Senin, 5 Okt 2026
light_mode

PKL “Pejuang Kesejahteraan Lokal”

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
  • print Cetak

Oleh: Supardi S.H.I
Founder Business Owners Community-Panyabungan

 

Kondisi riil PKL di tepi jalan taman kota Panyabungan

 

PKL singkatan Pedagang Kaki Lima, pedagang yang memajang dagangan di pinggir jalan. Disebut pedagang kaki lima mungkin karena selama ini – kalau anda pelaku pedagang kaki lima – harus punya banyak kaki agar mudah berlari menyelamatkan dagangan ketika terkena penggusuran.

PKL bukan Sampah Visual

Setiap kali kepala daerah ingin pamer citra “kota bersih dan modern,” ada satu kelompok yang selalu dijadikan tumbal: pedagang kaki lima. Di mata birokrat yang duduk di ruang ber-AC, lapak kaki lima adalah gangguan estetika, penyebab kemacetan, dan noda hitam dalam tata ruang kota. Satpol PP dikerahkan, gerobak digulingkan, dan ruang hidup mereka diidentikkan dengan kriminalitas.

Itu adalah sebuah kesesatan berpikir yang terstruktural.

Sudah saatnya kita membalik narasi usang tersebut: PKL bukan lagi singkatan dari Pedagang Kaki Lima, melainkan “Pejuang Kesejahteraan Lokal”, katup penyelamat yang menyubsidi kegagalan negara.

Mari kita bicara jujur tanpa retorika manis. Ketika pemerintah daerah kabupaten gagal menyediakan lapangan kerja yang layak bagi warganya, siapakah yang menampung limpahan pengangguran tersebut?

Jawabannya: sektor informal.

Para PKL ini adalah manusia-manusia mandiri yang menolak mengemis bantuan sosial.

Tanpa modal insentif dari bank, tanpa dana talangan dari APBD, mereka menciptakan lapangan kerja untuk diri mereka sendiri, keluarga mereka, dan rantai pasok di bawahnya—mulai dari petani sayur di desa hingga peternak ayam lokal.

PKL adalah insentif bahkan subsidi bagi daerah. Mereka menjaga daya beli masyarakat tetap hidup dan memastikan uang berputar di tingkat akar rumput, bukan terbang ke rekening korporasi multinasional atau mall-mall megah modal asing.

Kasta Sudra dalam Ekosistem UMKM

Ada kemunafikan yang nyata dalam kebijakan ekonomi kita. Ketika berbicara tentang UMKM di podium seminar, para pejabat daerah begitu berapi-api menjanjikan pahlawan ekonomi ini akan “naik kelas.” Namun di lapangan, terjadi pemisahan kasta yang diskriminatif.

Jika Anda adalah UMKM yang mampu menyewa ruko mahal atau punya modal membuat kafe estetik, Anda akan disebut “pengusaha muda” dan diapresiasi.

Namun, jika Anda adalah UMK yang berjuang dengan gerobak di pinggir jalan karena keterbatasan modal, Anda diturunkan kastanya menjadi “masalah ketertiban umum.”

Padahal, esensi ekonomi keduanya sama: mencari penghidupan yang layak. Mengapa yang satu difasilitasi, sementara yang lain dipersekusi?

Menantang Estetika Kota yang “Mati”

Pemerintah daerah sering kali terjebak pada definisi estetika yang keliru. Mereka menginginkan kota yang steril, sepi, dan rapi seperti makam. Mereka lupa bahwa jiwa dari sebuah kota atau kabupaten adalah manusianya, interaksi sosialnya, dan denyut ekonominya.

Kota-kota besar dunia, dari Bangkok hingga Paris, justru merawat street food dan pasar jalanan mereka sebagai daya tarik kultural dan mesin ekonomi pariwisata. Mereka tidak menggusur, mereka menata.
Mereka tidak memusuhi; mereka mengintegrasikan.

Menggugat Pemda dari Penertiban Menuju Pemberdayaan

Mengusir PKL ke lokasi relokasi yang sepi di pinggiran kota, tanpa ada kajian akses konsumen, adalah cara halus untuk membunuh usaha mereka secara perlahan. Itu bukan solusi, itu adalah kepasifan birokrasi yang malas berpikir kreatif.

Ilustrasi ketika PKL di Panyabungan dibina dan ditata rapi plus aturan dan kewajiban retribusi kepada daerah.

Sebagai pejuang kesejahteraan lokal, PKL berhak atas tuntutan yang berkeadilan:

1. Zonasi Inklusif: Berikan hak ruang publik pada jam-jam tertentu agar ekonomi malam hari bisa hidup tanpa mengganggu lalu lintas siang.

2. Kepastian Hukum lewat E-Retribusi: PKL siap berkontribusi pada PAD (Pendapatan Asli Daerah). Legalkan posisi mereka dengan sistem retribusi digital untuk menyapu bersih para preman dan oknum pengutip pungli.

3. Memanusiakan Manusia: Hentikan pendekatan keamanan menggunakan tameng Satpol PP. Mulailah pendekatan kesejahteraan lewat Dinas Koperasi dan UMKM.

Lapak kaki lima di pinggir jalan adalah indikator bahwa ekonomi rakyat sedang menolak mati. Menindas PKL sama saja dengan melukai jantung perekonomian daerah itu sendiri.

Sudah saatnya pemerintah daerah berhenti melihat mereka sebagai musuh tata ruang, dan mulai merangkul mereka sebagai mitra strategis demi kedaulatan ekonomi lokal yang sejati!

Lawan stigmatisasi, rawat ekonomi rakyat.

Setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusian. ***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gencatan Senjata Israel, Kemenangan Bagi Palestina?

    Gencatan Senjata Israel, Kemenangan Bagi Palestina?

    • calendar_month Minggu, 30 Mei 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Nur Wahida Lota Mahasiswi, tinggal di Samarinda Kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Palestina telah terjadi di jalur Gaza, namun serangan masih terus dilakukan oleh polisi Israel terhadap warga Palestina di kompleks masjid Al-Aqsa pada dini hari usai shalat, polisi Israel menyerbu warga Palestina dengan menembakkan gas air mata, Jumat (21/05/2021). Meskipun gencatan […]

  • Bukittinggi diguncang gempa bumi

    Bukittinggi diguncang gempa bumi

    • calendar_month Rabu, 20 Feb 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Bukittinggi, (MO) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa Bukittinggi, Sumatera Barat, diguncang gempa berkekuatan 3,1 skala Richter Selasa. Belum ada laporan terjadinya kerusakan bangunan yang disebabkan oleh gempa tersebut. Data dari BMKG gempa terjadi pada pukul 07:25:38 WIB berkekuatan 3,1 SR kedalaman 10 Km lokasi 35 LS, 100.35 BT, pusat gempa berada […]

  • Pemkab Madina Bantu Korban Kebakaran Kotasiantar

    Pemkab Madina Bantu Korban Kebakaran Kotasiantar

    • calendar_month Jumat, 27 Des 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) menyalurkan bantuan kepada korban kebakaran kelurahan Kotasiantar, Jum’at (26/12/2019). Bantuan dalam bentuk uang senilai 80 juta Rupiah itu diserahkan Sekda Madina, Gozali Pulungan didampingi Wakil Ketua DPRD Madina, Erwin Efendi Nasution dan anggota DPRD Madina, Sobir Lubis dari Dapil Madina 1. Perwakilan keluarga korban […]

  • Hasil Rekapitulasi C1 KPU Madina Hampir Final

    Hasil Rekapitulasi C1 KPU Madina Hampir Final

    • calendar_month Jumat, 11 Des 2015
    • account_circle webmaster
    • 0Komentar

    Bisa dipastikan dari update data rekapitulasi penghitungan C1 KPU telah mendekati hasil final dengan asumsi Data Masuk yang sudah masuk sebesar 97,03% dengan hasil sebagai berikut: Drs. M. Yusuf, M.Si dan Imron Lubis memperoleh  : 48984 Suara (27,81%) H. Dahlan Hasan Nasution dan H. Muhammad Jafar Sukhairi Nst  memperoleh: 99983 Suara (56,76%) Saparuddin Haji dan […]

  • Dr. H. Safii Siregar, Siap Maju di Konfercab NU

    Dr. H. Safii Siregar, Siap Maju di Konfercab NU

    • calendar_month Jumat, 13 Nov 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Rois Syuriah PCNU Kabupaten Mandailing Natal H. Miswarruddin Nasution menggelar acara silaturrahim di rumah kediaman Mustsyar NU Mandailing Natal Dr. H. Safii Siregar. Dalam silaturrahim ini, H. Miswarruddin Nasution meminta kesediaan Dr. Safi’i Siregar untuk maju sebagai calon Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Madina periode 2015-2020 dalam Konperensi Cabang […]

  • Biliar Sebabkan Pelajar Bolos

    Biliar Sebabkan Pelajar Bolos

    • calendar_month Minggu, 5 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Di Pantai Barat Madina MADINA-Permainan biliar yang banyak terdapat di sejumlah kecamatan di wilayah Pantai Barat, Kabupaten Madina meresahkan warga. Diperkirakan, keberadaan biliar ini sebagai penyebab anak-anak sering bolos sekolah. Hal ini disampaikan Aswan Lubis warga Desa Bangkelang, Kecamatan Batang Natal kepada METRO di Panyabungan, Jumat (3/2). Aswan didampingi Sekretaris Umum (Sekum) PC PMII Madina, […]

expand_less