Minggu, 9 Agu 2026
light_mode

Tradisi Marturi Nyaris Punah

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 9 Mei 2017
  • print Cetak

 

Askolani Nasution

Tradisi Marturi, sebagai salah satu sastra lisan Mandailing, sudah nyaris punah. Itu terjadi akibat minimnya regenerasi dalam tradisi Marturi.

Hal itu diungkap budayawan Mandailing, Askolani Nasution di Panyabungan, Mandailing Natal usai mendampingi tim peneliti dari Pusat Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kamis (4/5/2017).

Padahal, menurutnya, hanya melalui tradisi Marturi berbagai kaidah dan etika kebudayaan Mandailing diturunkan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Apalagi karena kebudayaan Mandailing adalah kebudayaan yang menjadikan Aksara Tulak-Tulak sebagai sarana untuk bercerita. Karena itu banyak entitas Mandailing yang tidak terwariskan secara benar.

Askolani juga menjelaskan tentang ungut-ungut sebagai sajak yang dilagukan, semacam musikalisasi puisi.

“Jadi jauh sebelum musikalisasi puisi dikenal secara modern, kebudayaan Mandailing sudah memiliki tradisi itu,” ujarnya.

Ungut-ungut selain merupakan ekspresi perasaan, juga keterampilan menggunakan persajakan dan ritme yang memiliki nilai estetika yang luar biasa.

Tim peneliti dari Pusat Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan hari ini, Kamis (4/5) melalukan penelitian tentang tradisi sastra lisan dalam kebudayaan Mandailing. Dua orang peneliti tersebut didampingi oleh Hasan Al-Banna dari Balai Bahasa Medan dan beberapa pendamping mahasiswa peneliti lain. Mereka diterima oleh H. Baginda Kari Manonga dari Panyabungan dan Askolani Nasution.

H. Baginda Kari Manonga menjelaskan berbagai hal mengenai tradisi lisan dalam prosesi Marhata-hata dalam kebudayaan Mandailing. Bahwa dalam Marhata-hata yang digunakan adalah tataran paling halus dalam ragam bahasa Mandailing, yakni ragam bahasa Adat. Ragam bahasa lainnya adalah ragam Somal, ragam Andung, ragam Bura, dan ragam Parkapur. Disebutkan bahwa masing-masing ragam itu menggunakan pilihan kata (diksi) yang berbeda.

Hasan Al-Banna, dari Balai Bahasa Medan membantu menerjemahkan berbagai idiomatik kebudayaan Mandailing dalam konsep ilmu sastra dan bahasa. Beliau memang selain sebagai peneliti bahasa, juga dikenal sebagai sastrawan muda Indonesia yang selalu menguatkan kebudayaan Mandailing dalam berbagai kesempatan.

Dengan penelitian bahasa ini setidaknya kita berharap agar kebudayaan sastra lisan Mandailing dapat dikembangkan. Selain untuk menghindari kepunahan, juga untuk menguatkan kebudayaan Mandailing dalam berbagai dimensi keilmuan. Dalam konteks seperti itu, pemerintah daerah seharusnya juga tampak perannya.

 

Editor        : Dahlan Batubara

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ditegur Polisi, Tambang Emas Ilegal di MBG Berhenti Operasi

    Ditegur Polisi, Tambang Emas Ilegal di MBG Berhenti Operasi

    • calendar_month Minggu, 26 Mei 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online) : Sejumlah alat berat milik penambang emas ilegal di wilayah Kecamatan Muara Batang Gadis tepatnya di Desa Saleh Baru yang sempat beraktifitas beberapa pekan, hari ini berhenti aktifitas. Informasi yang didapat, para pemilik alat berat mulai menurunkan alat beratnya dari lokasi pertambangan karena takut di amankan aparat kepolisian. ” Warga dan […]

  • Issu Beredar, Sejumlah SKPD dan Pejabat Pemkab Madina Nyetor Kepada Calon Bupati

    Issu Beredar, Sejumlah SKPD dan Pejabat Pemkab Madina Nyetor Kepada Calon Bupati

    • calendar_month Sabtu, 8 Agt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Dalam sepekan ini, satu issu beredar di Panyabungan soal dugaan adanya sejumlah pejabat dan pimpinan SKPD di Pemkab Mandailing Natal (Madina) menyetor uang kepada salah satu pasangan calon bupati/wakil bupati. Rumor itu menyebutkan, penyetoran uang tersebut terjadi beberapa hari menjelang pendaftaran bakal calon bupati ke KPU Madina, akhir Juli lalu. Tak […]

  • Wisata Sampuraga Destinasi Yang Akan Menggeliat

    Wisata Sampuraga Destinasi Yang Akan Menggeliat

    • calendar_month Senin, 16 Mar 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Lokasi wisata Sampuraga harusnya menjadi destinasi di kawasan Panyabungan, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Sama seperti destinasi Malin Kundang di Pantai Air Manis, Padang, Sumatera Barat. Ketika saya membawa rombongan Mandailing Malaysia ke objek wisata Malin Kundang ini pada November 2019, destinasi ini dikunjungi banyak wisatawan lokal dan asing. Saat itu kawan saya wartawan Harian Haluan […]

  • Marhata-Hata Dalam Upacara Marhorja di Nagari Kota Nopan, Rao Utara, Pasaman (1)

    Marhata-Hata Dalam Upacara Marhorja di Nagari Kota Nopan, Rao Utara, Pasaman (1)

    • calendar_month Kamis, 1 Okt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Pendahuluan Pada hakikatnya sastra lisan merupakan bagian dari suatu kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun secara lisan sebagai milik bersama. Menurut Louis (dalam Sudikan, 2001:3) ada tiga unsur pokok suatu kebudayaan, yaitu: (1) Isi yang berupa pola perilaku sosial gaya yang menyatakan sesuatu dan cara memahami sesuatu benda yang diwariskan; […]

  • Mangrove Untuk Ketahanan Pangan

    Mangrove Untuk Ketahanan Pangan

    • calendar_month Rabu, 13 Nov 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh: Dr. Erika Pardede Indonesia merupakan negara ke­pu­­la­uan yang memiliki ben­tangan pantai yang sangat pan­jang mencapai 956,181 km, dimana sekitar 4,25 juta hektar terdiri dari hutan mangrove. Hutan mangrove ada­lah tipe hutan yang terdapat di se­panjang pantai atau muara sungai yang di­pengaruhi oleh pasang surut air laut, yaitu tergenang air laut pada waktu pa­sang dan […]

  • Merakit Senjata Api di Panyabungan Timur Sudah Lama Membudaya

    Merakit Senjata Api di Panyabungan Timur Sudah Lama Membudaya

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN TIMUR (Mandailing Online) – Sejarah merakit senjata api di kalangan penduduk beberapa desa Panyabungan Timur, Mandailing Natal (Madina) sudah lama. Tahun berapa munculnya budaya merakit senjata api ini tak diketahui pasti. “Tetapi seingat saya, sejak tahun 70-an sudah ada merakit senjata api di sini, namanya sinapang karben” ungkap selah seorang penduduk Panyabungan Timur […]

expand_less