Kamis, 17 Sep 2026
light_mode

BAHASA MANDAILING (2-selesai)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 5 Apr 2014
  • print Cetak

Oleh : Z Pengaduan Lubis (almarhum)

Bahasa Daun-daunan

Di samping kelima macam ragam bahasa yang telah dikemukakan di atas, pada masa lalu masyarakat Mandailing juga memiliki satu ragam bahasa yang lain yang dinamakan hata bulung-bullung (ertinya daun-daunan). Ch. A. van Ophuysen menamakannya bladerentaal.

Berbeda dari bahasa yang biasa, yang digunakan sebagai kata-kata dalam hata bulung-bulung ialah daun tumbuh-tumbuhan yang dalam bahasa Mandailing disebut bulung-bulung.

Daun-daunan yang digunakan ialah daun-daunan yang namanya punya persamaan bunyi dengan kata-kata yang terdapat dalam bahasa Mandailing. Misalnya ialah daun tumbuh-tumbuhan yang bernama sitarak digunakan untuk menyampaikan kata marsarak (berpisah). Daun tumbuh-tumbuhan yang bernama pau (pakis) digunakan untuk menyampaikan kata diau (pada saya).

Daun yang tumbuh-tumbuhan yang bernama sitanggis (setanggi) digunakan untuk menyampaikan perkataan tangis (menangis). Daun tumbuh-tumbuhan yang bernama podom-podom digunakan untuk menyampaikan perkataan modom (tidur). Daun tumbuh-tumbuhan yang bernama hadungdung digunakan untuk menyampaikan perkatan dung (setelah). Dan daun tumbuh-tumbuhan yang bernama sitata digunakan untuk menyampaikan perkataan hita (kita).

Kalau misalnya daun hadungdung bersama-sama dengan daun sitata, daun sitarak, daun sitanggis dan daun podom-podom dikirimkan oleh seorang pemuda kepada kekasihnya, maka sang kekasih akan mengerti bahwa sang pemuda mengatakan kepadanya: “dung hita marsarak jolo tangis au anso modon”. Artinya “setelah kita berpisah, menangis saya dahulu baru bisa tertidur”.

Pada masa yang lalu, bahasa daun-daun biasanya digunakan oleh muda-muda (naposo na uli bulung) dalam masyarakat Mandailing, terutama pada waktu mereka berpacaran. Dalam hal ini, dapat dikemukakan bahwa pada masa yang lalu kegiatan berpacaran (asmara) antara pemuda dan pemudi dalam masyarakat Mandailing sama sekali tidak boleh dilakukan secara terbuka. Hubungan dan kegiatan berpacaran harus dirahasiakan atau dilakukan secara rahsia.

Oleh karena itu, jika dua orang muda yang berpacaran hendak menyampaikan sesuatu di antara mereka, maka mereka menggunakan bahasa daun-daunan. Dan jika seorang kekasih hendak menyampaikan daun-daunan sebagai “surat cinta” kepada pacarnya, dia harus melakukannya secara rahasia.

Misalnya dengan meletakkan daun-daunan tersebut di satu tempat tertentu yang sudah mereka sepakati dan tidak diketahui orang lain. Secara sembunyi-sembunyi mereka yang berpacaran itu akan mengunjungi tempat rahasia tersebut secara bergiliran, untuk melihat apakah di tempat itu terdapat “surat cinta” yang terdiri dari daun-daunan.

Kalau dua orang yang sedang berpacaran hendak berdialog secara langsung, mereka akan melakukannya dengan cara yang disebut markusip (berbisik). Kegiatan markusip dilakukan pada waktu tengah malam agar tidak diketahui oleh orang lain. Dalam hal ini, pemuda dengan cara sembunyi-sembunyi mendatangi rumah tempat kekasihnya tidur. Kemudian dengan menggunakan sandi atau kode sang pemuda akan membangunkan kekasihnya dari balik dinding rumah tersebut.

Untuk membangunkan sang kekasih, biasanya pemuda menjentik-jentik dinding rumah dengan jari tangannya secara perlahan-lahan. Dalam hal ini, biasanya sang kekasih memang sudah menunggu kedatangan kekasihnya untuk markusip pada waktu-waktu tertentu tengah malam. Oleh karena itu sang pemuda cukup menjentik dinding rumah beberapa kali untuk memberitahukan bahwa dia sudah datang dan berada di balik dinding.

Kadang-kadang untuk memberitahu kehadirannya di balik dinding sang pemuda membunyikan alat musik yang dinamakan tulila yang suaranya halus sekali. Bila sang gadis sudah mengetahui kehadiran kekasihnya di balik dinding, maka mulailah mereka berdailog secara berbisik-bisik. Dialog antara dua orang yang markusip biasanya dihiasi dengan pantun-pantun percintaan yang romantis.

Dan tidak jarang pula dihiasi dengan musik yang dimainkan dengan alat tiup yang terbuat dari ruas bambu (buluh) yang relatif sangat kecil, sehingga suaranya sangat halus. Alat musik yang khusus digunakan pada waktu markusip itu dinamakan tulila.

Pada masa sekarang, bahasa daun-daunan (hata bulung-bulung), dan penggunaannya sudah hilang dari tradisi budaya Mandailing. Demikian pulanya dengan ragam-ragam bahasa yang tersebut di atas. Yang masih terus digunakan oleh warga masyarakat Mandailing di negeri mereka ialah hata soma (ragam bahasa sehari-hari).

Sedangkan ragam bahasa yang lainnnya, boleh dikatakan sudah hampir punah sama sekali. Karena selama ini warga masyarakat Mandailing tidak berusaha untuk melestarikannya. Kepunahan ragam-ragam bahasa Mandailing yang sangat kaya itu sangat merugikan kelompok etnis Mandailing, bahkan merugikan bangsa Indonesia. Karena ragam bahasa tersebut merupakan kekayaan budaya etnis, yang kalau sudah punah hampir mustahil untuk menghidupkannya kembali.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Calon Bupati Bisa Dibatalkan

    Calon Bupati Bisa Dibatalkan

    • calendar_month Rabu, 22 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Puluhan aktivis tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Peduli Tapanuli Tengah (AMMP-Tapteng) melakukan aksi unjukrasa di depan Kantor KPU Sumatera Utara, Jalan Perintis Kemerdekaan, Medan, Senin (20/12/2010). Unjukrasa sebagai bentuk protes para aktivis yang meragukan ketidaktransparansian dan akuntabilitas yang dilakukan oleh KPU Tapteng ketika melakukan verifikasi dan penetapan Calon Bupati dan Wakil Bupati Tapteng […]

  • Lapas Panyabungan Jadi Langganan Sidak Dadakan

    Lapas Panyabungan Jadi Langganan Sidak Dadakan

    • calendar_month Jumat, 4 Agt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online ) Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) nampaknya jadi langganan sidak dadakan pasca kaburnya narapidana dari Lapas tersebut. Tadi malam Kamis 3/8/2023 Kanwil Kemenkumham Sumatera Utara (Sumut) melakukan inspeksi mendadak (Sidak). Pemeriksaan diawali dari pemeriksaan keseluruh kamar hunian dan para ( Warga Binaan Pemasyarakatan ) WBP. Dan […]

  • Mulai Besok, Guru TKS di Madina Terima Gaji 7 Bulan

    Mulai Besok, Guru TKS di Madina Terima Gaji 7 Bulan

    • calendar_month Senin, 7 Nov 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Mulai besok, Selasa (8/11/2022) para guru status honorer TKS di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumut, akan memperoleh gaji 7 bulan. “Saya sudah menandatangani surat pencairan gaji guru honorer atau TKS. Saat ini sedang proses di Dinas Keuangan. Insa Allah besok sudah bisa dicairkan, pencairnya kita rapel 7 bulan sekaligus sampai bulan […]

  • Bupati Madina: Pramuka Harus Dimasyarakatkan

    Bupati Madina: Pramuka Harus Dimasyarakatkan

    • calendar_month Senin, 20 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Bupati Mandailing Natal selaku Ketua Majelis Pembina Kwartir Cabang Mandailing Natal Ir Aspan Sofyan Batubara mengharapkan kepada Saka Bhayangkara Polres Mandailing Natal untuk memasyarakatkan Pramuka dan membhayangkarakan Pramuka. Hal itu disampaikan Bupati Madina Ir. Aspan Sofyan Batubara MM selaku majelis Pembimbing cabang pada acara pelantikan Kapolres Mandailing Natal AKBP Hirbak Wahyu Setiawan menjadi Kamabisaka, di […]

  • Empat Sekolah di Madina Ikut Lomba UKS Tingkat Provinsi

    Empat Sekolah di Madina Ikut Lomba UKS Tingkat Provinsi

    • calendar_month Jumat, 26 Nov 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Empat sekolah mewakili Kabupaten Mandailing Natal dalam lomba Unit Kesehatan Sekolah terbaik tingkat provinsi. Sekolah-sekolah itu adalah SD Negeri 080 Panyabungan dan SD Negeri 086 Dalan Lidang (kategori sekolah dasar). Untuk Taman Kanak-Kanak diwakili TK Masitoh Assalam, Lumban Dolok, Kecamatan Siabu. Untuk SLTA diwakili SMP Negeri 5 Sinunukan. Tim penilai Usaha […]

  • Jaksa : Pembangunan Taman Raja Batu Gagasan Bupati Madina

    Jaksa : Pembangunan Taman Raja Batu Gagasan Bupati Madina

    • calendar_month Selasa, 17 Sep 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        MEDAN (Mandailing Online) – Tiga terdakwa kasus korupsi pembangunan obyek wisata Taman Raja Batu (TRB) dan Tapian Siri-siri Syariah (TSS) disidangkan di ruang Kartika Pengadilan Negeri (PN) Medan, Senin (16/9/2019). Ketiga terdakwa yakni, Rahmadsyah Lubis selaku Mantan Kadis Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kab. Madina, Khairul Akhyar Rangkuti dan Edy Djunaedi selaku Pejabat […]

expand_less