API, BARANG BUKTI DAN BAYANGAN HITAM KRIMINALITAS DI MADINA (Bagian 3-selesai)
- account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
- calendar_month 52 menit yang lalu
- print Cetak
MADINA DALAM CENGKRAMAN BAYANGAN PEKAT NARKOBA

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum
Ketika Generasi Muda Perlahan Berjalan ke Tepi Jurang, yang menganga, mengundang, siap merangkul, merekrut dan “memberdayakan” pemuda.
Bayangan hitam pekat itu bukan lagi sekadar berita kriminal.
Ini ancaman sosial.
Musuh yang nyata.
Dan mungkin,
ancaman paling serius terhadap masa depan daerah dan kemanusiaan pada umumnya.
Bayangkan seorang ibu yang mulai takut pada keselamatan anaknya, bukan hanya saat harus pulang malam, tapi juga khawatir saat berada di lingkungan sekolah.
Bayangkan desa-desa yang mulai akrab dengan istilah:
• sabu,
• kurir,
• bandar,
• penangkapan,
• dan penggerebekan.
Bayangkan generasi muda yang tumbuh dalam situasi:
• lapangan kerja sempit,
• pendidikan rapuh,
• pengawasan sosial melemah,
• dan narkoba hadir sebagai jalan cepat mendapatkan uang.
Lalu tanyakan:
Siapa yang sebenarnya sedang kalah?
Bandar?
Atau masyarakat itu sendiri?
Narkoba tidak hanya menghancurkan tubuh. Barang haram itu sudah menghancurkan:
• keluarga,
• masa depan,
• rasa aman,
• dan perlahan menghancurkan daya tahan sosial masyarakat.
Yang paling menakutkan bukan narkoba yang berhasil disita dan sudah dibakar.
Tetapi narkoba yang belum ditemukan.
Jaringan yang belum disentuh.
Dan generasi muda yang perlahan mulai terbiasa hidup di dekat kehancuran.
Jika semua dianggap selesai hanya karena barang bukti sudah dibakar,
maka suatu hari nanti yang benar-benar terbakar bukan lagi ganja atau sabu.
Tetapi, masa depan masyarakat itu sendiri.
Dan ketika itu terjadi,
semua konferensi pers akan terdengar “telat banget”. ***
- Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

