Sabtu, 29 Agu 2026
light_mode

Pemilu di Madina dan Dermawan Dadakan

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 24 Mar 2014
  • print Cetak

Oleh : Lokot Husda Lubis, S. Ag

Pemilu Legislatif 2014 tinggal hitungan hari, masa kampanye pun sudah dimulai. Berbagai spanduk, baleho para calon legislative (Caleg) sudah bermunculan, modelnyapun bermacam-macam. Ada yang sendiri, ada yang bergandengan dengan Caleg Provinsi dan Pusat, ada pula yang bergandengan dengan Ketua Ormas, OKP dan tokoh masyarakat yang dianggap mampu “mendulang suara”. Spanduk dan baleho yang terpampang ini tidak ubahnya seperti lomba “poto model” dengan gaya masing-masing.

Selain munculnya spanduk dan baleho di mana-mana, para Calegpun sibuk turun ke masyarakat untuk sosialisasi. Umumnya mereka berlomba-lomba berbuat kebajikan di tengah-tengah masyarakat. Ada yang menyumbang untuk kaum Ibu Perwiritan, Naposo Bulung, Masjid, Surau, Lapangan Bola, Irigasi, jalan dan kepentingan masyarakat lainnya. Kalau dalam bahasa agama, ada namanya bulan Ramadhan yaitu bulan dermawan, tapi kalau di sini dua atau tiga bulan lagi sebelum Pileg sudah menjadi bulan “dermawan” bagi para Caleg.

Pokoknya, jelang Pemilu Legislatif tahun 2014 ini tiba-tiba saja banyak “dermawan” dadakan yang bermunculan. Entah dari mana datangnya, partai apa yang digusungnya, “dermawan” dadakan ini muncul ibarat jamur di musim hujan. Anehnya, semuanya rata-rata ingin membantu masyarakat, berjuang atas nama rakyat, walapun itu sebenarnya lagu lama untuk mengambil hati masyarakat.

Khususnya di Kab. Mandailing Natal, jelang berakhirnya masa jabatan Legislatif, politisi kita baik pendatang baru dan muka lama begitu perhatian dan peduli terhadap masyarakat. Penulis yakin, kondisi seperti ini berlaku juga di daerah lain. Rata-rata politisi ini turun langsung untuk bertatap muka dan konsolidasi dengan masyarakat. Sehingga tidak mengherankan, bulan-bulan terkahir ini gedung anggota dewan nyaris kosong. Agenda-agenda di DPRD sering tertunda di karenakan anggota DPRD nya banyak yang absen.

Hal yang sama juga berlaku dengan politisi baru. Mereka berlomba-lomba memperkenalkan diri kepada masyarakat. Mulai dari sosialisasi kepada sahabat, kerabat dekat, kaum ibu, sampai dengan konsolidasi dengan Tim masing-masing. Tidak sedikit pula di antara sesama Caleg ada yang saling menjelekkan, mereka menganggap diri serta tindakan mereka paling benar. Pokoknya tidak ada hari tanpa “blusukan” dari daerah yang satu ke daerah yang lain.

Kedatangan politisi ini ke masyarakat biasanya menggunakan simbol-simbol agama dan atas nama rakyat dan demokrasi serta sering mengobral janji. Kesana-kemari membawa “bantuan” dan membagi-bagikannya kepada masyarakat, tidak ubahnya sinterklas yang baik hati. “Katanya, kalau sudah duduk nanti menjadi anggota DPRD, ia akan membangun jalan, irigasi, sekolah dan lainnya”. Sang politisi mungkin lupa, pungsi anggota DPRD itu bukanlah membagi-bagikan sembako dan uang, bukan juga membangun jalan, tapi hanya sebatas legislasi, membahas dan menyetujui anggaran serta pengawasan.

Terkadang masyarakatpun bingung, sebelum seorang Caleg mencalonkan diri dia ada di mana. Dibilang kifrahnya di politik, tapi masyarakat tidak mengenalnya, di bilang aktif di organisasi atau bidang sosial tidak ada. Namun tiba-tiba menokohkan diri sebagai calon Legislatif. Begitu juga dengan anggota DPRD yang mencalonkan kembali menjadi anggota Legislatif 2014 ini. Selama hampir lima tahun menjabat “dia” ada di mana. Atau selama ini “dia” ada di mana?, kok tiba-tiba sudah menokohkan diri sebagai calon pemimpin.

Sewaktu diberi amanah jabatan, sedikitpun tidak ada kepedulian dengan masyarakat. Tapi, menjelang pelaksanaan pemilu, tampilannya di sulap seperti orang “dermawan” yang “pemurah” lagi baik hati. Sampai sampai warga masyarakat kewalahan menghadapi permintaan “sang dermawan” tersebut. Sebab, akhir dari petualangan “sang dermawan” tidak lain ujung-ujungnya minta imbalan kembali. Permintaan tidak lain agar didukung atau dipilih pada pemilu Legislatif 2014 ini. Aneh, memberi kok ada imbalannya, berarti tidak ikhlas !.

Dalam bahasa agama, sipat dermawan adalah perbuatan yang di anjurkan dan disuruh. Biasanya dermawan tidak mengenal waktu dan tempat, ia muncul begitu saja sesuai dengan kata hati. Dermawan dalam bahasa agama juga tidak mengenal imbalan, kecuali mengharap ridha Allah. Sipat penderma juga tidak perlu diketahui public dan bukan untuk dipertontonkan di khalayak ramai. Dalam bahasa yang sederhana, kalau tangan kanan memberi jangan sampai diketahui tangan kiri. Dermawan dalam arti yang sebenarnya cukuplah Allah yang tahu dan si penderma. Akankah si dermawan yang sebenarnya terwujud jelang Pileg ini ?

Menyikapi realitas ini, masyarakat di anjurkan harus hati-hati dan pintar dalam memilih. Sebab, para “dermawan” ini banyak yang pakai “topeng” kebaikan. Pengalaman pemilu-pemilu sebelumnya seharusnya menjadikan masyarakat lebih pintar dalam berdemokrasi. Masyarakat jangan mau lagi “memilih Kucing dalam karung”. Makna istilah tersebut tidak lain sebagai sebuah peringatan kepada semua orang, siapapun dia agar tidak sembarangan atau semberono dalam menentukan pilihannya.

Terlebih pilihan tersebut untuk menentukan orang-orang yang akan duduk di singgasana kekuasaan yang akan menentukan “hitam putihnya” perjalanan sebuah bangsa. Jangan sampai hanya karena melihat kemasan/packingnya yang begitu bagus, lalu pilihanpun di jatuhkan tanpa mengetahui apa sebenarnya di dalamnya. Kemajuan tekhnologi dapat mengemas seseorang dengan simbol-simbol sebagai pejuang umat atau pejuang rakyat. Dalam hal ini masyarakat wajib mencermati dan meneliti agar tidak tertipu dan menyesal di kemudian hari.

Sebab, menjelas Pemilu Legislatif 2014 ini, adagium “jangan mau memilih kucing dalam karung” masih relevan dan di angkat kembali sebagai sebuah wacana kepada publik dan sebagai peringatan agar tidak mudah lupa untuk membedakan mana “karung” dan mana “isi karung”. Mana kemasan atau aksesoris dan mana isi atau kualitasnya. Mana yang hanya sekedar simbol dan mana yang rill dan substansial.

Ini perlu di ingatkan, karena ingatan kolektif warga masyarakat kita mudah sekali kena penyakit amnesia, mudah pelupa. Lupa akan cacatan rekaman jejak seseorang atas sikap dan prilakunya pada saat diberi amanah kekuasaan. Apalagi saat menjelang pemilu ini, yang bersangkutan nanti melakukan money politik dengan membagi-baikan uang pada malam pelaksanaan pileg. Lucunya, biasanya yang di ingat masyarakat adalah tokoh yang membagikan uang itu.

Pengalaman Pemilu tahun 2009, kemudian pemilihan Presiden, pemilihan Gubernur, Bupati, diyakini sepertinya masyarakat sudah semakin cerdas dan pintar dalam memilih. Terbukti beberapa Pilkada yang di duga bermain dengan politik uang ternyata tidak terpilih. Istilah “ambil uangnya”, jangan pilih orangnya, sepertinya semakin populer di telinga masyarakat. Meskipun sikap seperti ini tidak baik dan menyalahi aturan pemilu, tapi tidak ada salahnya untuk memberi pelajaran kepada mereka yang menjadikan uang oreantasi politiknya.

Artinya, masyarakat semakin cerdas untuk menjadikan pilihan politiknya. Realitasnya ada pergeseran sikap atau prilaku masyarakat untuk memilih calon pemimpinnya berdasarkan rekaman jejak seseorang. Warga masyarakat sepertinya tidak mau lagi asal-asalan untuk memilih caleg atau kepala daerah. Mudah-mudahan prediksi ini tidak meleset dalam Pileg kali ini. Kita berharap masyarakat memilih karena kwalitas, profesionalitas dan komitmennya untuk memperjuangkan aspirasi rakyat.

Tanpa bermaksud menggurui, dalam Pemilu Legislatif 2014 ini, sudah saatnya masyarakat menggunakan nurai dalam pemilihan Legislatif yang bakal duduk di DPRD Kabupaten /Kota, DPRD Provinsi dan DPR –RI. Jangan sampai wakil rakyat yang akan dipilih lima tahun kedepan begitu ia duduk melupakan masyarakat yang mendukungnya. Ingatan persoalan rakyat hanya dilakukan saat menjelang lima tahun sekali.

Sebab, bisa di hitung, bagi seorang yang sok “dermawan”, sudah pasti ia akan menghitung berapa biaya yang telah dikeluarkan untuk duduk menjadi anggota Legislatif. Kalau ia mengeluarkan Rp. 150-200 juta, tentunya nanti setelah duduk pastinya tugas pertama yang akan ia lakukan adalah mengembalikan uang yang telah dikeluarkan saat ia mau duduk menjadi anggota legislatif.

Akibatnya, segala macam carapun dilakukan, termasuk korupsi untuk mengembalikan modal yang telah tertanam sejak awal. Tidak kalah pentingnya, hak-hak rakyat yang sudah memilihnya tidak pernah diperjuangkan di DPRD. Sebab, sebelumnya ia telah membeli rakyat dengan harga tertentu. Janji-janji saat kampanye tinggallah janji. Sang “dermawan” dadakan sekarang sangat sulit di jumpai, handphone tidak aktif lagi karena sudah ganti kartu baru dan kalau lewat selalu menutup kaca jendela mobil pribadinya karena takut rakyat meminta kepadanya.

Dalam pileg 2014 ini kita tidak menginginkan hal seperti itu terjadi lagi. Untuk itu, sudah saatnya warga masyarakat pemilih menetapkan calon Legislatif yang pantas dan layak untuk dipilih. Cara mudah di ingat, ada produk “lama”, ada produk “baru”. Ada yang “tua” dan ada yang “muda”. Yang lama sudah diketahui kwalitasnya, yang muda harus di teliti rekam jejaknya. Tidak semua orang “lama” jelek kwalitasnya, dan tidak semua orang “baru” di jamin kwalitasnya.

Sederhananya, jika produk “lama” itu jelek, tentu tidak pantas untuk dipilih lagi. Sebaliknya, jika produk “baru” tidak dapat membawa harapan baru, tentu juga tidak pantas untuk dipilih. Jadi yang ideal adalah diharapkan calon-calon Legislatif kedepan merupakan produk “baru”, generasi baru dan punya harapan baru yang bisa memperjuangkan kepentingan rakyat.

Dan kepada calon-calon anggota Legislatif, berjuanglah secara sehat, jangan saling mencaci dan menjelekkan. Kalau ingin menjadi dermawan, jadilah “dermawan” sejati, jangan sama sekali mengharapkan balasan dari masyarakat, kecuali mengharapkan balasan Allah. Jadi dermawan itu bagus, sebab agamapun menganjurkannya. “Berlomba-lombalah kamu dalam jalan kebaikan, tapi janganlah mengharapkan balasan dari apa yang kamu sumbangkan, kecuali balasan Allah. (Penulis adalah Jurnalis tinggal di Madina)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kemerdekaan RI Atas Ijtihad Para Ulama, Dan Ulama Bersatu Untuk Prabowo

    Kemerdekaan RI Atas Ijtihad Para Ulama, Dan Ulama Bersatu Untuk Prabowo

    • calendar_month Jumat, 4 Jul 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Ketua Front Ulama Kabupaten Mandailing Natal, KH Abdul Baits Nasution, Lc. MA negara Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 bertepatan bulan puasa Ramadhan. Kemerdekaan itu menurut KH Abdul Baits berkat perjuangan rakyat dan jihad para ulama. “Dan dengan niat ikhlas mereka, maka diperolehlah kemerdekaan. Karena itulah, kita jangan sampai lupa […]

  • Walbup Sampaikan LKPJ Bupati 2012

    Walbup Sampaikan LKPJ Bupati 2012

    • calendar_month Selasa, 1 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 4Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina) Dahlan Hasan Nasution menyampaikan nota pengantar Laporan Pertanggungjawaban Bupati tahun 2012 pada paripurna DPRD Madina, Selasa (1/10/2013). Dalam nota pengantar disebutkan, realisasi pendapatan daerah sebesar Rp.791.409.493.295. Angka melenceng dari rencana pendepatan yang ditarget sebesar Rp.820.534.052.297 atau hanya tercapai 96,45 persen. Pendapatan itu terdiri dari PAD (Pendapatan […]

  • BPBD Hanya Datang untuk Foto-foto

    BPBD Hanya Datang untuk Foto-foto

    • calendar_month Jumat, 24 Des 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    NATAL (Mandailing Online) – BPBD Mandailing Natal (Madina) dinilai setengah hati dalam melakukan pencarian korban hanyut di Natal. Bahkan BPBD disebut hanya datang untuk foto-foto. Demikian pengakuan Izhar Basri Batubara, kakak sulung Zein Bisri Batubara korban hanyut di sungai Batang Natal pada Minggu (19/12) pekan lalu. Meski demikian, Ishar tetap menyampaikan ucapan terima kasih atas […]

  • Batang Pungkut Green: Programn CI di Madina Tak Berdampak

    Batang Pungkut Green: Programn CI di Madina Tak Berdampak

    • calendar_month Senin, 6 Jan 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Batang Pungkut Green Concervation (BPGC) mendesak Pemkab Mandailing Natal (Madina) mengevaluasi MoU antara Pemkab Madina dengan Causeruation International (CI). Paslanya, sudah tiga tahun MoU (Memorandum of Understanding) itu ditandatangani kedua pihak, kegiatan yang dilakukan CI belum memberikan kontribusi apapun terhadap masyarakat Madina. Koordinator BPGC, Syafruddin Lubis kepada wartawan, Senin (6/1/2014) di […]

  • Ternyata Warga Sibanggor Sempat Minta Evakuasi Sebelum Pembukaan Sumur V01 PT SMGP

    Ternyata Warga Sibanggor Sempat Minta Evakuasi Sebelum Pembukaan Sumur V01 PT SMGP

    • calendar_month Kamis, 22 Feb 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online ): Pasien keracunan H2S dari Perusahaan panas bumi PT Sorik Marapi Geotermal Power ( SMGP ) membludak, pihak TNI, Polri dan Basarnas terpaksa dirikan tenda darurat di Parkiran RSUD Panyabungan Kamis malam 22/2/2024. Sejauh ini dari data yang di dapat, pasien keracunan H2S dari pembukaan sumur V01 PT SMGP yang beroperasi di […]

  • Apapun Ceritanya, Gatot Harus Tetap Taati Syamsul

    Apapun Ceritanya, Gatot Harus Tetap Taati Syamsul

    • calendar_month Jumat, 4 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Sebelum Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Syamsul Arifin dinonaktifkan, apapun ceritanya Wagubsu Gatot Pujo Nugroho harus tetap taat terhadap arahan Syamsul. Hal itu dikemukakan Pengamat Politik dan Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Arifin Saleh Siregar melalui telepon, Kamis (03/03/2011). Sebab sesuai ketentuan, Wakil Kepala Daerah tidak memiliki kewenangan penuh, hanya membantu Kepala Daerah. Ini […]

expand_less