Kamis, 25 Jun 2026
light_mode

MENIKAHKAN IDE INKLUSI DENGAN REM SPIRITUAL DALAM TINDAKAN

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month 1 menit yang lalu
  • print Cetak

 

Tanggapan atas Esai Ludfan Nasution Terhadap “Anomali Empat Angka: Sati Nasution dan Peta Jalan Baru Inklusi Sosial Jaringan Kreatif Muda Madina”

 

 

Oleh: Moechtar Nasution
Penggiat pada GEREP INSTITUTE (Pusat Kajian Madina)

 

Esai Muhammad Ludfan Nasution, senior saya yang juga penggagas Mandailing Epicentrum dengan taglinenya “wadah pemikiran, pergerakan, dan motivasi kritis untuk sinergi yang energik” di Mandailing Online, edisi kemarin (24/06) merupakan tanggapan terhadap artikel yang saya kirim sebelumnya. Esai tersebut merupakan tulisan yang sarat dengan nilai kejujuran, moralitas, dan yang paling terpenting, testimoni tersebut merupakan fakta atau kondisi realitas yang tumbuh subur dalam sosial kemasyarakatan. Terasa seperti tamparan karena ceritanya tentang kebenaran yang dipaparkan secara lugas dan berani.

Terima kasih atas tanggapannya, karena semakin banyak perdebatan intelektual menandakan bahwa literasi di tanah bertuah ini tidak akan pernah kering seperti kekhawatiran saat musim kemarau yang sedang menghantui dewasa ini. Bukankah lawan dalam berdebat adalah teman dalam berpikir (opponents est socius cogitandi)?

Ketika Ludfan menguliti angka Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Mandailing Natal tahun 2025 yang “mandeg” di angka 4,7500, dia sebenarnya tidak sedang dalam posisi meributkan urusan statistik tersebut. Jauh dari itu, dia sedang gelisah melihat pragmatisme yang makin akut dan masif di tengah kita, ketika uang pelan-pelan naik pangkat jadi ukuran segala hal dan menggeser posisi ilmu. Hari ini kita menyaksikan realitas pahit: kehormatan seseorang diukur dari ketebalan isi dompet, bukan lagi dari apa yang ada di dalam kepala. Ilmu seakan tidak berdaya karena uang sudah menjadi penguasa.

Sebagai orang yang lahir di tanah rahim Willem Iskander dan Sutan Takdir Alisjahbana, jelas batin kita perih mendengar dan menyaksikan fenomena ini. Madina yang dulu dikenal religius dan menjunjung tinggi pemikiran, sekarang limbung dihantam arus materialisme.

Tapi, Opss….tunggu dulu. Di sinilah poin krusial yang ingin saya dudukkan bersama Ludfan. Setelah kita sepakat bahwa masyarakat kita sedang “demam pragmatisme”, langkah kita apa selanjutnya? Apakah kita cuma mau berdiri di atas mimbar, memegang mikrofon dengan dahi berkerut, lalu menceramahi mereka yang sedang pusing memikirkan harga beras besok pagi? Ataukah berdiam diri pura-pura tidak peduli?

Jelas itu tidak menyelesaikan masalah. Makanya, lewat tulisan awal saya soal “Anomali Empat Koma”, saya menawarkan peta jalan inklusi sosial melalui jaringan “naposo nauli bulung” atau generasi muda kreatif sebagai pewaris estafet kepemimpinan kelak. Dan tentu saja masih banyak solusi lainnya. Ini bukan jargon teoritis menara gading. Ini langkah taktis yang sudah teruji. Kita butuh gerakan literasi yang punya kaki dan tangan, serta berani menyentuh realitas dapur masyarakat bawah yang harus tetap “ngebul” tanpa harus kehilangan kompas moralnya.

Sosiolog Ignas Kleden dalam buku klasiknya, Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan (1987), pernah mengingatkan (reminding) hal penting. Kritik budaya yang cuma sibuk mengutuk keadaan atau meratapi kemerosotan moral masyarakat itu hanya akan menjadi “nilai ekspresif” yang mandul. Supaya kritik itu ada gunanya, dia harus digeser menjadi “nilai progresif”—sebuah tindakan nyata yang langsung mengintervensi struktur sosial di lapangan.

Masyarakat Madina jadi pragmatis itu bukan karena bawaan lahir. Mereka tidak pernah membenci buku, namun sebaliknya, malah sangat akrab dengan ilmu pengetahuan semenjak dahulu. Fakta sejarah sudah membicarakan hal ini. Namun di era globalisasi dewasa ini, ruang ekonomi dan sosial nyaris tidak memberi tempat bagi orang-orang yang sekadar “berilmu” untuk menyambung hidup. Akhirnya, pragmatisme menjadi jalan utama yang ditempuh.

Di titik inilah inklusi sosial masuk sebagai jawaban konkret. Dan bagi saya, ini perintah religius yang sangat mendasar seperti ulasan Ludfan. Dalam tradisi Islam, kita semua hafal perintah pertama adalah Iqra’—bacalah. Tapi jangan artikan membaca itu secara sempit: sebatas mengeja huruf di dalam ruang perpustakaan yang sepi sunyi. Membaca yang sejati adalah membaca tanda-tanda zaman, membaca potensi alam, dan membaca masalah perut umat. Kalau kita biarkan “naposo nauli bulung” kita hanya membaca teks keagamaan atau filsafat tanpa kita beri mereka ruang ekosistem untuk mandiri secara ekonomi, kita sedang memisahkan antara ilmu dan kenyataan hidup.

Napas ini sejalan dengan konsep “ilmu sosial profetik” yang digagas Kuntowijoyo dalam bukunya, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi (1991). Pak Kunto selalu menekankan bahwa kesadaran iman dan pengetahuan itu tidak boleh mandeg di ruang diskusi saja. Dia harus punya efek pembebasan, alias liberasi. Kaum terpelajar, kalangan terdidik, dan elemen “naposo nauli bulung” di Madina tidak boleh jadi penonton pasif.

Bagaimana caranya? Ya, kita ajak mereka ini turun ke bawah. Langkah ini bukan utopia, karena jalannya sudah dirintis secara nyata oleh wadah kreatif di Komunitas Mandala yang menjadi contoh (rule). Saya mengikuti dari dekat bagaimana dinamika mereka bergerak di akar rumput selama ini lewat konten-konten video pendek pencerahan sosial, pementasan drama jalanan, pembacaan puisi yang menggugat realitas, hingga pertunjukan teatrikal yang memikat publik. Dalam berbagai momen, diskusi menjadi “santapan” saat kami bertemu. Komunitas Mandala adalah bukti hidup bahwa gerakan inklusi sosial itu nyata ada di Madina. Komunitas sejenis juga sudah mulai tumbuh di sana-sini. Mereka tidak sekadar membaca teks, mereka mementaskannya menjadi kesadaran kolektif masyarakat.

Saya ingat betul saat anak-anak muda Komunitas Mandala menggelar event “Markobar” di alun-alun kota. Nyata riuh dan hidup. Setiap mereka manggung, bisa dipastikan lapak para pedagang kecil akan ramai dan dagangan mereka laris manis. Di situ saya melihat langsung: seni dan gagasan tidak bikin orang lapar, justru menggerakkan ekonomi orang-orang kecil.

Pertanyaan selanjutnya, apakah gerakan sekreatif Komunitas Mandala ini bisa menghasilkan secara ekonomi bagi pelakunya? Jawabannya sangat bisa dan sudah terbukti bisa. Hari ini, di era digital, konten edukatif, pementasan seni, produk kreatif, dan narasi budaya lokal bukan lagi sekadar hobi pengisi waktu luang.

“Naposo nauli bulung” di Komunitas Mandala ini terbukti mampu memonetisasi platform digital, membuka jasa produksi kreatif, mendesain kemasan beberapa produk secara profesional, bahkan merancang materi promosi dalam bentuk iklan yang siap tayang di media sosial. Semangatnya saya kira sama dengan Sati Nasution yang diusia belia sudah berlayar menuju Belanda untuk menjemput impian tentang pendidikan anak bangsa dan bagaimana juga semangat Sati Nasution saat berdialog tentang visinya tesebut dengan para pembesar kolonial di Batavia.

Tidak hanya berhenti di balik layar, secara pribadi para personilnya juga kerap diundang dan dipercaya mengisi acara di berbagai tempat. Ketika ilmu pengetahuan dipakai untuk menaikkan daya tawar ekonomi masyarakat, di situlah literasi berubah menjadi rahmat nyata bagi sesama, Rahmatan lil ‘Alamin.

Jika mau membuka mata sedikit lebih lebar, lihat saja apa yang dilakukan oleh Hanna Keraf, Ayu, Zona, dan Melia di Nusa Tenggara Timur (NTT). Sekumpulan perempuan muda kreatif ini berhasil menjalankan misi inklusi sosial yang luar biasa dengan memberdayakan ratusan ibu-ibu di pelosok NTT. Bermodalkan literasi budaya dan kecakapan membaca pasar modern, mereka membimbing para perempuan desa untuk menyulap kerajinan anyaman daun lontar tradisional menjadi suvenir korporat premium dan dekorasi hotel bintang lima. Bisnis inklusif ini sukses menembus pasar ekspor, bermitra langsung dengan ritel furnitur terbesar di dunia, serta menaikkan pendapatan perajin wanita sebesar 40 persen di 26 desa.

Lagi pula, gagasan inklusi sosial ini sebetulnya bukan barang baru atau eksperimen liar dalam dunia perpustakaan. Di tingkat nasional, kita punya Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) yang digagas resmi oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Ini adalah strategi nasional yang sah, lahir untuk merombak total paradigma lama. Tugasnya jelas: mengubah wajah perpustakaan dari sekadar tempat berdebu untuk menyimpan buku, menjadi pusat belajar, ruang berkarya, dan episentrum pemberdayaan masyarakat demi menaikkan kesejahteraan sosial-ekonomi.

Program ini menekankan pentingnya perpustakaan yang bergerak langsung di masyarakat. Konsepnya jelas: memfasilitasi pelatihan keterampilan, membuka akses informasi bisnis lokal, dan menyediakan ruang inkubasi kreatif agar buku tidak berakhir sebagai pajangan mati, melainkan bertransformasi menjadi kesejahteraan yang bisa dirasakan di dompet masyarakat.

Melihat korelasi dari kegelisahan seorang Ludfan hingga aksi nyata anak muda di Komunitas Mandala, kita sebenarnya sedang melihat peta jalan baru yang konkret. Kita tidak bisa terus-menerus meratapi arus pragmatisme yang mengikis identitas religius di bumi “Gordang Sambilan”  tanpa memberikan solusi alternatif. Kita juga tidak boleh menutup mata dari realitas perut rakyat yang lapar.

Menikahkan ide inklusi dengan rem spiritual bukan lagi sebuah pilihan teoritis, melainkan suatu keharusan dalam tindakan. Inklusi sosial menjadi mesin penggerak ekonomi kreatif di akar rumput, sedangkan nilai spiritual menjadi jangkar moral yang menjaga agar pencarian materi tidak meluncur bebas ke arah keserakahan yang membutakan hati nurani. Dengan cara ini, literasi di Mandailing Natal bukan lagi sekadar angka statistik yang “mandeg” di atas kertas, melainkan sebuah gerakan hidup yang memberi makan sekaligus menjaga iman. Dapur harus tetap “mengebul”, dan martabat kemanusiaan kita harus tetap tegak berdiri.

 Makanya, begitu saya membaca ulasan kritis seorang Ludfan kemarin, hati saya berbisik: kami ini sama sekali tidak sedang baku hantam pemikiran namun tetap dalam satu nafas pengabdian dengan gaya pemikiran dan sudut pandang  yang berbeda. Saya  merasa essai beliau ini adalah potongan “puzzle” krusial yang menyambung logika berpikir publik. Konsep inklusi sosial anak muda yang saya dorong adalah mesin penggerak yang memberi ruang kerja nyata  buat “naposo nauli bulung”. Nah, tamparan moral dari Ludfan itu adalah “rem spiritualnya”. Tanpa rem, mesin sekencang apa pun pasti bakal bablas masuk jurang materialisme. Jadi, klop saling mengunci, saling mengisi dan saling membangun. Tabik..!! ***

 

Daftar Pustaka

  1. Kleden, Ignas. (1987). Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan. Jakarta: Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES).
  2. Kuntowijoyo. (1991). Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi. Bandung: Mizan.
  3. Nasution, Muhammad Ludfan. (2026). Madina dalam Paradoks Literasi: Uang Jadi “Tuhan”, Ilmuan Tanpa Kebijaksanaan. Panyabungan: Mandailing Online.
  4. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2023). Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2023 tentang Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial. Jakarta: Perpusnas RI.

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Serial HUT Madina ke-16: Pasar Lelang Karet Mubazir, Dana 400 Juta Sia-sia

    Serial HUT Madina ke-16: Pasar Lelang Karet Mubazir, Dana 400 Juta Sia-sia

    • calendar_month Selasa, 10 Mar 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      KOTANOPAN (Mandailing Online) – Kabupaten Mandailing Natal memasuki Hari Ulang Tahun ke-16 pada 9 Maret 2015, dan sejauh itu pula banyak ditemukan kebijakan pemerintah daerah yang diduga salah kaprah berakibat uang negara yang nota bene uang rakyat mubazir dihamburkan. Kasus komplek bangunan pasar lelang karet di kawasan Desa Tobang Kecamatan Kotanopan, mubazir alias tak dimanfaatkan […]

  • Harun Mustafa Jamu Nabil Nawawi Peraih Medali Emas di PON Aceh -Sumut XXI

    Harun Mustafa Jamu Nabil Nawawi Peraih Medali Emas di PON Aceh -Sumut XXI

    • calendar_month Rabu, 25 Sep 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online ): Calon Bupati Madina Harun Mustafa Nasution jamu  Nabil Nawawi peraih medali 2 emas 1 perak dan 1 perunggu  di PON Aceh-Sumut XXI. Nabil yang di undang ke kediaman Harun Mustafa di Jalan Willem Iskandar, Kelurahan Sipolu Polu, Panyabungan itu didampingi kedua orang tua nya Ahmad Surya Mentaya dan Ida Suryani. […]

  • Pemred StArtNews dan Mandailing Online Desak Polisi Tuntaskan Kasus Teror ke Jurnalis TVRI Madina

    Pemred StArtNews dan Mandailing Online Desak Polisi Tuntaskan Kasus Teror ke Jurnalis TVRI Madina

    • calendar_month Rabu, 14 Agt 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online): Pemimpin redaksi StartNews.co.id (Radio Start FM Panyabungan) Saparuddin Siregar mendesak penyidik Polres Mandailing Natal (Madina) segera menuntaskan proses hukum terhadap pelaku yang mengintimidasi wartawan TVRI dan StartNews terkait pemberitaan praktik curang penjualan BBM di SPBU Kecamatan Linggabayu, Kabupaten Madina. “Polisi harus segera menuntaskan kasus ini agar masalah serupa tidak terulang dan […]

  • PLN Lakukan Pemadaman Selama 8 Jam di Sejumlah Wilayah Taput

    PLN Lakukan Pemadaman Selama 8 Jam di Sejumlah Wilayah Taput

    • calendar_month Sabtu, 1 Des 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Tarutung, (MO) – PT PLN Wilayah Sumatera Utara Cabang Sibolga Ranting Tarutung melakukan pemadaman listrik di sejumlah wilayah Kabupaten Taput, diperkirakan selama 8 jam mulai pukul 09.30 hingga pukul 17. 00 wib, Jumat (30/11). Supervisor PT PLN Wilayah Sumatera Utara Cabang Sibolga Ranting Tarutung Rixon Pakpahan kepada Analisa, Jumat (30/11) mengatakan, pemadaman disebabkan karena pihak […]

  • DCS Dapil 4 PKB Madina

    DCS Dapil 4 PKB Madina

    • calendar_month Selasa, 9 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Daftar Calon Sementara Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Pemilihan Umum Tahun 2014 Dapil 4 PKB Madina

  • Kantor Camat Berastagi Dibakar

    Kantor Camat Berastagi Dibakar

    • calendar_month Senin, 8 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    KARO-Aksi teror pasca Pemilukada Karo kembali terjadi, setelah sebelumnya aksi pembakaran ban saat kunjungan Kapolda Sumut, Selasa (2/11) lalu. Kemarin (6/11), Kantor Camat Berastagi dibakar orang tak dikenal ( OTK) sekira pukul 01.15 WIB. Akibatnya, seperangkat peralatan di ruangan kerja camat hangus dilalap api. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu, namun sejumlah peralatan dan […]

expand_less