Rabu, 22 Jul 2026
light_mode

Presiden: Jangan Biarkan Setiap Upaya Ingin Robek Perdamaian Aceh

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 30 Nov 2010
  • print Cetak


Banda Aceh, Presiden SBY didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono dan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, duduk di kursi perdamaian yang diserahkan oleh rakyat Aceh kepada Presiden, Senin (29/11).

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kembali mengajak seluruh rakyat Indonesia dan Aceh khususnya untuk terus mempertahankan dan menjaga perdamaian yang dicapai setelah melalui jalan panjang dan perjuangan yang melelahkan.

Karenanya, Kepala Negara mengingatkan semua pihak untuk tidak membiarkan setiap upaya yang ingin merobek kembali perdamaian yang telah dicapai sejak 15 Agustus 2005 dengan penandatanganan MoU perdamaian antara Pemerintah RI dengan GAM.

“Jangan pernah biarkan ada pikiran dari siapa pun, dari mana pun untuk merobek kembali perdamaian di Aceh ini, karena begitu panjang jalan yang telah kita tempuh dan lalui, dengan berbagai pengorbanan dan tantangannya,” ujar Presiden SBY dalam sambutannya saat pencanangan Program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA), penyerahan Kursi Perdamaian, dan penyerahan 125 ribu pohon trembesi kepada Pemerintah Aceh, di Desa Tibang, Banda Aceh, Senin (29/11) sore.

Dalam kesempatan itu, Presiden didampingi Ibu Negara Ani Yuhoyono, sejumlah Menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II yakni Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, Mennegpora Andi Malarangeng, Menneg BUMN Mustafa Abubakar, Mensesneg Sudi Silalahi, Juru Bicara Presiden Julian Pasha dan Teuku Faizasyah, dan Staf Khusus Presiden bidang Hukum Denny Indrayana, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, Kapolri Jenderal Pol Timur Pradoppo.

Sementara dari Aceh, tampak Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, Wagub Muhammad Nazar, Pangdam Iskandar Muda (IM) Mayjen TNI Adi Mulyono, Kapolda Aceh Irjen Pol Fajar Prihantoro, Ketua DPRA Hasbi Abdullah, dan Kajati Aceh Muhammafd Yusni SH, Walikota Banda Aceh Mawardy Nurdin.

Modal Membangun

Menurut Presiden, jalan panjang yang ditempuh menuju perdamaian itu tidak boleh sia-sia. SBY menginginkan perdamaian yang telah dicapai menjadi modal untuk membangun kesejahteraan rakyat. Disebutkan, bagi sebagian bangsa suasana aman dan damai itu bukan tujuan, itu hanya prasyarat atau prakondisi untuk membangun masyarakat yang maju dan sejahtera.

“Tetapi bagi bangsa Indonesia dan rakyat Aceh, keamanan, perdamaian dan stabilitas itu di samping menjadi prasyarat, menjadi prakondisi agar kita membangun dengan lebih baik, baik ekonomi maupun kesejahteraan rakyat, tapi sekaligus juga menjadi tujuan. Kalau namanya tujuan mari kita pegang teguh,” harapnya.

Presiden mengaku telah beberapa kali mengunjungi Aceh, bahkan sudah mengunjungi Aceh ketika melakukan kampanye Pilpres bersama Jusuf Kalla beberapa tahun silam. Presiden juga mengunjungi Aceh ketika terjadi tsunami pada 2004.

“Sambil memimpin, mengatasi, langkah-langkah tanggap darurat waktu itu, saya kembali menyerukan, mengajak semua pihak yang berselisih sebagai anak bangsa untuk duduk bersama,” katanya.

Presiden menambahkan, perdamaian itu dicapai dengan kondisi pasang surut. “Saya dan semua yang datang ke Bumi Aceh ketika itu ingin mencari solusi damai, solusi bermartabat, dan solusi yang baik atas konflik yang terjadi di Aceh lebih dari 30 tahun,” jelasnya.

Harus Disyukuri

Oleh karenanya, ujar Presiden, perdamaian Aceh hingga 2010 ini harus disyukuri karena perdamaian didasari dengan niat tulus dan ikhlas. Dalam kesempatan itu, Presiden juga menerima anugerah kursi perdamaian dari rakyat Aceh atas perannya dalam mewujudkan perdamaian di “tanah rencong” tersebut. “Kami berterima kasih yang setinggi-tingginya atas kursi ini.

Saya anugerahkan kursi ini untuk mereka yang bekerja siang malam yang berhati mulia untuk perjuangan di Aceh,” kata Presiden. Kursi perdamaian tersebut diserahkan kepada Presiden SBY oleh Gubernur Aceh Irwandi Yusuf yang mewakili rakyat Aceh. Saat menerima kursi yang terbuat dari kayu setinggi satu meter lebih itu, Presiden mengatakan banyak tokoh yang memiliki jasa besar dalam upaya membumikan damai di Aceh.

Gubernur Aceh Irwandi Yusuf mengatakan, kursi tersebut hanya diserahkan kepada pihak yang berjasa pada perdamaian Aceh. ”Kami pandang Bapak Presiden sangat pantas menerimanya. Presiden SBY merupakan inisiator perdamaian Aceh,” katanya.

Irwandi menjelaskan, kursi polos tersebut terbuat dari kayu mati yang tertimbun di dalam tanah bukan hasil menebang kayu di hutan. Kursi tersebut merupakan karya Malio Adnan, dari Aceh Tengah. Presiden didampingi Ibu Ani Yudhoyono juga sempat duduk di kursi perdamaian tersebut untuk diabadikan para fotografer. (mhd/irn)
Sumber : Analisa

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Terbakar, 5 Rumah Rata dengan Tanah

    Terbakar, 5 Rumah Rata dengan Tanah

    • calendar_month Rabu, 10 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIPIROK- Lima unit rumah di Dusun Bunga Bondar 10, Desa Pinagar, Kecamatan Arse, Tapsel, rata dengan tanah usai dilalap si jago merah. Tidak ada korban jiwa dalam kebakaran ini. Namun, kerugian sementara ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. Informasi yang dihimpun METRO dari lokasi kebakaran, Selasa (8/8), menyebutkan, api bermula dari rumah Dimas boru Siregar (62) […]

  • LABRN Nilai Tindakan Main Cekik Oknum Sipir LP Natal Pada Pelajar SD Tidak Manusiawi, Polisi Harus Beri Pasal Berat

    LABRN Nilai Tindakan Main Cekik Oknum Sipir LP Natal Pada Pelajar SD Tidak Manusiawi, Polisi Harus Beri Pasal Berat

    • calendar_month Selasa, 29 Agt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online ) – Kasus penganiayaan pelajar Sekolah Dasar yang dilakukan Sipir Tahanan LP Kelaa IIB Natal, Kecamatan Natal, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) pada senin siang 28/8/2023 kemaren, menjadi perhatian serius tidak hanya Pemda Madina. Lembaga Adat Budaya Ranah Natal ( LABRN ) juga ikut bersuara. Ali Napiah selaku Ketua LABRN pada […]

  • Dukungan TNBG untuk Kemajuan Kopi Mandailing

    Dukungan TNBG untuk Kemajuan Kopi Mandailing

    • calendar_month Kamis, 1 Sep 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – TNBG (Taman Nasional Batang Gadis) terus memberikan dukungan untuk kemajuan Kopi Mandailing, salah satunya dengan melakukan kurasi di kawasan penyangga agar standar kualitas kopi bisa bersaing dalam pasar global. Demikian disampaikan KSBTU TNBG Bobby Nopandry kepada Mandailing Online di Panyabungan. “Dengan adanya kurasi ini, kita tahu langkah yang harus diambil untuk […]

  • Jalan Negara di Pasar Lama Panyabungan Kembali Tergenang

    Jalan Negara di Pasar Lama Panyabungan Kembali Tergenang

    • calendar_month Selasa, 5 Sep 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online )-Meski pekerja selama 2 hari terakhir ini melakukan pembersihan dan perbaikan drainase jalan negara di pasar lama panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ), ternyata tidak menjamin Jalan negara dan sejumlah pertokoan di sekitarnya tidak banjir. pagi ini Selasa 5/9/2023, hujan yang mengguyur wilayah Madina kembali membuat jalan negara itu bagaikan […]

  • DPKAD Palas Sosialisasi Dana Hibah dan Bansos

    DPKAD Palas Sosialisasi Dana Hibah dan Bansos

    • calendar_month Jumat, 19 Des 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Palas – Dinas Pendapatan Keuangan dan Asset Daerah (DPKAD) Kabupaten Padang Lawas (Palas), menggelar sosialisasi dana hibah dan Bantuan Sosial (Bansos), diikuti 120 peserta dari kalangan Ormas, OKP, LSM dan Unsur SKPD se-Palas, berlangsung di Aula Hotel Barumun Sibuhuan, Senin (15/12). Kepala DPKAD Palas Budi Hutari Siregar MAp menyampaikan, kegiatan ini merujuk Permendagri nomor : […]

  • Caleg Perempuan dan Keperempuanan

    Caleg Perempuan dan Keperempuanan

    • calendar_month Senin, 23 Jul 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Catatan : Askolani Nasution                Budayawan Bias Gender itu sudah masalah klasik. Bukan sekedar keterwakilan perempuan dalam berbagai aspek sosial dan kebangsaan. Bukan juga soal emansipasi. Tapi memang, sudah kodratnya, perempuan berbeda dengan laki-laki dalam berbagai aspek, dan karena itu memerlukan pendekatan-pendekatan yang khas perempuan juga. Misalnya, jumlah murid perempuan di rata-rata sekolah lebih banyak […]

expand_less