Kamis, 25 Jun 2026
light_mode

PKL “Pejuang Kesejahteraan Lokal”

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month 15 menit yang lalu
  • print Cetak

Oleh: Supardi S.H.I
Founder Business Owners Community-Panyabungan

 

Kondisi riil PKL di tepi jalan taman kota Panyabungan

 

PKL singkatan Pedagang Kaki Lima, pedagang yang memajang dagangan di pinggir jalan. Disebut pedagang kaki lima mungkin karena selama ini – kalau anda pelaku pedagang kaki lima – harus punya banyak kaki agar mudah berlari menyelamatkan dagangan ketika terkena penggusuran.

PKL bukan Sampah Visual

Setiap kali kepala daerah ingin pamer citra “kota bersih dan modern,” ada satu kelompok yang selalu dijadikan tumbal: pedagang kaki lima. Di mata birokrat yang duduk di ruang ber-AC, lapak kaki lima adalah gangguan estetika, penyebab kemacetan, dan noda hitam dalam tata ruang kota. Satpol PP dikerahkan, gerobak digulingkan, dan ruang hidup mereka diidentikkan dengan kriminalitas.

Itu adalah sebuah kesesatan berpikir yang terstruktural.

Sudah saatnya kita membalik narasi usang tersebut: PKL bukan lagi singkatan dari Pedagang Kaki Lima, melainkan “Pejuang Kesejahteraan Lokal”, katup penyelamat yang menyubsidi kegagalan negara.

Mari kita bicara jujur tanpa retorika manis. Ketika pemerintah daerah kabupaten gagal menyediakan lapangan kerja yang layak bagi warganya, siapakah yang menampung limpahan pengangguran tersebut?

Jawabannya: sektor informal.

Para PKL ini adalah manusia-manusia mandiri yang menolak mengemis bantuan sosial.

Tanpa modal insentif dari bank, tanpa dana talangan dari APBD, mereka menciptakan lapangan kerja untuk diri mereka sendiri, keluarga mereka, dan rantai pasok di bawahnya—mulai dari petani sayur di desa hingga peternak ayam lokal.

PKL adalah insentif bahkan subsidi bagi daerah. Mereka menjaga daya beli masyarakat tetap hidup dan memastikan uang berputar di tingkat akar rumput, bukan terbang ke rekening korporasi multinasional atau mall-mall megah modal asing.

Kasta Sudra dalam Ekosistem UMKM

Ada kemunafikan yang nyata dalam kebijakan ekonomi kita. Ketika berbicara tentang UMKM di podium seminar, para pejabat daerah begitu berapi-api menjanjikan pahlawan ekonomi ini akan “naik kelas.” Namun di lapangan, terjadi pemisahan kasta yang diskriminatif.

Jika Anda adalah UMKM yang mampu menyewa ruko mahal atau punya modal membuat kafe estetik, Anda akan disebut “pengusaha muda” dan diapresiasi.

Namun, jika Anda adalah UMK yang berjuang dengan gerobak di pinggir jalan karena keterbatasan modal, Anda diturunkan kastanya menjadi “masalah ketertiban umum.”

Padahal, esensi ekonomi keduanya sama: mencari penghidupan yang layak. Mengapa yang satu difasilitasi, sementara yang lain dipersekusi?

Menantang Estetika Kota yang “Mati”

Pemerintah daerah sering kali terjebak pada definisi estetika yang keliru. Mereka menginginkan kota yang steril, sepi, dan rapi seperti makam. Mereka lupa bahwa jiwa dari sebuah kota atau kabupaten adalah manusianya, interaksi sosialnya, dan denyut ekonominya.

Kota-kota besar dunia, dari Bangkok hingga Paris, justru merawat street food dan pasar jalanan mereka sebagai daya tarik kultural dan mesin ekonomi pariwisata. Mereka tidak menggusur, mereka menata.
Mereka tidak memusuhi; mereka mengintegrasikan.

Menggugat Pemda dari Penertiban Menuju Pemberdayaan

Mengusir PKL ke lokasi relokasi yang sepi di pinggiran kota, tanpa ada kajian akses konsumen, adalah cara halus untuk membunuh usaha mereka secara perlahan. Itu bukan solusi, itu adalah kepasifan birokrasi yang malas berpikir kreatif.

Ilustrasi ketika PKL di Panyabungan dibina dan ditata rapi plus aturan dan kewajiban retribusi kepada daerah.

Sebagai pejuang kesejahteraan lokal, PKL berhak atas tuntutan yang berkeadilan:

1. Zonasi Inklusif: Berikan hak ruang publik pada jam-jam tertentu agar ekonomi malam hari bisa hidup tanpa mengganggu lalu lintas siang.

2. Kepastian Hukum lewat E-Retribusi: PKL siap berkontribusi pada PAD (Pendapatan Asli Daerah). Legalkan posisi mereka dengan sistem retribusi digital untuk menyapu bersih para preman dan oknum pengutip pungli.

3. Memanusiakan Manusia: Hentikan pendekatan keamanan menggunakan tameng Satpol PP. Mulailah pendekatan kesejahteraan lewat Dinas Koperasi dan UMKM.

Lapak kaki lima di pinggir jalan adalah indikator bahwa ekonomi rakyat sedang menolak mati. Menindas PKL sama saja dengan melukai jantung perekonomian daerah itu sendiri.

Sudah saatnya pemerintah daerah berhenti melihat mereka sebagai musuh tata ruang, dan mulai merangkul mereka sebagai mitra strategis demi kedaulatan ekonomi lokal yang sejati!

Lawan stigmatisasi, rawat ekonomi rakyat.

Setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusian. ***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • JK Masuk Daftar Dermawan di Asia Pasifik

    • calendar_month Jumat, 31 Mei 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA – Majalah bisnis terkemuka, Forbes, kembali melansir daftar 48 orang paling dermawan di Asia Pasifik. Dari Indonesia muncul empat nama pengusaha dermawan, salah satunya adalah Jusuf Kalla yang juga adalah Ketua Forum CAPDI Asia Tenggara. Forbes mengambil 12 negara besar di Asia Pasifik dan setiap negara muncul empat nama. Dari Indonesia diwakili oleh empat […]

  • FPR DPRD Madina Kunjungi Kampoeng Kaos

    FPR DPRD Madina Kunjungi Kampoeng Kaos

    • calendar_month Selasa, 31 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan. “Cintailah produk sendiri,” kata Ketua Fraksi Perjuangan Reformasi (FPR) DPRD Madina, Ali Hanafiah,(FPR) DPRD Madina, Ali Hanafiah, didampingi bendahara Iskandar Hasibuan ketika bertandang ke dapur Kampoeng Kaos Madina (KKM), Jalan Jambu Lintas Timur Sipolu – polu, Penyabungan Minggu (29/1). Ali Hanafiah mengaku salut atas kehadiran KKM, karena membuktikan masih ada bibit – bibit berjiwa […]

  • Bupati Perintahkan Operasi Tumor Bocah Asal Sihepeng ke RSU Adam Malik

    Bupati Perintahkan Operasi Tumor Bocah Asal Sihepeng ke RSU Adam Malik

    • calendar_month Selasa, 28 Sep 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIABU (Mandailing Online) – Bupati Madina, Jakfar Sukhairi Nasution memerintahkan Dinas Sosial Madina segera menangani biaya operasi bocah penderita tumor, warga Sihepeng I, Nur Jannah, bocah perempuan penderita tumor di dahi itu direncanakan akan dioperasi di RS Adam Malik, Medan. Derita Nur Jannah sudah lama berlangsung, namun keterbatasan ekonomi menjadi kendala untuk operasi pengangkatan tumor, […]

  • MBG UNTUK 3B: BUKAN SEKADAR MAKANAN GRATIS, TETAPI INVESTASI MASA DEPAN

    MBG UNTUK 3B: BUKAN SEKADAR MAKANAN GRATIS, TETAPI INVESTASI MASA DEPAN

    • calendar_month Minggu, 21 Jun 2026
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        Oleh: Wahyuni Sari Zein Lubis, S. Tr. Gz dan Prof. Dr. Helmizar, SKM, M. Biomed Program Studi Magister Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas   Program Makan Bergizi Gratis atau MBG tidak boleh dipahami hanya sebagai kegiatan membagikan makanan. Lebih dari itu, MBG adalah upaya besar untuk memperbaiki kualitas gizi masyarakat, terutama […]

  • Ikuti MPC PP Madina Competition, Tiga Delegasi FPM Raih Juara

    Ikuti MPC PP Madina Competition, Tiga Delegasi FPM Raih Juara

    • calendar_month Kamis, 28 Okt 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tiga orang delegasi Forum Penulis Mandailing Natal (FPM) meraih juara pada lomba yang digelar Majelis Pimpinan Cabang Pemuda Pancasila Kabupaten Mandailing Natal (MPC PP Madina). MPC PP Madina menggelar berbagai kegiatan dalam menyambut ulang tahun ke-62. Salah satunya adalah MPC PP Madina Competition dengan 4 jenis perlombaan, yakni karya tulis ilmiah, […]

  • Survey Terkini, Potensi PLTA Batang Gadis 150 MW

    Survey Terkini, Potensi PLTA Batang Gadis 150 MW

    • calendar_month Jumat, 19 Okt 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIABU (Mandailing Online) – Survey terhadap arus Sungai Batang Gadis yang dilakukan baru-baru ini memberikan gambaran arus sungai itu berpotensi menghasilkan arus listrik sebesar 150 MW dengan pola PLTA. Survey yang diprakarsai Kementerian ESDM sekitar 2 pekan lalu di Sungai Batang Gadis Kecamatan Siabu, Mandailing Natal memberikan gambaran potensi arus listrik 94 hingga 150 Mega […]

expand_less