Minggu, 28 Jun 2026
light_mode

Negara, Judi Online, dan Kolonialisasi Kesadaran

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum

 

Ketika yang Dipertaruhkan Bukan Lagi Uang, Tetapi Manusia Itu Sendiri

Di permukaan, judi online tampak seperti sekadar kriminalitas digital: situs ilegal, transaksi gelap, promosi vulgar, dan ledakan korban ekonomi rumah tangga. Negara pun terlihat sibuk. Situs diblokir. Rekening dibekukan. Konferensi pers digelar hampir setiap pekan.

Tetapi semakin dalam fenomena ini dibedah, semakin tampak bahwa persoalannya jauh lebih besar daripada sekadar pelanggaran hukum.

Yang sedang berlangsung sesungguhnya adalah perebutan kesadaran manusia.

Dan di titik itulah, judi online berubah dari sekadar praktik kriminal menjadi gejala peradaban.

Mari mulai dari fakta paling telanjang.

PPATK menyebut perputaran dana judi online di Indonesia melonjak luar biasa dalam beberapa tahun terakhir. Dari puluhan triliun rupiah, nilainya kini diproyeksikan mencapai ratusan hingga lebih dari seribu triliun rupiah per tahun. Angka ini bukan lagi statistik kriminal biasa. Ia sudah menyerupai ekonomi bayangan nasional.

Di saat bersamaan, jutaan konten disebut telah diblokir pemerintah. Namun situs baru terus tumbuh seperti organisme digital yang tak pernah benar-benar mati. Domain berganti. Server berpindah. Promosi menyusup ke media sosial, grup percakapan, hingga ruang digital anak-anak.

Lalu publik dikejutkan lagi oleh temuan yang lebih ironis.

Dalam rapat kerja bersama DPR pada Juni 2024, Kepala PPATK mengungkap adanya ribuan anggota legislatif pusat dan daerah yang terdeteksi terkait transaksi judi online. Data yang kemudian ramai diberitakan media, termasuk investigasi Tempo, menyebut sekitar 1.000 lebih anggota DPR dan DPRD masuk dalam temuan transaksi tersebut.

Ini bukan lagi sekadar cerita tentang rakyat kecil yang terjebak candu digital.

Ketika wakil rakyat sendiri ikut terseret, maka judi online berubah menjadi: krisis integritas politik.

Dan publik pun mulai bertanya dengan nada getir: bagaimana mungkin negara akan sungguh-sungguh memerangi sesuatu yang jejaknya bahkan ditemukan di sekitar lingkaran kekuasaan sendiri?

Pertanyaan itu tentu tidak otomatis membuktikan bahwa negara sengaja memelihara judi online. Tetapi ia memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih serius: kerusakan ini sudah menembus struktur sosial dan politik.

Karena itu, terlalu dangkal jika judi online hanya dibaca sebagai soal moralitas individu.

Fenomena ini justru membuka pertanyaan yang lebih gelap: mengapa masyarakat modern semakin mudah terjerat mekanisme candu digital?

Jawabannya berkaitan dengan perubahan besar dalam sistem ekonomi global.

Jika kapitalisme lama bertumpu pada eksploitasi tenaga kerja manusia, maka kapitalisme digital hari ini bertumpu pada eksploitasi perhatian manusia.

Manusia modern tidak lagi hanya diposisikan sebagai pekerja dan konsumen. Ia kini diperlakukan sebagai sumber data, sumber klik, sumber impuls, dan sumber kecanduan.

Ekonomi digital modern hidup dari satu hal:
lamanya manusia bertahan di dalam sistem.

Karena itu, platform-platform digital dirancang bukan untuk menenangkan manusia, melainkan untuk membuat manusia terus terikat secara emosional.

Judi online hanyalah bentuk paling brutal dan paling telanjang dari mekanisme tersebut.

Yang dijual bukan sekadar permainan.

Yang dijual adalah harapan instan.

Dan harapan instan selalu menemukan pasar subur di tengah masyarakat yang mengalami:

* tekanan ekonomi,
* stagnasi mobilitas sosial,
* kecemasan masa depan,
* dan krisis makna hidup.

Di titik ini, perjudian berubah fungsi:
bukan lagi sekadar hiburan,
melainkan pelarian eksistensial.

Maka jangan heran jika korbannya bukan hanya pengangguran atau masyarakat miskin.

Bahkan mereka yang berada di pusat kekuasaan politik pun bisa terseret.

Karena pada akhirnya, judi online bekerja bukan hanya pada kelemahan ekonomi manusia, tetapi juga pada kelemahan psikologis manusia: hasrat menang cepat, sensasi, pelarian, dan ilusi kontrol atas nasib.

Lalu di mana posisi negara?

Di sinilah problem menjadi semakin pelik.

Secara formal, negara memang memerangi judi online. Tetapi secara struktural, negara tampak tertinggal jauh dibanding kecepatan teknologi dan kelenturan jaringan ekonomi ilegal digital.

Lebih buruk lagi, berbagai kasus menunjukkan adanya dugaan keterlibatan oknum aparat, kebocoran sistem, hingga jejaring perlindungan tertentu. Ini membuat publik mulai melihat negara bukan sebagai benteng yang solid, melainkan arena tarik-menarik kepentingan.

Akibatnya, lahirlah kesan sosial yang sangat berbahaya: negara tampak lebih cepat mengawasi kritik politik dibanding menghancurkan ekosistem judi online.

Benar atau tidak persepsi itu, dampaknya nyata: kepercayaan publik terkikis perlahan.

Namun bagian paling mengkhawatirkan sebenarnya bukan soal lemahnya penegakan hukum.

Yang jauh lebih mengerikan adalah efek sosial jangka panjangnya.

Masyarakat yang:

* terus dibombardir hiburan instan,
* terus dipelihara dalam budaya impuls,
* terus dibanjiri kecanduan digital,
akan perlahan kehilangan:
* daya tahan berpikir,
* disiplin sosial,
* solidaritas kolektif,
* dan kemampuan membayangkan masa depan bersama.

Dalam kondisi seperti itu, warga negara perlahan berubah menjadi sekumpulan individu yang lelah, terpecah, dan sibuk mengejar pelarian masing-masing.

Di situlah kita memasuki fase yang lebih filosofis: krisis kesadaran.

Dan mungkin, di titik inilah negara modern mulai menyadari satu hal pahit: bahwa hukum dan teknologi saja tidak cukup untuk menyelamatkan manusia dari kehancuran dirinya sendiri.

Sebab akar terdalam persoalan ini bukan sekadar ekonomi. Bukan pula semata lemahnya regulasi.

Akar terdalamnya adalah kekosongan ruhani manusia modern.

Manusia kehilangan makna,
kehilangan kedalaman,
kehilangan kemampuan mengendalikan nafsunya sendiri.

Dan ketika nafsu dibiarkan menjadi pusat peradaban, maka teknologi berubah menjadi alat penjajahan baru atas jiwa manusia.

Di sinilah tasawuf menemukan relevansinya kembali.

Tasawuf bukan sekadar ritual sunyi di sudut masjid. Ia adalah jalan pembebasan manusia dari perbudakan paling berbahaya.

Mengapa Manusia Memilih Jadi Budak

Dalam tradisi Islam, penjajahan paling mengerikan bukan ketika tubuh manusia dirantai, tetapi ketika jiwanya kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Karena itu para sufi tidak memulai perubahan dari pasar atau istana,
melainkan dari penaklukan diri:

* menahan hasrat,
* melawan kerakusan,
* memutus candu dunia,
* dan mengembalikan manusia pada kesadaran ilahiah bahwa hidup bukan sekadar mengejar sensasi.

Tasawuf, dalam makna pembebasannya, mengajarkan satu hal radikal: bahwa manusia yang merdeka adalah manusia yang tidak diperbudak oleh apa pun selain Tuhan.

Bukan oleh uang.
Bukan oleh algoritma.
Bukan oleh jackpot.
Bukan oleh kekuasaan.
Bukan oleh nafsunya sendiri.

Dan mungkin, di tengah ledakan judi online, krisis moral politik, serta peradaban digital yang terus menghisap perhatian manusia, bangsa ini akhirnya perlu bertanya ulang:

apakah kita masih sedang membangun masyarakat yang beradab?

Atau diam-diam sedang membangun generasi yang kehilangan jiwanya sedikit demi sedikit — sambil terus menatap layar, berharap keberuntungan semu yang tak pernah benar-benar datang? ***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • PKS Madina Gelar Lomba Baca Kitab Kuning

    PKS Madina Gelar Lomba Baca Kitab Kuning

    • calendar_month Sabtu, 26 Nov 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mandailing Natal, Sumut menyelenggarakan Lomba Baca Kitab Kuning tingkat kabupaten. Lomba edisi-6 ini berlangsung Sabtu hingga Selasa (26-29) di sekretariat DPD PKS Mandailing Natal, Jl. Willem Iskander, Pidoli, Panyabungan. Final berlangsung pada Senin. Lomba Baca Kitab Kuning ini adalah agenda tahunan untuk Hari Santri yang diprakarsai […]

  • 1.445 Guru Belum Sertifikasi

    1.445 Guru Belum Sertifikasi

    • calendar_month Minggu, 8 Mei 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PADANGBOLAK- Sebanyak 1.445 guru PNS di Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) belum sertifikasi. Dari total guru PNS sebanyak 1.637 ini hanya 192 guru yang sudah lulus sertifikasi, atau hanya sekitar 11 persen saja. Demikian disampaikan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Paluta Drs Hazairin Hasibuan melalui Kabid Pengendalian Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Drs Hasmy Siregar, Jumat […]

  • Fahrizal Salurkan Bantuan Benih Ikan Jurung dan Ikan Mas

    Fahrizal Salurkan Bantuan Benih Ikan Jurung dan Ikan Mas

    • calendar_month Kamis, 15 Sep 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sejumlah desa di Kabupaten Mandailing Natal memperoleh bantuan benih ikan, disalurkan Anggota DPRD Sumatera Utara, H. Fahrizal Efendi Nasution. Penyerahan berlangsung di Desa Manyabar dan Desa Salambue, Kecamatan Panyabungan, Rabu (14/9/2022). Benih ikan ada dua jenis. Benih ikan mas diperoleh petani Desa Manyabar. Benih jurung dengan total 900 ekor diperoleh kelompok […]

  • Ibu Bawa Dua Bocah Kelola Ladang Ganja

    Ibu Bawa Dua Bocah Kelola Ladang Ganja

    • calendar_month Jumat, 7 Feb 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Polres Mandailing Natal (Madina) selama tiga hari (4-6) Februari mengadakan operasi penyisiran ladang ganja yang dimulai dari Desa Rao-Rao Panjaringan, Kec. Tambangan hingga ke Tor Sihite Panyabungan Timur, Kab. Madina. Selama operasi itu, petugas berhasil membekuk seorang ibu rumah tangga yang membawa dua anaknya yang masih bocah di ladang ganja kawasan Tor Sihite.(sp)

  • Gaji 11 Bulan Tak Jelas, Guru TKS SMA/SMK Demo ke DPRD Madina

    Gaji 11 Bulan Tak Jelas, Guru TKS SMA/SMK Demo ke DPRD Madina

    • calendar_month Senin, 27 Nov 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sekitar 200 guru TKS SMA dan SMK melakukan unjukrasa ke DPRD Madina mengadukan nasib soal gaji yang belum diterima selama 11 bulan. Mereka berjalan kaki dari lapangan Aek Godang menuju gedung DPRD Madina, Senin (27/11/2017). Sejumlah spanduk diusung. Salah satu bertulis “Gimana mau paten kalau gaji guru belum cair”. Bisri […]

  • Kota Panyabungan Dari Udara

    Kota Panyabungan Dari Udara

    • calendar_month Jumat, 8 Sep 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PASAR LAMA PANYABUNGAN – Kota Panyabungan, Mandailing Natal diabadikan dari udara, Jum’at pagi (8/9/2017) oleh Willis Tinating, Pidoli Lombang yang dikelola Jefri Sati Muda Nasution. Pengambilan foto dilakukan memakai Drone, pesawat kecil yang dikendalikan dengan remote control dan dipasang satu kamera. Selain foto-foto, Willis Tinating juga telah merilis video dari udara memakai Drone ini. Untuk […]

expand_less