API, BARANG BUKTI DAN BAYANGAN HITAM KRIMINALITAS DI MADINA (Bagian 1)
- account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak
Barang Bukti Musnah, Akar Kejahatan Terus Menjalar?

Oleh: Tim Mandailing Epcentrum
Baru- baru ini, Kajari Madina melaksanakan pembakaran banyak barang bukti. Katanya, semuanya tanpa sisa.
Ada sesuatu yang terasa ganjil setiap kali publik menyaksikan pemusnahan barang bukti.
Tumpukan ganja dibakar.
Sabu dimusnahkan.
Rokok ilegal dihancurkan.
Kamera menyala.
Pejabat berdiri rapi.
Lalu publik perlu percaya: negara sedang menang melawan kejahatan.
Padahal, pertanyaan paling penting justru nyaris tak pernah dijawab:
Mengapa barang bukti terus bertambah?
Karena, jika setiap tahun aparat memusnahkan narkotika dalam jumlah besar, maka kemungkinan yang terjadi hanya dua:
Pertama, penegakan hukum memang bekerja.
Atau kedua:
kejahatan justru sedang tumbuh jauh lebih besar.
Lebih dari 54 kilogram ganja dan ratusan gram sabu bukan angka kecil untuk daerah seperti Mandailing Natal.
Itu menandakan:
• ada pasar aktif,
• ada jalur distribusi,
• ada pemasok,
• ada pembeli,
• ada aliran uang,
• dan sangat mungkin ada jaringan yang masih hidup.
Publik akhirnya hanya diperlihatkan hasil akhir.
Sementara akar masalahnya tetap bergerak di belakang layar. Bandar besar jarang muncul. Jaringan utama nyaris tak terlihat.
Yang tertangkap sering kali hanyalah kurir, pemakai, atau pemain lapangan.
Maka publik layak bertanya: Apakah yang sedang dihancurkan benar-benar sistem kejahatan?
Atau hanya serpihan kecil yang sengaja dikorbankan agar jaringan utamanya tetap aman?
Rokok ilegal bahkan membuka persoalan yang lebih gelap.
Karena, itu bukan sekadar pelanggaran dagang. Rokok ilegal berarti:
• kebocoran cukai negara,
• ekonomi bawah tanah,
• distribusi ilegal,
• dan kemungkinan keterhubungan dengan jaringan kriminal lain.
Tetapi pertanyaannya sama: Siapa pemain besarnya?
Jika yang disentuh hanya pedagang kecil, maka negara sedang sibuk membasmi ranting — sambil membiarkan batang pohonnya tetap berdiri.
Di titik inilah publik harus berhenti terkagum-kagum pada seremoni pemusnahan.
Karena ukuran keberhasilan hukum bukan seberapa besar api yang menyala.
Tetapi: seberapa jauh negara mampu menghancurkan sistem yang melahirkan barang bukti itu sejak awal.
Dan jika setiap tahun barang bukti terus bertambah, maka mungkin ada sesuatu yang jauh lebih besar yang justru sedang tumbuh diam-diam. ***
- Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

