Sabtu, 7 Nov 2026
light_mode

LABUSEL: KETIKA RAJA KOTAPINANG HADIR DI ISTANA BUPATI (bagian 3-selesai)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
  • print Cetak

Masa Depan yang Menunggu Ditulis

 

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum

Pertanyaan terbesar bagi Labuhanbatu Selatan hari ini bukanlah soal kerajaan.
Bukan pula soal silsilah.

Melainkan soal masa depan.
Bagaimana daerah yang bertumpu pada sawit ini mampu menciptakan nilai tambah ekonomi?

Bagaimana generasi muda memperoleh kesempatan kerja yang layak?
Bagaimana pembangunan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat?

Itulah tantangan yang berada di hadapan pemerintahan Bupati Fery Sahputra Simatupang dan Wakil Bupati Syahdian Purba.

Namun pembangunan tidak pernah hanya soal angka.
Ia juga soal identitas.

Daerah yang kehilangan ingatan sering kali kehilangan arah.

Di sinilah arti penting warisan sejarah Kotapinang.

Bukan untuk menghidupkan kembali kerajaan.

Bukan pula untuk membangun romantisme masa lalu.

Melainkan untuk menjaga kesadaran bahwa kawasan ini pernah menjadi bagian dari jaringan peradaban yang luas.

Sebuah ruang yang menghubungkan Barumun, Padang Lawas, Kotapinang, hingga Mandailing.

Puing-puing Istana Bahran yang masih tersisa di Kota Pinang sebenarnya menyampaikan pesan yang sederhana.

Bahwa kekuasaan bisa berubah.
Pemerintahan bisa berganti.
Tetapi identitas suatu masyarakat dapat bertahan jauh lebih lama.

Istana itu memang tidak lagi berdiri megah seperti dahulu. Sebagian besar hancur setelah Revolusi Sosial 1946 yang mengakhiri era kekuasaan tradisional di banyak wilayah Sumatera Timur (Anthony Reid, 1979).

Namun reruntuhannya tetap menjadi penanda sejarah.

Pengingat bahwa daerah ini pernah memainkan peran penting dalam jalur peradaban Sumatera.

Karena itu, ketika Sultan Kotapinang XIV hadir dalam kegiatan pemerintahan daerah bersama Bupati Labuhanbatu Selatan, mungkin yang terlihat hanyalah sebuah acara resmi.

Tetapi di baliknya tersimpan pesan yang lebih panjang.

Bahwa pembangunan tidak harus memutus hubungan dengan sejarah.
Bahwa modernitas tidak harus menghapus identitas.

Dan bahwa masa depan sering kali menjadi lebih kuat ketika ia dibangun di atas pemahaman yang jernih terhadap masa lalu.

Mungkin itulah pelajaran terbesar yang bisa dibaca dari Labusel hari ini.
Di tengah sawit yang terus tumbuh.
Di tengah jalan-jalan yang terus dibangun.

Di tengah birokrasi yang terus bekerja.
Masih ada ruang bagi sejarah untuk ikut berbicara.

Dan dari Kota Pinang, suara itu masih terdengar pelan:
bahwa kawasan Barumun, Kotapinang, dan Mandailing pernah terhubung oleh mimpi yang sama.

Kini, giliran generasi hari ini menentukan apakah mimpi itu akan berhenti sebagai cerita lama, atau berubah menjadi modal sosial bagi masa depan kawasan.

Yang menarik adalah munculnya tiga simbol kekuasaan yang hidup berdampingan di Kotapinang hari ini:
1. Kantor Bupati Labuhanbatu Selatan.
2. Kesultanan Adat Kotapinang.
3. Puing-puing Istana Bahran.

Secara visual saja sudah kuat sekali.
Bayangkan:
• Bupati Fery Sahputra Simatupang bekerja dari kantor pemerintahan modern.
• Sultan Tuanku Sultan Irvan Bahran Ma’moer Perkasa Alamsyah I memelihara legitimasi budaya dan sejarah Melayu.
• Sementara di sudut lain Kota Pinang, puing-puing Istana Bahran masih berdiri sebagai saksi bisu bahwa pernah ada pusat kekuasaan yang jauh lebih tua daripada kabupaten itu sendiri.

Di Kota Pinang hari ini, tiga zaman hidup berdampingan.

Di satu sisi berdiri kantor Bupati Labuhanbatu Selatan tempat kebijakan pembangunan dirumuskan.

Di sisi lain, Sultan Kotapinang XIV masih menjalankan peran adat sebagai penjaga warisan Melayu.

Dan tidak jauh dari sana, puing-puing Istana Bahran mengingatkan bahwa sebelum republik hadir, kawasan ini pernah menjadi pusat kekuasaan yang disegani di jalur Sungai Barumun.

Di antara tiga titik itulah, Labusel sedang menulis masa depannya.
Lalu masuk ke bagian yang lebih “ngintrik”:
Apakah Pertemuan Bupati dan Sultan Sekadar Seremonial?

Atau sesungguhnya merupakan tanda bahwa Labusel sedang mencoba merajut kembali benang sejarah yang pernah menghubungkan:
• Kotapinang,
• Barumun,
• Padang Lawas,
• dan Mandailing?
Karena ketika kita menelusuri kisah Raja Sibaroar Nasakti Nasution yang memperoleh gelar Sutan Diaru dari lingkungan kerajaan Melayu Kotapinang, tampak bahwa hubungan kedua kawasan itu bukan hubungan baru.

Ia sudah berumur ratusan tahun.
Dan di sinilah artikelnya bisa menjadi lebih tajam:
Mungkin yang sedang kita lihat hari ini bukan kebangkitan kerajaan.
Bukan pula nostalgia masa lalu.
Melainkan upaya menjaga memori bahwa kawasan Barumun-Kotapinang-Mandailing pernah dibayangkan sebagai satu ruang peradaban yang saling terhubung.

Lalu pada bagian Labusel hari ini, kita masukkan gambaran yang lebih konkret:
• Kota Pinang sebagai pusat pemerintahan.
• Dominasi ekonomi sawit dan perkebunan.
• Tantangan hilirisasi ekonomi.
• Peluang generasi muda.
• Relasi antara institusi adat dan pemerintahan modern.

Jika dulu Raja Kotapinang dan para penguasa pedalaman memberi legitimasi kepada Sibaroar Nasakti melalui gelar Sutan Diaru untuk memperkuat kawasan, lalu seperti apa bentuk “Sutan Diaru” di abad ke-21 ini?
Apakah dalam wujud pembangunan kawasan regional? Pendidikan? Infrastruktur?

Ataukah kemampuan para pemimpin hari ini untuk menyatukan kembali kekuatan sosial, budaya, dan ekonomi kawasan yang pernah terhubung oleh sejarah yang sama?***

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • PKS Tetap Komit Sebagai Partai Penyeimbang

    PKS Tetap Komit Sebagai Partai Penyeimbang

    • calendar_month Senin, 22 Feb 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – PKS tetap teguh pada sikapnya sebagai partai penyeimbang (oposisi-red) di Indonesia. Jika tidak ada penyeimbang, ibarat kapal, negara bisa oleng, dan arah kebijakan negara juga bisa melenceng dari kepentingan rakyat. Itu dinyatakan Kordinator Wilayah Tabagsel DPTD PKS Sumatera Utara, H. Awaluddin, Senin (22/2/2021) dalam sambutannya pada reses TS II 2020-2021 anggota […]

  • Madina Kembali Lakukan Gerakan Pangan Murah

    Madina Kembali Lakukan Gerakan Pangan Murah

    • calendar_month Rabu, 24 Sep 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumut kembali melakukan Gerakan Pangan Murah (GPM) menyalurkan tujuh ton beras premium, Rabu (23/9/2025), di pasar Eks Bioskop Tapanuli, Panyabungan. Ini merupakan gerakan ketujuh kalinya sejak 31 Agustus 2025 dengan tujuan menjaga stabilitas harga beras. Sama seperti sebelumnya, Pemkab Madina mematok harga Rp60 ribu untuk setiap […]

  • Warga Banjar Losung Mengeluh, Sumber Air Bersih Bau Detergen

    Warga Banjar Losung Mengeluh, Sumber Air Bersih Bau Detergen

    • calendar_month Selasa, 26 Sep 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online). – Warga Banjar Losung di Kelurahan Kayu Jati, Mandailing Natal ( Madina) keluhkan sumber air bersih mereka yang setahun belakangan berbau detergen. Warga pun terpaksa membeli ar beraih setiap hari untuk menutupi kebutuhan minum. Sumur tua peninggalan belanda yang menjadi sumber air bersih warga banjar losung itu memang puluhan tahun telah dimanfaatkan […]

  • 11 Ranperda dan Kemauan Politik

    11 Ranperda dan Kemauan Politik

    • calendar_month Sabtu, 20 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Pihak Badan Legislasi (Baleg) DPRD Mandailing Natal (Madina) pertengahan Juli 2013 menyatakan sikap menunda pembahasan 11 Ranperda yang diajukan pemerintah daerah. Alasan yang diusung terkait anggaran dana bagi kegiatan koordinasi atau kunjungan kerja ke Jakarta. Koordinasi atau kunjungan kerja yang dimaksud pihak Baleg DPRD Madina sangat krusial, karena memiliki keterkaitan dengan kebijakan departemen di Jakarta. […]

  • Pemkab Madina Senantiasa Pantau  Perkembangan Penyakit Raihan

    Pemkab Madina Senantiasa Pantau  Perkembangan Penyakit Raihan

    • calendar_month Kamis, 15 Mei 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Muhammad Raihan (11), anak penderita kalainan genetik yang tinggal di Desa Kampung Padang, Kecamatan Panyabungan selalu mendapat perhatian dari Dinas Kesehatan Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumut. Secara teknis Puskesmas Gunung Tua senantiasa memantau perkembangan kesehatan Muhammad. Wakil Bupati Madina Atika Azmi Utammi didampingi Kepala Dinas Kesehatan dr. Mhd. Faisal Situmorang dan […]

  • RSU Panyabungan Kini Punya Fasilitas Cuci Darah dan CT Scan

    RSU Panyabungan Kini Punya Fasilitas Cuci Darah dan CT Scan

    • calendar_month Kamis, 16 Des 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – RSU Panyabungan kini sudah memiliki CT Scan dan fasilitas cuci darah. Dengan demikian warga Mandailing Natal (Madina) tak lagi jauh-jauh ke kota besar untuk cuci darah. Di sisi lain, kehadiran fasilitas CT Scan merupakan kemajuan teknologi peralatan di rumah sakit ini karena proses analisis berbagai penyakit tak lagi menggunakan foto Rontgen […]

expand_less