Rabu, 21 Okt 2026
light_mode

Kapitalis Tani

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 26 Feb 2020
  • print Cetak

Menelusur Perusahaan yang Didirikan Petani (bagian 1)

Catatan : Dahlan Iskan

Akankah revolusi kelembagaan petani bermula dari Wonogiri ini?

Dari Wonogiri lah lembaga ”perseroan terbatas” mulai diterapkan. Sejak empat tahun lalu. Tepatnya di desa Kebon Agung, Sidoharjo.

Dan kelihatannya mulai berhasil.

Saya memilih lewat Ponorogo untuk ke desa ini. Jalannya mulus. Google Map bisa membawa saya ke pelosok itu –tanpa harus bertanya.

Jalan menuju desa ini asyik. Banyak kelokan dan dakian. Yang tidak terlalu tinggi. Di kanan kiri jalan banyak tumbuh pohon jambu mente.

Di musim hujan, seperti ini, pedesaan Wonogiri terlihat hijau royo-royo –kontras sekali dibanding musim kemarau yang gersang.

Akankah Desa Kebon Agung akan menjadi era baru berakhirnya kelembagaan koperasi tani? Khususnya koperasi unit desa (KUD)? Yang didirikan secara top down –dan massal itu? Di awal Orde Baru itu?

Karena itu saya tidak rela kalau pemuatan naskah ini tertunda lagi. Biar pun ada gejolak baru di Malaysia: Perdana Menteri Mahathir Mohamad, 94 tahun, mengundurkan diri. Atau pura-pura mengundurkan diri.

Di Tiongkok juga ada perkembangan terbaru: untuk pertama kalinya, Sabtu lalu, tidak ada penderita baru virus Corona di Provinsi Hubei –termasuk di ibu kota tanya, Wuhan.

Kabar itu begitu menggembirakan. Tapi yang Wonogiri ini juga sangat memberi harapan.

Sehari penuh saya di desa Kebon Agung itu. Di pinggir jalan antara Wonogiri-Pacitan itu.

Di situ saya bertemu Hanjar Lukitojati. Hanjarlah yang mendirikan PT itu: PT Pengayom Tani Sejagad.

Awalnya ada kata ”BUMP” di depan nama itu: Badan Usaha Milik Petani.

Tapi BUMP tidak dikenal sebagai badan hukum di Indonesia. Karena itu, dengan sangat masygul, kata BUMP dihapus.

Hanjar bukanlah pemegang saham terbesarnya. Tapi, sebagai pemrakarsa, ia menjadi direktur di PT Pengayom itu. Umurnya: 33 tahun. Pendidikan terakhirnya: Pondok Modern Gontor Ponorogo.

Pemegang saham terbesar PT Pengayom adalah: Asosiasi Petani Organik. Anggota asosiasi ini 1.600 petani organik. Hanjar juga ketuanya.

Saya akan menulis perjuangan membangun asosiasi petani organik ini. Kapan-kapan.

Hari ini menulis soal PT Pengayom dulu.

Siapa tahu kelembagaan baru ini menjadi tren masa depan petani kita.

Asosiasi petani organik itu memegang saham sampai 50 persen di PT Pengayom. Yang 35 persen lagi dipegang Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Kebon Agung.

Hanjar sendiri hanya memegang saham 10 persen. Sedang yang 5 persen lagi milik Seknas BUMP.

Seknas itu perserikatan mahasiswa program doktor ilmu kelembagaan Universitas 11 Maret Solo.

Awalnya –saat didirikan tahun 2009– anggotanya 18 orang. Belakangan tinggal tidak sampai separonya.

Latar belakang S-1 mereka beraneka keilmuan. Ada pertanian, akuntansi, hukum, dan banyak lagi. Ketuanya adalah Dr. (kini) Sugeng Edi Waluyo.

Mereka itu melakukan penelitian bidang kelembagaan petani. Sangat mendalam. Mereka kaji keberadaan koperasi, kelompok, asosiasi, dan apa saja yang terkait petani.

Hasil kajian itu: tidak ada lembaga tani mana pun yang bisa mengatasi problem pokok petani. Yakni: menjaga agar di musim panen harga hasil tani tidak merosot.

Dr. Edi Waluyo sendiri orang Jepara. Tapi istrinya dari desa paling pelosok Wonogiri. Masih 1 jam lagi dari Sidoharjo –ke arah Pacitan.

Ia tinggal di desa Kedungombo, Baturetno, itu. Agar terus menghayati persoalan pedesaan dan petani.

Tiap masuk kerja ia harus naik mobil 2 jam ke Solo. Ia tidak menjabat apa-apa lagi di Universitas 11 Maret tapi banyak yang diurus di Solo.

Saat saya ke desanya itu terlihat rumah pedesaan yang berbentuk joglo. Itulah rumahnya.

Dr Sugeng Edi Waluyo (dua dari kiri) dan Hanjar al Gontori (kanan).

Ia juga membangun rumah penelitian di seberang rumahnya itu. Ada kandang sapi modern, proses pengolahan kompos, instalasi biogas, dan kolam-kolam lele di atas tanah.

Kolam lelenya 8 buah. Bentuknya lingkaran-lingkaran. Garis lingkaran itu 3 meter. Dinding kolamnya plastik yang disangga kerangka besi. Setiap kolam berisi 4.000 lele.

Dari wajahnya saya mengira Dr. Edi ini seorang Tionghoa. Inilah orang Jepara yang paling mirip Tionghoa. “Saya asli Jawa,” ujarnya seusai salat Jumat dengan saya. Isteri dan anaknya pun berjilbab.

Penelitian Dr. Edi itu sampai pada kesimpulan: lembaga tani itu harus perseroan terbatas. Ia pun menyusun desertasi soal kelembagaan ini. Jadilah Edi doktor pertama di ilmu kelembagaan.

Ia tahu hasil penelitiannya itu akan sulit diterapkan. ”Perseroan terbatas itu kesannya kan kapitalis,” ujar Dr Edi. Itu pula yang membuat saya sempat salah sangka: mengira ia Tionghoa. Bahkan saya sempat menyapanya dalam bahasa Mandarin –dan ia hanya bisa melongo.

”Citra kapitalistik” itu yang harus dihilangkan Edi –secara sungguh-sungguh di dunia nyata.

Di Wonogiri ia menemukan satu lembaga tani yang kuat, mandiri dan amat dipercaya petani.

Yang ia temukan itu bukan lembaga tani yang selalu mengandalkan bantuan dan fasilitas dari pemerintah –yang membuat petani tidak pernah mandiri itu.

Itulah asosiasi petani organik. Yang diketuai Hanjar al Gontori itu.

Waktu itu Hanjar baru berumur 29 tahun. Kepribadiannya santun. Otaknya cerdas. Gaya bicaranya antusias –tapi tertata rapi.

Saat Hanjar bertemu Dr. Edi ia merasa punya kecocokan ide. Yakni bagaimana membuat petani bisa mandiri.

Hanjar juga bisa menerima ide untuk memulai lembaga tani baru. Yakni lembaga berbentuk perseroan terbatas –tanpa jatuh ke kapitalistik.

Seperti apa?

Sebaiknya jangan diuraikan di DI’s Way hari ini. Toh DI’s Way masih akan terbit lagi besok pagi.***

Dicopy dari : DI’s Way

 

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Polres Madina Musnahkan 65 Kg Ganja

    Polres Madina Musnahkan 65 Kg Ganja

    • calendar_month Jumat, 19 Sep 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Polres Mandailing Natal (Madina) melakukan pemusnahan daun ganja kering dan 300 batang ganja di halaman Mapolres Madina, Jum’at (19/8/2014). Kasat Resnarkoba AKP Timbul Sihombing dalam laporannya menyampaikan, barang haram jenis daun ganja kering yang dimusnahkan berjumlah 65 Kg yang disita dari para pengedar narkoba. Lalu 300 batang ganja dari total […]

  • Jeruk Manis Sibanggor, Riwayatmu Kini.

    Jeruk Manis Sibanggor, Riwayatmu Kini.

    • calendar_month Jumat, 10 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Masa kejayaan Jeruk Huta Sibanggor yang sempat terkenal hingga ke Sumatera Barat agaknya kian hari kian mengalami kepunahan. Kekhasan rasa jeruk yang terbilang lebih manis dari jeruk kebiasaannya tersebut dikhawatirkan akan tinggal nama, akibat adanya hama CCPD atau jamur batang merah yang menyerang tanaman sejak 2001 dan hingga kini belum dapat diatasi. Wajar saja masyarakat […]

  • Kemarau, Sumur Penduduk Menyusut

    Kemarau, Sumur Penduduk Menyusut

    • calendar_month Kamis, 20 Feb 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Oline) – Sekitar dua bulan dilanda kemarau, sumur penduduk di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) mengalami penyusutan. Banyak sumur rumah tangga sudah lebih sering keruh saat ditimba berakibat tak layak minum. Masitoh Lubis (30) seorang ibu rumah tangga di Panyabungan, Kamis (20/2/2014) mengaku bahwa sumur yang ada di rumahnya sudah mulai menyusut. Akibatnya mudah […]

  • Satu Rumah Di Malintang Julu Habis Terbakar

    Satu Rumah Di Malintang Julu Habis Terbakar

    • calendar_month Selasa, 21 Jan 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MALINTANG (Mandailing Oline) – Satu unit rumah di Desa Malintang Julu, Kecamatan Bukit Malintang, Mandailing Natal (Madina) habis dilalap si jago merah, Senin malam (20/1/2014) sekira pukul 20.00 Wib. Api dapat dijinakkan oleh masyarakat sekitar satu jam kemudian memakai ember. Tidak ada korban jiwa dalam kebakaran tersebut, sementara kerugian materi diperkirakan ratusan juta rupiah. Keterangan […]

  • Mustahil Sumut kuasai 58,88 persen Inalum

    Mustahil Sumut kuasai 58,88 persen Inalum

    • calendar_month Kamis, 17 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN (Mandailing Online) – Meski tahap nasionalisasi yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat pada PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) belum menemukan titik terang, Wakil Gubernur Sumatera Utara (Wagub Sumut), Tengku Erry Nuradi mengatakan Pemerintah Privinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) berencana untuk membeli saham PT Inalum hingga 58,88 persen. Menyikapi pernyataan Tengku Erry, Ketua Komisi D DPRD […]

  • Darul Mursyid Sambut TP Baru 2013/2014

    Darul Mursyid Sambut TP Baru 2013/2014

    • calendar_month Kamis, 4 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    TAPSEL (Mandailing Online) – Pesantren Modern Unggulan Terpadu Darul Mursyid yang terletak di Desa Sidapdap Simanosor, Kecamatan Saipar Dolok Hole, Tapanuli Selatan, siap menyambut kedatangan tahun pembelajaran (TP) baru 2013/2014 di bulan Juli ini dengan segala kesiapan dan kelengkapannya. “Kita sangat siap menghadapi TP baru ini, bahkan lebih siap dari tahun-tahun sebelumnya,” kata kepala Madrasah […]

expand_less