Jumat, 21 Agu 2026
light_mode

IKANAS di Ambang Krisis: Eksis untuk Anggota dan Madina?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Tim Mandailing Episentrum

Momentum pelantikan DPW Sumatera Utara Ikatan Keluarga Nasution dan Anakboruna (IKANAS), besok (Ahad, 3 Mei 2026), seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni rutin. Layaknya dibaca sebagai ruang refleksi: ke mana arah organisasi ini bergerak di tengah perubahan sosial-budaya, sosial-politik dan sosial-ekonomi yang semakin kompleks dan cepat?

IKANAS bukan organisasi kekerabatan biasa. Lahir di Jakarta sebagai wadah perantau — ruang solidaritas bagi sesama Nasution yang hidup jauh dari bona bulu.

Dalam fase awal, fungsi itu sangat relevan: membangun jaringan, memperkuat identitas, dan menciptakan rasa saling memiliki di tengah keterasingan kota besar.

Namun waktu mengubah segalanya.

Saat ini, IKANAS telah berkembang menjadi organisasi formal dengan struktur lengkap: dari DPP hingga DPC, bahkan memiliki sayap seperti Perempuan IKANAS. Memiliki AD/ART, mekanisme organisasi dan jangkauan nasional.

Secara institusional, ini adalah capaian yang patut diapresiasi.

Tetapi justru di titik inilah pertanyaan menjadi mendesak: Apakah transformasi struktur ini diikuti oleh transformasi fungsi?

Simbol Besar, Fungsi Kecil

Banyak organisasi kekerabatan di Indonesia berhenti pada simbol:
– pertemuan rutin,
– seremoni, dan
– kebanggaan identitas.

IKANAS berpotensi jatuh ke lubang yang sama jika tidak melakukan lompatan.

Padahal, modal sosialnya tidak kecil:
– jaringan diaspora yang luas,
– solidaritas berbasis marga dalam ikatan Dalian Natolu, serta
– kedekatan emosional dengan tanah asal.

Akan tetapi, modal itu belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi kekuatan nyata — baik dalam bentuk ekonomi, pendidikan, maupun mobilitas sosial anggota.
Organisasi hidup (eksis), tetapi manfaatnya belum terasa merata.

Ketika Tiga Legitimasi Bertemu

Situasi IKANAS hari ini menjadi semakin menarik — sekaligus sensitif, karena adanya pertemuan tiga sumber legitimasi dalam satu orbit tokoh:
– legitimasi organisasi,
– legitimasi politik, dan
– legitimasi adat.

Hal ini tercermin pada figur Ketua Umum DPP IKANAS, H. Saipullah Nasution, yang tidak hanya memimpin organisasi dari pusat, tetapi juga menjabat sebagai kepala daerah di Mandailing Natal — bona bulu bagi banyak anggota.

Konfigurasi ini menghadirkan dua kemungkinan sekaligus:
– sebagai kekuatan konsolidasi yang luar biasa, atau
– sebagai titik rawan kaburnya batas antara organisasi, adat dan kekuasaan.

Di sinilah kedewasaan organisasi diuji:
Apakah Ikanas mampu menjaga keseimbangan, atau justru terseret dalam konsentrasi pengaruh.

Bona Bulu: Simbol atau Prioritas?

Kehadiran DPC Khusus di Mandailing Natal menegaskan satu hal: tanah asal tidak dipandang sebagai wilayah biasa. Memiliki nilai simbolik dan kultural yang lebih dalam.

Namun pertanyaan penting belum terjawab: Apakah posisi “khusus” itu sekadar simbol, atau benar-benar mandat strategis?

Jika bona bulu hanya dijadikan sumber identitas, maka hubungan itu akan berhenti pada nostalgia. Tetapi jika diposisikan sebagai prioritas, maka seharusnya ada:
– intervensi ekonomi,
– penguatan pendidikan, dan
– advokasi kebijakan pembangunan.

Dengan kata lain, IKANAS perlu menentukan sikap: Hadir sebagai kenangan, atau sebagai kekuatan yang bekerja untuk masa depan.

Organisasi dan Tanggung Jawab Sosial

Sebagai organisasi formal dengan AD/ART, IKANAS tidak lagi bisa hanya mengandalkan semangat kebersamaan. Perkumpulan ini dituntut untuk menetapkan arah. AD/ART bukan sekadar dokumen administratif, tetapi kompas yang menentukan pemunculan pertanyaan:
– Bagaimana mengelola kekuasaan?
– Bagaimana membuat keputusan?
– Bagaimana menciptakan organisasi jadi milik bersama?

Hal yang sama berlaku bagi Perempuan IKANAS. Dalam banyak organisasi modern, sayap perempuan justru menjadi motor penggerak sosial. Jika tidak diberi ruang strategis, potensi ini akan terbuang.

Peran Jaringan sebagai Power

Di tengah perubahan zaman, IKANAS memiliki peluang untuk mengambil peran yang lebih besar.
Pertama, menjadi alat mobilitas sosial anggota: membuka akses jaringan, peluang dan posisi strategis di berbagai sektor.

Kedua, menjadi kekuatan advokasi bagi daerah asal: mendorong perhatian kebijakan, akses anggaran, dan pembangunan yang lebih adil bagi Mandailing Natal.

Peran ini bukan sesuatu yang berlebihan.
Justru inilah konsekuensi logis dari organisasi yang sudah matang secara struktur.

Di Ambang Sore nan Sayu

IKANAS hari ini tidak sedang kekurangan energi. Ia memiliki sejarah, struktur, jaringan dan akses. Yang dipertaruhkan adalah arah.

Apakah ia akan tetap menjadi simbol persatuan yang hangat tetapi terbatas?

Atau berkembang menjadi kekuatan sosial yang memberi dampak nyata — baik bagi anggotanya maupun bagi Madina sebagai bona bulu?

Pilihan itu tidak berada pada satu figur, tetapi pada keberanian kolektif seluruh anggota untuk mendorong organisasi ini melampaui dirinya sendiri.

Jika tidak, IKANAS mungkin akan tetap besar sebagai nama —
tetapi kerdil dalam makna.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kadin Sumut Sambut Positif Pembukaan Jalur Madina-Palas

    Kadin Sumut Sambut Positif Pembukaan Jalur Madina-Palas

    • calendar_month Selasa, 10 Jun 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

          PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Rencana pembukaan lanjutan jalur Madina-Palas disambut positif Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumatera Utara. Wakil Ketua Kadin Sumut Wilayah Pantai Barat Sobir Lubis, Selasa (10/6/2025) menyatakan jalur ini kelak memiliki daya dukung bagi perekonomian Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dan Kabupaten Padang Lawas (Palas) secara khusus dan kawasan Tapanuli […]

  • Pembangunan Jembatan Gantung di Kampung Baru Terus Dikebut

    Pembangunan Jembatan Gantung di Kampung Baru Terus Dikebut

    • calendar_month Selasa, 17 Okt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online )- Jembatan gantung aek batang gadis yang menghubungkan Desa Kampung Baru- Simanondong di Kecamatan Panyabungan Utara ,Mandailing Natal ( Madina ) bernilai Rp.4,6 miliar terus dikebut penyelesaiannya, diperkirakan pertengahan bulan november 2023 jembatan ini sudah bisa di fungsikan. Plt Kepala Dinas PUPR Madina Elpiyanti Harahap saat meninjau pembangunannya Selasa 17/10/2023, mengku […]

  • Survey Terkini, Potensi PLTA Batang Gadis 150 MW

    Survey Terkini, Potensi PLTA Batang Gadis 150 MW

    • calendar_month Jumat, 19 Okt 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIABU (Mandailing Online) – Survey terhadap arus Sungai Batang Gadis yang dilakukan baru-baru ini memberikan gambaran arus sungai itu berpotensi menghasilkan arus listrik sebesar 150 MW dengan pola PLTA. Survey yang diprakarsai Kementerian ESDM sekitar 2 pekan lalu di Sungai Batang Gadis Kecamatan Siabu, Mandailing Natal memberikan gambaran potensi arus listrik 94 hingga 150 Mega […]

  • Tempe Tahu Madina Dikecilkan

    Tempe Tahu Madina Dikecilkan

    • calendar_month Jumat, 27 Jul 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Terkait Melonjaknya Harga Kedelai PANYABUNGAN (MO) – Lonjakan harga kedelai secara nasional juga berimbas di Mandailing Natal (Madina). Pengrajin tahu dan tempa terpaksa mengecilkan ukuran tahu dan tempe yang diproduksi. “Meski untung tipis, kami harus tetap harus memproduksinya, tapi takarannya dikurangi,” ungkap Paijo, pengrajin tahu tempe di Desa Aek Galoga, Panyabungan menjawab artawan, Jum’at (27/7). […]

  • CATATAN RAMONA

    CATATAN RAMONA

    • calendar_month Sabtu, 3 Feb 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

      Cerpen (publis bagian 1) Karya : Wahyuni Lubis Tuan, ejaan kata mana lagi yang akan kau lontarkan padaku agar hujan di pipiku menjadi reda, bisakah kau beri aku solusi untuk keluar dari pilu ini? Kau tau jika aku adalah wanita yang mudah jatuh hati apalagi semenjak kau katakan padaku bahwa aku adalah wanita yang […]

  • Tokoh Bergelar Sutan (Willem) Iskander Itu Layak Jadi Pahlawan Nasional (bagian 4)

    Tokoh Bergelar Sutan (Willem) Iskander Itu Layak Jadi Pahlawan Nasional (bagian 4)

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh: Tim Mandailing Epicentrum   Sebelum Ki Hadjar Dewantara, Mandailing Sudah Bicara Pendidikan Tulisan ini bukan untuk membandingkan apalagi mengecilkan Ki Hadjar Dewantara. Tetapi, sejarah tetap perlu dibaca secara utuh. Sebab jauh sebelum Ki Hadjar mendirikan Taman Siswa tahun 1922, Willem Iskander sudah mendirikan sekolah guru bumiputera di Tanobato pada tahun 1862.[1] Sekolah untuk […]

expand_less