Sabtu, 9 Mei 2026
light_mode

Naposo Bulung, BPD, LPM, PKK dan Kopdes di Madina dalam Ancaman Nihilisme!

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum

 

Lembaga sosial level desa, seperti Naposo Nauli Bulung (NNB), BPD, LPM, PKK dan Kopdes nampaknya masih ada. Akan tetapi, kalau dilihat dari geliat dan vitalitasnya, semunya dalam kondisi yang lemah.

Di momen 5 Mei ini, perlu memunculkan kecurigaan. Kuat dugaan, organisasi desa (ordes) itu terjebak dan dikhawatirkan kontribusinya jadi nihil.

Pasal 18 dan 18B UUD 1945, Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa serta Keputusan Presiden Nomor 81 Tahun 1971 menjadi dasar penetapan Hari Lembaga Sosial Desa yang diperingati setiap 5 Mei.

Momentum ini diharapkan tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga menghidupkan kembali semangat pelayanan publik di desa.

Lembaga Sosial di Desa memiliki beragam bentuk dan fungsi. Masing-masing berperan dalam memperkuat struktur sosial dan ekonomi desa. Beberapa di antaranya, meliputi:

Koperasi Unit Desa (KUD)

KUD berfungsi sebagai lembaga ekonomi rakyat yang menyediakan kebutuhan masyarakat desa, terutama dalam bidang pertanian.

Koperasi ini menjalankan berbagai aktivitas seperti simpan pinjam, produksi, konsumsi, pemasaran, hingga jasa, dan kini banyak bertransformasi menjadi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Lalu muncul lagi Kopdes yang terkesan mau cepat, kuat dan jadi solusi.

Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK)

PKK merupakan organisasi yang memberdayakan perempuan untuk terlibat aktif dalam pembangunan, baik dalam lingkup keluarga maupun masyarakat desa secara luas.

Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD)

LKMD bertugas menyusun rencana pembangunan desa secara partisipatif serta mendorong partisipasi warga melalui swadaya dan gotong-royong.

Karang Taruna

Sebagai wadah pembinaan generasi muda, Karang Taruna tumbuh dari kesadaran sosial anak-anak muda untuk berkontribusi dalam kegiatan sosial, pendidikan, dan ekonomi di tingkat desa.

• LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat
Naposo Bulung,
• BPD,
• Kopdes

Hari Lembaga Sosial Desa menjadi pengingat bahwa pembangunan yang berkelanjutan berakar dari kelembagaan organisasi desa yang kuat dan mandiri.

Boleh saja, setiap 5 Mei, kita diingatkan tentang pentingnya lembaga sosial desa. Narasinya indah: gotong royong, pemberdayaan, kesejahteraan.
Tapi di Mandailing Natal, peringatan ini justru layak dibaca terbalik — sebagai alarm, bukan selebrasi.

Sebab, tanpa siasat yang tepat, Naposo Nauli Bulung, BPD, LPM dan PKK tetap terkungkung dalam bayang-bayang nihilisme.

Bahkan, Kopdes pun dapat diprediksi bakal terancam jadi wadah yang “hidup segan mati tak mau”.

Dengan ±377 desa dan 27 kelurahan (sekitar 404 entitas lokal), Madina adalah ruang uji yang besar.

Sayangnya, yang tampak hari ini bukanlah penguatan lembaga desa itu — melainkan gejala yang lebih sunyi: berjalan tanpa makna dan perlahan hilang.

Naposo Nauli Bulung: Tidak Dirayakan, Tapi Sebenarnya Hidup

Ironisnya, dalam seremoni resmi, yang sering absen justru kekuatan sosial yang nyata: Naposo Nauli Bulung.

Wadah pemuda-pemudi ini tidak selalu disebut dalam seremoni. Tidak selalu masuk laporan.

Tapi justru:
• hidup dalam adat
• kuat dalam solidaritas
• nyata dalam kehidupan sosial

Masalahnya:
yang hidup ini tidak pernah benar-benar dimasukkan ke dalam desain kebijakan.

Di Kelurahan: LPM Gak Ngefek

Di kelurahan, LPM selalu disebut dalam forum resmi setiap momentum, seperti 5 Mei.

Rapat punya. Dokumen ada. Partisipasi terlihat. Namun dalam kasus-kasus nyata:
• persoalan lingkungan tak tertangani cepat: pola belajar anak di linhkingan (banjar), kecenderungan negatif pergaulan remaja, meningkatnya angka putus sekolah; teror narkoba; revitalisasi parkahanggian dan yang utama menjadi induk bagi lembaga-lembaga level kelurahan kelurahan.
• bantuan sosial tak tepat sasaran;
• usaha warga jalan di tempat
LPM tidak hadir sebagai kekuatan.

Dirayakan saat seremoni pemilihan/pelantikan, tapi bak “lenyap” dalam kehidupan nyata sehari-hari.

BPD di Desa: Terjebak Rivalitas

Di desa, peringatan hari lembaga sosial senyap saja.

Sebatas jargon partisipasi dan demokrasi pun nyaris tak terdengar.
Namun realitasnya:
• BPD dan kepala desa kerap berhadap-hadapan:
• rapat menjadi arena tarik-menarik:
• rivalitas menjebak;
• keputusan tersendat.

Sekilas terlihat hidup. Tapi jika ditanya:
apa perubahan nyata yang lahir dari konflik itu?

Sering kali jawabannya: tidak ada.
Konflik berjalan, tapi tidak membawa masyarakat keluar dari masalahnya.

Kopdes: Diluncurkan dengan Semangat

Momentum seperti 5 Mei juga bisa saja dipakai untuk mendorong narasi ekonomi desa – termasuk dalam wacana dan realitas Kopdes (Koperasi Merah Putih), yang sepertinya:
– Cepat dibentuk.
– Cepat diumumkan.
– Cepat berjalan.

Namun di lapangan:
• Kepemilikan warga masih semu;
• Partisipasi masih administratif;
• transparansi belum kokoh, masih tertutup.

Kopdes dirancang sebagai solusi, tapi berisiko jadi pengulangan masalah lama.

Refleksi atas Realitas

Kalau kita jujur pada momentum 5 Mei ini:
• LPM → dirayakan, tapi lemah
• BPD → aktif, tapi konflik tanpa arah.
• Kopdes → cepat, tapi belum berakar
• Naposo → kuat, tapi tidak diakui.

Maka pertanyaan reflektifnya:
Apa sebenarnya yang kita peringati?

Hari lembaga sosial desa —
atau sekadar mengingat keberadaan lembaga tanpa keberdayaan?

Nihilisme dalam Selubung Seremoni

Inilah titik paling tajam: ketika peringatan tetap berlangsung, sementara makna yang diperingati justru hilang.

Kita:
• merayakan partisipasi tanpa kekuasaan
• merayakan lembaga tanpa pengaruh
• merayakan program tanpa perubahan

Ini bukan sekadar ironi.
Ini nihilisme yang dibungkus seremoni.

Penutup: Menghidupkan, Jangan Sekadar Memperingati

Tanggal 5 Mei seharusnya bukan hari untuk mengulang “pidato” lama.

Momen ini seharusnya menjadi kesempatan untuk bertanya:
• apakah lembaga masih berpihak pada warga?
• apakah partisipasi masih punya arti?
• apakah kebijakan masih mendengar masyarakat?

Jika jawabannya tidak jelas, maka: Yang perlu dihidupkan bukan peringatannya—tapi keberanian untuk mengembalikan makna lembaga itu sendiri.

Kalimat Pamungkas

Di Madina, Hari Lembaga Sosial Desa, seperti Naposo Nauli Bulung berisiko berubah menjadi ritual tahunan — sementara lembaga yang dirayakan perlahan kehilangan jiwa.

Tim Mandailing Episentrum – wadah pemikiran dan pergerakan kritis, motivasi dan support penguasa daerah.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Usut Kasus Dugaan Korupsi di Dispenda Sumut Rp9,3 M

    Usut Kasus Dugaan Korupsi di Dispenda Sumut Rp9,3 M

    • calendar_month Jumat, 11 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Puluhan massa tergabung dalam Lembaga Penyalur Aspirasi Rakyat (Lempar) melakukan aksi unjukrasa di Kantor Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu), Jalan Abdul Haris Nasution, Medan, Selasa (08/03/2011). Dalam aksinya, mereka meminta Kejatisu mengusut tuntas seluruh kasus dugaan korupsi yang melibatkan Kepala dan Wakil Kepala Daerah serta mantan Kepala dan Wakil Kepala Daerah di Sumut tanpa […]

  • Bupati Madina Lepas Kontingen Porsadin

    Bupati Madina Lepas Kontingen Porsadin

    • calendar_month Jumat, 14 Okt 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bupati Mandailing Natal (Madina) HM Jafar Sukhairi Nasution melepas 29 peserta asal Madina mengikuti Pekan Olahraga dan Seni Antar Diniyah (PORSADIN) Sumatera Utara (Sumut) di Masjid Agung Nur Ala Nur, Desa Parbangunan, Kecamatan Panyabungan, Madina, Sumut, Jumat (14/10/2022). Porsadin kali ini, Kabupaten Madina mengikuti 12 cabang yaitu, cabang puisi islam, cabang […]

  • Kasat Intelkam Polres Madina: Kades Diharap Berperan Jaga Kondusifitas Jelang Pemilu 2024

    Kasat Intelkam Polres Madina: Kades Diharap Berperan Jaga Kondusifitas Jelang Pemilu 2024

    • calendar_month Jumat, 6 Okt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online )- Kapolres Madina AKBP H M Reza Chairul A S, SIK, SH, MH melalui Kasat Intelkam AKP Trio Romy Manik,SH mengharapkan peran kepala desa untuk menjaga kondusifitas menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2024 mendatang. Hal itu disampaikan AKP T.Romy Manik saat menyampaikan materi pada rapat kewaspadaan dini untuk mencegah dan menjaga […]

  • Seperti Apa Istana Nabi Sulaiman?

    Seperti Apa Istana Nabi Sulaiman?

    • calendar_month Selasa, 24 Apr 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Catatan sejarah mengungkapkan pertemuan Sulaiman dengan ratu Saba berdasarkan penelitian yang dilakukan negeri tua Saba di Yaman Selatan. Penelitian yang dilakukan terhadap reruntuhan mengungkapkan bahwa seorang ratu yang pernah berada di wilayah ini hidup antara 1000 hingga 950 SM dan melakukan perjalanan ke utara (ke Yerusalem). Menurut sebagian riwayat, Saba adalah julukan yang diberikan […]

  • Adelin Lis tidak dicekal

    Adelin Lis tidak dicekal

    • calendar_month Selasa, 30 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Pengusaha kelas kakap, Adelin Lis, yang telah divonis 10 tahun penjara oleh Mahkamah Agung dalam kasus illegal logging saat ini telah menjadi buronan Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu). Namun, hingga kini keberadaan Adelin Lis tidak diketahui, karena Adelin Lis tidak termasuk salah satu terpidana yang masuk daftar cekal oleh Dirtektorat Imigrasi Sumatera Utara. […]

  • Aspan Ganti 16 Camat

    Aspan Ganti 16 Camat

    • calendar_month Jumat, 4 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA- Pj Bupati Mandailing Natal Ir Aspan Sopian Batubara MM melantik 16 camat dengan Surat Keputusan Bupati Madina bernomor 821.2/031/K/2011 tentang pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian dalam dan dari jabatan struktural di lingkungan Pemkab. Pelantikan digelar di aula kantor Bupati Madina, kompleks perkantoran Paya Loting, Selasa (1/2). Pj Bupati Madina Ir H Aspan Sofian Batubara MM […]

expand_less