Senin, 5 Okt 2026
light_mode

MENIKAHKAN IDE INKLUSI DENGAN REM SPIRITUAL DALAM TINDAKAN

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
  • print Cetak

 

Tanggapan atas Esai Ludfan Nasution Terhadap “Anomali Empat Angka: Sati Nasution dan Peta Jalan Baru Inklusi Sosial Jaringan Kreatif Muda Madina”

 

 

Oleh: Moechtar Nasution
Penggiat pada GEREP INSTITUTE (Pusat Kajian Madina)

 

Esai Muhammad Ludfan Nasution, senior saya yang juga penggagas Mandailing Epicentrum dengan taglinenya “wadah pemikiran, pergerakan, dan motivasi kritis untuk sinergi yang energik” di Mandailing Online, edisi kemarin (24/06) merupakan tanggapan terhadap artikel yang saya kirim sebelumnya. Esai tersebut merupakan tulisan yang sarat dengan nilai kejujuran, moralitas, dan yang paling terpenting, testimoni tersebut merupakan fakta atau kondisi realitas yang tumbuh subur dalam sosial kemasyarakatan. Terasa seperti tamparan karena ceritanya tentang kebenaran yang dipaparkan secara lugas dan berani.

Terima kasih atas tanggapannya, karena semakin banyak perdebatan intelektual menandakan bahwa literasi di tanah bertuah ini tidak akan pernah kering seperti kekhawatiran saat musim kemarau yang sedang menghantui dewasa ini. Bukankah lawan dalam berdebat adalah teman dalam berpikir (opponents est socius cogitandi)?

Ketika Ludfan menguliti angka Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Mandailing Natal tahun 2025 yang “mandeg” di angka 4,7500, dia sebenarnya tidak sedang dalam posisi meributkan urusan statistik tersebut. Jauh dari itu, dia sedang gelisah melihat pragmatisme yang makin akut dan masif di tengah kita, ketika uang pelan-pelan naik pangkat jadi ukuran segala hal dan menggeser posisi ilmu. Hari ini kita menyaksikan realitas pahit: kehormatan seseorang diukur dari ketebalan isi dompet, bukan lagi dari apa yang ada di dalam kepala. Ilmu seakan tidak berdaya karena uang sudah menjadi penguasa.

Sebagai orang yang lahir di tanah rahim Willem Iskander dan Sutan Takdir Alisjahbana, jelas batin kita perih mendengar dan menyaksikan fenomena ini. Madina yang dulu dikenal religius dan menjunjung tinggi pemikiran, sekarang limbung dihantam arus materialisme.

Tapi, Opss….tunggu dulu. Di sinilah poin krusial yang ingin saya dudukkan bersama Ludfan. Setelah kita sepakat bahwa masyarakat kita sedang “demam pragmatisme”, langkah kita apa selanjutnya? Apakah kita cuma mau berdiri di atas mimbar, memegang mikrofon dengan dahi berkerut, lalu menceramahi mereka yang sedang pusing memikirkan harga beras besok pagi? Ataukah berdiam diri pura-pura tidak peduli?

Jelas itu tidak menyelesaikan masalah. Makanya, lewat tulisan awal saya soal “Anomali Empat Koma”, saya menawarkan peta jalan inklusi sosial melalui jaringan “naposo nauli bulung” atau generasi muda kreatif sebagai pewaris estafet kepemimpinan kelak. Dan tentu saja masih banyak solusi lainnya. Ini bukan jargon teoritis menara gading. Ini langkah taktis yang sudah teruji. Kita butuh gerakan literasi yang punya kaki dan tangan, serta berani menyentuh realitas dapur masyarakat bawah yang harus tetap “ngebul” tanpa harus kehilangan kompas moralnya.

Sosiolog Ignas Kleden dalam buku klasiknya, Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan (1987), pernah mengingatkan (reminding) hal penting. Kritik budaya yang cuma sibuk mengutuk keadaan atau meratapi kemerosotan moral masyarakat itu hanya akan menjadi “nilai ekspresif” yang mandul. Supaya kritik itu ada gunanya, dia harus digeser menjadi “nilai progresif”—sebuah tindakan nyata yang langsung mengintervensi struktur sosial di lapangan.

Masyarakat Madina jadi pragmatis itu bukan karena bawaan lahir. Mereka tidak pernah membenci buku, namun sebaliknya, malah sangat akrab dengan ilmu pengetahuan semenjak dahulu. Fakta sejarah sudah membicarakan hal ini. Namun di era globalisasi dewasa ini, ruang ekonomi dan sosial nyaris tidak memberi tempat bagi orang-orang yang sekadar “berilmu” untuk menyambung hidup. Akhirnya, pragmatisme menjadi jalan utama yang ditempuh.

Di titik inilah inklusi sosial masuk sebagai jawaban konkret. Dan bagi saya, ini perintah religius yang sangat mendasar seperti ulasan Ludfan. Dalam tradisi Islam, kita semua hafal perintah pertama adalah Iqra’—bacalah. Tapi jangan artikan membaca itu secara sempit: sebatas mengeja huruf di dalam ruang perpustakaan yang sepi sunyi. Membaca yang sejati adalah membaca tanda-tanda zaman, membaca potensi alam, dan membaca masalah perut umat. Kalau kita biarkan “naposo nauli bulung” kita hanya membaca teks keagamaan atau filsafat tanpa kita beri mereka ruang ekosistem untuk mandiri secara ekonomi, kita sedang memisahkan antara ilmu dan kenyataan hidup.

Napas ini sejalan dengan konsep “ilmu sosial profetik” yang digagas Kuntowijoyo dalam bukunya, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi (1991). Pak Kunto selalu menekankan bahwa kesadaran iman dan pengetahuan itu tidak boleh mandeg di ruang diskusi saja. Dia harus punya efek pembebasan, alias liberasi. Kaum terpelajar, kalangan terdidik, dan elemen “naposo nauli bulung” di Madina tidak boleh jadi penonton pasif.

Bagaimana caranya? Ya, kita ajak mereka ini turun ke bawah. Langkah ini bukan utopia, karena jalannya sudah dirintis secara nyata oleh wadah kreatif di Komunitas Mandala yang menjadi contoh (rule). Saya mengikuti dari dekat bagaimana dinamika mereka bergerak di akar rumput selama ini lewat konten-konten video pendek pencerahan sosial, pementasan drama jalanan, pembacaan puisi yang menggugat realitas, hingga pertunjukan teatrikal yang memikat publik. Dalam berbagai momen, diskusi menjadi “santapan” saat kami bertemu. Komunitas Mandala adalah bukti hidup bahwa gerakan inklusi sosial itu nyata ada di Madina. Komunitas sejenis juga sudah mulai tumbuh di sana-sini. Mereka tidak sekadar membaca teks, mereka mementaskannya menjadi kesadaran kolektif masyarakat.

Saya ingat betul saat anak-anak muda Komunitas Mandala menggelar event “Markobar” di alun-alun kota. Nyata riuh dan hidup. Setiap mereka manggung, bisa dipastikan lapak para pedagang kecil akan ramai dan dagangan mereka laris manis. Di situ saya melihat langsung: seni dan gagasan tidak bikin orang lapar, justru menggerakkan ekonomi orang-orang kecil.

Pertanyaan selanjutnya, apakah gerakan sekreatif Komunitas Mandala ini bisa menghasilkan secara ekonomi bagi pelakunya? Jawabannya sangat bisa dan sudah terbukti bisa. Hari ini, di era digital, konten edukatif, pementasan seni, produk kreatif, dan narasi budaya lokal bukan lagi sekadar hobi pengisi waktu luang.

“Naposo nauli bulung” di Komunitas Mandala ini terbukti mampu memonetisasi platform digital, membuka jasa produksi kreatif, mendesain kemasan beberapa produk secara profesional, bahkan merancang materi promosi dalam bentuk iklan yang siap tayang di media sosial. Semangatnya saya kira sama dengan Sati Nasution yang diusia belia sudah berlayar menuju Belanda untuk menjemput impian tentang pendidikan anak bangsa dan bagaimana juga semangat Sati Nasution saat berdialog tentang visinya tesebut dengan para pembesar kolonial di Batavia.

Tidak hanya berhenti di balik layar, secara pribadi para personilnya juga kerap diundang dan dipercaya mengisi acara di berbagai tempat. Ketika ilmu pengetahuan dipakai untuk menaikkan daya tawar ekonomi masyarakat, di situlah literasi berubah menjadi rahmat nyata bagi sesama, Rahmatan lil ‘Alamin.

Jika mau membuka mata sedikit lebih lebar, lihat saja apa yang dilakukan oleh Hanna Keraf, Ayu, Zona, dan Melia di Nusa Tenggara Timur (NTT). Sekumpulan perempuan muda kreatif ini berhasil menjalankan misi inklusi sosial yang luar biasa dengan memberdayakan ratusan ibu-ibu di pelosok NTT. Bermodalkan literasi budaya dan kecakapan membaca pasar modern, mereka membimbing para perempuan desa untuk menyulap kerajinan anyaman daun lontar tradisional menjadi suvenir korporat premium dan dekorasi hotel bintang lima. Bisnis inklusif ini sukses menembus pasar ekspor, bermitra langsung dengan ritel furnitur terbesar di dunia, serta menaikkan pendapatan perajin wanita sebesar 40 persen di 26 desa.

Lagi pula, gagasan inklusi sosial ini sebetulnya bukan barang baru atau eksperimen liar dalam dunia perpustakaan. Di tingkat nasional, kita punya Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) yang digagas resmi oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Ini adalah strategi nasional yang sah, lahir untuk merombak total paradigma lama. Tugasnya jelas: mengubah wajah perpustakaan dari sekadar tempat berdebu untuk menyimpan buku, menjadi pusat belajar, ruang berkarya, dan episentrum pemberdayaan masyarakat demi menaikkan kesejahteraan sosial-ekonomi.

Program ini menekankan pentingnya perpustakaan yang bergerak langsung di masyarakat. Konsepnya jelas: memfasilitasi pelatihan keterampilan, membuka akses informasi bisnis lokal, dan menyediakan ruang inkubasi kreatif agar buku tidak berakhir sebagai pajangan mati, melainkan bertransformasi menjadi kesejahteraan yang bisa dirasakan di dompet masyarakat.

Melihat korelasi dari kegelisahan seorang Ludfan hingga aksi nyata anak muda di Komunitas Mandala, kita sebenarnya sedang melihat peta jalan baru yang konkret. Kita tidak bisa terus-menerus meratapi arus pragmatisme yang mengikis identitas religius di bumi “Gordang Sambilan”  tanpa memberikan solusi alternatif. Kita juga tidak boleh menutup mata dari realitas perut rakyat yang lapar.

Menikahkan ide inklusi dengan rem spiritual bukan lagi sebuah pilihan teoritis, melainkan suatu keharusan dalam tindakan. Inklusi sosial menjadi mesin penggerak ekonomi kreatif di akar rumput, sedangkan nilai spiritual menjadi jangkar moral yang menjaga agar pencarian materi tidak meluncur bebas ke arah keserakahan yang membutakan hati nurani. Dengan cara ini, literasi di Mandailing Natal bukan lagi sekadar angka statistik yang “mandeg” di atas kertas, melainkan sebuah gerakan hidup yang memberi makan sekaligus menjaga iman. Dapur harus tetap “mengebul”, dan martabat kemanusiaan kita harus tetap tegak berdiri.

 Makanya, begitu saya membaca ulasan kritis seorang Ludfan kemarin, hati saya berbisik: kami ini sama sekali tidak sedang baku hantam pemikiran namun tetap dalam satu nafas pengabdian dengan gaya pemikiran dan sudut pandang  yang berbeda. Saya  merasa essai beliau ini adalah potongan “puzzle” krusial yang menyambung logika berpikir publik. Konsep inklusi sosial anak muda yang saya dorong adalah mesin penggerak yang memberi ruang kerja nyata  buat “naposo nauli bulung”. Nah, tamparan moral dari Ludfan itu adalah “rem spiritualnya”. Tanpa rem, mesin sekencang apa pun pasti bakal bablas masuk jurang materialisme. Jadi, klop saling mengunci, saling mengisi dan saling membangun. Tabik..!! ***

 

Daftar Pustaka

  1. Kleden, Ignas. (1987). Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan. Jakarta: Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES).
  2. Kuntowijoyo. (1991). Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi. Bandung: Mizan.
  3. Nasution, Muhammad Ludfan. (2026). Madina dalam Paradoks Literasi: Uang Jadi “Tuhan”, Ilmuan Tanpa Kebijaksanaan. Panyabungan: Mandailing Online.
  4. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2023). Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2023 tentang Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial. Jakarta: Perpusnas RI.

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemkab Janji Tertibkan Galundung

    Pemkab Janji Tertibkan Galundung

    • calendar_month Rabu, 6 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA; Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal berjanji akan menertibkan keberadaan galundung atau mesin pemisah emas dari batu dan tanah yang semakin marak bahkan sudah masuk inti Kota Panyabungan, Ibukota Madina. Hal itu disampaikan Sekda Madina Gozali Pulungan kepada wartawan di Panyabungan, belum lama ini. Dikatakan, pemerintah akan melakukan penertiban mesin galundung yang beroperasi di inti kota […]

  • Barisan Raja Menguat Wujudkan Konsep Patujoloon Mandailing

    Barisan Raja Menguat Wujudkan Konsep Patujoloon Mandailing

    • calendar_month Kamis, 23 Mei 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIABU (Mandailing Online) – Raja-raja di Mandailing semakin menguatkan barisan dalam mewujudkan gagasan Patujoloon Mandailing, suatu konsep “standar baru kemajuan daerah”. Patujoloon Mandailing ini dipandang sebagai kerangka universal untuk menjawab kondisi Mandailing Natal (Madina) yang saat ini sedang juga-jage, jumarampar, jumarorap, suatu keadaan yang terus-terusan menghadapi permasalahan besar dan sangat kompleks. Hal itu terungkap pada […]

  • Siswa MAN 1 Madina Sarat Prestasi Tingkat Nasional dan Internasional, Wabup Atika: Siswa Berprestasi Jadi Perhatian Pemerintah

    Siswa MAN 1 Madina Sarat Prestasi Tingkat Nasional dan Internasional, Wabup Atika: Siswa Berprestasi Jadi Perhatian Pemerintah

    • calendar_month Senin, 3 Jan 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pada upacara Hari Amal Bakti ke-76 di Mandailing Natal (Madina) yang diselenggarakan di lapangan STAIN Madina terungkap prestasi yang ditorehkan siswa MAN 1 Madina untuk tingkat nasional dan internasional. Sepanjang tahun 2021 siswa MAN 1 Madina berhasil memboyong 2 juara tingkat internasional dan 13 juara tingkat nasional. Adapun prestasi yang diukir […]

  • Desa Sikara-Kara Banjir Terparah di Natal

    Desa Sikara-Kara Banjir Terparah di Natal

    • calendar_month Sabtu, 13 Okt 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      NATAL (Mandailing Online) – Desa Sikara-kara IV diperkirakan sebagai banjir terparah di Kecamatan Natal, Mandailing Natal. Desa yang diapit dua sungai besar dan dihuni sekitar 400-an kepala keluarga ini terendam banjir dengan ketinggian sekitar dada orang dewasa. Akses jalan terputus total. Warga minta untuk dievakuasi dan kiriman bantuan pangan segera. Kawasan desa ini digenangi […]

  • Saipullah Hadiri Pengajian Akbar di Siabu

    Saipullah Hadiri Pengajian Akbar di Siabu

    • calendar_month Sabtu, 19 Okt 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIABU (Mandailing Online) – Calon bupati Mandailing Natal (Madina) nomor urut 2, H. Saipullah Nasution menghadiri undangan pengajian akbar di Kelurahan Siabu, Madina, Sabtu (19/10/2024). Saipullah Nasution tiba di pengajian akbar per tiga bulan sekali itu pukul 08.20 WIB. Paslon bupati Madina berpasangan dengan Atika Azmi Utammi ini didampingi sejumlah pengurus partai politik pengusung, yakni […]

  • Sekilas Budaya Mandailing (Bagian 1)

    Sekilas Budaya Mandailing (Bagian 1)

    • calendar_month Minggu, 27 Sep 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh: Z Pangduan Lubis (in memoriam) EKSISTENSI masyarakat Mandailing sebagai suku-bangsa atau kelompok etnis ditandai dan dikukuhkan oleh kenyataan bahwa masyarakat Mandailing memiliki kebudayaannya sendiri, yang di dalamnya termasuk bahasa, sehingga mereka dapat dibedakan dari suku-bangsa lain di Indonesia. Di samping itu warga masyarakat Mandailing juga menyadari adanya identitas dan kesatuan kebudayaan mereka sendiri […]

expand_less