Kamis, 16 Jul 2026
light_mode

Menelusuri Makam Tuanku Tambusai di Seremban, Malaysia

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 22 Mar 2016
  • print Cetak
Makam Tuanku Tambusai berkolasi di komplek pemakaman Muslim di satu perbukitan Seremban, Malaysia

Makam Tuanku Tambusai berkolasi di komplek pemakaman Muslim di satu perbukitan Seremban, Malaysia

Catatan : Dahlan Batubara
Pemimpin Redaksi Mandailing Online

Bukit itu bukan perbukitan besar, melainkan bentangan bukit kecil yang tidak terlalu tinggi. Diapit oleh Jl. Rasah dan Jl. Tok Ungku dan Sungai Batang Benar. Sebuah perbukitan di  Seremban, Negeri Sembilan, Malaysia.

Di atas bukit inilah berada makam Tuanku Tambusai, salah satu pahlawan nasional Republik Indonesia yang wafat di luar negeri. Komplek pemakaman itu memiliki banyak makam.

Penelusuran makam Tuanku Tambusai ini merupakan liputan jurnal untuk Mandailing Online di kawasan Malaysia, termasuk liputan terhadap keberadaan kampung-kampung yang berbahasa Mandailing di negara jiran itu.

Saya dan rombongan terdiri dari Ramli Bin Abdul Karim Hasibuan (warga Malaysia yang berprofesi redaktur di surat kabar Utusan Malaysia; Sulaiman Nasution (warga Malaysia yang  berprofesi pemandu perjalanan); Imam Syafrin (warga Malaysia, ayahnya melayu, ibunya boru Hasibuan, berprofesi konsultan listrik); Bayo Hasibuan dan istrinya (warga Palembang perantau asal tanah Mandailing).

Plang merek penunjuk arah menuju makam Tuanku Tambusai

Plang merek penunjuk arah menuju makam Tuanku Tambusai

Kami tiba di bukit itu pada hari Minggu 13 Maret 2016. Sebelumnya, pada November 2015 saya sudah diperlihatkan lokasi bukit itu oleh teman-teman di Malaysia ketika saya berkunjung kali pertama ke Negeri Sembilan, hanya saja ketika itu saya tak memiliki banyak waktu sehingga baru pada Maret 2016 saya memiliki rezeki waktu memasuki bukit itu.

Jalan masuk ke lokasi makam itu dari taman (komplek perumahan) Happy, karena bukit itu berada di belakang komplek perumahan tersebut. Kelebaran jalan aspal sangat menyamankan kenderaan roda empat yang kami tumpangi menuju komplek pemakaman meski jalannya agak mendaki. Jaraknya sekitar 200 meter dari komplek perumahan.

Makam Tuanku Tambuasi berbeda dengan makam lainnya, sebab makam Taunku Tambusai dikelilingi oleh pagar dengan hamparan lantai semen di kiri kanan makam.

Di depan makam itu terdapat satu prasasti berlambang Garuda, lambang Negara Republik Indonesia. Di bawah Garuda tertulis Tuanku Tambusai 1784 – 1882 Pahlawan Nasional Indonesia (Keputusan Presiden RI No.071/PK/1995) Mahaputra Adhi Pradana, Wafat dan Dimakamkan Di Seremban, Negeri Sembilan, Malaysia.

Prasasti ini memperkuat keterangan warga setempat kepada saya yang menyatakan bahwa makam Tuanku Tambuasi itu dipelihara oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui duta besar di Malaysia.

Jalan Tok Ungku dan keberadaan Sungai Batang Benar yang mengapit perbukitan itu ternyata memiliki kaitan dengan Tuanku Tambusai.

Prasasti di luar pagar makam Tuanku Tambusai

Prasasti di luar pagar makam Tuanku Tambusai

Berdasar keterangan penduduk setempat, bahwa pada era 1800-an penduduk Semenanjung (sekarang Malaysia) memanggil Tuangku Tambusai dengan sebutan Tok Ungku. Itu sebabnya pemerintah Malaysia menabalkan ruas jalan di sebelah bentangan bukit itu dengan nama Jalan Tok Ungku sebagai penghormatan Pemerintah Malaysia kepada Tuanku Tambusai.

Sementara Sungai Batang Benar yang membentang di sisi kaki bukit, oleh keterangan penduduk setempat, juga memiliki kaitan dengan sejarah perjalanan Tuanku Tambuasi dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda di kawasan Sumatera Timur.

Jalur Sungai Batang Benar ini, oleh cerita penduduk setempat, disebut sebagai jalur perjalanan yang ditempuh Tuanku Tambusai dan rombongannya. Sebab sungai ini memiliki muara ke sungai lainnya yang bermuara ke Selat Malaka di kawasan Malaka, titik garis pantai yang berhadapan dengan kawasan Dumai di Sumatera.

Jalur ini yang diyakini menjadi jalur Tuanku Tambusai, sebab kawasan Dalu-dalu, Tambusai dan  Padang Lawas merupakan kawasan yang dekat ke pantai Selat Malaka di titik Dumai dan Tanjung Balai. Apalagi pada masa 1800-an mobilisasi manusia masih memakai jalur sungai dan laut karena jalan darat belum seperti sekarang ini.

Mengapa makam Tuanku Tambusai berlokasi di Negeri Sembilan, juga diyakini memiliki kaitan dengan keberadaan kaum Mandailing dan Minang di kawasan itu. Sebab Negeri Sembilan merupakan negeri yang berada dibawah kekuasaan raja-raja Minang serta sejumlah pemukiman kaum Mandailing. Sebab, negeri tetangganya yakni Negeri Selangor adalah negeri yang dikuasai kaum Bugis. Apalagi setelah kekalahan kaum Mandailing di Muara Bustak (Kuala Lumpur) yang bertempur dengan gabungan kaum Bugis, Cina yang dimotori penjajah Inggeris telah menimbulkan kevakuman aktivitas kaum Mandailing di Muara Bustak.

Jalan Tok Ungku salah satu ruas jalan tak jauh dari perbukitan lokasi makam Tuanku Tambusai

Jalan Tok Ungku salah satu ruas jalan tak jauh dari perbukitan lokasi makam Tuanku Tambusai

Meski pemukiman kaum Mandailing juga ada di Negeri Perak dan Kedah, tetapi Tuanku Tambusai diyakini lebih memilih Negeri Sembilan sebagai basis pergerakan ketika mengundurkan diri Sumatera Timur pasca kekalahan perang dengan Belanda. Sebab Negeri Sembilan yang berada di bawah kekuasaan kaum Minang dan adanya beberapa pemukiman kaum Mandailing menyebabkan Tuanku Tambusai lebih menyatu di Negeri Sembilan ini.

Hipotesa itu berdasar darah dan lingkungan yang mengelilingi Tuanku Tambusai selama di Sumatera. Berdasar data Wikipedia dan catatan-catatan para sejarahwan, Tuanku Tambuasi itu berdarah Mandailing marga Harahap. Beliau lahir di Dalu-dalu dengan nama Muhammad Saleh. Dalu-dalu sekarang secara administratif masuk ke dalam wilayah Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau. Ayahnya berasal dari Rambah dan merupakan seorang guru agama Islam keturunan Mandailing bermarga Harahap; ibunya berasal dari Tambusai yang bersuku Kandang Kopuh.

Tuanku Tambusai pergi belajar ke Bonjol (Minang) dan Rao di Sumatera Barat. Disana ia banyak belajar dengan ulama-ulama Islam yang berpaham Paderi, hingga dia mendapatkan gelar fakih. Ajaran Paderi begitu memikat dirinya, sehingga ajaran ini disebarkan pula di tanah kelahirannya. Di sini ajarannya dengan cepat diterima luas oleh masyarakat, sehingga ia banyak mendapatkan pengikut. Semangatnya sangat tinggi untuk menyebarkan dan melakukan pemurnian Islam di tanah Mandailing.

Ramli Bin Abdul Karim Hasibuan dan Imam Syafrin memperhatika makam Tuanku Tambusai

Ramli Bin Abdul Karim Hasibuan dan Imam Syafrin memperhatika makam Tuanku Tambusai

Perjuangannya melawan penjajahan Belanda dimulai di daerah Rokan Hulu dan sekitarnya dengan pusat di Benteng Dalu-dalu. Kemudian ia melanjutkan perlawanan ke wilayah Natal pada tahun 1823. Tahun 1824, ia memimpin pasukan gabungan Dalu-dalu, Lubuksikaping, Mandailing dan Natal untuk melawan Belanda. Dia sempat menunaikan ibadah haji dan juga diminta oleh Tuanku Imam Bonjol untuk mempelajari perkembangan Islam di Tanah Arab.

Dahlan Batubara, Pemimpin Redaksi Mandailing Online di depan makam Tuanku Tambusai

Dahlan Batubara, Pemimpin Redaksi Mandailing Online di depan makam Tuanku Tambusai

Dalam kurun waktu 15 tahun, Tuanku Tambusai cukup merepotkan pasukan Belanda, sehingga sering meminta bantuan pasukan dari Batavia. Berkat kecerdikannya, benteng Belanda Fort Amerongen dapat dihancurkan. Bonjol yang telah jatuh ke tangan Belanda dapat direbut kembali walaupun tidak bertahan lama. Oleh Belanda ia digelari “De Padrische Tijger van Rokan” (Harimau Paderi dari Rokan) karena amat sulit dikalahkan, tidak pernah menyerah, dan tidak mau berdamai dengan Belanda. Keteguhan sikapnya diperlihatkan dengan menolak ajakan Kolonel Elout untuk berdamai. Pada tanggal 28 Desember 1838, benteng Dalu-dalu jatuh ke tangan Belanda. Lewat pintu rahasia, ia meloloskan diri dari kepungan Belanda dan sekutu-sekutunya. Ia mengungsi ke Seremban, Negeri Sembilan, Malaysia. Beliau wafat pada tanggal 12 November 1882.

Karena jasa-jasanya menentang penjajahan Hindia-Belanda, pada tahun 1995 pemerintah mengangkatnya sebagai pahlawan nasional.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jabatan Kasek Tak Tersentuh, LSM Merah Putih: Orang Tua Siswa Tinggal Berdoa dan Menunggu

    Jabatan Kasek Tak Tersentuh, LSM Merah Putih: Orang Tua Siswa Tinggal Berdoa dan Menunggu

    • calendar_month Kamis, 24 Feb 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Jabatan Kepala SDN 001 Sihepeng yang seakan tak tersentuh meski masyarakat, Komisi I, dan Ketua DPRD Mandailing Natal (Madina) Erwin Efendi Lubis telah bersuara membuat LSM Merah Putih turut angkat bicara. Ketua LSM Merah Putih Tabagsel Khairunnisah menilai saat ini yang bisa dilakukan masyarakat hanya tinggal berdoa dan menunggu saja. “Orang […]

  • Kadis PMD: Tidak Ada Instruksi Keharusan Membeli 3 Foto Tokoh Madina

    Kadis PMD: Tidak Ada Instruksi Keharusan Membeli 3 Foto Tokoh Madina

    • calendar_month Sabtu, 4 Jun 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Parlin Lubis menyebutkan tidak ada instruksi kepada camat ataupun kepala desa untuk pembelian 3 foto tokoh Mandailing Natal (Madina) yang belakangan viral di media sosial. “Saya pastikan tidak ada instruksi atau pemaksaan untuk membeli 3 foto itu,” kata Parlin ketika dihubungi Mandailing Online via […]

  • Rutinitas Ketua DPRD Madina Jelang Lebaran: Berbagi Rezeki dengan Penarik Becak

    Rutinitas Ketua DPRD Madina Jelang Lebaran: Berbagi Rezeki dengan Penarik Becak

    • calendar_month Senin, 2 Mei 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Siapa yang tak kenal dengan Ketua DPRD Mandailing Natal (Madina) Erwin Efendi Lubis? Ternyata Ketua DPC Gerindra ini punya rutinitas menjelang lebaran yaitu berbagi rezeki dengan penarik becak di kawasan Gunungtua Panyabungan. Seperti hari ini, Minggu (1/5) puluhan penarik becak sudah berkumpul di salah satu warung dekat Ladang Sari, Gunungtua. Para […]

  • Rp.448.034.000 Anggaran Baju Dinas Untuk Anggota DPRD Madina Terpilih

    Rp.448.034.000 Anggaran Baju Dinas Untuk Anggota DPRD Madina Terpilih

    • calendar_month Rabu, 17 Jul 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA-Mandailing Online: Sekretariat DPRD Madina mengajukan anggaran baju dinas Rp.448.034.000 bagi 40 anggota DPRD Madina terpilih periode 2024 – 2029. Hal itu dibenarkan Sekretaris DPRD Madina Afrizal Nasution pada Mandailing Online Rabu 18/7. “Ya benar anggaran baju dinas 40 anggota DPRD Madina terpilih sudah disediakan, namun belum terealisasi, ” Kata Rizal. Sejauh ini jelasnya, usulan […]

  • Madina Hasilkan 72 Ton Sampah, Bupati: Harus Dikelola Secara Profesional

    Madina Hasilkan 72 Ton Sampah, Bupati: Harus Dikelola Secara Profesional

    • calendar_month Rabu, 16 Apr 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Setidaknya 72 ton sampah dihasilkan tiap hari di berbagai kawasan di Mandailing Natal (Madina), Sumut. Bupati Madina H. Saipullah Nasution mengatakan, jumlah tersebut cukup banyak, dan tidak sebanding dengan armada yang dimiliki Pemkab Madina untuk mengangkut sampah. “Pemkab Madina hanya memiliki 13 truk pengangkut sampah, dikalikan dua kali angkut dalan sehari […]

  • Putusan MK: PSU di 3 TPS Pilkada Madina

    Putusan MK: PSU di 3 TPS Pilkada Madina

    • calendar_month Senin, 22 Mar 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA (Mandailing Online) – Mahkamah Konstitusi memerintahkan pemungutan suara ulang (PSU) pada 3 TPS di Mandailing Natal. TPS itu yakni TPS 1 Desa Bondar Panjang Tuo Kecamatan Muarasipongi. Kemudian TPS 1 dan 2 di Desa Kampung Baru Kecamatan Panyabungan Utara. Putusan itu dibacakan Ketua MK, Anwar Usman, Senin (22/3/2021) pada sidang pembacaan putusan sengketa Pilkada. […]

expand_less