Rabu, 21 Okt 2026
light_mode

Uning-uningan ni Ompunta (1)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 7 Agt 2014
  • print Cetak

Oleh: Edi Nasution

Orang Mandailing menyebut musik tradisional mereka dengan ungkapan “uninguningan di ompunta na parjolo sundut i”. Artinya, seni musik dari para leluhur, yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi musik yang cukup terkenal dari Mandailing adalah seni pertunjukan gordang sambilan dan gondang boru (*1 yang dimainkan pada berbagai upacara adat dan ritual.

Pada horja siriaon (*2 (upacara adat perkawinan) dan horja siluluton (upacara adat kematian juga disebut mambulungi), selain gordang sambilan, biasanya gondang boru juga dimainkan untuk mengiringi tortor (tarian adat). Dalam upacara adat ini, pihak-pihak yang menarikan tarian adat tortor antara lain adalah kelompok kekerabatan mora, kahanggi (suhut)(*3 dan anak boru. Karena itulah tortor yang ditarikan oleh kelompok-keleompok kekerabatan itu dinamakan tortor mora, tortor suhut dan tortor anak boru.

Selain itu, dalam setiap horja biasanya kalangan raja-raja juga menarikan tarian adat tortor, sehingga tortor tersebut dinamakan tortor rajaraja, dan tortor yang ditarikan oleh kalangan muda-mudi disebut tortor na poso na uli bulung.

Di masa lalu, gordang sambilan dimainkan ketika suatu huta atau banua sedang mengalami bencana seperti merebaknya wabah penyakit menular. Upacara ritual ini dinamakan paturun sibaso atau pasusur begu. Melalui perantaraan seorang medium (tokoh shaman) yang disebut sibaso, seorang datu (tokoh supranatural sebagai pemimpinan ritus tersebut) melakukan komunikasi dengan sibaso untuk mengetahui penyebab bencana sekaligus solusinya. Selain itu, gordang sambilan atau gordang tano (*4 juga dimainkan untuk meminta hujan turun ketika terjadi kekeringan yang cukup parah, dengan maksud agar aktivitas pertanian dan kehidupan masyarakat dapat pulih kembali.

Ensambel gordang sambilan terdiri dari sembilan buah gendang besar dengan ukuran yang relatif cukup besar dan panjang (drum chime) yang dibuat dari kayu ingul dan dimainkan oleh empat orang. Ukuran dan panjang dari kesembilan gendang tersebut bertingkat mulai dari yang paling kecil sampai kepada yang paling besar. Tabung resonator dibuat dengan cara melobangi kayu, dan salah satu ujung lobangnya (bagian kepalanya) ditutup dengan membran yang terbuat dari kulit lembu kering (disebut jangat) yang diregangkan dengan rotan sekaligus sebagai alat pengikatnya.

Kesembilan gendang tersebut mempunyai nama sendiri yang tidak sama di semua tempat di Mandailing. Di Gunungtua-Muarasoro, nama gendang secara berurutan dari yang paling kecil sampai kepada yang paling besar bernama: eneng-eneng, udong-kudong, paniga dan jangat.

Selain itu, ada pula sejumlah peralatan musik metalofon yang dinamakan: ogung jantan dan ogung boru-boru yang dimainkan oleh satu orang; mongmongan (tiga buah gong kecil) yang dimainkan satu orang; doal (satu buah gong yang lebih besar sedikit dari mongmongan) yang dimainkan satu orang; dan talisasayat (simbal) yang dimainkan oleh satu orang; serta sebuah alat musik tiup dimainkan satu orang yang disebut saleot atau sarune.

Gondang (repertoar lagu) yang dimainkan dengan ensambel gordang sambilan ini antara lain: sabe-sabe, horja, sampuara batu magulang, roba na mosok, aek magodang, mamele begu dan sarama babiat.(*5

Sedangkan ensambel gondang boru terdiri dari dua buah gendang dua sisi berbentuk barrel yang masing-masing dimainkan oleh satu orang. Ensembel gondang boru juga dilengkap dengan berbagai alat musik metalofon dan aerofon seperti yang ada pada ensambel gordang sambilan. Meskipun ensambel gondang boru biasanya hanya dipergunakan untuk mengiringi tarian adat tortor, akan tetapi gondang (repertoar lagu) yang dimainkan dengan ensambel gordang sambilan dapat pula dimainkan dengan ensambel godang boru.

Di beberapa sopo (dangau) baik di sawah maupun di ladang petani dapat dijumpai sebuah alat musik yang terbuat dari seruas bambu yang disebut etek. Alat musik ini, pada bagian bawahnya dilobangi untuk resonansi suara dan pada salah satu bagian ujungnya diarit untuk membuang bagian dalamnya sehingga membentuk huruf “U”.

Etek dimainkan oleh satu orang dengan memakai dua buah stik dari kayu. Di samping dapat digunakan untuk menghalau berbagai macam hama tanaman seperti burung dan kera, Etek juga digunakan sebagai sarana untuk melatih pola-pola ritmik yang biasa dimainkan pada gordang sambilan. Oleh sebab itulah ada satu ungkapan “etek do mulo ni gondang”, yang artinya etek lah asal mula dari gondang. Sedangkan untuk melatih pola-pola ritmik yang dimainkan pada gondang boru, alat musik yang digunakan adalah gondang bulu.

Alat musik ini terbuat dari seruas bamboo yang pada bagian bawahnya sembilunya dibuang dan disayat lebar untuk resonansi suara, dan sembilu pada bagian atasnya dicungkil untuk membuat senar sebanyak tiga buah yang diregangkan dengan pasakpasak (potongan-potongan kayu). Alat musik ini dimainkan oleh satu orang dengan memakai satu buah stik yang terbuat dari sepotong bambu.

Selain kedua alat musik tersebut, di sopo tersebut adakalanya seseorang juga menyembunyikan berbagai alat musik tiup agar tidak diambil orang lain, seperti suling, salung, sordam, katoid dan tulila.

Ketika musim tanam padi tiba, para petani ada yang membuat sebuah alat musikal yang dinamakan gondang aek (kincir air) yang dapat berfungsi sebagai alat pengontrol debit air sawah agar padi yang baru ditanam dapat tumbuh dengan baik. Dan ketika musim panen panen tiba, seringkali didengar bunyi alat musik tiup yang disebut uyup-uyup durame atau olanglio yang terbuat dari puput batang padi.

Baik di areal sawah maupun di ladang dapat ditemukan kolam ikan milik petani yang disebut tobat. Jenis ikan yang dipelihara di dalam tobat antara lain ihan mas, kalu, mujair dan siroken. Di tobat ini biasanya ditanam secara tersembunyi sebuah alat musikal yang terbuat dari bambu yang disebut dongung-dongung.

Alat musikal ini dapat berfungsi sebagai pengontrol debit air tobat. Apabila debit air tobat semakin berkurang, secara otomatis dongung-dongung tersebut mengeluarkan suara terdengung yang cukup keras dan lama, sehingga si pemilik tobat dapat mendengar dan mengetahui bahwa debit air kolam ikannya mengalami gangguan yang dapat berdampak pada kehidupan ikan peliharaannya.

Pada waktu siang hari biasanya suasana huta terasa sepi dan lengang karena warga huta umumnya pergi bekerja di sawah ataupun di ladang masing-masing. Begitupun, tetap ada orang yang tinggal di huta seperti orang-orang yang sudah cukup tua dan beberapa anak gadis yang mengasuh adik-adiknya yang masih kecil-kecil. Tidak jarang, di siang hari yang lengang itu terdengar suara musikal yang dimainkan oleh seorang anak gadis. (bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pergeseran Jabatan Terjadi, Eli Mahrani Lantik 6 Ketua PKK Baru

    Pergeseran Jabatan Terjadi, Eli Mahrani Lantik 6 Ketua PKK Baru

    • calendar_month Rabu, 18 Jan 2023
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pergeseran jabatan yang terjadi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) turut berimbas pada posisi ketua PKK di beberapa kecamatan. Atas hal tersebut, Ketua TP PKK Madina Eli Mahrani melantik enam ketua PKK kecamatan. Keenam ketua PKK kecamatan yang baru dilantik adalah Emmy Kholidah sebagai ketua TP PKK Kecamatan Panyabungan, Rohima […]

  • Plasma Sawit Untuk Desa Bintuas Tak Jelas

    • calendar_month Senin, 27 Mei 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Sekdaprovsu Surati BPN Pencabutan HGU PT.RMM PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara, Nurdin Lubis, SH.MM melayangkan surat kepada Kakanwil BPN Sumut untuk pencabutan izin HGU perkebunan sawit PT. Rimba Mujur Mahkota di Mandailing Natal (Madina). Surat Sekda Pemprovsu itu bernomor 593.4/3778 tanggal 6 Mei 2013. Sikap Pemprovsu ini terkait maslah plasma untuk […]

  • Jembatan Gantung Desa Kampung Baru Madina Ambruk

    Jembatan Gantung Desa Kampung Baru Madina Ambruk

    • calendar_month Jumat, 3 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan. Jembatan gantung yang melintasi Sungai Batang Gadis, di Desa Kampung Baru, Kecamatan Panyabungan Utara, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), ambruk. Penyebabnya luapan air Sungai Batang Gadis di akhir tahun 2011 lalu. Akibatnya, warga di lima desa di seberang sungai kesulitan beraktivitas seperti sekolah dan bekerja. Jembatan gantung sepanjang 110 meter dengan lebar sekitar satu meter […]

  • Madina Dapat Anggaran Rp5 Miliar Dari Kemendag

    Madina Dapat Anggaran Rp5 Miliar Dari Kemendag

    • calendar_month Kamis, 6 Des 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Panyabungan, (MO) – Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal akan mendapat alokasi dana sebesar Rp5 miliar dari Kementerian Perdagangan untuk pembangunan pasar di Madina pada Tahun 2013 mendatang. Dari tiga usulan pembangunan pasar tradisional, yang disetujui hanya pembangunan pasar di Simpang Gambir, Kecamatan Lingga Bayu. Hal ini mengingat pasar tersebut adalah pasar yang tercipta alami dan telah […]

  • Ini Tanggapan Warga Terkait Ditiadakannya Karnaval di HUT ke 79 RI di Madina

    Ini Tanggapan Warga Terkait Ditiadakannya Karnaval di HUT ke 79 RI di Madina

    • calendar_month Selasa, 6 Agt 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA -Mandailing Online: Pemerintah. Kabupaten Mandailing Natal ( Madina) melalui Panitia Peringatan Hari Ulang Tahun ke -79 Republik Indonesia tahun 2024 mengeluarkan surat edaran pemberitahuan yang dialamatkan ke Camat se Kabupaten. Surat edaran dengan Nomor 003.01.001. / PAN – HUT RI 2024. Yang diteken Sekda, Alamulhaq Daulay sebagai Ketua Panitia HUT RI ke 79 initinya […]

  • Bangunan Talut PNPM Tak Dapat Difungsikan

    Bangunan Talut PNPM Tak Dapat Difungsikan

    • calendar_month Minggu, 21 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Singkil, Bangunan talut Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri di kawasan Trans Nelayan Kecamatan Singkil, Kabupaten Aceh Singkil dinilai mubazir karena tidak dapat difungsikan untuk apa pun juga. Bangunan talut permanen yang berada di luar kampung di pinggir ruas jalan provinsi itu dinilai syarat dengan kepentingan. Padahal diharapkan fungsinya sebagai saluran pembuangan menanggulangi banjir di […]

expand_less