PARATA NA MALOS: MENYIRAM KEMBALI JIWA YANG MULAI LAYU
- account_circle Moehctar Nasution
- calendar_month 1 menit yang lalu
- print Cetak
Oleh: Moechtar Nasution

…
Arti Sederhana dengan Kedalaman Makna
Bagi siapapun yang lahir dan dibesarkan di atas hamparan tanah Mandailing, istilah “Parata na malos” sebenarnya menempati ruang ingatan yang teramat bersahaja. Di kampung halaman, kalimat ini semula hanyalah sebuah representasi dari aktivitas harian yang biasa kita saksikan di pelataran rumah. Ia merujuk pada sebuah tindakan untuk mengambil gayung berisi air lalu menyiram tanaman dan sayuran, atau rimbun dedaunan yang tampak lunglai terkulai akibat sengatan terik matahari sepanjang siang. Tujuannya sangat praktis supaya batang-batang yang nyaris mati itu bisa kembali tegak berdiri, memancarkan warna hijau yang bugar, dan menemukan kembali denyut kehidupannya. Ini adalah urusan sepele di pekarangan rumah, sebuah bentuk interaksi biasa antara manusia, air, dan tanah tanpa memerlukan teori sosiologi yang rumit atau diksi akademis yang melangit.
Namun daya ledak spiritual dari frasa ini baru akan terasa ketika kita berani membawa kalimat milik para leluhur dan tetua ini keluar dari batas-batas urusan kebun atau pematang sawah. Hadapkan kalimat ini tepat di depan kenyataan hidup kita hari ini, maknanya langsung berubah menjadi sebuah teguran keras sekaligus obat penawar yang sangat kita butuhkan. Sangat puitis sekaligus filosofis karena tidak lagi berbicara mengenai volume air di dalam wadah penampungan atau nasib sebatang pohon di dalam pot kecil. Ia telah bertransformasi menjadi sebuah panggilan jiwa yang menggedor pintu kesadaran tentang bagaimana menghidupkan kembali nyala semangat yang perlahan padam, menegakkan aturan moral yang kian terkikis, dan mengairi kembali rasa kepedulian sosial yang belakangan ini terasa makin kering, gersang, dan gampang rapuh akibat hantaman zaman. Kalimat ini adalah sebuah cermin besar yang diletakkan di tengah cara kita hidup bersama, sebuah tamparan bagi batin kolektif kita yang mulai ditumbuhi sikap masa bodoh, cuek dan seterusnya.
Tamparan itu terasa luar biasa telak karena membongkar kemunafikan kita sebagai manusia modern. Kita sering kali terlalu sibuk merawat penampilan luar, mengejar validasi semu, serta menumpuk status sosial, namun di saat yang sama membiarkan akar kemanusiaan yang paling mendasar di dalam dada mengering hingga mengalami mati suri.
Penyebab utama sebuah tanaman menjadi layu hingga meranggas bukanlah karena daun-daunnya menolak untuk tampil hijau, melainkan karena sistem perakarannya yang paling dalam telah kehilangan pasokan air kehidupan. Begitu pula dengan potret masyarakat hari ini; kelayuan karakter, memudarnya adab kesantunan, runtuhnya pilar-pilar etika, dan hilangnya kepekaan sosial di sekitar kita bukanlah sebuah proses alami, melainkan akibat fatal dari absennya siraman kearifan lokal yang seharusnya tidak berhenti secara terus menerus mengaliri batin dan ruang spiritual kita. Istilah ini menyadarkan kita bahwa tanpa adanya ritual perawatan moral yang konsisten, peradaban agung dan keluhuran budi yang selalu kita banggakan di bumi Gordang Sambilan ini lambat laun akan musnah, berubah menjadi padang pasir individualisme yang kaku, dingin, egois, dan mematikan.
Ketika Ego Merusak Hangatnya Kebersamaan
Coba lihat sekeliling kita hari ini dengan jujur. Rasa “layu” itu tidak lagi kelihatan pada daun-daun yang menguning di ladang perbukitan, melainkan justru terpampang nyata pada cara kita berinteraksi satu sama lain. Kita makin hari makin tumbuh menjadi pribadi yang cuek, dingin, acuh dan asing, bahkan dengan tetangga dekat yang dinding rumahnya tepat menempel di sebelah kita. Hubungan bertetangga yang dulunya berjalan begitu hangat, penuh dengan tegur sapa yang ramah, dan diwarnai tawa tulus tanpa beban, perlahan-lahan runtuh. Hubungan itu berubah menjadi kaku, individualis, transaksional, serta serba hitung-hitungan untung-rugi. Kebersamaan yang tulus dan mengalir apa adanya sekarang telah digantikan oleh formalitas belaka yang hambar dan tanpa jiwa. Kita berkumpul secara fisik, namun batin kita berjarak jutaan mil.
Gejala kelayuan yang akut ini bahkan sudah merayap masuk ke dalam lingkaran yang paling dekat, yaitu lingkaran keluarga besar dan tatanan kekerabatan kita sendiri. Sering sekali kita mendengar cerita atau menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana sesama saudara kandung atau kerabat dekat bertengkar hebat, memutuskan tali silaturahmi, dan bermusuhan dalam kurun waktu yang sangat lama. Semua itu terjadi hanya karena urusan warisan harta, perebutan pengaruh jabatan duniawi, atau sekadar menjaga gengsi semu dan validasi di mata orang lain. Kehidupan sosial rasanya sedang berjalan di tempat karena kita sudah kehilangan arah kompas moral, kehilangan sopan santun yang mendasar, dan kehilangan daya juang untuk menjaga kebaikan bersama. Tanpa sadar, kita berubah menjadi masyarakat yang hobi mengeluh, pasif, sinis, dan pasrah menunggu nasib berubah sendiri tanpa mau menggerakkan tangan untuk memulai perubahan moral dari diri sendiri.
Sumbu Pendek di Akar Rumput dan Provokasi Digital
Kondisi ini terasa makin mengkhawatirkan jika melihat situasi kehidupan bermasyarakat di tataran bawah atau akar rumput (grassroots). Hari-hari belakangan ini, suasana dibawah begitu mudah meletup dan cepat memanas bagai sekam kering, bahkan sering kali berakhir dengan tindakan anarkis yang merusak. Gesekan kecil di jalanan antar pengendara, anak muda yang salah paham karena tatapan mata, atau beda pendapat yang sepele di lopo kopi bukannya diselesaikan dengan kepala dingin, dialog yang santun, atau pendekatan kekeluargaan yang meneduhkan. Urusan sepele itu malah sering kali dijadikan ajang pelampiasan dendam kesumat dan aksi pembalasan kelompok yang brutal. Ego kelompok yang sempit dan amarah yang gampang tersulut membuat suasana damai, aman, dan tenteram di tengah warga menjadi sesuatu yang sangat mahal harganya dan sangat rapuh pertahanannya. Bukankah sudah banyak fakta yang menceritakan hal ini?
Situasi carut-marut di dunia nyata ini diperparah berkali-kali lipat karena kita hari ini hidup di era layar digital yang tak bertepi. Api permusuhan tidak hanya berkobar di jalanan melainkan dipicu dan dibesarkan oleh jempol-jempol liar di layar HP lewat media sosial. Informasi palsu (hoax), fitnah keji, strategi adu domba, pembunuhan karakter dan komentar-komentar kasar penuh caci maki dengan sangat mudah diproduksi lalu disebarkan setiap detik tanpa saringan moral. Hal ini menjadi bahan bakar utama yang siap membakar amarah massa di dunia nyata hanya dalam hitungan menit saja. Ruang digital yang pada awalnya diciptakan untuk mendekatkan yang jauh, dalam kenyataannya malah sering kali mengeringkan rasa empati kemanusiaan kita sehingga mereka yang dekat secara fisik pun berangsur-angsur menjauh secara psikologis. Kita menjadi lebih peduli pada apa yang terjadi di layar kaca daripada nasib orang di sebelah rumah sendiri.
Suasana yang serba memanas di tataran akar rumput ini menjadi lebih berbahaya karena pada saat yang bersamaan kita mulai kehilangan sosok penengah yang dihormati dan disegani. Kalau diingat-ingat kembali memori masa lalu, jika ada riak kecil berupa kesalahpahaman atau masalah komunal yang berpotensi memecah belah warga, masyarakat akan langsung berlari menemui para tetua adat, tokoh Hatobangon, alim ulama, atau kaum cerdik pandai untuk didamaikan secara terhormat lewat musyawarah yang teduh dan bijaksana. Tapi sekarang, peran para pemimpin informal yang bertugas meneduhkan suasana itu perlahan-lahan tersisih dan kehilangan taringnya. Mereka dikalahkan oleh ego masing-masing orang yang merasa bisa menyelesaikan masalah dengan mengandalkan kekuatan fisik atau hukum rimba—siapa yang kuat dan vokal, maka dialah yang keluar sebagai pemenang.
Menundukkan Ego Melalui Nilai Kearifan Lokal
Di sinilah letak urgen, krusial, dan mendesaknya filosofi Parata na malos untuk diaktualisasikan bersama. Konsep warisan luhur para leluhur Mandailing ini tidak boleh lagi dibiarkan membeku di dalam buku-buku budaya yang berdebu, atau sekadar menjadi bahan obrolan nostalgia yang mandul di ruang seminar. Ia harus dibawa pulang kembali ke tengah-tengah ruang tamu kita, ke bilik keluarga tempat karakter anak-anak dibentuk, serta ke meja-meja lopo kopi tempat narasi publik digodok. Parata na malos harus bertransformasi dari sekadar ungkapan pertanian menjadi sebuah panggilan jiwa yang membumi, sebuah instrumen kebudayaan yang aktif mengairi kembali hati nurani masyarakat yang mulai mengeras bagai batu karang akibat penetrasi modernisme yang kering akan nilai spiritual.
Kita hari ini sedang ditantang oleh zaman untuk merenungkan kembali esensi terdalam dari arti menjadi manusia yang berbudaya di bumi Gordang Sambilan. Menjadi manusia Mandailing yang seutuhnya berarti memiliki integritas moral yang dalam kebudayaan kita dikenal dengan istilah mamboto ula (tahu menempatkan diri dan kewajiban) serta memiliki rasa hormat yang tulus terhadap harkat sesama.
Di tengah gempuran zaman yang mendewakan kecepatan, kompetisi yang keras, dan pencapaian material individual, ego manusia modern cenderung membengkak hingga menutupi ruang empati. Manusia menjadi mudah tersinggung, menganggap perbedaan sebagai ancaman, dan melihat kritik sebagai deklarasi perang.
Di titik kritis inilah kearifan lokal hadir bukan untuk membatasi kemajuan, melainkan sebagai rem kebudayaan agar kita tidak kehilangan kemanusiaan kita. Melalui kesadaran spiritual dan kultural yang terkandung dalam Parata na malos, kita semua diajak untuk mengambil jeda sejenak dari riuh rendahnya kompetisi duniawi yang melelahkan.
Kita dipanggil untuk menahan diri dari dorongan amarah destruktif, lalu secara sadar menyiram ego pribadi kita yang tinggi dengan air kerendahan hati yang menyejukkan. Menundukkan ego bukanlah sebuah bentuk kekalahan atau tanda kelemahan karena ia sesungguhnya merupakan bentuk kemenangan tertinggi dari manusia yang telah selesai dengan kediriannya demi tegaknya kebaikan yang lebih besar.
Kita diajak untuk mulai belajar memaknai setiap konflik, gesekan, atau benturan kepentingan yang terjadi di tengah masyarakat sebagai sebuah media pembelajaran bersama, sebuah batu ujian untuk mendewasakan karakter kolektif kita, bukan sebagai alasan untuk membalas dendam atau saling menghancurkan martabat satu sama lain.
Lebih jauh lagi, filosofi ini memandu kita untuk melakukan refleksi batin bahwa di bawah langit Mandailing, tidak ada ego yang lebih tinggi daripada keutuhan sosial. Parata na malos menjadi sebuah pengingat yang sangat kokoh di tataran akar rumput untuk menebalkan kembali semangat persatuan yang sempat koyak, merapatkan barisan yang renggang, dan merajut kembali tali persaudaraan yang sempat mengendur akibat derasnya arus polarisasi modern.
Melalui filosofi ini pula, kita diingatkan secara tegas untuk menghidupkan kembali instrumen benteng moral kita yang paling ampuh, yaitu rasa persaudaraan yang murni dan ikatan batin sesama orang Mandailing. Ketika air kerendahan hati itu disiramkan ke dalam dada masing-masing warga maka amarah itu akan dilelehkan oleh rasa sungkan, rasa malu, dan kesadaran mendalam bahwa kedamaian kampung halaman serta keutuhan sosial jauh lebih berharga daripada memenangkan ego sesaat yang fana.
Estafet Masa Depan Bumi Gordang Sambilan
Pada bentangan garis waktu yang terus bergerak maju, filosofi Parata na malos jangan hanya dianggap impian utopis masa lalu yang usang, bukan pula bentuk romantisasi sejarah yang mandulakan tetapi jadikanlah ia menjadi aksi nyata, sebuah manifesto pergerakan kebudayaan yang hidup untuk hari ini, serta sebuah rancang bangun masa depan yang jauh lebih baik di atas tanah kelahiran kita. Menyiram jiwa yang layu berarti kita harus memiliki keberanian untuk mematikan ego pribadi, menutup rapat-rapat ruang bagi provokasi, menangkal virus adu domba digital yang memecah-belah, serta berkomitmen untuk kembali merajut kebersamaan yang hangat di lopo-lopo kopi tradisional melalui kultur dialog yang dibentengi oleh kesantunan adat, sikap saling menghargai perbedaan, dan mengedepankan logika yang sehat. Kita memikul tanggung jawab moral untuk mengubah ruang publik kita menjadi sebuah taman dialog yang subur dan meneduhkan, bukan membiarkannya menjelma menjadi medan pertempuran kelam yang penuh caci maki.
Tugas berat untuk merawat, menjaga, dan memulihkan tatanan sosial di bumi Mandailing Natal ini tidak boleh dibiarkan terbengkalai, mengering, lalu kemudian mati di tangan generasi tua yang kian berangsur pergi memenuhi panggilan waktu. Ini adalah sebuah tongkat estafet kebudayaan yang suci, sebuah tanggung jawab sejarah yang mutlak yang tidak boleh dijatuhkan. Tongkat kepemimpinan kultural ini harus digenggam erat dengan penuh rasa hormat, diangkat tinggi-tinggi dengan penuh kebanggaan, dan diperjuangkan dengan segenap dedikasi oleh pundak generasi muda Madina hari ini—mereka yang tidak melupakan akar sejarahnya di tengah derasnya arus globalisasi. Anak muda tidak boleh lagi menjadi penonton pasif atas kelayuan bangsanya sendiri.
Melalui aliran air kesejukan adat yang bersumber dari mata air kearifan masa lalu yang tak pernah kering, serta dengan panduan kompas moral yang kokoh terpatri di dalam batin, mari kita bersama-sama menyiram kembali tanah subur di seluruh pelosok bumi Gordang Sambilan. Kita rawat kembali akar peradaban ini agar kehangatan kekerabatan yang sejati, kedamaian sosial yang hakiki, dan jalinan persaudaraan yang abadi dapat kembali tumbuh tegak lurus. Kokoh menancap berakar kuat ke dalam bumi, berkembang secara anggun dengan daun-daun yang rimbun, serta senantiasa bersemi kembali melintasi waktu untuk menjaga harmoni kehidupan Mandailing Natal sepanjang masa. Semoga….
- Penulis: Moehctar Nasution
- Editor: Dahlan Batubara


