Minggu, 30 Agu 2026
light_mode

Menelusur Tiga Kampung Berbahasa Mandailing di Negeri Sembilan, Malaysia

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 7 Apr 2016
  • print Cetak
Kampung Tambahtin

Kampung Tambahtin

Catatan : Dahlan Batubara
Pemimpin Redaksi Mandailing Online

 

Kawasan itu serupa dengan kawasan Kotanopan dan Ulu Pungkut, berbukit dan sedikit memiliki hamparan lembah maupun hamparan landai. Namanya Kampung Kerangai di Jelebu, Negeri Sembilan, Malaysia. Sebuah perkampungan kaum Mandailing yang berbahasa Mandailing.

Misalnya anda orang Mandailing dari Indonesia datang ke kampung ini, jangan berbahasa Melayu atau berbahasa Indonesia, sebab seluruh penduduknya berbahasa Mandailing, dari anak-anak hingga yang tua.

Saya tiba di Kampung Kerangai ini pada hari Sabtu 12 Maret 2016. Sebelumnya, ketika saya ke Malaysia pada November 2015 saya sudah merencanakan mendatangi perkampungan itu, hanya saja ketika itu saya tak memiliki banyak waktu sehingga baru pada Maret 2016 saya memiliki rezeki waktu untuk memasuki perkampungan tersebut.

Salah satu rumah kaum Mandailing di Kerangai

Salah satu rumah kaum Mandailing di Kerangai

Saya dan rombongan terdiri dari Ramli Bin Abdul Karim Hasibuan (pria kelahiran Kampung Kerangai yang kini tinggal di Nilai, Negeri Sembilan yang berprofesi redaktur di surat kabar Utusan Malaysia; kemudian Bayo Hasibuan dan istrinya (warga Palembang perantau asal Padang Lawas).

Di (provinsi) Negeri Sembilan, ada tiga perkampungan yang berbahasa Mandailing, yakni Kampung Kerangai dan Kampung Tambahtin, kedua-duanya di Daerah (kabupaten) Jelebu dan Kampung Baru Lanjut Manis di Daerah Kuala Pilah.

Kaum Mandailing di tiga kampung ini masih mengetahui letak kampung leluhurnya di Tano Mandailing, Sumatera. Berbeda dengan perkampungan kaum Mandailing lainnya di Malaysia yang mayoritas sudah tak tahu letak kampung leluhurnya di tanah Mandailing.

 

KAMPUNG KERANGAI

Mencapai perkampungan ini membutuhkan waktu tempuh sekira 1,5 jam dari Kuala Lumpur, atau sekira 0,5 jam dari Seremban, ibukota Negeri Sembilan.

Jalan menuju perkampungan ini dari Seremban penuh dengan kelokan karena melalui berbagai bentangan perbukitan. Tetapi jangan dibayangkan seperti kondisi jalan menuju Kotanopan dari Panyabungan di Sumatera Utara yang membuat pinggang sakit, sebab jalanan di Negeri Sembilan lebar-lebar dan aspal yang mulus sebagaimana jalanan di negeri-negeri lain di negera Malayasia.

Jalan Batubara di Kampung Kerangai

Jalan Batubara di Kampung Kerangai

Sesampai di Kerangai, saya mendapatkan nama-nama jalan yang diambil dari marga suku Mandailing seperti Jalan Batubara, Jalan Nasution, Jalan Harahap, Jalan Hasibuan, Jalan Pene. Kepala desa-nya bermarga Nasution , masih muda sekitar umur 35 tahun.

Semua orang yang saya temui berbahasa Mandailing. Termasuk ketika saya memasuki satu lopo kopi, mulai dari pengunjung hingga pemilik lopo berbahasa Mandailing. Logat atau langgam bicara mereka sama dengan langgam di Mandailing Godang (Panyabungan hingga Siabu) di Sumatera Utara, Indonesia.

Rumah-rumah di Kampung Kerangai ini mayoritas rumah semen, sebagian masih melestarikan jenis rumah panggung. Pemukiman itu dikelilingi kebun karet, kebun duku, durian, rambutan dan lain-lain.

Ada tiga kelompok lokasi pemukiman, satu kelompok pemukiman berada di sepanjang jalan besar, dua kelompok pemukiman lainnya masuk ke dalam sekitar 300 meter dari jalan besar. Semua kelompok pemukiman sama-sama berbahasa Mandaling, karena tidak ada kaum Melayu yang berdomisili di kampung ini.

Jalan Nasution di Kampung Kerangai

Jalan Nasution di Kampung Kerangai

Kampung Kerangai ini juga tak berbatas langsung dengan kampung lain yang berbahasa melayu, dipisah hamparan kebun memanjang berratus meter.

“Pangomoan nami ison mangguris, adong deba markobun sawit,” kata Karim Hasibuan ketika saya bertamu ke rumahnya.

Tetapi menurutnya, generasi baru sekarang mayoritas sudah bekerja di sektor industri, perdagangan dan jasa, sehingga kebanyakan kebun karet harus “diguris” oleh TKI (Tenaga Kerja Indonesia).

Uniknya TKI yang “mangguris” di sini adalah TKI dari tanah Mandailing, Sumatera, hanya ada satu dua TKI dari Jawa. Dampak kemakmuran ekonomi itu juga ditandai dengan jenis kenderaan penduduk di kampung itu, setiap rumah selalu memiliki mobil.

 

KAMPUNG TAMBAHTIN

Kampung Tambahtin ini tak jauh dari Kampung Kerangai. Kampung Tambahtin berada di Pertang yang masih kawasan Jelebu.  Di sini, pemukiman orang Mandailing bertetangga dengan pemukiman kaum Cina. Makanya ada dua bahasa di sini : bahasa Mandailing dan Bahasa Cina.

Ketika saya membeli rokok di salah satu kedai (warung sembako) di pemukiman Cina itu mereka  berbahasa China dialek Hokkian serupa dengan bahasa orang Tionghoa yang di Medan, Sumtaera Utara.

Lalu, ketika saya berjalan memasuki pemukiman kaum Mandailing, maka bahasanya bahasa Mandailing berlanggam Mandailing Godang.

Apabila kaum Cina dan kaum Mandailing bertemu, maka yang dipakai adalah bahasa Melayu.

Mandailing Online (kaos hijau) bersama kaum Mandailing di satu lopo Kampung Kerangai

Mandailing Online (kaos hijau) bersama kaum Mandailing di satu lopo Kampung Kerangai

Kaum Mandailing yang berada di Kampung Tambahtin ini memiliki sejarah dan hubungan persaudaraan dengan penduduk di Kampung Kerangai dan Kampung Baru Lanjut Manis.  Sehingga jika ada “siriaon” maupun “siluluton” di Tambahtin maka akan diutus “naipas langka” menuju Kampung Kerangai dan Kampung Baru Lanjut Manis, demikian juga sebaliknya.

Saya sempat bertamu ke salah satu rumah milik Maznah Hasibuan. “Oi baya, pado itelefon ko gari au nangkin dompak so ro tu son, kan madung marmasak au sugari sigop,” katanya dengan langgam Mandailing Godang. Kami memang tak bisa berlama-lama di Tambahtin karena harus melanjutkan perjalanan ke Kampung Baru Lanjut Manis.

Menurut Maznah, semua penduduk di pemukiman itu berbahasa Mandailing dalam percakapan sehari-hari, yang turun temurun hingga kepada generasi sekarang.

 

KAMPUNG BARU LANJUT MANIS

Kampung Baru Lanjut Manis berada di Mukim (kecamatan) Terachi, Kuala Pilah. Agak jauh dari Kerangai, yaitu 67 kilometer dan 62 kilometer dari Tambahtin. Sekitar 35 menit perjalanan mobil dari Kerangai.

Pemukiman kaum Mandailing di kampung ini bertetangga tak berbatas dengan pemukiman kaum berbahasa Melayu. Otomatis di kampung ini juga ada dua bahasa : Mandailing dan Melayu.

Kaum Mandailing di kampung ini sebagian sudah ada yang berbahasa Melayu sebagai bahasa sehari-hari, berbeda dengan kaum Mandailing di Tambahtin dan Kerangai yang seratus persen berbahasa Mandailing.  Pergaulan antara yang berbahasa Mandailing dengan kaum yang berbahasa Melayu serta perkawinan antar yang beda suku menjadi salah satu penyebabnya.

 

MARKOBAR

Meski masih berbahasa Mandailing, kaum Mandailing di kawasan ini tak lagi menjalani tradisi “markobar” secara betahap sebagaimana tahapan-tahapan “markobar” di tanah leluhur Mandailing. “Markobar” di acara “siriaon” maupun “siluluton” tetap dilakukan, hanya saja tak lagi memiliki tahapan bergantian dari “kahanggi”, “anakboru” dan “mora”.

Esensi ketiga pilar itu tak lagi terlalu mempengaruhi sistem sosial kaum Mandailing di sana. Sehingga peran dan fungsi  “kahanggi”, “anakboru” dan “mora” tak lagi menjadi unsur-unsur penting dalam pelaksanaan “horja” pernikahan maupun dalam “siluluton”.

Tak diketahui secara pasti sejak kapan perubahan pola markobar itu terjadi serta faktor-faktor penyebabnya.

 

JEJAK SEJARAH

Berdasar keterangan yang saya catat dari kaum Mandailing di tiga kampung itu, kaum Mandailing di Kampung Kerangai, Tambahtin dan Kampung Baru Lanjut Manis memiliki sejarah yang sama serta sebagian dari mereka memiliki hubungan kekerabatan.

Kaum Mandailing yang bermukim di tiga kampung itu dulunya berasal dari kawasan Negeri Perak yang berimigrasi ke kawasan Negeri Sembilan pada era penghujung 1800-an. Migrasi itu erat kaitannya dengan kenyamanan beribadah serta pelestarian ajaran Tuan Nadua yakni Tuan Natobang dan Tuan Naposo.

Salah satu model rumah di Kampung Baru Lanjut Manis

Salah satu model rumah di Kampung Baru Lanjut Manis

Kawasan pertama sebagai tujuan migrasi adalah Kerangai. Perpindahan selanjutnya juga terjadi di awal 1900-an (?), yakni dari Kerangai ke Tambahtin, lalu dari Tambahtin menuju Lanjut Manis. Kemudian kembali lagi ke Kerangai. Tak semua penduduk ikut pindah dalam rentang etape perpindahan itu. Sebagian ada yang memilih menetap di Tambahtin, sebagian menetap di Lanjut Manis. Itulah sebab lahirnya 3 kampung itu.

Selain di tiga kampung Mandailing ini, kaum Mandailing juga ada yang berdomisili di kampung lain di kawasan Jelebu itu, seperti perkampungan Felcra Belia Lakai. Hanya saja kampung-kampung itu sudah bercampur penduduknya dengan kaum Melayu, sehingga tak bisa dikatakan sebagai kampung Mandailing. Meski begitu, orang Mandailing yang tinggal di kampung campuran masih bisa berbahasa Mandailing karena hubungan silaturrahim masih terus dilakukan, baik dalam acara “siriaon”, “siluluton” maupun pergaulan lainnya.

Ajaran Tuan Natobang dan Tuan Naposo itu juga yang diduga menjadi faktor lestarinya bahasa Mandailing di kalangan penduduk tiga kampung tersebut. Sebab, dalam ajaran kaji diri sebagai salah satu tahapan dasar, dilafazkan dalam bahasa Mandailing.

Ajaran Tuan Nadua itu juga ada di kawasan Siabu, Mandailing Natal, Sumatera Utara, yakni di kawasan Huta Raja hingga Sihepeng sebagai kampung kelahiran Tuan Naposo yang bermigrasi ke tanah Semenanjung pada era 1800-an atas panggilan Tuan Natobang dari tanah Semenanjung.

Secara umum, kaum Mandailing yang bermukim di tiga kampung itu berasal dari berbagai kawasan tanah leluhur : mulai dari Mandailing Julu, Mandailing Godang higga Mandailing Angkola yang bermigrasi pada era 1800-an ke kawasan Perak sebelum berpindah ke kawasan Negeri Sembilan.

“Halak di son asalna adong na tingon Kotanopan, Panyabungan, Siabu sampe tu Padang Lawas. Sudena koumta na i tolu kampung on leng marsibinoto tano leluhur. Tai kampung-kampung halak hita na asing di Malaysia on, madung bahat naso mamboto ijia hutana i tano leluhur,” kata Ramli Bin Abdul Karim Hasibuan.

Pada program “Mulak Tu Huta 1”, yakni kunjungan silaturrahim kaum Mandailing Malaysia ke tanah leluhur yang diselenggarakan Persatuan Halak Mandailing Malaysia (PHMM) tahun 2012 lalu, banyak peserta yang berasal dari tiga kampung ini. Begitu juga program “Mulak Tu Huta 2” tahun  2013 yang diselenggarakan Ikatan Mandailing Malaysia Indonesia (IMAMI) serta program tahun 2014 dan tahun 2015.

Bagi kaum Mandailing lainnya yang tak mengatahui letak kampung leluhurnya, hanya dibawa keliling melihat-lihat tanah leluhur serta menginap di hotel di Panyabungan dan Sidempuan, serta menyaksikan pertunjukan Gordang Sambilan di Pidoli Lombang, sebab mereka tak tahu harus kemana, karena mereka tak tahu di mana dan apa nama desa kelahiran nenek moyang mereka di tanah leluhur.

Dan, sebenarnya keluarga keturunan leluhur mereka masih ada di Mandailing Natal atau di Tapanuli Selatan atau di Sidimpuan atau di Palas atau di Paluta, tetapi di mana desa-nya belum diketahui. Oleh karena itu, diperlukan satu lembaga yang dibentuk pemerintah-pemerintah daerah di kawasan Mandailing Raya bekerjasama dengan lembaga Mandailing Malaysia untuk bekerja menelusurinya, agar perpisahan keluarga yang sudah berratus tahun dapat kembali dipertemukan. Padomu na marigat, palagut na marserak. ***

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pilkada Serentak Sumut Diikuti 810 Pasangan

    Pilkada Serentak Sumut Diikuti 810 Pasangan

    • calendar_month Kamis, 30 Jul 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    SUMUT – Pilkada Serentak di Sumatera Utara, diikuti 810 Pasangan, 156 Diantaranya Lewat Jalur Perseorangan Pendaftaran pasangan calon pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah di 9 provinsi, 34 kota dan 224 kabupaten telah dilaksanakan serentak oleh KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota tanggal 26-28 Juli 2015. Para calon pemimpin daerah itu meliputi pasangan calon yang diajukan […]

  • Bersama Ketua IMI Indonesia, Cabup Madina Harun Mustafa Bahas Kejurnas dan Rally Championship di Jakarta

    Bersama Ketua IMI Indonesia, Cabup Madina Harun Mustafa Bahas Kejurnas dan Rally Championship di Jakarta

    • calendar_month Sabtu, 26 Okt 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Jakarta ( Mandailing Online) : Disela sela sela kesibukannya sebagai calon bupati di Kabupaten Mandailing Natal ( Madina), Harun Mustafa Nasution yang juga ketua IMI Sumut masih menyempatkan diri untuk menghadiri pertemuan organisasi Ikatan Mitor Indonesia ( IMI) yang dilaksanakan di rumah recardo gelael Jakarta Jum’at 25/10/2024. Pertemuan yang dihadiri ketua IMI Indonesia Bambang Soesatyo […]

  • Dana Desa Kampung Padang di Madina 2025: Pagu Rp965 Juta, Realisasi Baru Rp661 Juta

    Dana Desa Kampung Padang di Madina 2025: Pagu Rp965 Juta, Realisasi Baru Rp661 Juta

    • calendar_month Sabtu, 25 Jul 2026
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Panyabungan|| Mandailing Online – Realisasi Dana Desa Kampung Padang,Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal tahun 2025 baru mencapai Rp661.673.400 dari total pagu Rp965.871.000. Artinya masih ada sisa Rp304.197.600 atau 31,5% yang belum disalurkan hingga akhir tahun anggaran. Data ini terungkap dari laporan penyaluran dana desa tahap 1 dan 2. Dari total realisasi, Tahap Satu tersalur Rp478.123.400 […]

  • JURNALISME BENCANA

    JURNALISME BENCANA

    • calendar_month Selasa, 4 Okt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Moechtar Nasution Wakil Direktur GEREP Institute Erupsi Gunung Sinabung beberapa tahun yang lalu selain menimbulkan korban jiwa dikalangan penduduk juga  meninggalkan luka yang mendalam dikalangan jurnalis karena salah satu jurnalis televisi nasional ikut menjadi korban. Kejadian yang mengharu birukan ini tentunya menjadi evaluasi secara total tentang pentingnya menjaga keselamatan disaat sedang menjalani tugas […]

  • Quota Gas LPG Untuk Madina Terlalu Minim

    Quota Gas LPG Untuk Madina Terlalu Minim

    • calendar_month Jumat, 29 Apr 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pasokan gas LPG untuk Mandailing Natal (Madina) selama ini masih kurang, penyebab terjadinya kelangkaan beberapa pekan lalu. Berdasar data Bagian Perekonomian Pemkab Madina, selama ini pihak Pertamina hanya memasok sebanyak 103.040 tabung ukuran 3kg per tahun melalui dua agen penyalur. Itu masih kurang jika dibandingkan jumlah penduduk dan jumlah konsumen di […]

  • 28 Masyarakat & Oknum Anggota Polri Ditangkap Polresta Padangsidimpuan

    28 Masyarakat & Oknum Anggota Polri Ditangkap Polresta Padangsidimpuan

    • calendar_month Selasa, 14 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Padangsidimpuan, : Sebanyak 28 masyarakat dan oknum anggota Polri yang ditangkap dan ditahan oleh satuan Polresta Padangsidimpuan di Kelurahan Pasar Pargarutan, Kecamatan Angkola Timur, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) pada tanggal 29 Januari 2012 yang lalu sekira pukul 17.00 wib, sedang tidak menyabung ayam. Demikian keterangan dua orang saksi pada sidang Praperadilan di PN Padangsidimpuan, Senin […]

expand_less