Selasa, 20 Okt 2026
light_mode

Film “Senandung Willem” Menyingkap Willem Iskander Yang “Hilang”

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 17 Jun 2013
  • print Cetak

Wawancara Dengan Sutradara Askolani Nasution

Di sela-sela pengambilan gambar film “Senandung Willem” yang diproduksi Tympanum Novem Films bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Mandailing Natal, Holik Nasution Mandailing Online menyempatkan wawancara dengan Askolani Nasution, penulis skenario sekaligus sutradara film tersebut, Minggu (16/6/2013). Berikut petikan wawancara tersebut.

Apa yang membuat Anda tertarik mengangkat kisah Willem Iskander dalam film ini?

Willem Iskander tokoh yang luar biasa. Bukan hanya karena ia memelopori pendidikan modern pertama di Mandailing Natal, tetapi usaha-usaha yang dilakukannya patut menjadi renungan kita bersama, terutama ketika kontekstual pendidikan saat ini dinilai carut marut.

Carut marut seperti apa?

Sebutlah masalah mutu pendidikan kita yang makin menurun, gamangnya lulusan kita menjalani tantangan hidup sehari-hari, kurikulum yang dinilai tidak jelas sasarannya, dan lain-lain.

Memang apa saja kelebihan pendidikan masa Willem Iskander?

Para siswa ketika itu sudah menganalisis lima buku sumber yang berasal dari bahasa yang berbeda, murid-muridnya terpilih sebagai penerjemah buku-teks pelajaran untuk kepentingan pemerintah, sistem pembelajaran yang digunakan 70 persen praktek dan hanya 30 persen teori. Banyak saya kira. Sampai-sampai kementerian pendidikan dan pengajaran sengaja berkunjung ke sekolah binaannya, hanya untuk melihat sehebat apa sistem pendidikan yang digunakan di sekolah itu, sehingga banyak dibicarakan sampai ke parlemen Belanda.

Karena itu Anda mengangkatnya dalam media film?

Selama ini kita hanya mengenal nama Willem Iskander saja, kita tidak pernah dapat gambaran yang utuh bagaimana persisnya pemikiran-pemikiran dan perjuangan beliau dalam mencerdaskan bangsa. Itu tragis sebenarnya. Ketika di Belanda orang memperingati 150 tahun Willem Iskander, kita di Indonesia, termasuk di Mandailing, malah tidak melakukan apa-apa. Kita membiarkan beliau terkubur dalam kesibukan modernitas kita. Jadi kita berangkat dari kekhawatiran itu, sesuatu harus dilakukan untuk memperkenalkan beliau kepada khalayak kita.

Apa saja tantangan yang Anda hadapi?

Banyak saya kira. Terlalu naif mungkin kalau saya sebut faktor dana yang terbatas. Tapi memang, kita berhadapan dengan rumitnya properti yang harus tersedia karena perbedaan zaman. Ini kisah tahun 1850, dengan begitu, banyak ornamen yang harus tampil dari masa 170 tahun yang lalu. Sebutlah gedung-gedung berkarakter kolonial, kostum, asesoris, dan lain-lain. Kita juga harus menjaga kontinuitas sejarah, kita tak bisa sepenuhnya main di ranah imajinasi saja. Willem dan sekitarnya itu ril, dengan sejarah yang amat kental. Ia terkait dengan tokoh-tokoh yang juga dikenal publik. Sebutlah Gubernur Jenderal, Menteri Pendidikan Pengajaran Kolonial, Gubernur Militer Sumatera, Asisten Residen Angkola Mandailing, dan seterusnya.

Apa saja sumber rujukan Anda?

Banyak. Selain beberapa literatur dari penulis Barat, kita juga survei ke beberapa museum. Misalnya, kostum kita adaptasi dari rujukan yang ada di Museum VOC, kapal layar dari rujukan yang ada di Museum Bahari, juga beberapa properti yang kita dapatkan dari ahli waris Willem Iskander. Dan itu semuanya amat rumit dan pelik. Kami menjaga agar konteks-konteks itu bisa terpelihara, sekalipun ada batas-batas yang memang tidak mungkin kita buat.

Batas seperti apa misalnya?

Jujur, ini persoalan dana. Kami tak mungkin membangun Kantor Kolonial di Muara Padang, seragam pasukan yang lengkap, dan seterusnya. Kami juga terbatas memilih pemain asli belanda. Itu semua faktor dana.

Bagaimana seleksi pemain yang Anda lakukan?

Awalnya kita membuka audiensi. Terpilih beberapa. Tapi banyak yang tidak memadai. Kita lalu terjun ke desa-desa memilih pemain yang relatif mendekati. Persoalannya, selain sulit menemukan wajah yang pas, juga pemain tidak terlatih. Karena itu kita alokasikan lagi waktu untuk melatihnya. Saya tahu, banyak resistensi yang muncul atas ketidaktepatan beberapa pemain. Tapi itulah yang maksimal kita lakukan. Mungkin bisa bertemu pemain yang relatif mirip, tapi belum tentu berbakat akting. Itu persoalannya. Jadi, persoalan pemain memang bukan mudah seperti yang kita kira.

Alur ceritanya seperti apa?

Kita awali dari Willem Iskander lulus SD tahun 1855, lalu menjadi guru atas prakarsa istri Godon, Asisten Residen Angkola Mandailing. Sambil menjadi guru di ELS (Europeesche Lagere School), ia juga bekerja sebagai pamong di Kantor Asisten Residen. Lalu berangkat ke Amsterdam melanjutkan pendidikan. Pulang dari sana, ia meminta izin pendirian sekolah guru di Mandailing. Ia bertemu beberapa pejabat pemerintah kolonial untuk dukungan itu. Lalu mendirikan Kweekschool di Tano Bato. Intinya seperti itu. Tapi kita kemas agar tetap berdaya tarik.

Seperti apa misalnya?

Kita bumbui dengan kisah romantik antara Willem dengan anak gadis kampung, Saijah, pemetik kopi. Juga kisah romantik dengan gadis Belanda, Christina Winter. Beda karakter kita harapkan bisa mengekspresikan kepribadian Willem Iskander. Kisah romantik itu bertujuan untuk menggambarkan periode romantik dalam kehidupan beliau, dan itu ada dalam kisah hidup semua orang. Kami berasumsi bahwa seorang tokoh bukan melulu dibentuk oleh pertumbuhan pemikiran saja, tapi juga dipengaruhi perjalanan romantiknya. Ia pemuja Raja Belanda Willem III dan Alexander Agung, karena itu ia padukan nama itu menjadi Willem Iskander.

Apa tidak mengganggu konteks sejarahnya?

Asumsi kami, kalau sepenuhnya hanya perjalanan sejarah, film ini akan kering, sama seperti dokumenter jadinya. Nilai hiburannya kurang. Film yang kering hiburan akan dijauhi penonton. Semua film sejarah seperti itu. Harus ada sentuhan romantiknya, tentu dalam batas-batas yang ditolerir. Tujuan kita tetap memperkenalkan pemikiran Willem Iskander, dengan sentuhan yang sedapat mungkin masih bisa berdaya tarik. Itu frame-nya.

Ada yakin film ini akan menarik?

Semua seniman berusaha menghasilkan yang terbaik. Tapi semua tergantung penikmat. Kita hanya berusaha semampu yang kita bisa. Kita melakukan sesuatu, itu yang penting, bukan membiarkan. Kami berharap, dengan film ini ketokohan Willem Iskander bisa lebih dikenali.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Iskandar Hasibuan : Fungsionaris Abu-abu Silahkan Mundur

    Iskandar Hasibuan : Fungsionaris Abu-abu Silahkan Mundur

    • calendar_month Kamis, 26 Mei 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Di tengah kuatnya goyangan dan gangguan, geliat pergerakan konsolidasi PDI Perjuangan Kabupaten Mandailing Natal terus menguat. Fungsionaris yang abu-abu atau setengah hati, silahkan mengundurkan diri. Jangan menjadi duri di dalam tubuh partai. Ketua DPC PDI Perjuangan Mandailing Natal Iskandar Hasibuan mengutarakan sejak Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri memberikan amanah […]

  • Aulia Sani Disibukkan Juri Audisi Vokal

    • calendar_month Jumat, 24 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 3Komentar

    Panyabungan (MO) – Bintang film “Biola Na Mabugang” Aulia Sani disibukkan kegiatan audisi vokal dan akting. Kesibukan itu terkait rangkaian program Sanggar Amaloan yang akan memproduksi album musik asli Mandailing dan film “Biola Na Mabugang 2” serta film “Senandung William”. Jum’at (24/2) sore, Aulia yang memerankan mahasiswi Taipeh di film “Biola Na Mabugang” ini manjadi […]

  • Bocoran Timur Pradopo Soal Penggantinya

    Bocoran Timur Pradopo Soal Penggantinya

    • calendar_month Rabu, 24 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    JAKARTA, – Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Timur Pradopo segera lengser dari jabatannya pada Agustus 2013 mendatang. Orang nomor satu di korps berbaju cokelat itu hanya menjawab diplomatis ketika ditanya siapa kandidat kuat penggantinya. Ia mengisyarakatkan bahwa calon Kapolri harus berpangkat Komisaris Jenderal. “Semua yang berkaitan dengan jabatan Kapolri kan sudah disiapkan, tentunya yang punya […]

  • UN 11 provinsi ditunda, memprihatinkan

    UN 11 provinsi ditunda, memprihatinkan

    • calendar_month Senin, 15 Apr 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      JAKARTA, (MO)  – Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Djamal Azis mengungkapkan keprihatinannya atas ditundanya pelaksanaan Ujian Nasional Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) di 11 provinsi. “Kami menyatakan keprihatinan atas hal ini. Penundaan UN dengan alasan teknis dari pihak percetakan menandakan ketidaksiapan pihak pelaksana dalam menjalankan tugas yang dibebankan kepadanya,” kata anggota DPR […]

  • Warga Bandar Panjang Adukan Kepdes

    Warga Bandar Panjang Adukan Kepdes

    • calendar_month Selasa, 9 Agt 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Warga Desa Bandar Panjang, Muarasipogi, Mandailing Natal, Sumut, meminta camat memproses pengaduan mereka. Pengaduan itu tertanggal 20 Juni 2022 ditujukan kepada camat. Surat pengaduan yang diteken sebanyak 157 warga itu berisi 9 poin tentang kinerja kepala desa yang dinilai tidak transparan dalam menjalankan program-program yang bersumber dana dari Dana Desa. Dari […]

  • Polisi Gerebek Gudang Pengoplosan Pupuk Bersubsidi di Simalungun

    Polisi Gerebek Gudang Pengoplosan Pupuk Bersubsidi di Simalungun

    • calendar_month Rabu, 17 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN: Kepolisian Daerah (Polda) Sumut menggerebek sebuah gudang pengoplosan pupuk subsidi,di Desa Nagujur Huta Bayu, Kabupaten Simalungun, Selasa 16 Agustus 2011 dini hari. Dalam penggerebekan itu, polisi mengamankan tiga orang yang kemudian ditetapkan sebagai tersangka.Ketiga tersangka yakni, Rahmadani dan Isnandar Mawi, keduanya sebagai pekerja, serta Doni Sibarani selaku sopir truk. Sedangkan, pemilik gudang, diketahui bernama […]

expand_less