Jumat, 28 Agu 2026
light_mode

Buku: Tuanku Rao, Terror Mazhab Hambali di Tanah Batak (3)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 24 Jun 2013
  • print Cetak

KRITIK PEDAS BUYA HAMKA

Disunting: Dame Ambarita

Hamka pernah menjadi sahabat Parlindungan. Namun, suatu ketika, mereka berselisih tentang Tuanku Rao. Hamka menuliskan pendapatnya dalam Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao.

Di tahanan, Buya Hamka banyak membaca dan menulis. Waktu itu, tahun 1964, Hamka berada di rumah tahanan kepolisian Mega Mendung. Sebagai salahsatu fungsionaris Partai Masyumi, oleh rezim Soekarno ia dianggap anti-Nasakom. Kemudian ia dipindahkan ke Rumah Sakit Persahabatan, Rawamangun, Jakarta, karena sakit-selama 17 bulan, sampai 1966, Hamka menghasilkan karya monumentalnya, Tafsir Al-Azhar.

Salah seorang muridnya, Sofjan Tanjung, mengirimi ulama itu buku tebal berjudul Tuanku Rao, dua eksemplar-kiriman yang diiringi permintaan agar Hamka memberikan komentar serta kritik atas buku tersebut.

Dan ketika Hamka keluar dari tahanan, ia berkenalan dengan Parlindungan. Mereka bersahabat. Parlindungan biasa menjemput Hamka ke rumahnya sebelum salat Jumat. Parlindungan selalu mengenakan kopiah sampir buatan Gorontalo, bersarung, dan bertongkat kecil.

Hamka mulanya mengagumi buku Tuanku Rao. Polemik terjadi saat Hamka mulai meragukan isi Tuanku Rao. Salah satu peristiwa penting dalam polemik mereka terjadi dalam seminar di Padang pada Juli 1969. Baik Hamka maupun Parlindungan hadir sebagai pembicara.

Pada acara tersebut, Hamka mempertanyakan informasi Parlindungan mengenai Haji Piobang, pendiri Padri yang disebut Parlindungan pernah menjadi salahsatu kolonel tentara Turki di bawah pimpinan Jenderal Muhammad Ali Pasya. “Sampai seminar habis, Parlindungan tidak dapat memberi jawaban tegas,” tulis Hamka.

Hamka meluncurkan kritik-kritik cukup pedas menanggapi Tuanku Rao. Kritik ini ia tulis dalam beberapa artikel yang dimuat di harian Haluan, Padang, 1969-1970. Ia menyebut Parlindungan bodoh. Parlindungan menganggap Hamka childish dan kampungan.

Sebuah buku khusus pun diluncurkan oleh Hamka bertajuk Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao. Dalam buku setebal 364 halaman yang diterbitkan oleh Penerbit Bulan Bintang pada 1974 itu, Hamka menuding isi Tuanku Rao 80 persen bohong, sedangkan sisanya diragukan kebenarannya. Pasalnya, setiap kali Hamka menanyakan data dan fakta buku itu, Parlindungan selalu menjawab, “Sudah dibakar.”

Selain itu, Hamka mempertanyakan kebenaran berbagai isu yang dilontarkan Parlindungan. Isu yang cukup sensitif adalah pernyataan bahwa selama 300 tahun daerah Minangkabau menganut mazhab Syiah Qaramithah. Hal ini menurut Hamka dusta belaka.

Hamka juga menolak menanggapi isu tentang adanya pemerkosaan massal dan orgy tawanan perempuan oleh sebagian pasukan Padri. Cerita tentang bagaimana anggota Padri melampiaskan nafsu syahwatnya secara terbuka terhadap tawanan-tawanan cantik dituding Hamka sebagai khayalan Parlindungan belaka. Hamka juga menuduh cerita-cerita seks itu sengaja dipasang Parlindungan untuk menarik hati para pemuda ketimbang mencari data ilmiah.

Hamka membandingkan kisah Parlindungan- tentang pembunuhan keluarga Kerajaan Pagaruyung yang disertai pemerkosaan para putri kerajaan dalam Tuanku Rao-dengan data sumber Belanda. Versi Belanda, menurut Hamka, menuliskan pembunuhan oleh Tuanku Lintau terhadap keluarga kerajaan pada 1804. “Tapi tidak ada disebut-sebut seorang Mandailing bernama Idris Nasution dan pasukannya yang menawan puluhan gadis, lalu memperkosa di hadapan umum, di udara terbuka,” tulis Hamka.

“Cerita tentang Tuanku Lelo mengumbar nafsu syahwatnya itu bumbu cerita porno yang dibuat Parlindungan yang tidak kalah dengan cerita-cerita film cowboy tahun 1972,” demikian Hamka mengejek Parlindungan. Di mata Hamka, Tuanku Lelo yang menurut Parlindungan bernama asli Idris Nasution itu tokoh karangan Parlindungan belaka.

Toh, meski tak mengupas secara spesifik soal kekerasan kaum Padri terhadap masyarakat Mandailing, khususnya perempuan, Hamka mengutip keterangan Faqih Shagir dari Hikayat Syaikh Jalaluddin, yang juga banyak berkisah mengenai kaum Padri: “…. Adapun yang jahat daripada Padri yaitu membunuh segala ulama-ulama dan membunuh orang yang cerdik cendekia, mengambil perempuan yang bersuami, menikahkan perempuan yang tidak sekufu dengan tidak ridhanya, bepergundik tawanan dan menghinakan orang yang mulia-mulia dan mengatakan kafir orang yang beriman….”

Pertanyaan selanjutnya, siapakah Tuanku Rao alias Pongkinangolngolan Sinambela? MO Parlindungan Siregar, dalam bukunya mengisahkan, Tuanku Rao adalah keponakan Singamangaraja X. Ia lahir di luar nikah. Kemudian, karena 3 orang Datu (tokoh spiritual) meramalkan bahwa Pongkinangolngolan suatu hari akan membunuh pamannya, Singamangaraja X, maka Pongkinangolngolan harus dibunuh.

Dari cuplikan buku Tuanku Rao yang disarikan Batara R Hutagalung, dan dikutip METRO dalam tulisan ini, dikisahkan, ibu dari Pongkinangolngolan adalah Gana Sinambela, putri dari Singamangaraja IX. Sedangkan ayahnya adalah Pangeran Gindoporang Sinambela, adik dari Singamangaraja IX.

Gindoporang dan Singamangaraja IX, keduanya putra-putra Singamangaraja VIII. Dengan demikian bisa dikatakan, Pongkinangolngolan adalah anak hasil hubungan gelap antara Putri Gana Sinambela dengan Pamannya, Pangeran Gindoporang Sinambela.

Gana Sinambela sendiri adalah kakak dari Singamangaraja X. Walaupun terlahir sebagai anak di luar nikah, Singamangaraja X sangat mengasihi dan memanjakan keponakannya. Untuk memberikan nama marga, tidak mungkin diberikan marga Sinambela, karena ibunya bermarga Sinambela. Namun nama marga sangat penting bagi orang Batak, sehingga Singamangaraja X mencari jalan keluar untuk masalah ini.

Singamangaraja X mempunyai adik perempuan lain, Putri Sere Sinambela, yang menikah dengan Jongga Simorangkir, seorang hulubalang. Dalam suatu upacara adat, secara pro forma Pongkinangolngolan “dijual” kepada Jongga Simorangkir, dan Pongkinangolngolan kini bermarga Simorangkir.

Namun kelahiran di luar nikah ini diketahui oleh 3 orang Datu (tokoh spiritual) yang dipimpin oleh Datu Amantagor Manurung. Mereka meramalkan, bahwa Pongkinangolngolan suatu hari akan membunuh pamannya, Singamangaraja X. Oleh karena itu, Pongkinangolngolan harus dibunuh.

Sesuai hukum adat, Singamangaraja X terpaksa menjatuhkan hukuman mati atas keponakan yang disayanginya. Namun dia memutuskan, bahwa Pongkinangolngolan tidak dipancung kepalanya, melainkan akan ditenggelamkan di Danau Toba. Dia diikat pada sebatang kayu dan badannya dibebani dengan batu-batu supaya tenggelam. (bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kepsek SD N 080 Panyabungan Akui Temuan BPK Soal Dana BOS, Siap Mengembalikan

    Kepsek SD N 080 Panyabungan Akui Temuan BPK Soal Dana BOS, Siap Mengembalikan

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Panyabungan|| Mandailing Online – Badan Pemeriksa Keuangan perwakilan provinsi Sumatera Utara ( BPK-P ) dikabarkan  menemukan dugaan pengadaan fiktif alat olahraga senilai Rp48 juta dalam pemeriksaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tahun 2025 di SD Negeri 080 Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal. Temuan ini muncul saat BPKP melakukan pemeriksaan . Saat diminta menunjukkan barang, pihak sekolah […]

  • Kelakuan Para Pemuda Membuatku Menangis

    Kelakuan Para Pemuda Membuatku Menangis

    • calendar_month Minggu, 11 Apr 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Siti Khadijah Sihombing, S.Pd Pemerhati Generasi Muda tinggal di Barus Hari ini aku termenung melihat para pemuda yang sangat sekuler dan individualis. Bagaimana tidak, banyak dari mereka dalam pergaulannya suka sekali melemparkan kata-kata yang tidak pantas dan tidak layak untuk diucapkan oleh seorang muslim. Kata-kata yang mereka keluarkan itu adalah kata-kata kotor dan menjijikkan. […]

  • Seleksi Sekda Masuk Tahap Pemaparan Makalah

    Seleksi Sekda Masuk Tahap Pemaparan Makalah

    • calendar_month Kamis, 24 Nov 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tiga dari empat pejabat eselon II di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mandailing Natal (Madina) yang lulus seleksi administrasi mengikuti tahapan pemaparan makalah dan wawancara di Aula Hotel Rindang, Kecamatan Panyabungan, Madina, Sumut, Kamis (24/11/2022). Seleksi pemaparan makalah dan wawancara tersebut diikuti oleh Alamulhaq Daulay (Plt. Sekda Madina), Parlin Lubis (Kepala Dinas […]

  • Calon mahasiswa Unimed setiap tahun menaik

    Calon mahasiswa Unimed setiap tahun menaik

    • calendar_month Kamis, 20 Mar 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    MEDAN – Setiap tahunnya, jumlah calon mahasiswa yang berniat masuk ke Universitas Negeri Medan semakin meningkat. Humas Universitas Negeri Medan Muhammad Surip belum dapat merincikan jumlah pasti calon mahasiswa karena proses pendaftaran SNMPTN masih berlangsung. “Jumlah siswa yang mendaftar melalui jalur Bidik Misi mencapai 1845, namun Unimed hanya menyediakan 600 kursi. Tentu presentasi ini menunjukkan […]

  • DPC Ima Madina Unimed Galang Dana Untuk Palestina

    DPC Ima Madina Unimed Galang Dana Untuk Palestina

    • calendar_month Kamis, 17 Jul 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Para kader DPC Ima Madina Unimed berhasil mengumpul dana sebanyak Rp.4.411.000 dalam kegiatan penggalangan dana untuk Palestina di pasar Panyabungan, Mandailing Natal, Minggu (13/07/2014) lalu. Koordinator Kegiatan, Maradil Hasbuan menyatakan penggalangan dana itu dilakukan dengan menampung partisipasi masyarakat, pedagang pasar dan pengendara yang melintas di kawasan pasar baru dan pasar lama […]

  • Harga Kantalan Terus Turun

    Harga Kantalan Terus Turun

    • calendar_month Kamis, 18 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 4Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Harga karet (kantalan-bahasan Mandailing) di tingkat petani terus mengalami peturunan di Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Darwis (43) petani karet di Panyabungan kepada wartawan, Kamis (18/7) mengatakan, penjualan pada Kamis pagi sekitar 7.000 hingga 7.500 rupiah per kilo gram. Pekan sebelumnya masih menembus angka 7.500 hingga 8.000 rupiah per kilo gram. “Kita […]

expand_less