Minggu, 14 Jun 2026
light_mode

BISNIS KRIPIK SINGKONG BANJARKOBUN DARI PINGGIR JALAN (Bagian 1)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum

 

Cara Membaca dan Mengisi Celah Ekonomi Mikro di Madina

Di Mandailing Natal, usaha kecil sebenarnya tidak pernah benar-benar mati. Bisnis ini hanya bergerak pelan.

Kadang nyaris tak terlihat.

Kadang muncul sebentar lalu tenggelam lagi.

Di sudut pasar tradisional, di dapur rumah-rumah kecil, di warung kopi pinggir jalan, di lorong desa yang aroma minyak gorengnya merayu hidup di sore hari — ekonomi rakyat terus bernapas.
Ada ibu-ibu yang memarut singkong sejak subuh. Ada anak muda yang mencoba jualan lewat Tiktok.

Ada warung kopi yang sudah menaruh kripik lokal – kerupuk singkong parut ala Banjarkobun di dekat etalase yang mencolok.

Masalahnya, bukan karena orang Madina tidak bisa usaha.

Usaha-usaha kecil sejenis itu justru sudah lama tumbuh mandiri dan, sayangnya, banyak pelaku yang senang “main” sendiri-sendiri.

Iya, menggeliat sendiri-sendiri. Mereka memproduksi sendiri. Menjual sendiri. Promosi sendiri. Lelah sendiri. Lalu, banyak yang akhirnya, perlahan hilang sendiri.

Padahal, di tengah situasi ekonomi yang semakin sulit, justru ekonomi mikro seperti inilah yang paling mungkin bertahan.
Dan salah satu produk paling potensial sebenarnya sangat sederhana: kripik singkong parut ala Banjarkobun.

Keunggulan jenis bisnis kecil ini bukan karena produknya luar biasa modern. Tapi karena usaha itu memenuhi syarat paling penting dalam ekonomi rakyat:
• bahan baku tersedia,
• mudah diproduksi,
• bisa dikerjakan rumahan,
• pasar selalu ada,
• dan modalnya relatif kecil.

Namun pertanyaan sebenarnya, bukan: “Bisakah membuat kripik?”

Melainkan: “Bagaimana membangun pasar dan ekosistemnya?” Dimana peluang bisnisnya?

CELAH BESAR BISNIS: BUKAN PRODUK, TAPI JALUR PASAR

Kalau kita perhatikan lebih teknis, UMKM Madina hari ini punya problem yang hampir sama:
• produksi ada,
• rasa lumayan,
• harga bersaing,
• tapi pasar sempit.

Artinya, ruang kosongnya bukan di dapur produksi. Yang kosong adalah: jalur ekonomi – jalur pasar.

Maka orang yang paling potensial sukses di ekonomi mikro Madina saat ini, tidak selalu yang paling jago bikin produk.

Tetapi, yang sangat mungkin, adalah yang bisa menghubungkan produk dengan pasar. Menjadi satu mata rantai.

Dan menariknya, untuk masuk ke ruang itu tidak selalu butuh modal besar.
Bisnis kecil ini justru butuh:
• keberanian mulai,
• kemampuan membaca perilaku pasar,
• dan konsistensi kecil tapi rutin.

LANGKAH PERTAMA:
Mulai dari Skala Kecil, Tak Harus Besar

Ini kesalahan paling umum di bisnis UMKM kecil. Baru mulai usaha, langsung berpikir:
• cetak ribuan bungkus,
• sewa tempat,
• beli alat mahal, dan
• stok besar.

Padahal, pasar belum terbentuk. Dan, cara paling realistis justru sebaliknya: mulai dari distribusi produk dalam skala kecil selaku pengusaha di sektor mikro.
Bagaimana gambaran cara? Yakni, dengan:

1. Mulai dengan 5 pembuat kripik rumahan

Tidak perlu langsung punya dapur sendiri. Datangi:
• ibu-ibu pembuat kripik,
• penjual gorengan,
• usaha kecil rumahan,
• tetangga yang sudah produksi.

Lalu, tawarkan: “Saya bantu pasarkan.”

Banyak UMKM kecil sebenarnya tidak kuat menjual. Mereka kuat memproduksi.
Ini celah pertama untuk berbisnis di sektor UMKM.

2. Buat merek bersama sederhana

Jangan pakai nama terlalu rumit.
Yang penting:
• mudah diingat,
• ada nuansa lokal,
• mudah dicetak di stiker.

Contoh:
• Parut Madina,
• Kriuk Mandailing,
• Singkong Panyabungan,
• Balado Batang Gadis.

Tidak perlu langsung legalitas lengkap.

Awalnya cukup:
• logo sederhana,
• stiker ukuran kecil,
• nomor WhatsApp,
• akun medsos.

Modal desain bahkan bisa dibuat lewat Canva.

3. Fokus pada kemasan

Dalam ekonomi modern, kemasan sering lebih menentukan daripada rasa.

Karena konsumen pertama kali membeli lewat mata. Maka:
• gunakan plastik tebal bening,
• buat label rapi,
• beri warna konsisten,
• cantumkan tanggal produksi,
• beri slogan pendek.

Contoh slogan:
“Kriuknya Orang Mandailing.”
atau:
“Teman Kopi dari Pinggir Sawah.”
Kecil. Tapi membangun identitas. (bersambung)

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gelar Malam Resepsi Kenegaraan, Ini Pesan Saipullah

    Gelar Malam Resepsi Kenegaraan, Ini Pesan Saipullah

    • calendar_month Senin, 18 Agt 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Natal) – Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Pemkab Madina) menggelar malam resepsi kenegaraan sebagai bagian akhir dari peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia. Jamuan berlangsung di Pendopo Rumah Dinas Bupati, Panyabungan, Minggu malam (17/8/2025). Malam resepsi kenegaraan ini dihadiri Wakil Bupati Atika Azmi Utammi Nasution, unsur Forkopimda, Pj. Sekda Drs. M. Sahnan Pasaribu, asisten […]

  • WTP Boleh Bersinar, Tapi Catatan BPK Tak Boleh Hilang dari Ingatan

    WTP Boleh Bersinar, Tapi Catatan BPK Tak Boleh Hilang dari Ingatan

    • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh: Tim Mandailing Epicentrum*   Mandailing Natal kembali memamerkan capaian administratif yang membanggakan. Opini WTP berhasil dipertahankan. LKPJ 2025 pun telah disampaikan ke DPRD dengan sederet angka realisasi anggaran yang terlihat cukup meyakinkan. Pendapatan daerah menembus Rp1,8 triliun. Belanja daerah juga bergerak di kisaran yang sama. Pemerintah bahkan menegaskan fokus pembangunan diarahkan ke sektor […]

  • KPU Sidempuan loloskan 1 jalur independen

    • calendar_month Sabtu, 7 Jul 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Satu pasangan calon, yakni Amir Mirza Hutagalung dan Nurwin Nasution dinyatakan lolos untuk mengikuti pemilihan kepala daerah di Kota Padang Sidempuan, Sumatera Utara karena memenuhi persyaratan berupa dukungan masyarakat. Ketua KPU Padang Sidempuan Arbanur Rasyid mengatakan, berdasarkan hasil verifikasi faktual, pasangan Amir Mirza Hutagalung dan Nurwin Nasution mampu mengumpulkan bukti dukungan berupa fotocopy KTP sebanyak […]

  • Jual Tape Ubi, Awalnya Modal 5 Juta, Kini Omzet 450 Juta

    Jual Tape Ubi, Awalnya Modal 5 Juta, Kini Omzet 450 Juta

    • calendar_month Senin, 2 Mei 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Tamat kuliah jangan berfikir melamar kerja. Itu bukan lagi zamannya. Jangan mau jadi pekerja. Sebab, pekerja itu tak ada bedanya pegawai, karyawan, buruh, kuli, jongos. Jangan menggantungkan hidupmu pada gaji. Jadilah enterpreneur. Mandiri. Membuka usaha. Jadilah pengusaha. Tak usah dulu modal besar. Mulailah dengan yang kecil, modal kecil. Peluang usaha menabur di hadadapan Anda. Kuncinya […]

  • Lagi-lagi KKB Berulah, Kapankah Papua Aman?

    Lagi-lagi KKB Berulah, Kapankah Papua Aman?

    • calendar_month Jumat, 24 Sep 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Susi Ummu Ameera Pegiat Literasi Sebanyak sembilan tenaga kesehatan (nakes) korban kekerasan yang dilakukan KKB (kelompok kriminal bersenjata) di Puskesmas Kiwirok, Pegunungan Bintang, Provinsi Papua pada Senin lalu, saat ini sedang menjalani pemulihan trauma dan pengobatan. (19/7). Pelayanan kesehatan dihentikan, seraya menunggu jaminan keamanan dari pemerintah untuk para tenaga kesehatan yang bertugas. Namun hingga […]

  • Proyek Sawah Cina Digandeng Negara, Nasib Petani Lokal Bagaimana?

    Proyek Sawah Cina Digandeng Negara, Nasib Petani Lokal Bagaimana?

    • calendar_month Rabu, 8 Mei 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Dewi Soviariani Ibu dan Pemerhati Umat Berlatarbelakang negara agraris, Indonesia terkenal sebagai negeri yang maju sektor pertaniannya. Sayangnya akibat salah kelola kekayaan alam terkesan dijajah oleh ekonomi neoliberalis kapitalisme kini ketahanan pangan nasional dalam ancaman. Nasib petani lokal kini bisa terancam. Sungguh ironis bangsa kita terkenal dengan julukan gemah ripah loh jinawi. Namun kini […]

expand_less