehe tu sikolana. “Naron dung muli sikola, alap anggimu tu ompung Rosma an da, Inang,” ningna arop boruna. “Olo, Umak. Ompung […]

  • 3 Anggota DPRD Sibolga Tolak Provinsi Tapanuli

    3 Anggota DPRD Sibolga Tolak Provinsi Tapanuli

    • calendar_month Jumat, 13 Mei 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN: Tiga anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Sibolga menyampaikan aspirasi berupa penolakan terhadap rencana pembentukan Provinsi Tapanuli kepada Pelaksana Tugas Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho di Medan, Kamis, 12 Mei 2011. Tiga anggota DPRD Kota Sibolga itu adalah anggota Fraksi Gabungan Bersama Hendri Tamba, anggota Fraksi Partai Golkar Jamil Zeb Tumori, dan anggota […]

  • Bangsa Mandailing: Bukan Batak dan Tidak Melayu

    Bangsa Mandailing: Bukan Batak dan Tidak Melayu

    • calendar_month Kamis, 23 Okt 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh : Abdur-Razzaq Lubis   BANGSA MANDAILING DIBATAKKAN BELANDA Nama Mandailing sudah diketahui sejak abad ke 14 lagi, dan ini menunjukkan adanya satu bangsa dan wilayah bernama Mandailing, yang barangkali telah muncul sebelum abad itu lagi. Nama Mandailing tersebut dalam kitab Nagarakretagama yang mencatat perluasan wilayah Majapahit sekitar 1365 M. Batak tidak disebut sekalipun […]

  • Kasus Dugaan Korupsi Rusunawa Sibolga

    Kasus Dugaan Korupsi Rusunawa Sibolga

    • calendar_month Senin, 5 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 5Komentar

    JAKARTA, – Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Wijaya Corruption Watch (WCW) Provinsi Sumatera Utara, akan kembali mendatangi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta, Senin (5/8). Langkah tersebut ditempuh untuk menyampaikan sejumlah bukti tambahan adanya dugaan korupsi dalam pembangunan rumah susun sewa (rusunawa) Sibolga. “Untuk yang keenam kalinya mungkin Senin (5/8) kita akan kembali mendatangi KPK. Kita […]

  • Utang Produktif ala LBP dalam Perspektif Islam

    Utang Produktif ala LBP dalam Perspektif Islam

    • calendar_month Jumat, 12 Agt 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Djumriah Lina Johan Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan mengakui utang Indonesia mencapai Rp 7.000 triliun. Meskipun begitu, Luhut menegaskan utang tersebut merupakan utang produktif. “Kalau ada yang bilang utang Rp 7.000 triliun, benar tapi utang produktif. Seperti jalan tol ini (Tol Serang-Panimbang) akan dikembalikan sendiri,” […]

expand_less