Sabtu, 24 Okt 2026
light_mode

Aksara Mandailing Menyebar ke Toba

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 4 Nov 2017
  • print Cetak

 

Aksara Tulak-Tulak

Aksara Mandailing dikenal dengan aksara Tulak-Tulak. Aksara ini merupakan metamorfosa dari huruf Pallawa.

Berdasar penelitian para ahli sejarah dan antropolog, Aksara Tulak-Tulak ini menyebar dari selatan (Mandailing) kea rah utara (Toba).

Harry Parkin dalam “Batak Fruit of Hindu Thought”, (1978:101) menyimpulkan, bahwa ”aksara tersebut masuk ke daerah Toba dari Mandailing. Dari Toba jalan yang dilaluinya bercabang dua mengelilingi danau, satu cabang bergerak memasuki Simalungun, dan cabang yang satu lagi memasuki Dairi, dan dari sana masuk pula ke Karo. Hal ini terjadi secara bertahap dan alamiah…”.

Sementara itu, Prof. Dr. Uli Kozok dari University of Hawai’I, dalam “Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak, Berikut Pedoman Menulis Aksara Batak dan Cap Si Singamangaraja XII” (Jakarta 2009: École française d’Extrême-Orient, Kepustakaan Populer Gramedia), menyebutkan aksara di kawasan Tapanuli mula-mula ada di Mandailing.

Kesimpulan itu berdasarkan perbandingan dan analisa nama-nama huruf diakritik oleh Uli Kozok.

Pakar sejarah dan sastra Sumut, Z Pangaduan Lubis dalam artikel “Sekilas Budaya Mandailing” menyebutkan orang Mandailing memiliki aksara etnisnya sendiri yang dinamakan surat tulak-tulak. Meskipun masyarakat Mandailing memiliki aksara tetapi boleh dikatakan aksara tersebut pada masa lalu tidak dipergunakan untuk mencatat atau menulis sejarah. Kalaupun aksara etnis tersebut dipergunakan buat menuliskan hal-hal yang berhubungan dengan masa lalu, ia hanya dipergunakan menuliskan tarombo (silsilah keluarga). Selain itu lebih banyak dipergunakan buat mencatat ilmu pengobatan tradisional dan ilmu peramalan dalam kitab tradisional yang disebut pustaha.

Oleh karena itu hingga sekarang tidak ditemukan catatan sejarah Mandailing yang dituliskan dengan surat tulak-tulak.

Di Mandailing surat tulak-tulak dipergunakan untuk menulis pustaha. Ada pustaha yang terbuat dari kulit kayu atau lak-lak yang dilipat-lipat, dan ada juga yang terbuat dari satu ruas atau beberapa ruas bambu. Pustaha yang terbuat dari kulit kayu yang dilipat-lipat biasanya berisi mantra-mantra dan cara-cara penyembuhan tradisional. Selain itu ada juga yang berisi ilmu perbintangan (semacam ilmu astrologi), ilmu meramal, dan ilmu-ilmu gaib. Sedangkan pustaha yang terbuat dari bambu satu ruas atau lebih, biasanya berisi tarombo atau silsilah keluarga.

Menurut Harry Parkin, dalam bukunya yang berjudul Batak Fruit of Hindu Thought (1978:102), bahwa tanggal yang tercatat sebagai tanggal pertama kali pustaha didapat seorang kolektor merupakan satu-satunya bukti mengenai usia pustaha. Pada 18 Mei 1746, Alexander Hall menyerahkan satu pustaha kepada British Museum. Itulah pustaha tertua yang pernah dikenal. Dalam buku yang sama Harry Parkin juga menjelaskan bahwa gaya bahasa yang digunakan dalam menulis pustaha dinamakan hata ni poda (ragam bahasa nasehat). Hal ini berarti semua pustaha (yang dimiliki berbagai kelompok etnis di Sumatera Utara, seperti Mandailing, Angkola, Toba, Simalungun, Karo, dan Pakpak) menggunakan gaya bahasa yang serupa.

Gaya bahasa tersebut, menurut Voarhoeve, adalah satu ragam bahasa kuno dari Selatan (Mandailing). Pustaha dari daerah lain, seperti Toba, Simalungun, Karo, dan Fakfak, tidak ditulis dengan bahasa yang murni kelompok-kelompok etnis tersebut, tetapi ditulis dengan ragam hata poda yang dicampur dengan bahasa etnis yang bersangkutan.

Fakta yang demikian ini mendukung kesimpulan yang diperoleh sebagai hasil perbandingan tulisan-tulisan dari berbagai idiom bahwa bahasa yang dipergunakan untuk menulis pustaha mendapatkan aksaranya dari Selatan (Mandailing). Ragam bahasa poda terkait dengan ilmu-ilmu gaib para datu ini menghadirkan berbagai problema linguistik. Masing-masing datu mempunyai jargon atau sistem singkatan bahasanya sendiri. Masing-masing ilmu gaib mempunyai terminologinya sendiri yang tidak digunakan dalam bahasa sehari-hari, sehingga tidak dipahami secara umum. Biasanya hanya datu yang bertanggungjawab atas penulisan pustaha, dan yang dapat memberikan suatu penjelasan yang penuh dan jelas tentang isi pustaha.

Suatu perbandingan mengenai aksara yang punya persamaan yang digunakan untuk menulis pustaha, bersama dengan fakta bahwa bahasa poda merupakan ragam bahasa kuno dari Selatan (Mandailing) memberikan petunjuk satu pola perkembangan dari Selatan ke arah Utara. Isi pustaha menunjukkan rasa tertarik yang jelas terhadap konsep megicoriligious (konsep sihir-religius).

Harry Parkin (1978:101) menambahkan, bahwa ”aksara tersebut masuk ke daerah Toba dari Mandailing. Dari Toba jalan yang dilaluinya bercabang dua mengelilingi danau, satu cabang bergerak memasuki Simalungun, dan cabang yang satu lagi memasuki Dairi, dan dari sana masuk pula ke Karo. Hal ini terjadi secara bertahap dan alamiah…”. Sedangkan sarjana Barat lain yaitu Uli Kozok dalam bukunya Warisan Leluhur, Sastra dan Aksara Batak (1999:61-79) juga menggambarkan persebaran surat tulak-tulak dari Mandailing ke Utara (sebagaimana yang digambarkan dalam sebuah peta).

Kalau penggunaan aksara surat tulak-tulak dipakai sebagai pertanda jaman sejarah di Mandailing, kita juga belum tahu sama sekali kapan waktunya warga Mandailing menggunakan aksara etnis tersebut. Itu berarti bahwa kita tidak tahu kapan mulai warga Mandailing mengawali jaman sejarahnya.

Barangkali tidak salah kalau sejarah Mandailing kita bicarakan dengan mengawalinya dengan jaman Hindu di Indonesia atau jaman Hindu di Mandailing. Karena kita tahu bangsa Hindu yang datang ke Indonesia termasuk Mandailing mempunyai aksara. Dalam hubungan ini ada beberapa pendapat (teori) yang mengatakan bahwa aksara-aksara etnis yang terdapat di Nusantara ini termasuk surat tulak-tulak berasal dari aksara Hindu yang disebut aksara Pallawa, Dewa Nagari dan Kala Nagari.

Kalau pendapat ini kita terima maka dapatlah kita katakan bahwa jaman sejarah di Mandailing mulai dari awal abad Masehi. Karena pada masa itulah orang Hindu dari India mulai masuk ke Mandailing antara abad pertama dan abad kelima Masehi. Sebab pada abad ke 2 Masehi orang Hindu dari India mulai sibuk mencari emas karena pasokan emas ke India pada waktu itu mulai terhenti akibat terjadinya kerusuhan besar di Asia Tengah akibat terjadinya penyerbuan bangsa Tar Tar dan bangsa Hun serta bangsa Mongol.

Kita tahu bahwa bangsa Hindu menyebut pulau Sumatera: Swarna Dwipa (Pulau Emas) yang menjadi tujuan orang Hindu dari India pada waktu mereka berusaha mencari emas. Di pulau Sumatera wilayah Mandailing (yang pada masa dahulu termasuk di dalamnya kawasan Pasaman) kaya dengan emas. Dari zaman dahulu sampai sekarang, Mandailing dinamakan Tano Rura Mandailing, Tano Omas Sigumorsing yang berarti Tanah Emas.***

 

Editor : Dahlan Batubara

 

Sumber :

Pangaduan Lubis : “Pelestarian Warisan Buadaya Mandailing”, 1998

Pangaduan Lubis : “Sekilas Budaya Mandailing”

Prof. Dr. Uli Kozok “Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak, Berikut Pedoman Menulis Aksara Batak dan Cap Si Singamangaraja XII” (Jakarta 2009: École française d’Extrême-Orient, Kepustakaan Populer Gramedia).

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Komisi I DPRD Madina Gagal Sidak ke PT.TBS

    Komisi I DPRD Madina Gagal Sidak ke PT.TBS

    • calendar_month Sabtu, 9 Nov 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        NATAL (Mandailing Online) – Komisi I DPRD Madina gagal menjalankan tugas Sidak di lokasi PT. Tri Bahtera Srikandi di Sikara-kara, Natal, Sabtu (9/11/2019). Rombongan Komisi I yang melakukan inspeksi mendadak (sidak) itu meliputi Asmaruddin Nasution, Ishar Helmi dan H. Amdani serta didampingi pejabat sekretariat Komisi I, Adi. Asmaruddin Nasution menjawab Mandailing Online menyatakan […]

  • Pemberhentian Kepsek SD Sirangkap Sesuai Peraturan

    Pemberhentian Kepsek SD Sirangkap Sesuai Peraturan

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Mandailing Natal (Madina), Syafaruddin Nasution mengatakan bahwa pengangkatan dan pemberhentian kepala sekolah di Madina beberapa waktu lalu sudah sesuai dengan peraturan yang berlaku. Itu dikatakannya di ruang Komisi I DPRD Madina, Senin (6/4) terkait adanya protes sejumlah warga dan komite sekolah atas pemberhentian Dorima, […]

  • Infrasruktur jalan Muara Batang Gadis memprihatinkan

    Infrasruktur jalan Muara Batang Gadis memprihatinkan

    • calendar_month Senin, 9 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    PANYABUNGAN – Kondisi infrasruktur jalan dan jembatan yang ada di Kecamatan Muara Batang Gadis sampai saat ini masih buruk dan memperihatinkan dengan meliputi akses jalan ke Desa Suka Makmur, Aek Godang, Panunggulan dan beberapa desa lainnya. “Untuk alternatif lainnya menuju desa itu jika musim hujan melalui sungai menggunakan perahu bot jenis robin dengan ongkos Rp.50 […]

  • Banyak korupsi di Pemkab Madina

    Banyak korupsi di Pemkab Madina

    • calendar_month Minggu, 5 Sep 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Banyak kasus dugaan korupsi ditubuh Kabupaten Madina ditemukan Badan Pemeriksaan Keuangan RI. Kasus ini, seharusnya ditindaklanjuti oleh para anggota DPRD Madina, seperti halnya dugaan korupsi proyek pembangunan. Seorang aktivis LSM Putra Bangsa Madina, Abdul Waris Ray kepada Waspada Online, tadi sore mengungkapkan, ” Temuan dugaan korupsi di Pemkab Madina oleh BPK RI, pada anggaran 2009 […]

  • Atika Tokoh Milenial Harapan Penerobos Ekonomi Madina

    Atika Tokoh Milenial Harapan Penerobos Ekonomi Madina

    • calendar_month Rabu, 22 Apr 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Catatan : Dahlan Batubara Pemimpin muda itu agresif, penerobos. Bahkan dobrakan kebijakannya sangat deras. Itulah jika pemimpin diangkat dari kalangan muda. Dari kaum milenial. Pemimpin demikian sangat dibutuhkan menggerakkan pemerintahan daerah. Di era yang serba akurat, era dimana energi gebrakan kebijakan harus deras agar suatu daerah mampu berpacu menerobos dinamika tuntutan ekonomi globalisasi, digitalisasi, di […]

  • Dukung Program KT Panyabungan Barat, Tokoh Al Washliyah Donasi Quran

    Dukung Program KT Panyabungan Barat, Tokoh Al Washliyah Donasi Quran

    • calendar_month Rabu, 24 Nov 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sebagai bentuk dukungan program Karang Taruna (KT) Panyabungan Barat, Tokoh Al Washliyah Mukhtar Nasution donasikan Al Quran pada Rabu (24/11). Nasution yang dijumpai di kediamannya, Jl. Bermula Panyabungan, menyampaikan, di tengah merosotnya moral dan akhlak, program Tabur 100 Quran yang digagas KT Panyabungan Barat sangat positif. “Kegiatan yang dipelopori Karang Taruna […]

expand_less