Senin, 5 Okt 2026
light_mode

Madina dalam Paradoks Literasi: Uang Jadi “Tuhan”, Ilmuan Tanpa Kebijaksanaan

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 24 Jun 2026
  • print Cetak

Tanggapan terhadap artikel Moechtar Nasution judul “Anomali Empat Koma: Sati Nasution dan Peta Jalan Baru Inklusi Sosial Jaringan Kreatif Muda Madina“yang terbit di Mandailing Online edisi Selasa (12/6/2026)

 

Oleh: Muhammad Ludfan Nasution, S.Sos
Penggiat di Mandailing Epicentrum*

 

Ada angka yang tidak gaduh, tidak viral, tidak pula menjadi bahan perdebatan hangat di ruang publik. Namun justru karena diam itulah ia terasa lebih mengganggu.

Angka itu adalah 4,7500.
Itulah yang juga disebut Bung Moechtar Nasution sebagai skor Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kabupaten Mandailing Natal tahun 2025.

Di atas kertas, skor itu tampak seperti data biasa. Tetapi di balik angka itu tersembunyi pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar urusan perpustakaan atau jumlah buku: Bagaimana sebenarnya cara kita memandang pengetahuan, berpikir, dan menjalani hidup?

Sebab literasi tidak pernah berhenti pada kemampuan membaca huruf. Buku juga menjadi cara manusia memahami dunia. Cara manusia menafsirkan masalah. Membedakan fakta dan ilusi.

Dan pada akhirnya, literasi menjadi cara manusia menentukan arah hidupnya sendiri.

Jika kita jujur melihat keseharian, ada pergeseran yang perlahan tetapi nyata.

Pertanyaan yang dulu menempatkan ilmu sebagai ukuran mulai tergeser oleh ukuran lain yang lebih sederhana:

“Kerjanya apa?”

“Penghasilannya berapa?”

“Sudah punya apa?”

Pertanyaan tentang apa yang dipahami, apa yang dibaca, apa yang dipelajari, semakin jarang terdengar sebagai ukuran keberhasilan.

Pelan-pelan, tanpa kita sadari, lahirlah logika sosial baru:

Tak perlu terlalu banyak berpikir, yang penting cukup uangnya.

Tak perlu terlalu banyak membaca, yang penting cukup hidupnya.

Tak perlu terlalu banyak tahu, yang penting cukup jalannya.

Puluhan tahun lalu, Erich Fromm dalam To Have or To Be? sudah mengingatkan dunia tentang pergeseran besar ini.

Manusia modern, katanya, semakin terjebak dalam orientasi “having” — memiliki.

Bukan lagi “being” — menjadi.
Nilai manusia diukur dari apa yang dikumpulkannya, bukan dari apa yang ia pahami dan kembangkan dalam dirinya.

Di titik ini, uang perlahan naik derajat menjadi pusat orientasi hidup.

Sementara pengetahuan mulai bergeser menjadi alat tambahan, bukan fondasi utama.
Padahal sejarah panjang peradaban justru menunjukkan sebaliknya.

Francis Bacon sudah lama menyatakan bahwa knowledge is power —pengetahuan adalah kekuatan. Dan, kekuatan itu bukan metafora kosong.

Pengetahuan adalah sebab lahirnya kemajuan.
Bukan akibat dari kekayaan.
Dan, di era modern, Yuval Noah Harari kembali mengingatkan bahwa masalah terbesar manusia bukan lagi kurangnya informasi, tetapi ketidakmampuan mengolah informasi menjadi pengetahuan yang bermakna.

Artinya, sederhana: Kita tidak kekurangan data, kita kekurangan kedalaman berpikir.

Namun persoalan ini menjadi lebih tajam ketika kita menoleh ke rumah sendiri.

Mandailing Natal bukan tanah tanpa sejarah intelektual. Justru sebaliknya.
Tanah ini pernah melahirkan Willem Iskander, pelopor pendidikan bumiputra yang jauh melampaui zamannya. Dia bukan sekadar tokoh, tetapi simbol bahwa pendidikan pernah menjadi denyut penting dari tanah ini.

Dari rahim sejarah yang sama, kita juga mengenal Sutan Takdir Alisjahbana (STA), intelektual besar Indonesia yang pemikirannya tentang bahasa, kebudayaan, dan modernitas masih relevan hingga hari ini.
Dua nama itu bukan sekadar kebanggaan sejarah.

Mereka adalah bukti bahwa Madina pernah — dan sebenarnya masih memiliki potensi — menjadi tanah yang subur bagi pemikiran dan ilmu pengetahuan.
Namun di sinilah paradoks itu terasa semakin tajam.

Kita bangga menyebut nama mereka. Tetapi, tidak selalu mewarisi cara berpikir mereka.

Kita mengagungkan sejarah intelektual itu.
Tetapi belum sepenuhnya membangun ekosistem yang melahirkan penerusnya.

Dalam tradisi Islam yang juga menjadi denyut kehidupan masyarakat kita, perintah pertama bukanlah tentang kekayaan atau kekuasaan. Tetapi, tentang membaca.

“Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq.”

Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. (QS. Al-‘Alaq: 1)

Bahkan peradaban ini dibuka dengan kata kerja intelektual, bukan materi.

Rasulullah SAW juga menegaskan:
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Dan Al-Qur’an menegaskan:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11).

Dalam seluruh fondasi itu, ilmu selalu ditempatkan di atas kekayaan.
Bukan sebagai pelengkap hidup, tetapi sebagai arah hidup.

Di titik inilah kita berhadapan dengan pertanyaan yang tidak nyaman:

Mengapa dalam masyarakat yang menjunjung tinggi nilai agama, ilmu justru tidak selalu menjadi pusat orientasi sosial?

Mengapa dalam masyarakat yang memiliki warisan intelektual seperti Willem Iskander dan STA, literasi justru tidak tumbuh sekuat simbol sejarahnya?

Jawabannya, mungkin tidak tunggal. Tetapi satu hal mulai tampak jelas.
Ukuran keberhasilan kita perlahan bergeser.

Dari ilmu menuju uang. Dari pemahaman menuju kepemilikan.
Dari proses menuju hasil.

Akibatnya, lahirlah generasi yang sangat adaptif terhadap kebutuhan hidup, tetapi tidak selalu dibekali kedalaman berpikir yang cukup.

Generasi yang mampu bekerja keras, tetapi tidak selalu terbiasa bertanya lebih jauh.

Generasi yang ingin maju, tetapi sering kali tidak dibekali budaya membaca yang kuat sebagai fondasi kemajuan itu sendiri.

Di sinilah angka 4,7500 itu menjadi penting. Bukan sekadar statistik.
Ia adalah alarm halus bahwa sesuatu dalam cara kita memperlakukan pengetahuan sedang tidak baik-baik saja.

Sebab pada akhirnya, kekayaan bisa diwariskan dalam bentuk harta.

Tetapi kemajuan hanya bisa diwariskan dalam bentuk pengetahuan.
Dan sejarah berkali-kali membuktikan:
Masyarakat yang memuliakan ilmu akan melahirkan peradaban.
Namun, masyarakat yang hanya memuliakan kekayaan, perlahan akan kehilangan arah tentang apa sebenarnya tujuan hidup itu sendiri.
Dan di antara dua pilihan itu, setiap generasi selalu diam-diam sedang menentukan masa depannya sendiri.***

*Wadah pemikiran, pergerakan dan motivasi kritis untuk sinergi yang energik.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • BAHASA MANDAILING (2-selesai)

    BAHASA MANDAILING (2-selesai)

    • calendar_month Sabtu, 5 Apr 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Z Pengaduan Lubis (almarhum) Bahasa Daun-daunan Di samping kelima macam ragam bahasa yang telah dikemukakan di atas, pada masa lalu masyarakat Mandailing juga memiliki satu ragam bahasa yang lain yang dinamakan hata bulung-bullung (ertinya daun-daunan). Ch. A. van Ophuysen menamakannya bladerentaal. Berbeda dari bahasa yang biasa, yang digunakan sebagai kata-kata dalam hata bulung-bulung […]

  • Bupati Lantik Pj Sekda Madina

    Bupati Lantik Pj Sekda Madina

    • calendar_month Senin, 24 Okt 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bupati Mandailing Natal (Madina) HM Jafar Sukhairi Nasution resmi melantik Alamulhaq Daulay, SH sebagai penjabat Sekretaris Daerah (Sekda) di Aula Kantor Bupati, Desa Parbangunan, Kecamatan Panyabungan, Madina, Sumut, Senin (24/10/2022). Bupati Madina HM Jafar Sukhairi Nasution dalam sambutannya menyampaikan kepada Pj Sekda Madina yang baru saja dilantik agar mampu mengelola organisasi […]

  • Tambang Emas Martabe Ikuti Pawai Pembangunan Sumut 2013

    Tambang Emas Martabe Ikuti Pawai Pembangunan Sumut 2013

    • calendar_month Senin, 19 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Medan, – Tambang Emas Martabe ikut berpartisipasi dalam gelaran Pawai Pembangunan Sumut 2013, Sabtu (17/8). Gubsu H Gatot Pujo Nugroho ST MSi melepas peserta pawai dari depan Kantor Gubsu, Jalan Diponegoro, Medan. Sebuah mobil hias Tambang Emas Martabe yang bertemakan “Gerak dan Partisipasi Martabe dalam Pembangunan dan Kontribusinya Guna Mengisi Kemerdekaan” turut serta dalam iring-iringan […]

  • Peserta PNS Lulus 3 Jam

    Peserta PNS Lulus 3 Jam

    • calendar_month Minggu, 26 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    KEBANGGAAN dan kegembiraan Poltak Dobdy Purbatua Manik, pelamar Penyuluh KB di Pemko Medan, hanya bertahan tiga jam. Hari Rabu dini hari pukul 01.00 WIB, dia melihat pengumuman kelulusan CPNS melalui komputer di kosnya bersama seorang temannya. Sekaligus, untuk mengecek kelulusan teman-teman dan adiknya yang mengikuti ujian CPNS di Sibolga dan Siantar. Ketika login nama dan […]

  • Wakil Bupati Madina Bantah Mobil Dinas Sementaranya Dirental Khusus Penunjang Operasional Kerjanya

    Wakil Bupati Madina Bantah Mobil Dinas Sementaranya Dirental Khusus Penunjang Operasional Kerjanya

    • calendar_month Selasa, 25 Jul 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online ) : Wakil Bupati Mandailing Natal Atika Azmi Utami membantah bahwa mobil jenis Pajero yang di kontrak oleh Badan Keuangan dan aset Daerah bukan diperuntukkan khusu sebagai mobil kendaraan Dinas nya, melainkan hanya dipakai sementara. ” mobil ini dirental jauh jauh sebelum mobil palisade rusak, bukan dianggarkan untuk dipakai Wakil Bupati, tapi […]

  • Permenkeu 131 ‘Bunuh’ Industri Rokok Kecil 17 Maret 2014

    Permenkeu 131 ‘Bunuh’ Industri Rokok Kecil 17 Maret 2014

    • calendar_month Senin, 17 Mar 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    JAKARTA – Asosiasi industri rokok kecil dan menengah yang tergabung dalam Forum Masyarakat Industri Rokok Indonesia (FORMASI) mendesak pemerintah meninjau kembali tentang pelaksanaan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 131 tahun 2013. PMK 131 sendiri mengatur tentang penetapan golongan dan tarif cukai hasil tembakau terhadap pengusaha pabrik hasil tembakau yang memiliki hubungan keterkaitan. Ketua Harian FORMASI Heri […]

expand_less