Selasa, 13 Okt 2026
light_mode

Buku: Tuanku Rao, Terror Mazhab Hambali di Tanah Batak (3)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 24 Jun 2013
  • print Cetak

KRITIK PEDAS BUYA HAMKA

Disunting: Dame Ambarita

Hamka pernah menjadi sahabat Parlindungan. Namun, suatu ketika, mereka berselisih tentang Tuanku Rao. Hamka menuliskan pendapatnya dalam Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao.

Di tahanan, Buya Hamka banyak membaca dan menulis. Waktu itu, tahun 1964, Hamka berada di rumah tahanan kepolisian Mega Mendung. Sebagai salahsatu fungsionaris Partai Masyumi, oleh rezim Soekarno ia dianggap anti-Nasakom. Kemudian ia dipindahkan ke Rumah Sakit Persahabatan, Rawamangun, Jakarta, karena sakit-selama 17 bulan, sampai 1966, Hamka menghasilkan karya monumentalnya, Tafsir Al-Azhar.

Salah seorang muridnya, Sofjan Tanjung, mengirimi ulama itu buku tebal berjudul Tuanku Rao, dua eksemplar-kiriman yang diiringi permintaan agar Hamka memberikan komentar serta kritik atas buku tersebut.

Dan ketika Hamka keluar dari tahanan, ia berkenalan dengan Parlindungan. Mereka bersahabat. Parlindungan biasa menjemput Hamka ke rumahnya sebelum salat Jumat. Parlindungan selalu mengenakan kopiah sampir buatan Gorontalo, bersarung, dan bertongkat kecil.

Hamka mulanya mengagumi buku Tuanku Rao. Polemik terjadi saat Hamka mulai meragukan isi Tuanku Rao. Salah satu peristiwa penting dalam polemik mereka terjadi dalam seminar di Padang pada Juli 1969. Baik Hamka maupun Parlindungan hadir sebagai pembicara.

Pada acara tersebut, Hamka mempertanyakan informasi Parlindungan mengenai Haji Piobang, pendiri Padri yang disebut Parlindungan pernah menjadi salahsatu kolonel tentara Turki di bawah pimpinan Jenderal Muhammad Ali Pasya. “Sampai seminar habis, Parlindungan tidak dapat memberi jawaban tegas,” tulis Hamka.

Hamka meluncurkan kritik-kritik cukup pedas menanggapi Tuanku Rao. Kritik ini ia tulis dalam beberapa artikel yang dimuat di harian Haluan, Padang, 1969-1970. Ia menyebut Parlindungan bodoh. Parlindungan menganggap Hamka childish dan kampungan.

Sebuah buku khusus pun diluncurkan oleh Hamka bertajuk Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao. Dalam buku setebal 364 halaman yang diterbitkan oleh Penerbit Bulan Bintang pada 1974 itu, Hamka menuding isi Tuanku Rao 80 persen bohong, sedangkan sisanya diragukan kebenarannya. Pasalnya, setiap kali Hamka menanyakan data dan fakta buku itu, Parlindungan selalu menjawab, “Sudah dibakar.”

Selain itu, Hamka mempertanyakan kebenaran berbagai isu yang dilontarkan Parlindungan. Isu yang cukup sensitif adalah pernyataan bahwa selama 300 tahun daerah Minangkabau menganut mazhab Syiah Qaramithah. Hal ini menurut Hamka dusta belaka.

Hamka juga menolak menanggapi isu tentang adanya pemerkosaan massal dan orgy tawanan perempuan oleh sebagian pasukan Padri. Cerita tentang bagaimana anggota Padri melampiaskan nafsu syahwatnya secara terbuka terhadap tawanan-tawanan cantik dituding Hamka sebagai khayalan Parlindungan belaka. Hamka juga menuduh cerita-cerita seks itu sengaja dipasang Parlindungan untuk menarik hati para pemuda ketimbang mencari data ilmiah.

Hamka membandingkan kisah Parlindungan- tentang pembunuhan keluarga Kerajaan Pagaruyung yang disertai pemerkosaan para putri kerajaan dalam Tuanku Rao-dengan data sumber Belanda. Versi Belanda, menurut Hamka, menuliskan pembunuhan oleh Tuanku Lintau terhadap keluarga kerajaan pada 1804. “Tapi tidak ada disebut-sebut seorang Mandailing bernama Idris Nasution dan pasukannya yang menawan puluhan gadis, lalu memperkosa di hadapan umum, di udara terbuka,” tulis Hamka.

“Cerita tentang Tuanku Lelo mengumbar nafsu syahwatnya itu bumbu cerita porno yang dibuat Parlindungan yang tidak kalah dengan cerita-cerita film cowboy tahun 1972,” demikian Hamka mengejek Parlindungan. Di mata Hamka, Tuanku Lelo yang menurut Parlindungan bernama asli Idris Nasution itu tokoh karangan Parlindungan belaka.

Toh, meski tak mengupas secara spesifik soal kekerasan kaum Padri terhadap masyarakat Mandailing, khususnya perempuan, Hamka mengutip keterangan Faqih Shagir dari Hikayat Syaikh Jalaluddin, yang juga banyak berkisah mengenai kaum Padri: “…. Adapun yang jahat daripada Padri yaitu membunuh segala ulama-ulama dan membunuh orang yang cerdik cendekia, mengambil perempuan yang bersuami, menikahkan perempuan yang tidak sekufu dengan tidak ridhanya, bepergundik tawanan dan menghinakan orang yang mulia-mulia dan mengatakan kafir orang yang beriman….”

Pertanyaan selanjutnya, siapakah Tuanku Rao alias Pongkinangolngolan Sinambela? MO Parlindungan Siregar, dalam bukunya mengisahkan, Tuanku Rao adalah keponakan Singamangaraja X. Ia lahir di luar nikah. Kemudian, karena 3 orang Datu (tokoh spiritual) meramalkan bahwa Pongkinangolngolan suatu hari akan membunuh pamannya, Singamangaraja X, maka Pongkinangolngolan harus dibunuh.

Dari cuplikan buku Tuanku Rao yang disarikan Batara R Hutagalung, dan dikutip METRO dalam tulisan ini, dikisahkan, ibu dari Pongkinangolngolan adalah Gana Sinambela, putri dari Singamangaraja IX. Sedangkan ayahnya adalah Pangeran Gindoporang Sinambela, adik dari Singamangaraja IX.

Gindoporang dan Singamangaraja IX, keduanya putra-putra Singamangaraja VIII. Dengan demikian bisa dikatakan, Pongkinangolngolan adalah anak hasil hubungan gelap antara Putri Gana Sinambela dengan Pamannya, Pangeran Gindoporang Sinambela.

Gana Sinambela sendiri adalah kakak dari Singamangaraja X. Walaupun terlahir sebagai anak di luar nikah, Singamangaraja X sangat mengasihi dan memanjakan keponakannya. Untuk memberikan nama marga, tidak mungkin diberikan marga Sinambela, karena ibunya bermarga Sinambela. Namun nama marga sangat penting bagi orang Batak, sehingga Singamangaraja X mencari jalan keluar untuk masalah ini.

Singamangaraja X mempunyai adik perempuan lain, Putri Sere Sinambela, yang menikah dengan Jongga Simorangkir, seorang hulubalang. Dalam suatu upacara adat, secara pro forma Pongkinangolngolan “dijual” kepada Jongga Simorangkir, dan Pongkinangolngolan kini bermarga Simorangkir.

Namun kelahiran di luar nikah ini diketahui oleh 3 orang Datu (tokoh spiritual) yang dipimpin oleh Datu Amantagor Manurung. Mereka meramalkan, bahwa Pongkinangolngolan suatu hari akan membunuh pamannya, Singamangaraja X. Oleh karena itu, Pongkinangolngolan harus dibunuh.

Sesuai hukum adat, Singamangaraja X terpaksa menjatuhkan hukuman mati atas keponakan yang disayanginya. Namun dia memutuskan, bahwa Pongkinangolngolan tidak dipancung kepalanya, melainkan akan ditenggelamkan di Danau Toba. Dia diikat pada sebatang kayu dan badannya dibebani dengan batu-batu supaya tenggelam. (bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Masyarakat Diminta Awasi Penyelenggaraan Pilkada

    Masyarakat Diminta Awasi Penyelenggaraan Pilkada

    • calendar_month Senin, 14 Sep 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    MEDAN– Komisi Pemilihan Umum Provinsi Sumatera Utara mengharapkan seluruh elemen masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam mengkampanyekan pilkada damai. Ketua KPU Sumut Mulia Banurea mengatakan, pihaknya meminta masyarakat untuk aktif melaporkan jika menemukan adanya pelanggaran dalam proses penyelenggaraan pesta demokrasi yang akan dilaksanakan pada 9 Desember mendatang. Lanjutnya, selaku penyelenggara, KPU secara terbuka menerima untuk diawasi […]

  • Hadiri Peringatan Hari Ibu ke-95, Atika Ingatkan Peran Perempuan

    Hadiri Peringatan Hari Ibu ke-95, Atika Ingatkan Peran Perempuan

    • calendar_month Rabu, 15 Nov 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Jakarta, ( Mandailing Online )- Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina) Atika Azmi Utammi Nasution menyampaikan sebagai perempuan harus mampu mendorong Indonesia khususnya Mandailing Natal (Madina) untuk maju berperan aktif dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan, pertanian dan lainnya. Hal tersebut disampaikan Atika usai menghadiri acara Rangkaian Peringatan Hari Ibu ke-95 Tahun 2023 di Istora Senayan, […]

  • Pengusaha Penggilingan Padi Sebut Harga Gabah di Madina Normal

    Pengusaha Penggilingan Padi Sebut Harga Gabah di Madina Normal

    • calendar_month Sabtu, 25 Jan 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online ) Pengusaha penggilingan Padi di Kabupaten Mandailing Natal bicara harga gabah. Dari Januari 2025 sampai hari ini belum ada kenaikan, namun dipastikan tak ada penurunan harga. Stok gabah dan beras di awal tahun melimpah. Diketahui Tahun 2025 ini Harga Gabah Basah (HGB) stak di harga Rp.5.600 perkilonya, sementara Harga Gabah Kering […]

  • Awal tahun, geng motor semakin ganas

    Awal tahun, geng motor semakin ganas

    • calendar_month Senin, 6 Jan 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    MEDAN – Diawal tahun 2014 ini, aksi keganasan gang motor kembali terjadi. Suasana nyaman dan aman di awal tahun  yang seharusnya  penuh dengan kenyamanan dan  kedamaian yang diraskan warga kota, tetapi  di kotori oleh kelompok geng motor tersebut. Seperti yang tyerjadi di wilayah Kecamatan Percut Sei Tuan, dalam sehari ini sudah dua orang menjadi keganasan […]

  • Mengenal Bahasa Mandailing (2)

    Mengenal Bahasa Mandailing (2)

    • calendar_month Kamis, 17 Nov 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Basyral Hamidi Harahap (in memoriam)     BAHASA DAUN Prof. C.A. Van Ophuysen, ahli bahasa Melayu dan bahasa Mandailing menulis sejumlah artikel tentang bahasa Mandailing. Salah satu diantaranya ialah tulisan berjudul  De Poezie in het Bataksche Volksleven, 1886. Tulisan ini membahas bahasa daun dan 80 ende dan ungkapan tradisional Mandailing. Van Ophuysen pernah menjadi […]

  • Merdeka, akan tetapi…

    Merdeka, akan tetapi…

    • calendar_month Selasa, 16 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Tanggal 17 Agustus merupakan hari yang amat istimewa dan bersejarah bagi seluruh bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia dengan suka cita memeriahkan peringatan HUT RI yang kini memasuki usia 66 tahun itu. Keistimewaan tanggal 17 Agustus tidak hanya karena menyimpan sejarah yang tinggi, namun juga amat sakral bagi seluruh bangsa Indonesia. Karena pada tanggal itulah Bung Karno […]

expand_less