Jumat, 21 Agu 2026
light_mode

Merebut Kedaulatan SDA dari Cengkeraman Oligarki Asing

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Muhammad Ludfan Nasution

 

Catatan Pengantar

Tulisan ini merupakan olahan dari diskusi panjang di grup WhatsApp @Satgas Pembentukan Sumteng yang diikuti antara lain @Ongku P Hasibuan, @Zainuddin Jr Lubis dan Kali Raja Harahap.

Topiknya mengangkat kritik struktural terhadap pengelolaan sumber daya alam (SDA) dan arah kebijakan politik ekonomi Indonesia.

Indonesia memang kaya raya SDA. Tapi, lemah kendali. Nyaris tak berdaya mengambil manfaat terbesarnya. Bangsa ini butuh gagasan progresif.

Di atas kertas, negeri ini berdiri di atas fondasi konstitusi yang tegas: SDA (Sumber Daya Alam) dikuasai negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Namun dalam praktiknya, kendali itu perlahan bergeser — bukan hilang secara formal, tetapi terkikis dan lemah secara struktural.
Dan di titik inilah perdebatan tentang “oligarki” menjadi relevan, meski sering disederhanakan dan nyaris dianggap normal.

 

Dari Negara Penguasa ke Negara Pemberi Izin

Dalam praktik ekonomi modern Indonesia, negara lebih sering tampil sebagai regulator dan pemberi konsesi, bukan sebagai pengendali utama dalam rantai nilai SDA.
Pengelolaan hutan dapat izin. Penguasaan tambang pun dapat restu. Produksi energi berlangsung di atas izin.

Semua berjalan dalam kerangka hukum. Tetapi hasil akhirnya membentuk pola yang berulang:
• kontrol terkonsentrasi,
• kepemilikan samar dalam struktur korporasi berlapis, dan
• negara berada satu langkah di belakang pengambilan nilai.
Ini bukan semata soal pelanggaran, tetapi soal desain sistem yang terlalu permisif terhadap konsentrasi kekuasaan ekonomi.

“Asing” yang Tidak Selalu Asing

Istilah “oligarki asing” sering memancing debat. Dan memang perlu kehati-hatian.
Dalam banyak kasus, yang tampak sebagai investasi asing tidak selalu berarti modal baru dari luar negeri. Ada pola yang lebih kompleks:
• modal domestik keluar,
• diparkir di yurisdiksi luar,
• lalu kembali sebagai investasi asing.
Di sisi lain, tentu juga ada investasi asing riil yang membawa teknologi dan modal baru.
Masalahnya bukan pada label “asing”, tetapi pada:
• siapa pengendali sebenarnya,
• di mana nilai tambah berhenti, dan
• kemana keuntungan mengalir.
Jika jawaban dari tiga pertanyaan itu tidak berpihak pada kepentingan nasional, maka istilah “kedaulatan ekonomi” memang layak dipertanyakan.

Hulu Kepegang, Hilir Menggelepar

Struktur ekonomi SDA Indonesia selama ini menunjukkan ketimpangan klasik:
• sektor hulu (ekstraksi) sangat kuat secara kapital,
• sektor hilir (industri pengolahan) tertinggal atau bergantung.

Akibatnya:
• ekspor bahan mentah tetap dominan,
• nilai tambah dinikmati di luar atau oleh segelintir pelaku,
• lapangan kerja berkualitas tidak berkembang optimal.

Dalam kondisi hilir yang menggelepar seperti ini, perebutan kendali hulu menjadi krusial — bukan untuk menutup diri, tetapi untuk menentukan arah industrialisasi.

Masalah Utama Bukan Investor, Tapi Posisi Negara

Penting untuk ditegaskan: ini bukan seruan anti-investor. Justru sebaliknya — investasi tetap dibutuhkan.
Namun, dalam struktur yang ada sekarang, posisi negara terlalu lemah:
• negara mengatur,
• swasta mengendalikan operasi,
• dan nilai ekonomi terbesar tidak berada di tangan negara (publik).
Yang perlu diubah adalah posisi tawar negara dalam keseluruhan rantai ekonomi, terutama di sektor hulu.

Merebut Kembali: Bukan Mundur, Tapi Menata Ulang

“Merebut kembali kedaulatan SDA” tidak berarti menutup diri dari dunia luar. Itu berarti menata ulang siapa mengendalikan apa.

Beberapa langkah yang bisa menjadi arah:
1. Negara sebagai pengendali hulu.
Melalui BUMN/BUMD atau skema kepemilikan mayoritas, negara harus kembali menjadi aktor utama di sektor strategis.
2. Swasta difokuskan ke hilir.
Investasi diarahkan ke industri pengolahan, manufaktur dan inovasi berbasis SDA.
3. Transparansi kepemilikan.
Mengurai struktur korporasi berlapis untuk memastikan kontrol ekonomi tidak tersembunyi.
4. Reformasi kebijakan devisa.
Arus modal dikelola agar tidak hanya mengalir keluar, tetapi memperkuat pembiayaan domestik.
5. Peran daerah diperkuat.
BUMD tidak hanya simbol, tetapi bagian dari kepemilikan riil ekonomi SDA.

Penutup: Kedaulatan Itu Soal Kendali, Bukan Sekadar Kepemilikan

Kedaulatan ekonomi tidak ditentukan oleh siapa yang tercatat di atas kertas, tetapi oleh siapa yang mengendalikan keputusan strategis.

Selama negara hanya menjadi pemberi izin, maka kekayaan alam akan tetap menjadi ironi: melimpah di tanah, tetapi manfaat ekonominya justru tumpah ke tangan “asing”.

Pertanyaan akhirnya sederhana, tapi menentukan:
Apakah kita ingin terus menjadi tuan rumah yang menyewakan tanahnya dengan harga murah, atau menjadi pengelola yang menentukan arah masa depannya sendiri demi kemakmuran segenap rakyat?

*Muhammad Ludfan Nasution adalah Jurnalis Freelance, Anggota DPRD Madina 2014-2019 dan Ketua Imatapsel Jakarta 1994-1996.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Syamsul Kena Serangan Jantung

    Syamsul Kena Serangan Jantung

    • calendar_month Selasa, 31 Mei 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Dirawat di RS Jantung Harapan Kita JAKARTA- Gubernur Sumut nonaktif, Syamsul Arifin, dirawat di Rumah Sakit (RS) Jantung Harapan Kita, Jakarta Barat. Serangan jantung mendadak pada Jumat (27/5) siang, memaksa Syamsul harus mendapat perawatan intensif di rumah sakit terbesar khusus jantung itu. Hingga tadi malam, kondisi Syamsul masih dalam pantauan tim dokter dibawah kendali dr […]

  • DPRD Akan Tangani Kasus BOS

    DPRD Akan Tangani Kasus BOS

    • calendar_month Rabu, 25 Jul 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    PANYABUNGAN (MO) – Sekretaris Komisi 1 DPRD Mandailing Natal (Madina) Iskandar Hasibuan mengungkapkan pihaknya akan memanggil para kepala sekolah SD, SMP, SMA/SMK, manager BOS, Kepala Dinas Pendidikan dan jajarannya. Pemanggilan itu terkait mencuatnya kasus-kasus penyalahgunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di sekolah-sekolah di Madina. “Paling lambat akhir bulan Juli 2012 ini Pimpinan DPRD akan memanggil […]

  • Puluhan Tahun Mencari Keluarga, Bertemu di Huta Pungkut Julu

    Puluhan Tahun Mencari Keluarga, Bertemu di Huta Pungkut Julu

    • calendar_month Selasa, 29 Sep 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Alhamdulilah,kegiatan menelusuri dan melacak lokasi kampung dan keturunan keluarga pak Samsudin Ismail Lubis di tanah leluhurnya Mandailing telah berhasil pada hari Jum’at 25 September 2015 di Desa Huta Pungkut Julu Kecamatan Ulu Pungkut, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Kegiatan penelusuran keturunan keluarga ini diselenggarakan oleh IMAMI (Ikatan Mandailing Malaysia Indonesia). Di Malaysia diorganisir oleh IMAMI Indonesia, […]

  • Tak Berkategori

    Kemendagri: E-KTP Boleh Difotokopi

    • calendar_month Jumat, 17 Mei 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      JAKARTA, — Direktur Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil Kementerian Dalam Negeri Irman mengatakan, kartu tanda penduduk elektronik atau e-KTP boleh difotokopi. Menurut Irman, cip dalam e-KTP itu tak akan rusak bila difotokopi. “Tidak ada masalah kalau difotokopi dan tidak ada larangan bagi masyarakat untuk memfotokopi,” kata Irman seusai rapat bersama Komisi V di Gedung […]

  • Srikandi PP Madina Gelar Muscab

    Srikandi PP Madina Gelar Muscab

    • calendar_month Kamis, 24 Mar 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Srikandi Pemuda Pancasila Cabang Mandailing Natal (Madina) menggelar Musyawarah Cabang (Muscab) I di aula hotel Payaloting, Sigalapang, Panyabungan, pada Kamis (24/3). Muscab yang mengangkat tema “Re-aktualsasi Peran dan Eksistensi Srikandi Pemuda Pancasila, Mengukuhkan Kiblat Pergerakan Kaum Perempuan” ini dihadiri secara langsung oleh Ketua DPW Srikandi PP Sumut Rosda, SE dan beberapa […]

  • Percepatan Pembangunan Madina dengan Memperkuat Daya Saing Daerah

    Percepatan Pembangunan Madina dengan Memperkuat Daya Saing Daerah

    • calendar_month Kamis, 28 Feb 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    14 tahun Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dimekarkan dari kabupaten induk, Tapanuli Selatan (Tapsel), bukanlah usia yang muda. Jika diibaratkan manusia, sudah memasuki usia remaja. Pada usia ini, sudah mulai paham bagaimana menggapai suatu cita-cita. Nah, bila ini sebuah daerah, berarti seyogianya juga mampu mewujudkan kesejahteraan daerah itu sendiri. Maka dari itu, sudah barang tentu jika […]

expand_less