Senin, 28 Sep 2026
light_mode

MENUJU TAPSEL YANG LEBIH TANGGUH (Bagian 1 dari 3 Tulisan)

  • account_circle Ludfan Nasution
  • calendar_month Kamis, 13 Agt 2026
  • print Cetak

Membaca Gagasan Gus Irawan: Dari Recovery Menuju Resilience

 

Oleh: Ludfan Nasution
Koordinator Mandailing Epicentrum

Ada perbedaan antara daerah yang sekadar pulih dari bencana dengan daerah yang belajar dari bencana.

Yang pertama berusaha mengembalikan keadaan seperti semula.

Yang kedua menggunakan bencana sebagai kesempatan untuk membangun sistem yang lebih kuat.

Tapanuli Selatan kini berada pada persimpangan itu.

Bencana besar 25 November 2025 meninggalkan kerusakan serius. Lebih dari 3.000 hektare lahan persawahan terdampak, sementara sekitar 44 persen struktur ekonomi Tapanuli Selatan bertumpu pada sektor pertanian. Maka, bagi Tapsel, bencana ekologis dengan cepat berubah menjadi persoalan ekonomi dan sosial.

Dalam konteks itulah pernyataan Bupati Tapanuli Selatan, H. Gus Irawan Pasaribu, dalam Diseminasi Hasil Studi Bentang Alam Batang Toru dan Pengembangan Pascabanjir Besar 2025 menjadi menarik.

Gus Irawan tidak ingin hasil penelitian para akademisi berhenti sebagai dokumen.

Ia berharap hasil kajian para peneliti dari UI, ITB, UGM, USU, UNAS dan berbagai pihak dapat diterjemahkan menjadi rekomendasi serta kebijakan konkret.

Pesannya jelas: Tapsel membutuhkan dasar ilmiah untuk memulihkan DAS, menata ruang, membangun infrastruktur sesuai karakteristik alam, sekaligus mengurangi risiko bencana di masa mendatang.

Ini adalah cara berpikir yang patut diapresiasi.

Sebab pascabencana seharusnya memang bukan sekadar proyek rehabilitasi.

Recovery atau Resilience?

Kata kuncinya adalah resilience.

Recovery berarti memulihkan.

Resilience berarti membangun kemampuan untuk menghadapi guncangan berikutnya.

Gagasan Gus Irawan bergerak ke arah kedua.

Kalau jalan rusak, jalan diperbaiki.

Kalau jembatan putus, jembatan dibangun.

Kalau sawah tertimbun material, sawah direhabilitasi.

Semua itu wajib dilakukan.

Tetapi pertanyaan yang lebih besar adalah:

Apakah setelah semua itu selesai, Tapsel menjadi lebih aman daripada sebelum bencana?

Di sinilah gagasan resilience mulai bekerja.

Karena bencana bukan hanya persoalan air yang datang terlalu besar. Ia juga berkaitan dengan bagaimana sebuah daerah mengelola bentang alamnya.

Bagaimana DAS dijaga.

Bagaimana ruang ditata.

Bagaimana permukiman berkembang.

Bagaimana infrastruktur dibangun.

Bagaimana pertanian beradaptasi.

Dan bagaimana masyarakat memperoleh penghidupan yang cukup tanpa semakin menekan lingkungan.

 

Batangtoru: Ruang Belajar

Pernyataan Gus Irawan tentang perlunya menjadikan hasil kajian sebagai dasar kebijakan membuka ruang yang menarik.

Sebab Batang Toru tidak bisa dibaca secara sektoral.

Ia bukan hanya urusan lingkungan.

Bukan hanya urusan kehutanan.

Bukan hanya urusan pertanian.

Bukan hanya urusan infrastruktur.

Dan bukan pula hanya urusan mitigasi bencana.

Batang Toru adalah sebuah sistem bentang alam.

Karena itu, kebijakan terhadapnya juga harus lintas sektor.

Inilah salah satu pekerjaan besar pemerintah daerah: menerjemahkan bahasa akademik menjadi bahasa kebijakan.

Dan di sinilah keberanian politik akan diuji.

Sebab hasil kajian ilmiah kadang membawa konsekuensi yang tidak selalu nyaman bagi kebijakan yang sudah berjalan.

Ada tata ruang yang mungkin harus dievaluasi.

Ada pembangunan yang mungkin harus disesuaikan.

Ada aktivitas ekonomi yang mungkin membutuhkan pengendalian.

Ada anggaran yang mungkin harus dialihkan dari penanganan akibat menuju pencegahan.

Resilience bukan sekadar konsep teknis. Ia membutuhkan keputusan politik.

 

Dari Kajian Menuju Tindakan

Karena itu, pesan Gus Irawan agar penelitian tidak berhenti sebagai penelitian sesungguhnya menyimpan agenda yang cukup besar.

Bagaimana rekomendasi itu diterjemahkan?

Siapa yang mengerjakannya?

Berapa anggarannya?

Apa targetnya?

Kapan harus selesai?

Dan bagaimana masyarakat bisa mengukur hasilnya?

Di sinilah kritik kecil justru diperlukan agar gagasan besar tidak berhenti menjadi gagasan.

Kajian harus menjadi kebijakan. Kebijakan harus menjadi program. Program harus mempunyai ukuran. Dan ukuran harus terlihat dalam perubahan kehidupan masyarakat.

Kalau rantai itu berhasil dibangun, forum diseminasi tidak berakhir ketika acara ditutup.

Ia justru menjadi awal.

 

Tapsel: Lebih Tangguh

Bencana 25 November 2025 memang meninggalkan luka.

Tetapi luka juga dapat menjadi pelajaran.

Jika Tapsel mampu menggunakan momentum ini untuk memperbaiki tata kelola DAS, memperkuat tata ruang, membangun infrastruktur yang lebih adaptif, memperkuat pertanian dan memperluas pilihan ekonomi masyarakat, maka Tapsel tidak hanya pulih. Tapsel menjadi lebih tangguh.

Dan gagasan Gus Irawan tentang pemulihan yang berbasis ilmu pengetahuan layak dikembangkan menjadi agenda bersama.

Pemerintah pusat perlu masuk.

Pemerintah provinsi perlu masuk.

Perguruan tinggi perlu terus mendampingi.

Dunia usaha perlu mencari model investasi yang kompatibel dengan daya dukung alam.

NGO dan pemerhati lingkungan perlu menjadi mitra kritis.

Dan masyarakat harus ditempatkan bukan sebagai penonton, tetapi sebagai pelaku.

Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan pascabencana bukanlah seberapa cepat kita menghapus jejak kerusakan.

Tetapi seberapa jauh kita belajar agar kerusakan yang sama tidak kembali menjadi tragedi.

Dari recovery menuju resilience.

Itulah tantangan pertama Tapsel.

Dan mungkin, justru di situlah babak baru pembangunan Tapanuli Selatan dimulai. (bersambung)

 

  • Penulis: Ludfan Nasution
  • Editor: Dahlan Batubara

Rekomendasi Untuk Anda

  • BMKG: Ada Potensi Gelombang Laut 6 Meter Perairan Sumut-Sumbar

    BMKG: Ada Potensi Gelombang Laut 6 Meter Perairan Sumut-Sumbar

    • calendar_month Senin, 5 Apr 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      MEDAN (Mandailing Online) – BMKG menyampaikan potensi gelombang laut perairan antara Sumut dan Sumbar.  Dilansir dari Merdeka.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Maritim Belawan di Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara menyampaikan peringatan kepada berbagai kalangan tentang kewaspadaan terhadap tinggi gelombang laut mencapai enam meter yang melanda perairan Sumut-Sumbar. “Gelombang laut sangat […]

  • Teror 2 PNS: HP dan Dompet Korban Dirampok

    • calendar_month Rabu, 29 Mei 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Berdasar pengakuan para korban aksi teror dua tersangka PNS Pemkab Madina, para korban ditodong dengan pistol lalu menyuruh menyerahkan dompet dan HP. Saat memberikan kesaksian di Mapolres Madina, tiga korban masing-masing Hoirul, Sakban dan Febri menceritakan pada hari Sabtu tanggal 11 Mei 2013 sekira pukul 00.00 Wib mereka sedang duduk menunggu […]

  • Pemda Diminta Seriusi Teror Harimau di Ranto Panjang

    Pemda Diminta Seriusi Teror Harimau di Ranto Panjang

    • calendar_month Rabu, 3 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pemkab Mandailing Natal (Madina) diminta lebih serius menangani teror harimau di Desa Rantau Panjang, Kecamatan Muara Batang Gadis. Tahun ini tercatat 2 penduduk jadi korban. Yakni, Karman Lubis (32) penderes karet, tewas diterkam harimau pada Maret 2013. Kemudian Torkis Lubis (30) penderes karet, diterkam harimau pada 22 Juni 2013. Keduanya merupakan […]

  • Pemda Madina Diminta Putuskan Kerjasama Dengan CI

    Pemda Madina Diminta Putuskan Kerjasama Dengan CI

    • calendar_month Selasa, 8 Jul 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Batang Pungkut Green (BPGC) meminta Pemkab Mandailing Natal (Madina) memutuskan kerjasama dengan pihak Conservation Internasional (CI) yang sudah 2 tahun berjalan. Direktur BPGC, Saparuddin Lubis kepada wartawan, Senin (7/7/2014) menyatakan alasan bahwa selama 2 tahun ini sebanyak 5 item yang digarap CI dengan Pemkab Madina tak menghasilkan apa-apa. Justru semakin memberikan […]

  • Bupati Madina Cabut IUP PT Sorik Marapi Geothermal Power

    Bupati Madina Cabut IUP PT Sorik Marapi Geothermal Power

    • calendar_month Rabu, 10 Des 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        PANYABUNGAN (Mandailing Online) — Bupati Mandailing Natal (Madina), Selasa malam (9/12), dikabarkan telah mencabut IUP (izin Usaha Pertambangan) PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP) dalam eksplorasi bagi pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi. Pencabutan ini dikhawatirkan akan berdampak buruk bagi perkembangan investasi di Madina ke depan serta hilangnya peluang Sumatera Utara dalam mengatasi […]

  • Jalur Natal-Batahan Akan Diaspal Tahun 2014

    Jalur Natal-Batahan Akan Diaspal Tahun 2014

    • calendar_month Kamis, 14 Nov 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 4Komentar

    foto Plt.Bupati Madina, Dahlan Hasan Nasution PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Jalur Natal-Batahan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) sepanjang 20 kilo meter bakal direhab tahun 2014 dengan nilai anggaran sekitar 260 milyar rupiah pola multiyears. Kepastian itu diungkapkan Plt. Bupati Madina, Dahlan Hasan Nasution dihadapan tokoh-tokoh Pantai Barat ketika audiensi tadi siang. “Apa yang menjadi harapan masyarakat […]

expand_less