Selasa, 20 Okt 2026
light_mode

Putri Sayak

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 13 Okt 2014
  • print Cetak

 

Putri Raja Pulungan Yang Hilang di Lumban Huayan

 

Dituturkan : Patuan Kumala Pandapotan BGS/Ditulis : Saifuddin Lubis

 

Lumban Huayan, sekitar 4 Km dari Kelurahan Sayurmatinggi Tapanuli Selatan ke-arah Tano Tombangan pada abad ke-17 lalu adalah sebuah pusat kerajaan yang dipimpin oleh Raja Pulungan. Rajanya terkenal arif dan bijaksana, rakyatnya hidup rukun dan damai, mereka makmur dari usaha berladang bersawah dan berburu. Sebelum di Lumban Huayan, pusat kerajaannya terdapat di Aek Goti Langkumas.

Ketika itu, tersebutlah nama seorang putri raja yang cantik, tinggi semampai, rambutnya panjang dibiarkan menjurai jatuh ke tanah, mata yang indah dengan alis bagaikan semut beriring dan kulit mulus warna kuning langsat menambah indahnya wajah oval yang dihiasi dengan bibir yang bagaikan seulas limau yang senantiasa merah merekah.

Kecantikan putri Raja Pulungan bernama Putri Sayak itupun tersehor kesejumlah kerajaan lain termasuk ke kerajaan Orang Bunian atau orang Halus ( jin ) yang mendiami pohon Beringin besar di atas sumber air panas dekat pemandian keluarga Raja itu.

Matahari siang seakan memanggang bumi dan seluruh isinya tidak terkecuali Putri Sayak ketika itu. Sehingga timbullah niat Putri Sayak untuk mandi di aliran Sungai Aek Huayan yang dingin dan jernih. Tempat itu adalah pemandian keluarga Raja Pulungan, letaknya sekitar 20 meter ke-arah utara sumber air panas dimana terdapat sebatang pohon Beringin besar yang hingga kini masih menjadi saksi bisu kejadian yang sangat memilukan hati Raja dan keluarganya termasuk seluruh rakyat kerajaan Lumban Huayan sekitar 3 abad silam.

Ditemani dayang-dayangnya, Putri Sayak-pun tiba di lokasi pemandian, di udara, suara burung elang terus melengking berkuik-kuik sambil terbang memutar diatas Putri Sayak yang sedang berendam. Awan bergerak cepat menutupi wajah Matahari yang bersinar tajam membakar bumi , sejurus kemudian langit menjadi mendung, awan gelap disertai angin kencang dan gemuruh petir yang saling bersahutan, dan tiba-tiba hujan pun turun dengan derasnya.

Apa yang terjadi….. ?, semua dayang-dayang menjerit histeris, mereka saling bertanya kemana gerangan perginya Putri Sayak. Mereka berteriak memanggil-manggil sang putri raja, ada yang mencoba mencari di sekitar pemandian, namun ternyata sia-sia saja, Putri Sayak lenyap entah kemana. Mereka terus mencari hingga dikejauhan di langit selatan di atas tanah Mandailing terlihat senja mulai merekah menandakan siang akan bertaut dengan gelapnya malam.

Peristiwa hilangnya Putri Sayak, sontak membuat Raja di istana kerajaan tiba-tiba tidak tenang, ada firasat buruk yang terus menggelayut di benak sang raja. Lalu Raja memerintahkan Hulu Balang dan sejumlah prajurit kerajaan untuk menjemput Putri Sayak dan dayang-dayangnya ke tempat pemandian. Namun, begitu Hulu Balang samai di tempat pemandian, tiba-tiba dayang-dayang putri Sayak berhamburan menangis menghadap Hulu Balang dan menceritakan perihal yang telah terjadi menimpa Putri Raja Pulungan itu.

Benarlah firasat sang raja, ucap Hulu Balang setelah mendengar ratapan tangis para dayang-dayang. Hulu Balang, prajurit dan dayang-dayang ditemani gelapnya malam kembali ke istana raja, dan melaporkan semua rangkaian kejadian yang telah menyebabkan raibnya sang Putri Raja.

Suasana tenang dan damai di istana raja itupun berubah menjadi isak tangis pilu, kesedihan dan berkabung atas hilangnya Putri Sayak. Raja kemudian memerintahkan Hulu Balang dan para Panglima serta Punggawa kerajaannya untuk mencari dan mengumpulkan orang-orang pintar mulai dari kerajaan tetangga di wilayah Angkola, Batang Toru, Sipirok, Padang Bolak, Tapanuli Utara hingga ke tanah Mandailing bahkan sampai ke wilayah Pesisir dan Minang Kabau.

Meski kehadiran para orang pintar itu tidak bersamaan di istana raja Pulungan yang tengah berduka saat itu. Namun, seluruh orang pintar yang didatangkan itu mengatakan sama, bahwa Putri Sayak telah diambil oleh penunggu pohon Beringin besar di atas sumber air panas dekat pemandian dan dijadikan sebagai permaisurinya.

Duka atas hilangnya Putri Sayak ternyata berdampak pada pemikiran dan ketenangan Baginda Raja dalam memimpin kerajaannya, lalu Raja Pulungan yang arif dan bijak itu-pun kemudian memutuskan untuk memindahkan pusat kerajaannya ke Sayurmatinggi saat ini, dan beberapa keturunannya pindah ke wilayah lain dan membuka huta dan menjadi raja di wilayahnya kemudian diantaranya anak raja bernama Jabargot membuka hutabargot dan menjadi raja di Hutabargot, Jamalagi membuka huta Simalagi dan menjadi raja di Simalagi, dan satu bernama Japanabari membuka huta di Panabari dan menjadi raja di Panabari Tano Tombangan. Sedangkan keluarga raja lainnya ada yang berpindah ke wilayah lainnya dan menyebar hingga ke utara.

Raja pertama Kerajaan Pulungan setelah dipindahkan ke Sayurmatinggi ialah Raja Gadombang yang memerintah hingga tahun 1831. Ia kemudian digantikan oleh anaknya Sutan Kumala yang kemudian menyerahkan tahtanya karena usia lanjut kepada putranya Baginda Gadombang Parlaungan yang dikemudian hari dikenal dengan sebutan Kuria Hop dan wafat tahun 1952.

Dimasa pemerintahan Baginda Gadombang Parlaungan inilah pula, pernah terjadi keanehan yang sesungguhnya sulit dipercaya oleh akal sehat manusia, namun itu pernah terjadi. Dimana melalui seorang kurir atau suruhan bertubuh kasar, utusan penunggu pohon Beringin besar di atas sumber air panas di Lumban Huayan datang ke Bagas Godang Baginda Gadombang Parlaungan mengaku sebagai suruhan dari permaisuri raja yakni Putri Sayak.

Suruhan itu menyampaikan pesan permaisurinya, bahwa raja dan permaisurinya Putri Sayak akan datang ke Bagas Godang Baginda Gadombang Parlaungan. Melalui utusan, Putri Sayak menyampaikan permohonannya kepada moranya ( raja ) bahwa dia akan datang bersama rombongan dari Lumban Huayan untuk membawa anaknya yang ketika itu masih dalam gendongan.

Putri Sayak memintak, agar dia dan rombongannya diberikan “ mar-panyogon “ (makan) dengan cara mengembangkan “ bide “ ( tikar dari rotan ) di halaman Bagas Godang dengan piringnya dibuat dari daun pisang bagian ujungnya saja ( Bulung Ujung ).

Raja yang rindu kepada gadisnya segera menyetujui syarat yang diajukan dan dengan suka cita menerima kehadiran Putri Sayak beserta rombongannya. Maka Baginda Gadombang Parlaungan-pun mengumpulkan kahanggi, anak boru, dan mora-nya, segala sesuatu untuk jamuan makan dipersiapkan.

Besoknya, tamu yang ditunggu-pun datang, meski tak seorang-pun nampak terlihat dengan mata, tetapi semua hidangan yang disajikan habis ludes. Barulah setelah rombongan pulang, beberapa orang anak kecil mengaku mereka melihat yang datang itu sangat banyak, dan seorang wanita cantik menggendong anaknya yang masih kecil dan perempuan cantik itu dipanggil Putri. Kata saksi mata yang masih kecil itu dan kini telah berusia 68 tahun.

Bertahun-tahun kemudian setelah kejadian itu, Raja Baginda Gadombang Parlaungan pernah bermimpi di suatu malam, dalam mimpinya dia melihat bahwa gadisnya Putri Sayak telah meninggal dunia, mereka meminta kembali kepada mora-nya, agar kembali diberikan “boru “ sebagai pengganti Putri Sayak yang sudah wafat. Tetapi permintaan itu ditolak dengan halus oleh Baginda Gadombang Parlaungan. Dan sejak itu pulalah, Raja Pulungan itu melarang setiap gadisnya atau keturunan marga Pulungan yang perempuan untuk tidak pergi mandi ke sumber air panas di Lumban Huayan. Dan larangan itu terus berlanjut hingga saat ini, karena ditakutkan akan terjadi kejadian serupa dengan yang dialami oleh Putri Sayak sekitar 3 abad lalu. (Patuan Kumala Pandapotan Baginda Soripada, adalah putra dari Raja Ke-III Kerajaan Pulungan di Sayurmatinggi Baginda Gadombang Parlaungan atau Kuria Hop, saat ini dipercaya sebagai Ketua Lembaga Adad Budaya Kabupaten Tapanuli Selatan).

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Memanggul Perigi Air Nira

    Memanggul Perigi Air Nira

    • calendar_month Rabu, 18 Feb 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      LELAH BERJALAN PULANG MENUAI AIR NIRA – Seorang ibu berjalan lelah memanggul perigi berisi air nira hasil sadapan dari pohon aren di hutan Desa Aek Banir Panyabungan. Di Mandailing Natal banyak ditemukan pohon aren yang tumbuh liar dan disadap penduduk untuk bahan baku pembuatan gula aren. Hanya saja pendapatan para pengrajin gula aren masih […]

  • Merdekakan Hati

    Merdekakan Hati

    • calendar_month Selasa, 18 Agt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Ada sebuah pepatah Arab yang sarat motivasi, “Tidak ada yang paling berharga dalam hidup ini selain kemerdekaan.” Kemerdekaan memang sangat mahal dan bernilai karena untuk meraihnya dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan, baik harta maupun nyawa. Musuh abadi kemerdekaan adalah penjajahan, baik itu penjajahan fisik, mental, kedaulatan negara, maupun hati. Penjajahan hati oleh hawa nafsu dan […]

  • FKMJ : Jadikan Mandailing Julu Barometer Pendidikan di Madina

    FKMJ : Jadikan Mandailing Julu Barometer Pendidikan di Madina

    • calendar_month Selasa, 24 Nov 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    TAMBANGAN (Mandailing Online) – Ketua Forum Komunikasi Mandailing Julu (FKMJ) Daud Batubara,S.Sos menyatakan jika ingin membangun, harus di awali dengan perbaikan pendidikan. Dia juga mengharapkan seluruh pihak di Mandailing Julu berjuang agar kawasan Mandailing Julu menjadi barometer pendidiikan dan motor penggerak untuk meningkatkan pendidikan di Mandailing Natal (Madina). Itu dikatakannya, pekan lalu pada acara pertemuan […]

  • Kemerdekan Diraih Dengan Nyawa dan Air Mata

    Kemerdekan Diraih Dengan Nyawa dan Air Mata

    • calendar_month Jumat, 16 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Mempertahankan dan mengisi kemerdekaan itu harus dengan pembangunan di segala bidang kehidupan serta mewujudkan adil dan makmur yang merata material dan spritual berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Perjalanan sejarah bangsa Indonesia penuh dengan gelimang darah dan air mata, ribuan jiwa wafat untuk meraih, mempertahankan dan membela kemerdekaan dan bendera merah putih. […]

  • Dana BOS Untuk Beli Kijang?

    Dana BOS Untuk Beli Kijang?

    • calendar_month Selasa, 11 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Humbahas, Beberapa oknum kepala sekolah di Kabupaten Humbang Hasundutan diduga mengalihkan dana Biaya Operasional Sekolah (BOS) untuk kepentingan pribadi. Hal tersebut dikatakan masyarakat Desa Naga Saribu, L Silaban di Naga Saribu, Senin (03/01/2011). Silaban menjelaskan, salah satu SD yang diduga menggunakan BOS untuk kepentingan pribadi adalah SD 174535 Sitonggi-tonggi. SD tersebut merupakan yang paling banyak […]

  • Bupati Madina Serahkan BLT: “Tabusi Ambeng Sanga Itik Da, Uda, So Martungko”

    Bupati Madina Serahkan BLT: “Tabusi Ambeng Sanga Itik Da, Uda, So Martungko”

    • calendar_month Selasa, 17 Agt 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – “Tabusi ambeng sanga itik da, Uda, so martungko. Anggo tu lopo dot panganon abis don copat, Uda”. Terjemahannya: “Belilah kambing atau itik ya, Paman. Agar bertunas. Kalau ke warung dan makanan saja akan cepat habis, Paman”. Itu dikatakan Bupati Madina, Jakfar Sukhairi Nasution saat menyerahkan BLT-DD kepada seorang penerima di Desa […]

expand_less