Sabtu, 27 Jun 2026
light_mode

BISNIS KRIPIK SINGKONG BANJARKOBUN DARI PINGGIR JALAN (Bagian 1)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum

 

Cara Membaca dan Mengisi Celah Ekonomi Mikro di Madina

Di Mandailing Natal, usaha kecil sebenarnya tidak pernah benar-benar mati. Bisnis ini hanya bergerak pelan.

Kadang nyaris tak terlihat.

Kadang muncul sebentar lalu tenggelam lagi.

Di sudut pasar tradisional, di dapur rumah-rumah kecil, di warung kopi pinggir jalan, di lorong desa yang aroma minyak gorengnya merayu hidup di sore hari — ekonomi rakyat terus bernapas.
Ada ibu-ibu yang memarut singkong sejak subuh. Ada anak muda yang mencoba jualan lewat Tiktok.

Ada warung kopi yang sudah menaruh kripik lokal – kerupuk singkong parut ala Banjarkobun di dekat etalase yang mencolok.

Masalahnya, bukan karena orang Madina tidak bisa usaha.

Usaha-usaha kecil sejenis itu justru sudah lama tumbuh mandiri dan, sayangnya, banyak pelaku yang senang “main” sendiri-sendiri.

Iya, menggeliat sendiri-sendiri. Mereka memproduksi sendiri. Menjual sendiri. Promosi sendiri. Lelah sendiri. Lalu, banyak yang akhirnya, perlahan hilang sendiri.

Padahal, di tengah situasi ekonomi yang semakin sulit, justru ekonomi mikro seperti inilah yang paling mungkin bertahan.
Dan salah satu produk paling potensial sebenarnya sangat sederhana: kripik singkong parut ala Banjarkobun.

Keunggulan jenis bisnis kecil ini bukan karena produknya luar biasa modern. Tapi karena usaha itu memenuhi syarat paling penting dalam ekonomi rakyat:
• bahan baku tersedia,
• mudah diproduksi,
• bisa dikerjakan rumahan,
• pasar selalu ada,
• dan modalnya relatif kecil.

Namun pertanyaan sebenarnya, bukan: “Bisakah membuat kripik?”

Melainkan: “Bagaimana membangun pasar dan ekosistemnya?” Dimana peluang bisnisnya?

CELAH BESAR BISNIS: BUKAN PRODUK, TAPI JALUR PASAR

Kalau kita perhatikan lebih teknis, UMKM Madina hari ini punya problem yang hampir sama:
• produksi ada,
• rasa lumayan,
• harga bersaing,
• tapi pasar sempit.

Artinya, ruang kosongnya bukan di dapur produksi. Yang kosong adalah: jalur ekonomi – jalur pasar.

Maka orang yang paling potensial sukses di ekonomi mikro Madina saat ini, tidak selalu yang paling jago bikin produk.

Tetapi, yang sangat mungkin, adalah yang bisa menghubungkan produk dengan pasar. Menjadi satu mata rantai.

Dan menariknya, untuk masuk ke ruang itu tidak selalu butuh modal besar.
Bisnis kecil ini justru butuh:
• keberanian mulai,
• kemampuan membaca perilaku pasar,
• dan konsistensi kecil tapi rutin.

LANGKAH PERTAMA:
Mulai dari Skala Kecil, Tak Harus Besar

Ini kesalahan paling umum di bisnis UMKM kecil. Baru mulai usaha, langsung berpikir:
• cetak ribuan bungkus,
• sewa tempat,
• beli alat mahal, dan
• stok besar.

Padahal, pasar belum terbentuk. Dan, cara paling realistis justru sebaliknya: mulai dari distribusi produk dalam skala kecil selaku pengusaha di sektor mikro.
Bagaimana gambaran cara? Yakni, dengan:

1. Mulai dengan 5 pembuat kripik rumahan

Tidak perlu langsung punya dapur sendiri. Datangi:
• ibu-ibu pembuat kripik,
• penjual gorengan,
• usaha kecil rumahan,
• tetangga yang sudah produksi.

Lalu, tawarkan: “Saya bantu pasarkan.”

Banyak UMKM kecil sebenarnya tidak kuat menjual. Mereka kuat memproduksi.
Ini celah pertama untuk berbisnis di sektor UMKM.

2. Buat merek bersama sederhana

Jangan pakai nama terlalu rumit.
Yang penting:
• mudah diingat,
• ada nuansa lokal,
• mudah dicetak di stiker.

Contoh:
• Parut Madina,
• Kriuk Mandailing,
• Singkong Panyabungan,
• Balado Batang Gadis.

Tidak perlu langsung legalitas lengkap.

Awalnya cukup:
• logo sederhana,
• stiker ukuran kecil,
• nomor WhatsApp,
• akun medsos.

Modal desain bahkan bisa dibuat lewat Canva.

3. Fokus pada kemasan

Dalam ekonomi modern, kemasan sering lebih menentukan daripada rasa.

Karena konsumen pertama kali membeli lewat mata. Maka:
• gunakan plastik tebal bening,
• buat label rapi,
• beri warna konsisten,
• cantumkan tanggal produksi,
• beri slogan pendek.

Contoh slogan:
“Kriuknya Orang Mandailing.”
atau:
“Teman Kopi dari Pinggir Sawah.”
Kecil. Tapi membangun identitas. (bersambung)

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Penguatan Kebudayaan Melalui Politik Anggaran Daerah

    Penguatan Kebudayaan Melalui Politik Anggaran Daerah

    • calendar_month Kamis, 3 Mei 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh : Mulyadi Hakim Nasution, SH Anggota DPRD Mandailing Natal Disampaikan pada Kegiatan Konsolidasi Organisasi Forum Pelestarian dan Pengembangan Adat dan Budaya Mandailing Natal Hotel Madina Sejahtera, Panyabungan, Kamis 3 Mei 201     Penguatan adat dan budaya daerah memang memerlukan peran berbagai pihak. Tidak memadai lagi kalau hanya semata-mata menjadi beban pelaku-pelaku adat […]

  • Fahrizal: Bupati Berwenang Cabut Izin Perusahaan Yang Mengancam Nyawa Warga

    Fahrizal: Bupati Berwenang Cabut Izin Perusahaan Yang Mengancam Nyawa Warga

    • calendar_month Senin, 3 Okt 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      MEDAN (Mandailing Online) — Anggota DPRD Sumatera Utara H. Fahrizal Efendi Nasution, SH berpendapat bupati berwenang mencabut izin operasioal satu perusahaan berdasar ketentuan tertentu. Ketentuan itu, apabila suatu perusahaan gagal menjaga lingkungan hidup, mengancam kesehatan warga, serta keselamatan jiwa masyarakat sekitar. Itu diungkap Fahrizal, Minggu petang (2/10/2022) mengamati PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP) […]

  • Pulang dari Rantau, Sukses di Budidaya Cabe

    Pulang dari Rantau, Sukses di Budidaya Cabe

    • calendar_month Rabu, 24 Feb 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    MUARASIPONGI (Mandailing Online) – Pulang dati tanah rantau, Abdul Hamid berhasil dalam budidaya cabe di Desa Tanjung Larangan Kecamatan Muara Sipongi, Mandailing Natal. Saat ini panen awal kebun cabe seluas ¼ hektar itu menghasilkan panen yang sangat memuaskan serta harga yang masih tinggi. “Memang pada pertanaman cabe kita pada saat ini alhamdulilah masih bagus, hasilnya […]

  • PAW Anggota DPRD Madina Dari Partai PKB Berlangsung Hikmat

    PAW Anggota DPRD Madina Dari Partai PKB Berlangsung Hikmat

    • calendar_month Selasa, 16 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN : Secara resmi Hj Riadoh Rangkuti telah duduk sebagai anggota DPRD Kabupaten Mandailing Natal periode 2009-2014 dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Pelantikan Riadoh dilakukan melalui proses Pengganti Antar Waktu (PAW) dari Alm H Abdurahman Mustofa Nasution , yang telah meninggal dunia beberapa waktu ya lewat. Pengambilan sumpah janji Hj Riadoh berlangsung di ruang sidang […]

  • Penembak Solatiyah Tidak Diberi Sanksi

    Penembak Solatiyah Tidak Diberi Sanksi

    • calendar_month Jumat, 3 Jun 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Kabid Humas Poldasu AKBP Raden Heru Prakoso, Rabu (1/6), menegaskan, bila hasil pemeriksaan sesuai prosedur maka tidak ada pemberian sanksi bagi personel Polri yang menembak Solatiyah saat pembakaran camp Sorikmas Mining beberapa waktu lalu. (Foto smg) Direktur LBH Medan Nuryono SH memberi keterangan pers kepada sejumlah wartawan usai pengepungan yang dilakukan petugas Sat Reskrim Polda […]

  • Mari Menghadirkan Pilkada Damai

    Mari Menghadirkan Pilkada Damai

    • calendar_month Jumat, 30 Okt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Calon Bupati Madina Drs. HM. Yusuf Nasution, M.Si dan Calon Bupati Madina Safaruddin Haji Lubis (Akong) foto bersama penuh keakraban dan bersahaja. Dalam kurun waktu lebih 30 hari ke depan masyarakat Kabupaten Mandailing Natal akan dihadapkan pada perhelatan akbar pemilihan Kepala Daerah. Semua warga masyarakat di bumi Gordang Sambilan. Madina tentulah mengharapkan agar proses pra […]

expand_less