Senin, 20 Jul 2026
light_mode

PKL “Pejuang Kesejahteraan Lokal”

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
  • print Cetak

Oleh: Supardi S.H.I
Founder Business Owners Community-Panyabungan

 

Kondisi riil PKL di tepi jalan taman kota Panyabungan

 

PKL singkatan Pedagang Kaki Lima, pedagang yang memajang dagangan di pinggir jalan. Disebut pedagang kaki lima mungkin karena selama ini – kalau anda pelaku pedagang kaki lima – harus punya banyak kaki agar mudah berlari menyelamatkan dagangan ketika terkena penggusuran.

PKL bukan Sampah Visual

Setiap kali kepala daerah ingin pamer citra “kota bersih dan modern,” ada satu kelompok yang selalu dijadikan tumbal: pedagang kaki lima. Di mata birokrat yang duduk di ruang ber-AC, lapak kaki lima adalah gangguan estetika, penyebab kemacetan, dan noda hitam dalam tata ruang kota. Satpol PP dikerahkan, gerobak digulingkan, dan ruang hidup mereka diidentikkan dengan kriminalitas.

Itu adalah sebuah kesesatan berpikir yang terstruktural.

Sudah saatnya kita membalik narasi usang tersebut: PKL bukan lagi singkatan dari Pedagang Kaki Lima, melainkan “Pejuang Kesejahteraan Lokal”, katup penyelamat yang menyubsidi kegagalan negara.

Mari kita bicara jujur tanpa retorika manis. Ketika pemerintah daerah kabupaten gagal menyediakan lapangan kerja yang layak bagi warganya, siapakah yang menampung limpahan pengangguran tersebut?

Jawabannya: sektor informal.

Para PKL ini adalah manusia-manusia mandiri yang menolak mengemis bantuan sosial.

Tanpa modal insentif dari bank, tanpa dana talangan dari APBD, mereka menciptakan lapangan kerja untuk diri mereka sendiri, keluarga mereka, dan rantai pasok di bawahnya—mulai dari petani sayur di desa hingga peternak ayam lokal.

PKL adalah insentif bahkan subsidi bagi daerah. Mereka menjaga daya beli masyarakat tetap hidup dan memastikan uang berputar di tingkat akar rumput, bukan terbang ke rekening korporasi multinasional atau mall-mall megah modal asing.

Kasta Sudra dalam Ekosistem UMKM

Ada kemunafikan yang nyata dalam kebijakan ekonomi kita. Ketika berbicara tentang UMKM di podium seminar, para pejabat daerah begitu berapi-api menjanjikan pahlawan ekonomi ini akan “naik kelas.” Namun di lapangan, terjadi pemisahan kasta yang diskriminatif.

Jika Anda adalah UMKM yang mampu menyewa ruko mahal atau punya modal membuat kafe estetik, Anda akan disebut “pengusaha muda” dan diapresiasi.

Namun, jika Anda adalah UMK yang berjuang dengan gerobak di pinggir jalan karena keterbatasan modal, Anda diturunkan kastanya menjadi “masalah ketertiban umum.”

Padahal, esensi ekonomi keduanya sama: mencari penghidupan yang layak. Mengapa yang satu difasilitasi, sementara yang lain dipersekusi?

Menantang Estetika Kota yang “Mati”

Pemerintah daerah sering kali terjebak pada definisi estetika yang keliru. Mereka menginginkan kota yang steril, sepi, dan rapi seperti makam. Mereka lupa bahwa jiwa dari sebuah kota atau kabupaten adalah manusianya, interaksi sosialnya, dan denyut ekonominya.

Kota-kota besar dunia, dari Bangkok hingga Paris, justru merawat street food dan pasar jalanan mereka sebagai daya tarik kultural dan mesin ekonomi pariwisata. Mereka tidak menggusur, mereka menata.
Mereka tidak memusuhi; mereka mengintegrasikan.

Menggugat Pemda dari Penertiban Menuju Pemberdayaan

Mengusir PKL ke lokasi relokasi yang sepi di pinggiran kota, tanpa ada kajian akses konsumen, adalah cara halus untuk membunuh usaha mereka secara perlahan. Itu bukan solusi, itu adalah kepasifan birokrasi yang malas berpikir kreatif.

Ilustrasi ketika PKL di Panyabungan dibina dan ditata rapi plus aturan dan kewajiban retribusi kepada daerah.

Sebagai pejuang kesejahteraan lokal, PKL berhak atas tuntutan yang berkeadilan:

1. Zonasi Inklusif: Berikan hak ruang publik pada jam-jam tertentu agar ekonomi malam hari bisa hidup tanpa mengganggu lalu lintas siang.

2. Kepastian Hukum lewat E-Retribusi: PKL siap berkontribusi pada PAD (Pendapatan Asli Daerah). Legalkan posisi mereka dengan sistem retribusi digital untuk menyapu bersih para preman dan oknum pengutip pungli.

3. Memanusiakan Manusia: Hentikan pendekatan keamanan menggunakan tameng Satpol PP. Mulailah pendekatan kesejahteraan lewat Dinas Koperasi dan UMKM.

Lapak kaki lima di pinggir jalan adalah indikator bahwa ekonomi rakyat sedang menolak mati. Menindas PKL sama saja dengan melukai jantung perekonomian daerah itu sendiri.

Sudah saatnya pemerintah daerah berhenti melihat mereka sebagai musuh tata ruang, dan mulai merangkul mereka sebagai mitra strategis demi kedaulatan ekonomi lokal yang sejati!

Lawan stigmatisasi, rawat ekonomi rakyat.

Setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusian. ***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • The Best Moment Muharram

    The Best Moment Muharram

    • calendar_month Senin, 24 Agt 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Sri Handayani S.T Kamis 20 Agustus 2020 bertepatan 1 Muharam, Tahun Baru islam 1442 H. Muharam merupakan momen yang sangat penting bagi umat Islam. Ini menandai peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah Islam, yaitu hijrahnya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah. Peristiwa bersejarah itu terjadi pada 1 Muharam yang saat ini diperingati sebagai […]

  • Jalan Amblas :

    Jalan Amblas :

    • calendar_month Senin, 1 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Jalan Amblas : Jalan penghubung Panyabungan Gunung Baringin dititik Sidaing amblas. Minimnya parit jalan membuat jalan menuju ibu kota Panyabungan Timur ini banyak yang rusak.(Hol)

  • Jadwal Ujian Seleksi TKD Cpns Kab. Mandailing Natal Tahun 2014

    Jadwal Ujian Seleksi TKD Cpns Kab. Mandailing Natal Tahun 2014

    • calendar_month Sabtu, 6 Des 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Jadwal Ujian Seleksi TKD Cpns Kab. Mandailing Natal Tahun 2014. Ruang II. (Sesi I) Hari :  Rabu, Pukul : 08.00 s/d 10.00 wib Tanggal : 10 Desember 2014   NO.   RUANG UJIAN   NO. PESERTA   NAMA PESERTA 1 BKD MANDAILING NATAL Gedung SGB 2 52133000186 AHMAD.SUHERI NASUTION 2 BKD MANDAILING NATAL Gedung SGB 2 […]

  • Poldasu Kantongi Identitas Penganiaya Wartawan di Madina

    Poldasu Kantongi Identitas Penganiaya Wartawan di Madina

    • calendar_month Sabtu, 5 Mar 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Poldasu) telah mengantongi identitas penganiaya salah satu wartawan di Mandailing Natal (Madina) dan akan segera menangkap para pelaku untuk diproses secara hukum. Hal itu disampaikan Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Hadi Wahyudi kepada wartawan, Sabtu (5/3) di Medan. Hadi menyampaikan Kapoldasu Irjen Pol Panca Putra Simanjuntak […]

  • Simak Perolehan SAHATA dan ONMA di 23 Kecamatan di Madina Berdasar C-1

    Simak Perolehan SAHATA dan ONMA di 23 Kecamatan di Madina Berdasar C-1

    • calendar_month Kamis, 28 Nov 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pasangan calon bupati dan wakil bupati Mandailing Natal (Madina) nomor urut 2, H. Saipullah Nasution-Atika Azmi Utammi Nasution telah rampung menerima laporan c-1 hasil penghitungan suara di Tempat Pemungutan Suara (TPS) dari seluruh saksi di 801 TPS, Rabu (27/11/2024) malam sekitar pukul 23.40 WIB. Dari hasil perhitungan 801 TPS yang […]

  • Keadilan Islam dan Demokrasi?

    Keadilan Islam dan Demokrasi?

    • calendar_month Senin, 21 Des 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Enni Etika Mardia, S.Pd Aktivis Peduli Ummat / tinggal di Padangsidempuan   Baru- baru ini media di hebohkan dengan beredar kabar tewasnya enam orang laskar Front Pembela Islam(FPI). Diketahui, enam orang laskar pengawal Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) meninggal dunia setelah ditembak aparat. Menurut keterangan dari pihak kepolisian bahwa pada saat di […]

expand_less