Jumat, 5 Jun 2026
light_mode

Film “Senandung Willem” Menyingkap Willem Iskander Yang “Hilang”

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 17 Jun 2013
  • print Cetak

Wawancara Dengan Sutradara Askolani Nasution

Di sela-sela pengambilan gambar film “Senandung Willem” yang diproduksi Tympanum Novem Films bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Mandailing Natal, Holik Nasution Mandailing Online menyempatkan wawancara dengan Askolani Nasution, penulis skenario sekaligus sutradara film tersebut, Minggu (16/6/2013). Berikut petikan wawancara tersebut.

Apa yang membuat Anda tertarik mengangkat kisah Willem Iskander dalam film ini?

Willem Iskander tokoh yang luar biasa. Bukan hanya karena ia memelopori pendidikan modern pertama di Mandailing Natal, tetapi usaha-usaha yang dilakukannya patut menjadi renungan kita bersama, terutama ketika kontekstual pendidikan saat ini dinilai carut marut.

Carut marut seperti apa?

Sebutlah masalah mutu pendidikan kita yang makin menurun, gamangnya lulusan kita menjalani tantangan hidup sehari-hari, kurikulum yang dinilai tidak jelas sasarannya, dan lain-lain.

Memang apa saja kelebihan pendidikan masa Willem Iskander?

Para siswa ketika itu sudah menganalisis lima buku sumber yang berasal dari bahasa yang berbeda, murid-muridnya terpilih sebagai penerjemah buku-teks pelajaran untuk kepentingan pemerintah, sistem pembelajaran yang digunakan 70 persen praktek dan hanya 30 persen teori. Banyak saya kira. Sampai-sampai kementerian pendidikan dan pengajaran sengaja berkunjung ke sekolah binaannya, hanya untuk melihat sehebat apa sistem pendidikan yang digunakan di sekolah itu, sehingga banyak dibicarakan sampai ke parlemen Belanda.

Karena itu Anda mengangkatnya dalam media film?

Selama ini kita hanya mengenal nama Willem Iskander saja, kita tidak pernah dapat gambaran yang utuh bagaimana persisnya pemikiran-pemikiran dan perjuangan beliau dalam mencerdaskan bangsa. Itu tragis sebenarnya. Ketika di Belanda orang memperingati 150 tahun Willem Iskander, kita di Indonesia, termasuk di Mandailing, malah tidak melakukan apa-apa. Kita membiarkan beliau terkubur dalam kesibukan modernitas kita. Jadi kita berangkat dari kekhawatiran itu, sesuatu harus dilakukan untuk memperkenalkan beliau kepada khalayak kita.

Apa saja tantangan yang Anda hadapi?

Banyak saya kira. Terlalu naif mungkin kalau saya sebut faktor dana yang terbatas. Tapi memang, kita berhadapan dengan rumitnya properti yang harus tersedia karena perbedaan zaman. Ini kisah tahun 1850, dengan begitu, banyak ornamen yang harus tampil dari masa 170 tahun yang lalu. Sebutlah gedung-gedung berkarakter kolonial, kostum, asesoris, dan lain-lain. Kita juga harus menjaga kontinuitas sejarah, kita tak bisa sepenuhnya main di ranah imajinasi saja. Willem dan sekitarnya itu ril, dengan sejarah yang amat kental. Ia terkait dengan tokoh-tokoh yang juga dikenal publik. Sebutlah Gubernur Jenderal, Menteri Pendidikan Pengajaran Kolonial, Gubernur Militer Sumatera, Asisten Residen Angkola Mandailing, dan seterusnya.

Apa saja sumber rujukan Anda?

Banyak. Selain beberapa literatur dari penulis Barat, kita juga survei ke beberapa museum. Misalnya, kostum kita adaptasi dari rujukan yang ada di Museum VOC, kapal layar dari rujukan yang ada di Museum Bahari, juga beberapa properti yang kita dapatkan dari ahli waris Willem Iskander. Dan itu semuanya amat rumit dan pelik. Kami menjaga agar konteks-konteks itu bisa terpelihara, sekalipun ada batas-batas yang memang tidak mungkin kita buat.

Batas seperti apa misalnya?

Jujur, ini persoalan dana. Kami tak mungkin membangun Kantor Kolonial di Muara Padang, seragam pasukan yang lengkap, dan seterusnya. Kami juga terbatas memilih pemain asli belanda. Itu semua faktor dana.

Bagaimana seleksi pemain yang Anda lakukan?

Awalnya kita membuka audiensi. Terpilih beberapa. Tapi banyak yang tidak memadai. Kita lalu terjun ke desa-desa memilih pemain yang relatif mendekati. Persoalannya, selain sulit menemukan wajah yang pas, juga pemain tidak terlatih. Karena itu kita alokasikan lagi waktu untuk melatihnya. Saya tahu, banyak resistensi yang muncul atas ketidaktepatan beberapa pemain. Tapi itulah yang maksimal kita lakukan. Mungkin bisa bertemu pemain yang relatif mirip, tapi belum tentu berbakat akting. Itu persoalannya. Jadi, persoalan pemain memang bukan mudah seperti yang kita kira.

Alur ceritanya seperti apa?

Kita awali dari Willem Iskander lulus SD tahun 1855, lalu menjadi guru atas prakarsa istri Godon, Asisten Residen Angkola Mandailing. Sambil menjadi guru di ELS (Europeesche Lagere School), ia juga bekerja sebagai pamong di Kantor Asisten Residen. Lalu berangkat ke Amsterdam melanjutkan pendidikan. Pulang dari sana, ia meminta izin pendirian sekolah guru di Mandailing. Ia bertemu beberapa pejabat pemerintah kolonial untuk dukungan itu. Lalu mendirikan Kweekschool di Tano Bato. Intinya seperti itu. Tapi kita kemas agar tetap berdaya tarik.

Seperti apa misalnya?

Kita bumbui dengan kisah romantik antara Willem dengan anak gadis kampung, Saijah, pemetik kopi. Juga kisah romantik dengan gadis Belanda, Christina Winter. Beda karakter kita harapkan bisa mengekspresikan kepribadian Willem Iskander. Kisah romantik itu bertujuan untuk menggambarkan periode romantik dalam kehidupan beliau, dan itu ada dalam kisah hidup semua orang. Kami berasumsi bahwa seorang tokoh bukan melulu dibentuk oleh pertumbuhan pemikiran saja, tapi juga dipengaruhi perjalanan romantiknya. Ia pemuja Raja Belanda Willem III dan Alexander Agung, karena itu ia padukan nama itu menjadi Willem Iskander.

Apa tidak mengganggu konteks sejarahnya?

Asumsi kami, kalau sepenuhnya hanya perjalanan sejarah, film ini akan kering, sama seperti dokumenter jadinya. Nilai hiburannya kurang. Film yang kering hiburan akan dijauhi penonton. Semua film sejarah seperti itu. Harus ada sentuhan romantiknya, tentu dalam batas-batas yang ditolerir. Tujuan kita tetap memperkenalkan pemikiran Willem Iskander, dengan sentuhan yang sedapat mungkin masih bisa berdaya tarik. Itu frame-nya.

Ada yakin film ini akan menarik?

Semua seniman berusaha menghasilkan yang terbaik. Tapi semua tergantung penikmat. Kita hanya berusaha semampu yang kita bisa. Kita melakukan sesuatu, itu yang penting, bukan membiarkan. Kami berharap, dengan film ini ketokohan Willem Iskander bisa lebih dikenali.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • BBPJN Sumut Serahkan Asset Ruas Jalan Hutabuyung – Manuncang Ke Pemkab Madina

    BBPJN Sumut Serahkan Asset Ruas Jalan Hutabuyung – Manuncang Ke Pemkab Madina

    • calendar_month Jumat, 9 Agt 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Muara Batang Gadis ( Mandailing Online) : Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) wilayah 3 Provinsi Sumatera Utara (Sumut) PPK 33 resmi menyerah terimakan asset ruas jalan Hutabuyung – Manuncang Kecamatan Muara Batang Gadis ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mandailing Natal (Madina). Ruas jalan sepanjang 11 KM ini diserahkan oleh tim dari BBPJN wilayah 3 PPK […]

  • Pelantikan DMI Madina Disaksikan Wakil Gubernur

    Pelantikan DMI Madina Disaksikan Wakil Gubernur

    • calendar_month Senin, 22 Agt 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PARBANGUNAN (Mandailing Online) – Bupati Mandailing Natal (Madina) HM. Jafar Sukhairi Nasution dilantik sebagai ketua Dewan Mesjid Indonesia (DMI) periode 2022-2026 oleh Ketua DMI Sumut Irhamuddin Siregar. Pelantikan tersebut berlangsung di pelataran parkir Masjid Agung Nur Ala Nur, Desa Parbangunan, Kecataman Panyabungan, Senin (22/8) dan dihadiri langsung oleh Wakil Gubernur Sumut H. Musa Rajecksah (Ijeck). […]

  • MARSIDAO-DAO (episode 25)

    MARSIDAO-DAO (episode 25)

    • calendar_month Rabu, 1 Jun 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Novel Mandailing Nanisuratkon : Dahlan Batubara   Si Pikek dohot Si Rahim doma donganna modom i bilik podoman i. Ipamanat-manatisa tompa ni pinomparna na ostang mungkor tando sinok ni modomna. Anggo ia ngada pe ra tarpodom, na pupu taringot tu mandiang alaklaina, amang ni daganakna, dompak mangolu namodom iambirang nia, tai sannari ngada be. Si […]

  • Ketika Koruptor dan Kapitalisme Berdisco di Atas Penderitaan Rakyat Batahan (bagian 2)

    Ketika Koruptor dan Kapitalisme Berdisco di Atas Penderitaan Rakyat Batahan (bagian 2)

    • calendar_month Selasa, 19 Jul 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Esai : Dahlan Batubara Pemimpin Redaksi Mandailing Online …………………………………………………………………………………………………………………….. Bisa jadi, bisa tidak, rekomendasi itu telah menjelma menjadi akrobat persubahatan. Sirkus  kemunafikan. Satu permufakatan permunafikan secara massif. Permunafikan massal di gedung legislatif yang konon gedung yang terhormat. Meski tak semua wakil rakyat ikut di permunafikan itu, tetapi wakil rakyat yang tak ikut di permunafikan itu […]

  • Napi Narkoba Kabur Dari Lapas Panyabungan

    Napi Narkoba Kabur Dari Lapas Panyabungan

    • calendar_month Selasa, 1 Agt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online ) – Seorang Nara Pidana kasus Narkoba yang menghuni Lapas kelas II B Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal dikabarkan kabur. Dari informasi yang diperoleh, nara pidana yang kabur tersebut adalah warga Desa Ipar Bondar, Kecamatan Panyabungan yang harus menjalani ponis hukuman 9 tahun penjara. Dikutip dari datapos.id , Kalapas kelas II B Panyabungan, […]

  • Saat Ditertipkan, Polisi Tidak Menemukan Alat Berat Pelaku Tambang Emas di Kota Nopan

    Saat Ditertipkan, Polisi Tidak Menemukan Alat Berat Pelaku Tambang Emas di Kota Nopan

    • calendar_month Kamis, 25 Apr 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    KOTANOPAN ( Mandailing Online ): Peneritpan praktek ilegal maining di Kecamatan Kota Nopan, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) dengan menggunakan alat berat hari ini Kamis 25/4/2024 berjalan mulus, tidak ada perlawanan dari pelaku tambang karena saat di lakukan penertipan para pelaku dan alat berat yang digunakan sudah tidak ada lagi di lokasi. Kapolres Madina […]

expand_less