Kamis, 9 Jul 2026
light_mode

Willem Iskandar dan Kweekschool Tanobato: Pelopor Pendidikan Guru Rakyat di Indonesia

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 24 Jun 2026
  • print Cetak

Oleh: Rahmat Zubarkah Nasution
Penggiat di Gerep Institute (Pusat Kajian Mandailing Natal)

 

Pendahuluan

Ketika berbicara tentang sejarah pendidikan Indonesia, nama Ki Hajar Dewantara hampir selalu menjadi rujukan utama. Namun, jauh sebelum lahirnya Taman Siswa pada tahun 1922, di sebuah desa kecil di Mandailing telah berdiri sebuah lembaga pendidikan yang memiliki peran penting dalam mencerdaskan masyarakat bumiputra.

Lembaga itu adalah Kweekschool Tanobato yang didirikan oleh Willem Iskander pada tahun 1862.

Dalam historiografi nasional, Willem Iskander belum memperoleh perhatian yang sebanding dengan besarnya kontribusi yang ia berikan. Padahal, melalui Kweekschool Tanobato, ia telah memperkenalkan gagasan pendidikan rakyat, pengembangan guru pribumi, dan penggunaan budaya lokal sebagai sarana pembelajaran jauh sebelum gagasan pendidikan nasional berkembang pada awal abad ke-20.

Willem Iskander dan Gagasan Kemajuan Melalui Pendidikan

Willem Iskander lahir dengan nama Sati Nasution pada tahun 1840 di Mandailing. Pada masa ketika pendidikan masih menjadi hak istimewa kelompok tertentu, ia telah memiliki keyakinan bahwa kemajuan masyarakat hanya dapat dicapai melalui pendidikan.

Pengalaman belajar di Belanda membuka cakrawala berpikirnya mengenai pentingnya pendidikan bagi rakyat. Namun, berbeda dengan banyak tokoh pada zamannya yang memilih berkarier dalam birokrasi kolonial, Willem Iskander justru kembali ke tanah kelahirannya dengan cita-cita besar: mencerdaskan masyarakat melalui pendidikan.

Baginya, pendidikan bukan sekadar sarana memperoleh pengetahuan, melainkan jalan untuk mengangkat martabat masyarakat dan membangun masa depan bangsa.

Berdirinya Kweekschool Tanobato

Pada tahun 1862, Willem Iskander mendirikan Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzers atau Sekolah Guru Bumiputra di Tanobato, Mandailing. Sekolah ini dikenal luas sebagai Kweekschool Tanobato.

Keberadaan sekolah ini memiliki arti penting karena didirikan pada masa ketika akses pendidikan bagi masyarakat pribumi masih sangat terbatas. Meskipun sebelumnya telah berdiri sekolah guru di Surakarta dan Fort de Kock (Bukittinggi), lembaga-lembaga tersebut pada umumnya lebih dekat dengan kalangan elite dan bangsawan.

Sebaliknya, Kweekschool Tanobato hadir dengan semangat yang berbeda. Sekolah ini membuka kesempatan bagi masyarakat bumiputra untuk memperoleh pendidikan dan menjadi guru.

Inilah yang membuat banyak peneliti pendidikan menempatkan Kweekschool Tanobato sebagai salah satu pelopor pendidikan guru rakyat di Indonesia.

Keunggulan Kweekschool Tanobato

Terdapat beberapa alasan mengapa Kweekschool Tanobato memiliki posisi yang sangat penting dalam sejarah pendidikan Indonesia.

1. Pendidikan untuk Rakyat.

Sekolah ini tidak dibangun semata-mata untuk melayani kebutuhan birokrasi kolonial, melainkan untuk menciptakan tenaga pendidik yang dapat mengembangkan masyarakat di daerahnya masing-masing.

Semangat pemerataan pendidikan sudah terlihat jelas dalam gagasan yang dibangun Willem Iskander.

2. Mencetak Guru Pribumi

Fokus utama Kweekschool Tanobato adalah melahirkan guru-guru bumiputra yang mampu mengajar masyarakatnya sendiri.

Pada abad ke-19, gagasan ini sangat maju. Willem Iskander memahami bahwa pendidikan tidak akan berkembang tanpa kehadiran guru yang berasal dari lingkungan masyarakat itu sendiri.

3. Menggunakan Pendekatan Budaya Lokal

Salah satu keunikan Kweekschool Tanobato adalah penggunaan bahasa dan budaya Mandailing sebagai bagian dari proses pembelajaran.

Willem Iskander menyadari bahwa pendidikan akan lebih mudah diterima apabila dekat dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, ia menulis berbagai bahan bacaan dalam bahasa Mandailing, termasuk karya terkenalnya Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa modernisasi pendidikan tidak harus menghilangkan identitas budaya lokal.

4. Menyebarkan Pendidikan ke Berbagai Daerah

Lulusan Kweekschool Tanobato kemudian menjadi guru di berbagai wilayah Sumatra dan Tapanuli.

Pengaruh sekolah ini tidak hanya terbatas di Tanobato, melainkan menyebar melalui para alumninya yang menjadi agen perubahan sosial di masyarakat.

Willem Iskander dan Ki Hajar Dewantara: Dua Tokoh, Dua Kontribusi Besar

Dalam berbagai diskusi sering muncul pertanyaan: apakah kontribusi Willem Iskander lebih besar daripada Ki Hajar Dewantara?

Secara akademis, pertanyaan tersebut kurang tepat. Kedua tokoh hidup pada periode yang berbeda dan menghadapi tantangan yang berbeda pula.

Willem Iskander adalah pelopor pendidikan guru pribumi pertama pada pertengahan abad ke-19. Ia membangun fondasi awal bagi lahirnya tenaga pendidik bumiputra.

Sementara itu, Ki Hajar Dewantara pada abad ke-20 mengembangkan filosofi pendidikan nasional dan membangun gerakan pendidikan yang memiliki dampak luas terhadap bangsa Indonesia.

Karena itu, keduanya tidak perlu dipertentangkan.

Apabila Ki Hajar Dewantara dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, maka Willem Iskander layak dikenang sebagai salah satu pelopor pendidikan guru rakyat Indonesia.

Mengapa Willem Iskander Layak Mendapat Pengakuan Lebih Besar?

Terdapat beberapa argumentasi akademik yang dapat diajukan.

1. Willem Iskander merupakan tokoh pendidikan bumiputra yang bekerja jauh sebelum munculnya gerakan kebangsaan Indonesia.
2. Willem Iskandar berhasil mendirikan lembaga pendidikan guru yang berorientasi pada masyarakat luas.
3. Willem Iskandar memadukan pendidikan modern dengan nilai-nilai budaya lokal.
4. Gagasan dan praktik pendidikannya memberikan dampak nyata melalui lahirnya guru-guru pribumi yang menyebarkan pendidikan ke berbagai daerah.
5. kontribusinya selama ini relatif kurang dikenal dalam narasi besar sejarah pendidikan Indonesia.

Atas dasar itulah, banyak kalangan menilai bahwa Willem Iskander layak memperoleh pengakuan yang lebih luas dalam sejarah nasional.

Penutup

Kweekschool Tanobato bukan sekadar sekolah yang berdiri di sebuah desa kecil di Mandailing pada tahun 1862. Sekolah ini merupakan simbol lahirnya kesadaran bahwa kemajuan masyarakat harus dimulai dari pendidikan dan bahwa guru merupakan kunci utama perubahan sosial.

Melalui Kweekschool Tanobato, Willem Iskander telah menunjukkan bahwa pendidikan rakyat bukanlah gagasan baru yang muncul pada abad ke-20. Gagasan tersebut telah diperjuangkan sejak pertengahan abad ke-19 oleh seorang putra Mandailing yang percaya bahwa masa depan bangsanya hanya dapat dibangun melalui ilmu pengetahuan.

Maka dalam sejarah pendidikan Indonesia, Willem Iskander tidak hanya layak dikenang sebagai tokoh daerah Mandailing. Ia layak ditempatkan sebagai salah satu pelopor pendidikan guru pribumi dan pendidikan rakyat Indonesia yang kontribusinya mendahului banyak perkembangan pendidikan nasional pada masa-masa berikutnya.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mualaf Sebarkan Kebaikan Islam Hingga Pelosok Nusantara

    Mualaf Sebarkan Kebaikan Islam Hingga Pelosok Nusantara

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    BEKASI – Pesantren Al-Fatih Kaffah Nuu Waar (AFKN) kedatangan dua anggota keluarga baru. Mereka adalah Muhammad Al Fatih (9 tahun) dan Sahrul Gunawan (10 tahun). Keduanya memantapkan hati menjadi Muslim dan mendalami ajaran Islam dibawah bimbingan Ustaz Fadzlan Gharamatan. "Cita-cita saya ingin menjadi penghafal Alquran," kata Al-Fatih dengan semangat. Al-Fatih berasal dari daerah pedalaman Papua […]

  • Nilai Pendidikan dan Kader Dalam Rekrutmen Politik

    Nilai Pendidikan dan Kader Dalam Rekrutmen Politik

    • calendar_month Rabu, 9 Mei 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    oleh:  Dr. M. Daud Batubara, MSi Penyortiran atau penarikan undian, dikenal sebagai bentuk rekruitmenpolitik paling tua dengan tujuan mencegah dominasi jabatan dari posisiberkuasa oleh kelompok atau individu tertentu. Demikian juga Rotasihampir sama dengan tujuan bentuk ini. Dikenal pula dua cara khusus dalam sistem perekrutan politik yaitu seleksi pemilihan yakni melalui ujian khusus dan latihan.  Meski […]

  • “Adakah Karakter Pancasila?” (2-selesai)

    “Adakah Karakter Pancasila?” (2-selesai)

    • calendar_month Jumat, 27 Des 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Dr Adian Husaini KONSEP TAUHID Seharusnya, bangsa Indonesia mau belajar dari kegagalan Orde Baru dalam upaya penempatan Pancasila sebagai pedoman amal. Upaya pemerintah Orde Baru untuk menempatkan Pancasila menjadi landasan moral dilakukan melalui sosialisasi dan indoktrinasi Pendidikan Moral Pancasila (PMP) dan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Tahun 1978, Partai Persatuan Pembangunan menolak pengesahan […]

  • Sidik: “Ibu dan Anak Tewas di Tangan Perampok”

    Sidik: “Ibu dan Anak Tewas di Tangan Perampok”

    • calendar_month Senin, 20 Sep 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Kasus perampokan berujung maut terjadi di Mandailing Natal, Sumatera Utara. Seorang Ibu dan Anak ditemukan tewas mengenaskan pada minggu petang di rumahnya dalam kondisi bersimbah darah. Jenazah Sakinah Rangkuti (81) dan Anaknya Halimun (54) langsung di bawa ke kamar Jenazah RSUD Panyabungan untuk diotopsi. Hasil otopsi menunjukkan kedua korban tewas akibat senjata tajam. Pembunuhan ini […]

  • Gempa 5,5 SR Guncang Sidimpuan Sekitarnya

    Gempa 5,5 SR Guncang Sidimpuan Sekitarnya

    • calendar_month Jumat, 14 Jul 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIDIMPUAN (Mandailing Online) – Gempa mengguncang wilayah Kota Sidimpuan, juga dirasakan di Tapanuli Selatan dan Padang Lawas Utara, Jum’at (14/7/2017). Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)  dalam laporan di situs www.bmkg.go.id, gempa sempat mengguncang sebanyak 3 kali dalam kekuatan dan waktu yang berbeda. Gempa pertama terjadi sekira pukul 08:25:16 WIB berkekuatan 5.5 Scala Rihcer (SR) […]

  • Ini Putusan Bawaslu Terkait Sengketa PAN dan KPU

    Ini Putusan Bawaslu Terkait Sengketa PAN dan KPU

    • calendar_month Kamis, 11 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Jakarta – Kisruh sengketa pemilu antara Komisi Pengawasan Pemilu (KPU) dan Partai Amanat Nasional (PAN) mencapai titik terang. Badan Pengawas Pemilu memberikan keputusan caleg PAN Dapil Sumbar I masih dapat mengikuti penyelenggaraan Pemilu 2014, namun dengan sejumlah pengorbanan. “PAN harus mencoret nama caleg atas nama Silviana karena tidak memenuhi syarat administrasi,” ujar Komisioner KPU Ida […]

expand_less