Jumat, 17 Jul 2026
light_mode

Madina dalam Paradoks Literasi: Uang Jadi “Tuhan”, Ilmuan Tanpa Kebijaksanaan

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 24 Jun 2026
  • print Cetak

Tanggapan terhadap artikel Moechtar Nasution judul Anomali Empat Koma: Sati Nasution dan Peta Jalan Baru Inklusi Sosial Jaringan Kreatif Muda Madinayang terbit di Mandailing Online edisi Selasa (12/6/2026)

 

Oleh: Muhammad Ludfan Nasution, S.Sos
Penggiat di Mandailing Epicentrum*

 

Ada angka yang tidak gaduh, tidak viral, tidak pula menjadi bahan perdebatan hangat di ruang publik. Namun justru karena diam itulah ia terasa lebih mengganggu.

Angka itu adalah 4,7500.
Itulah yang juga disebut Bung Moechtar Nasution sebagai skor Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kabupaten Mandailing Natal tahun 2025.

Di atas kertas, skor itu tampak seperti data biasa. Tetapi di balik angka itu tersembunyi pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar urusan perpustakaan atau jumlah buku: Bagaimana sebenarnya cara kita memandang pengetahuan, berpikir, dan menjalani hidup?

Sebab literasi tidak pernah berhenti pada kemampuan membaca huruf. Buku juga menjadi cara manusia memahami dunia. Cara manusia menafsirkan masalah. Membedakan fakta dan ilusi.

Dan pada akhirnya, literasi menjadi cara manusia menentukan arah hidupnya sendiri.

Jika kita jujur melihat keseharian, ada pergeseran yang perlahan tetapi nyata.

Pertanyaan yang dulu menempatkan ilmu sebagai ukuran mulai tergeser oleh ukuran lain yang lebih sederhana:

“Kerjanya apa?”

“Penghasilannya berapa?”

“Sudah punya apa?”

Pertanyaan tentang apa yang dipahami, apa yang dibaca, apa yang dipelajari, semakin jarang terdengar sebagai ukuran keberhasilan.

Pelan-pelan, tanpa kita sadari, lahirlah logika sosial baru:

Tak perlu terlalu banyak berpikir, yang penting cukup uangnya.

Tak perlu terlalu banyak membaca, yang penting cukup hidupnya.

Tak perlu terlalu banyak tahu, yang penting cukup jalannya.

Puluhan tahun lalu, Erich Fromm dalam To Have or To Be? sudah mengingatkan dunia tentang pergeseran besar ini.

Manusia modern, katanya, semakin terjebak dalam orientasi “having” — memiliki.

Bukan lagi “being” — menjadi.
Nilai manusia diukur dari apa yang dikumpulkannya, bukan dari apa yang ia pahami dan kembangkan dalam dirinya.

Di titik ini, uang perlahan naik derajat menjadi pusat orientasi hidup.

Sementara pengetahuan mulai bergeser menjadi alat tambahan, bukan fondasi utama.
Padahal sejarah panjang peradaban justru menunjukkan sebaliknya.

Francis Bacon sudah lama menyatakan bahwa knowledge is power —pengetahuan adalah kekuatan. Dan, kekuatan itu bukan metafora kosong.

Pengetahuan adalah sebab lahirnya kemajuan.
Bukan akibat dari kekayaan.
Dan, di era modern, Yuval Noah Harari kembali mengingatkan bahwa masalah terbesar manusia bukan lagi kurangnya informasi, tetapi ketidakmampuan mengolah informasi menjadi pengetahuan yang bermakna.

Artinya, sederhana: Kita tidak kekurangan data, kita kekurangan kedalaman berpikir.

Namun persoalan ini menjadi lebih tajam ketika kita menoleh ke rumah sendiri.

Mandailing Natal bukan tanah tanpa sejarah intelektual. Justru sebaliknya.
Tanah ini pernah melahirkan Willem Iskander, pelopor pendidikan bumiputra yang jauh melampaui zamannya. Dia bukan sekadar tokoh, tetapi simbol bahwa pendidikan pernah menjadi denyut penting dari tanah ini.

Dari rahim sejarah yang sama, kita juga mengenal Sutan Takdir Alisjahbana (STA), intelektual besar Indonesia yang pemikirannya tentang bahasa, kebudayaan, dan modernitas masih relevan hingga hari ini.
Dua nama itu bukan sekadar kebanggaan sejarah.

Mereka adalah bukti bahwa Madina pernah — dan sebenarnya masih memiliki potensi — menjadi tanah yang subur bagi pemikiran dan ilmu pengetahuan.
Namun di sinilah paradoks itu terasa semakin tajam.

Kita bangga menyebut nama mereka. Tetapi, tidak selalu mewarisi cara berpikir mereka.

Kita mengagungkan sejarah intelektual itu.
Tetapi belum sepenuhnya membangun ekosistem yang melahirkan penerusnya.

Dalam tradisi Islam yang juga menjadi denyut kehidupan masyarakat kita, perintah pertama bukanlah tentang kekayaan atau kekuasaan. Tetapi, tentang membaca.

Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq.”

Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. (QS. Al-‘Alaq: 1)

Bahkan peradaban ini dibuka dengan kata kerja intelektual, bukan materi.

Rasulullah SAW juga menegaskan:
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Dan Al-Qur’an menegaskan:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11).

Dalam seluruh fondasi itu, ilmu selalu ditempatkan di atas kekayaan.
Bukan sebagai pelengkap hidup, tetapi sebagai arah hidup.

Di titik inilah kita berhadapan dengan pertanyaan yang tidak nyaman:

Mengapa dalam masyarakat yang menjunjung tinggi nilai agama, ilmu justru tidak selalu menjadi pusat orientasi sosial?

Mengapa dalam masyarakat yang memiliki warisan intelektual seperti Willem Iskander dan STA, literasi justru tidak tumbuh sekuat simbol sejarahnya?

Jawabannya, mungkin tidak tunggal. Tetapi satu hal mulai tampak jelas.
Ukuran keberhasilan kita perlahan bergeser.

Dari ilmu menuju uang. Dari pemahaman menuju kepemilikan.
Dari proses menuju hasil.

Akibatnya, lahirlah generasi yang sangat adaptif terhadap kebutuhan hidup, tetapi tidak selalu dibekali kedalaman berpikir yang cukup.

Generasi yang mampu bekerja keras, tetapi tidak selalu terbiasa bertanya lebih jauh.

Generasi yang ingin maju, tetapi sering kali tidak dibekali budaya membaca yang kuat sebagai fondasi kemajuan itu sendiri.

Di sinilah angka 4,7500 itu menjadi penting. Bukan sekadar statistik.
Ia adalah alarm halus bahwa sesuatu dalam cara kita memperlakukan pengetahuan sedang tidak baik-baik saja.

Sebab pada akhirnya, kekayaan bisa diwariskan dalam bentuk harta.

Tetapi kemajuan hanya bisa diwariskan dalam bentuk pengetahuan.
Dan sejarah berkali-kali membuktikan:
Masyarakat yang memuliakan ilmu akan melahirkan peradaban.
Namun, masyarakat yang hanya memuliakan kekayaan, perlahan akan kehilangan arah tentang apa sebenarnya tujuan hidup itu sendiri.
Dan di antara dua pilihan itu, setiap generasi selalu diam-diam sedang menentukan masa depannya sendiri.***

*Wadah pemikiran, pergerakan dan motivasi kritis untuk sinergi yang energik.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Warga Kota Panyabungan Keluhkan Debu Pengerjaan Jalan

    Warga Kota Panyabungan Keluhkan Debu Pengerjaan Jalan

    • calendar_month Minggu, 29 Okt 2023
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Warga kota Panyabungan, Mandailing Natal, Sumut, Sabtu, (28/10/2023) mengeluhkan debu yang timbul dari pelebaran dan pengaspalan Jalan Willem Iskander, Panyabungan. Pelebaran jalan di kota Panyabungan sejauh ini dikerjakan PT. Jaya Konstruksi. Sejumlah pengendara kepada Mandailing Online sejak dimulainya proyek pengerjaan jalan itu warga yang melintas sering terkena semprotan abu dari alat […]

  • Tak Berkategori

    KPK datangkan tukang kunci ke rumah bupati Madina

    • calendar_month Rabu, 15 Mei 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, (Mandailing Online) – Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendatangkan tukang kunci ke rumah Bupati Mandailing Natal (Madina) Hidayat Batubara di Jalan Sei Asahan No 76 Medan, yang mereka geledah, Selasa (14/5) petang. Namun, si tukang kunci tidak berhasil membuka kunci lemari di rumah itu. “Saya kemari dipanggil mereka (KPK). Saya disuruh buka pintu lemari […]

  • Turnamen Catur Piala Bupati Madina Usai

    Turnamen Catur Piala Bupati Madina Usai

    • calendar_month Senin, 30 Des 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Penyerahan tropy dan hadiah Turnamen Catur Piala Bupati Madina yang dilaksanakan Percasi Madina resmi diserahkan kepada para pemenang, Senin (30/12/2013) di Panyabungan, Mandailing Natal (Madina). Turnamen catur tingkat lopo (kedai kopi) se Madina ini yang diikuti 196 pecatur dari 20 kecamatan di Mandailing Natal ini berlangsung dari tanggal 23 hingga 28 […]

  • Banjir Landa Ranto Baek

    Banjir Landa Ranto Baek

    • calendar_month Kamis, 2 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Bencana banjir melanda sejumlah desa di Kecamatan Ranto Baek, Kabupaten Mandailing Natal, Senin (29/11/2010) sekira pukul 17.00 WIB. Bencana banjir terjadi di 120 km dari Kota Panyabungan, Ibukota Kabupaten Madina. Banjir di Ranto Baek terjadi akibat meluapnya Sungai Simpang Talap, setelah wilayah tersebut diguyur hujan disertai angin kencang sejak pukul 12.00 WIB. Dari keterangan […]

  • Garuda Indonesia Beri Tiket Kereta Api Gratis ke Kualanamu

    Garuda Indonesia Beri Tiket Kereta Api Gratis ke Kualanamu

    • calendar_month Kamis, 14 Nov 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Garuda Indonesia Bekerjasama dengan PT Railink memberikan promo khusus kepada pelanggan Garuda Indonesia yang terbang menuju Bandara Kualanamu International Airport (KNIA). Marketing & Sales Manager, PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Branch Office Medan, Susan saat dihubungi Tribun melalui seluler mengatakan Promo tersebut adalah setiap pelanggan Garuda Indonesia akan mendapatkan tiket Kereta Api Bandara […]

  • Sistem Tak Menjamin Kesehatan

    Sistem Tak Menjamin Kesehatan

    • calendar_month Selasa, 30 Mar 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Endang Pohan Mahasiswi tinggal di Padang Lawas Utara Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan vital masyarakat yang pelayanannya dijamin oleh negara. Berita viral pekan ini yang banyak tersebar melalui media di kalangan masyarakat, menyatakan seorang mantan atlet timnas bola Volli Putri  dan juga sebagai Serda TNI-AD, yang telah disahkan secara hukum di persidangan penggantian nama […]

expand_less