Jumat, 9 Okt 2026
light_mode

Ketika Candi Simangambat Ditelantarkan

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 7 Jan 2019
  • print Cetak

Dr (Phil) Ichwan Azhari mengamati kepingan-kepingan candi Simangambat

 

Pengantar redaksi :

Pada 14 Desember 2018 yang lalu, Dr. Phil. Ichwan Azhari seorang sejarawan, pengajar dan ahli filologi Indonesia mengunjungi candi Siwa di Simangambat, Kecamatan Siabu, Mandailing Natal. Dia ditemani budayawan Mandailing, Askolani Nasution.

Dr. Phil. Ichwan Azhari menyaksikan puing-puing candi yang berserakan, lokasi candi yang terlantar bahkan ditelantarkan.

Mungkin beliau terkejut bahkan satir melihat puing-puing terlantar itu. Bagaimana tidak, candi yang memiliki nilai tinggi sebagai bukti dan fakta-fakta ril peradaban masa lalu Mandailing justru ditelantarkan.

Berikut ungkapan hati Dr. Phil. Ichwan Azhari yang dicopy Mandailing Online dari akun facebook-nya.  

 

Sering saya baca orang orang Mandailing bangga dengan ketuaan sejarah mereka karena naskah kuno Jawa tahun 1364 (Negarakertagama) menyebut keberadaan Mandahiling yang ingin “disapa” Gajah Mada. Kebanggaan orang Mandailing dan juga etnik lain di kawasan Tapanuli bagian Selatan didukung ditemukannya puluhan candi di kawasan itu. Lalu memori ketuaan itu kadang dikontraskan dengan etnik lain yang tidak memiliki peninggalan setua ini.

Tapi apakah mereka, termasuk pemerintah daerahnya, mau merawat peninggalan berbasis keberagaman kuno itu? Jawabnya sama saja, tak dan tak peduli, biarkan hancur, dihancurkan berkeping keping. Saat saya melangkah di reruntuhan candi Hindu Jawa abad 9 di Simangambat pada 14 Desember 2018 yang lalu, sesak dada dan semakin tak suka mendengar jargon pidato para pejabat pusat dan daerah : “bangsa yang besar adalah bangsa yang menjaga warisan sejarahnya”. Lagi-lagi di sini saya harus mafhum negeri ini bukan (belum?) Bangsa yang besar.

Budayawan Mandailing, Askolani Nasution saat mendampingi Dr (Phil) Ichwan Azhari mengunjungi situs candi Simangambat.

Memasuki kompleks candi ini saya disambut kambing kambing yang berlarian karena terganggu oleh kedatangan saya. Patahan patahan candi yang mirip dengan candi Sewu di Jawa berceceran di atas tanah becek. Saya berada disebuah rumah ibadah yang diserang beberapa abad yang lalu oleh sebab yang tidak jelas, dan di tempat yang sama kini saya merasa diserang oleh ketidak pedulian bangsa yang tidak besar ini. Siapa yang peduli mempertahankan benteng peradaban masa lalu yang penting ini? Tak juga orang orang Mandailing yang bangga disebut sebut dalam Negarakrtagama itu?

Dari puing puing candi itu saya mengirim WA ke sahabat saya arkeolog Ery Sudewo yang pada 2009 pernah melakukan eskavasi di sini. Dialah yang mengungkapkan dengan sangat baik kaitan candi Simangambat ini sebagai jejak peradaban Jawa kuno abad 9 di Mandailing, jadi jauh sebelum Negarakertagama mencatatnya. Saya minta kirim foto pahatan yang mirip dengan pigura candi di Jawa. Mas Ery mengirim beberapa foto dan saya cari-cari diantara reruntuhan itu, tapi tak ada. Satu potongan relif candi berukir yang ditemukan Mas Eri ada saya temukan, tapi hidungnya kini sudah dihancurkan. Usai eskavasi 2009 team Balai Arkeologi Medan memunguti dan menyelamatkan berbagai potongan batu itu untuk dititip di kantor camat setempat supaya aman. Tapi malah tidak aman, pecahan itu dihancurkan pakai mesin, berspekulasi ada butiran emas di dalamnya.

Situs candi Simangambat saat dieskavasi Balai Arkeologi Medan 2009

Sekelilingnya sudah dibuat pagar oleh BPCB, tapi lahan itu belum dibebaskan pemerintah pusat dan daerah. Saya tanya kira kira berapa harga area seluas ini. Dijawab pemandu saya pak Aslokani, sekitar 60 juta rupiah. Kecillah uang segitu bagi bupati Madina, untuk menyelamatkan satu warisan sejarah penting hubungan Jawa – Mandailing kuno. Atau biarkan dia hancur sebelum sempat diteliti dan dipelajari sebagai sumber inspirasi ? Padahal yang menghebohkan kawasan Mandailing saat ini : emas , emas , dan emas, sudah berlangsung 1200 tahun yang lalu, yang mendorong orang dari berbagai bangsa datang dan menyisakan monumen peradaban di situ. Sampai Gajah Mada pun bersumpah akan mengambil Mandailing.

Apa yang diimpikan Bosch dan Schinitger yang tahun 1920 pertama kali terkejut menemukan jejak peradaban monumental ini? Apa yang dipikirkan Mckinnon, Uli Kozok dan terakhir Daniel Perred saat juga pernah ke sini? Adakah para peneliti luar ini mengharap bakal munculnya satu bangsa (bernama Indonesia) menyelamatkan kompleks situs situs berkelas dunia ini?

Relief candi yang mirip candi di Jawa

Saya hentikan khayal agar tak berkembang. Saat melangkah pulang : saya lihat kambing kambing di balik pagar melirik saya yang telah mengganggu mereka bermain diruntuhan candi itu. “Hai kambing, masuklah lagi, bermain sepuasnya diruntuhan peradaban kuno ini.”

Di halaman dan bawah tangga rumah warga, saya lihat pecahan batu candi berceceran. Tak saya foto batu batu candi yang merupakan teks teks jejak peradaban kuno itu, agar tak makin sesak dada ini. (Ichwan Azhari)

 

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bupati Madina Himbau PTPN IV Serahkan Plasma Kepada Warga

    Bupati Madina Himbau PTPN IV Serahkan Plasma Kepada Warga

    • calendar_month Kamis, 19 Nov 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    BATAHAN (Mandailing Online) – Bupati Madina Dahlan Hasan menhimbau agar PTPN IV memberikan areal plasma kebun sawit kepada warga Desa Batu Sondat Kecamatan Batahan. Itu dinyatakan bupati ketika melakukan kunjungan kerja di Batahan, Rabu (18/11) didampingi Mudir Ponpes Mustofawiyah Purba Baru H Mustafa Bakhri dan anggota DPRD Madina Suandi Lubis yang dihadiri beberapa manager PTPN […]

  • Menyongong Idul Fitri dan Aktualisasi Takwa

    Menyongong Idul Fitri dan Aktualisasi Takwa

    • calendar_month Senin, 4 Jul 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Muhbib Abdul Wahab Ramadhan merupakan sebuah sistem pendidikan Rabbani yang sangat efektif bagi pembentukan kesadaran diri dan karakter mulia. Pendidikan Ramadhan bersifat holistic integrative dan komprehensif, meliputi: pendidikan spiritual, sosial, intelektual, akhlak (moral), fisik, kesehatan, ekonomi, politik, dan budaya. Tujuan pendidikan Ramadhan adalah mengatualisasikan takwa pada diri mukmin yang berpuasa dalam kehidupan sehari-hari. Ibarat […]

  • Polres Madina Sosialisasi Bahaya Merkuri

    Polres Madina Sosialisasi Bahaya Merkuri

    • calendar_month Sabtu, 9 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Polres Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dengan tokoh agama sepakat memberikan sosialisasi bahaya merkuri (air raksa-red) terhadap kesehatan manusia dalam jangka pendek dan panjang baik terhadap warga yang bersentuha, galundung, air raksa, kuik, aula mapolres madina, hutabargot, kota panyabungann langsung juga dengan warga yang menghirup udara. Termasuk bahayanya terhadap mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi dengan merkuri […]

  • Pendaftaran Yusuf Nasution-Imron Lubis Sah Menurut Undang-Undang

    Pendaftaran Yusuf Nasution-Imron Lubis Sah Menurut Undang-Undang

    • calendar_month Kamis, 13 Agt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pasangan bakal calon bupati/wakil bupati Madina Drs. HM. Yusuf Nasution,Msi – H. Imron Lubis,S.Pd.MM yang didaftarakan DPC Partai Hanura Madina dan PBB Madina pada tanggal 26 Juli 2015 ke KPU Madina sah menurut Undang-undang Nomor 08 Tahun 2015 dan Peraturan KPU Nomor 9 Tahun 2015 sebagai mana telah diubah dengan Peraturan […]

  • Buruh Sumut memprihatinkan

    Buruh Sumut memprihatinkan

    • calendar_month Sabtu, 30 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Kesejahteraan para pekerja saat ini masih tergolong minim. Padahal, pengentasan kemiskinan yang dicanangkan Gubernur Sumatera Utara (Gubsu), Syamsul Arifin, hanya wacana semata. Sehingga rakyat sangat kecewa dengan kebijakan itu. Kelompok Pelita Sejahtera (KPS), Sahat Lumbanraja, mengungkapkan kondisi pekerja, karyawan, dan buruh di Sumut, juga tergolong memprihatinkan. Padahal, ekspansi perkebunan kelapa sawit di Sumut […]

  • Pemkab Madina dan LPPM IPB Bogor Jalin Kerjasama

    Pemkab Madina dan LPPM IPB Bogor Jalin Kerjasama

    • calendar_month Kamis, 22 Sep 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) –Dalam upaya menggenjot laju pertumbuhan sektor pertanian terutama holtikultura dan peternakan, Pemkab Madina menjalin kerjasama dengan LPPM IPB Bogor. Kerjasama itu meliputi pelatihan dan pendampingan terhadap petani di Mandailing Natal (Madina), termasuk upaya penyediaan beasiswa bagi mahasiswa dari Madina di IPB. Kerjasama juga melibatkan KTNA Madina. Sejumlah kegiatan dari kerjasama itu telah […]

expand_less