Selasa, 20 Okt 2026
light_mode

M. Kasim Dalimunthe, Pelopor Sastra Indonesia Dari Kotanopan

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 11 Sep 2017
  • print Cetak

 

Askolani Nasution

Oleh : ASKOLANI NASUTION
Budayawan

 

Saya kaget ketika beberapa hari yang lalu tahu bahwa rumah M. Kasim ada di ujung jalan Pesanggarahan Kotanopan. Dan saya sempat berbincang-bincang banyak hal tentang beliau dengan cucunya yang masih tinggal di Kotanopan, terutama menyangkut kemungkinan arsip-arsip naskah yang masih tinggal.

Mungkin tak banyak yang tahu bahwa M. Kasim adalah sastrawan besar, pelopor cerpen Indonesia. Karena itu beliau dinobatkan sebagai “Bapak Cerpen Indonesia”. Bahkan Ajib Rosidi menobatkan beliau sebagai peletak dasar lahirnya sastra modern Indonesia.

Bayangkan saja, beliau sudah menerbitkan cerpen sejak tahun 1910, sebelum Perang Dunia I. Beliau tumbuh dalam kekentalan sastra Melayu yang berkembang di Nusantara sebagai Lingua Franca, terutama sastra lisan. Ada dua genre penting Sastra Melayu ketika itu, yakni Sastra Melayu Rendah yang digunakan sebagai bahasa penerbitan dan pers yang didominasi orang-orang Tionghoa, dan sastra Melayu Tinggi yang digunakan sebagai bahasa pendidikan. Karena maraknya penggunakan Sastra Melayu Rendah, pemerintah kolonial menertibkannya dengan pendirian badan penerbit resmi: “Balai Pustaka”.

Kasim adalah bagian dari psoses pem-Balai-Pustakaan naskah-naskah cerita pada awal tahun 20-an. Selain beliau, kita mengenal nama-nama seperti Merari Siregar: Azab dan Sengsara, (1920), Marah Roesli : Siti Nurbaya (1922), Abdul Muis : Salah Asuhan (1928), dan lain-lain.

Rumah keluarga M. Kasim Dalimunte di Kotanopan

Awalnya M. Kasim, sesuai dengan pekerjaannya sebagai guru di SD Kotanopan, banyak menggunakan sastra lisan. Salah satu ceritanya yang terkenal adalah “Si Bisuk Na Oto”. Karena sastra lisan itu pula yang membuat saya gagal menemukan naskah “Si Bisuk Na Oto” yang dikarangnya sebagai sastra literer, sastra lisan.

Banyak memang versi cerita “Si Bisuk Na Oto”, bahkan yang paling konyol sekalipun. Tokoh Si Bisuk Na Oto mungkin lebih dekat dengan prototipe tokoh imajiner Abu Nawas dalam kisah “Seribu Satu Malam” yang tekenal itu. Karena banyak versi itu, dan tak ada yang tertulis, membuat saya tahun 2015 lalu membuat versi sendiri, yang kemudian saya angkat dalam film “Si Bisuk Na Oto” yang diperankan Zulfikar Rambe, Nila Sari, dan lain-lain. Karakternya saya bayangkan saja gaya Robert De Niro dalam film tahun 90-an ketika ia memerankan tokoh dengan keterbelakangan mental, dan Dustin Hoffman dalam film “Rain Man”. Itu bagian dari rasa penasaran saya terhadap tokoh “Si Bisuk Na Oto” yang sering diceritakan M. Kasim. Tentu orang tidak tahu bahwa film tersebut bagian dari upaya saya mengangkat pesona M. Kasim.

Kumpulan cerpen pertama M. Kasim adalah “Teman Duduk” yang terbit tahun 1936, sekaligus sebagai Kumpulan Cerpen Pertama di Indonesia yang diterbitkan Balai Pustaka. Tetapi sebelumnya, M. Kasim sudah menulis novel “Muda Teruna” (1922), Si Samin (1924) yang memenangkan naskah Sayembara Buku Anak-Anak di Balai Pustaka. Kumpulan cerpen lainnya adalah “Bertengkar Berbisik”, “Bual di Kedai Kopi”, dan “Dja Binuang Pergi Berburu”. Beliau juga menulis naskah terjemahan, seperti Niki Bahtera (karya CJ Kieviet, 1920) dan Pangeran Hindi (karya Lewis Wallace, 1931). Cepern-cerpen lainya banyak dimuat di Majalah Pandji Pustaka (1929-1945) dan Pandji Masjarakat (setelah merdeka) yang terbit sebelum merdeka.

Karakter karya-karya M. Kasim banyak bersifat homur dan pendidikan dunia anak-anak. Itu kebalikan dari sastrawan Angkatan 20-an sezamannya yang banyak menulis roman dewasa. Mungkin karena kuatnya pengaruh roman dewasa, maka M. Kasim tidak begitu dikenal secara luas, dibadingkan dengan “Siti Nurbaya”, “Sengsara Membawa Nikmat”, dan “Salah Asuhan” yang diangkat menjadi film oleh TVRI ketika itu.

Tentu bukan hanya M. Kasim yang mewakili sastrawan besar dari Mandailing Natal. Ada Suman Hs yang menjadi murid M. Kasim di Kotanopan, ada Mochtar Lubis dari Muara Soro, Kotanopan.Selain tentu Sutan Takdir Alisjahbana yang lama di Natal.***

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Puluhan Sopir Anatra Trayek 03 Panyabungan-Kotanopan Mogok

    Puluhan Sopir Anatra Trayek 03 Panyabungan-Kotanopan Mogok

    • calendar_month Rabu, 17 Okt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Puluhan sopir angkutan pedesaan Anatra trayek 03 jurusan Panyabungan-Kotanopan-Muara Sipongi, melakukan aksi mogok, Selasa (16/10). Aksi mogon ini menyebabkan ratusan penumpang yang mempergunakan angkutan pedesaan, terlantar Informasi yang dihimpun di lapangan, aksi mogok ini di picu adanya pungutan liar yang di lakukan oleh para agen penumpang diluar pungutan resmi di terminal […]

  • Operasi Pasar di Tapian Sirisiri Sepi

    Operasi Pasar di Tapian Sirisiri Sepi

    • calendar_month Selasa, 21 Jun 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Biasanya pasar murah alias operasi pasar selalu diserbu kaum ibu. Tapi di Tapian Sirisiri justru sepi. Hingga pukul 14.15, Selasa (21/6/2016), jumlah penjualan beras masih sekitar 500 kg dari 7 ton yang disiapkan dalam operasi pasar yang dilaksanakan Pemkab Madina di Tapian Sirisiri. Sebelumnya, pihak Bagian Perekonomian Pemkab Madina menyatakan bahwa […]

  • Polres Madina Tangkap Suami Pembunuh Istri

    Polres Madina Tangkap Suami Pembunuh Istri

    • calendar_month Rabu, 9 Agt 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Polres Mandailing Natal berhasil menangkap D. Sitompul terduga pembunuh istrinya dan membuangnya ke dalam sumur. Pria berusia 45 tahun, warga Desa Janjimatogu Kecamatan Bukit Malintang, Mandailing Natal itu ditangap bersama anaknya DS Sitompul (19) di terminal bus Antar Kota Antar Provinsi Pekan Baru, Provinsi Riau, Rabu (9/8/2017). Kapolres Madina, AKBP […]

  • Swasembada Kedelai : Bentuk Egoisme Pemerintah

    Swasembada Kedelai : Bentuk Egoisme Pemerintah

    • calendar_month Senin, 2 Jul 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh : Josua Desmonda Simanjuntak Present Master Program in Faculty of Economics and Management, Department of Agribusiness Bogor Agricultural University, Bogor (Indonesia) Kementerian Pertanian melalui Menteri Pertanian, Amran Sulaiman megklaim bahwa Indonesia telah kembali berhasil melakukan swasembada beras pada tahun 2017, dimana hal ini terjadi terakhir kali pada tahun 1984. Selain beras, beliau juga […]

  • Banyak Desakan Produksi Film “Biola Namabugang 2”

    Banyak Desakan Produksi Film “Biola Namabugang 2”

    • calendar_month Sabtu, 18 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 5Komentar

    Film “Senandung Willeam” Butuh Setting Asli Tahun 1800-an Panyabungan (MO) – Sutradara film “Biola Na Mabugang”, Askolani Nasution, Jum’at (17/2) mengakui bahwa saat ini banyak desakan untuk lebih dulu meluncurkan film “Biola Namabugang II” dan membelakangkan produksi film film “Senandung Willeam”. Desakan itu berdasar banyaknya publik yang menunggu lanjutan kisah hidup Maliki dan Hanapi. Selain […]

  • Pendaftaran Yusuf Nasution-Imron Lubis Sah Menurut Undang-Undang

    Pendaftaran Yusuf Nasution-Imron Lubis Sah Menurut Undang-Undang

    • calendar_month Kamis, 13 Agt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pasangan bakal calon bupati/wakil bupati Madina Drs. HM. Yusuf Nasution,Msi – H. Imron Lubis,S.Pd.MM yang didaftarakan DPC Partai Hanura Madina dan PBB Madina pada tanggal 26 Juli 2015 ke KPU Madina sah menurut Undang-undang Nomor 08 Tahun 2015 dan Peraturan KPU Nomor 9 Tahun 2015 sebagai mana telah diubah dengan Peraturan […]

expand_less