Sabtu, 5 Sep 2026
light_mode

Pemekaran: Jalan Pintas Penguasaan atau Jalan Panjang Kesejahteraan?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum

 

Ada satu kesalahan berpikir yang terus berulang setiap kali wacana pemekaran daerah muncul: seolah-olah membelah wilayah otomatis berarti membagi kesejahteraan. Padahal, pengalaman sejak era Reformasi 1998 justru menunjukkan hal yang lebih rumit — dan seringkali lebih pahit.

Pemekaran, dalam praktiknya – baik untuk provinsi atau kabupaten/kota, terlalu sering menjadi proyek elite, bukan jawaban atas kebutuhan rakyat.

Kehendak memekarkan Sumatera Tengah, Tapanuli, Asahan Labuhanbatu dan Nias, serta Pantai Barat Mandailing dan lain-lain, belum tentu bisa mempercepat kesejahteraan ke rakyat.

 

Pertama: Evaluasi yang Sengaja Dilupakan

Mari jujur. Sudah puluhan daerah otonom baru lahir sejak awal 2000-an. Tapi pertanyaannya sederhana: apakah rakyatnya lebih makmur?

Banyak studi dan pengalaman lapangan menunjukkan pola yang berulang:
– APBD habis untuk belanja birokrasi, bukan pelayanan publik;
– Pilkada berubah menjadi arena transaksi;
– Infrastruktur dasar tetap tertinggal

Alih-alih memperpendek rentang kendali pelayanan, pemekaran sering hanya memperpendek jalur distribusi kekuasaan.

Dan di titik ini, demokrasi lokal justru mengalami degradasi: dari partisipasi menjadi transaksional.

 

Kedua: Pemekaran sebagai Proyek Penguasaan

Ini bagian yang jarang diucapkan terang-terangan.

Pemekaran seringkali bukan tentang mendekatkan negara ke rakyat, tapi mendekatkan sumber daya ke kelompok tertentu. Ketika wilayah dipecah, yang berubah bukan hanya peta administrasi — tetapi juga:
– peta konsesi sumber daya alam;
– peta jaringan patronase;
– peta kontrol atas tenaga kerja lokal.

Dengan kata lain, pemekaran bisa menjadi strategi untuk “memotong garis komando” — agar akses terhadap SDA dan SDM tidak lagi terlalu panjang dan bisa dikendalikan lebih sempit.

Ini bukan asumsi liar. Ini sudah menjadi pola. Cermati baik-baik!

Dan kalau ini yang terjadi, maka pemekaran bukanlah desentralisasi — melainkan fragmentasi kekuasaan yang lebih eksploitatif.

 

Ketiga: Ilusi Kedaulatan Tanpa Kapasitas

Banyak yang mengira, dengan menjadi daerah otonom, otomatis punya kuasa menentukan nasib sendiri.

Padahal yang sering terjadi justru sebaliknya:
– kapasitas fiskal lemah;
– ketergantungan tinggi ke pusat;
– birokrasi belum matang; dan
– elite lokal belum siap secara etik maupun teknokratik.

Akhirnya, daerah baru hanya menjadi “negara kecil” yang rapuh — mudah ditarik ke dalam permainan oligarki yang lebih besar.

Kedaulatan tanpa kapasitas hanyalah ilusi administratif.

 

Keempat: Demokrasi yang Dipersempit Jadi Ambisi Jabatan

Ini deskripsi yang paling vulgar.

Pemekaran sering dihitung dengan logika:
“Berapa kursi bupati? Berapa kursi DPRD? Siapa dapat posisi?”

Bukan:
“Bagaimana desain ekonomi wilayahnya? Apa basis produksinya? Siapa yang menguasai rantai nilai?”

Kalau motifnya hanya memperbanyak jabatan, maka pemekaran bukanlah solusi — melainkan reproduksi masalah dalam skala yang lebih kecil.

Dan pada titik ini, rakyat hanya menjadi penonton dari kompetisi elite yang makin sempit tapi makin intens.

 

Lalu, Harus Bagaimana?

Pemekaran tidak salah. Tapi tanpa kesadaran kolektif yang matang, ia bisa menjadi jebakan struktural.

Ada prasyarat yang tidak bisa ditawar:
1. Kesadaran Kritis Kolektif
Masyarakat harus tahu: untuk siapa pemekaran ini? Siapa yang akan diuntungkan?

2. Desain Ekonomi yang Jelas
Bukan sekadar batas wilayah, tapi bagaimana daerah itu hidup dan berkembang.

3. Kesiapan SDM dan Etika Elite

Tanpa ini, otonomi hanya akan melahirkan raja-raja kecil.

4. Penguasaan atas SDA oleh Rakyat
Kalau tidak, pemekaran hanya mempermudah eksploitasi dalam skala lokal.

 

Penutup: Jangan Jadikan Pemekaran sebagai Jalan Pintas

Kalau pemekaran hanya dihitung sebagai cara agar “lebih mudah jadi bupati atau gubernur”, maka kita sedang membangun masa depan di atas fondasi yang rapuh.

Pemekaran seharusnya adalah jalan panjang menuju kedaulatan rakyat — bukan jalan pintas menuju kekuasaan segelintir orang.

Kalau tidak siap dengan itu, lebih baik tidak usah dimekarkan.

Karena daerah yang kecil tapi dikuasai oligarki, tetap saja besar dalam ketimpangan.***

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • HATA MANDAILING

    HATA MANDAILING

    • calendar_month Kamis, 16 Okt 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh: Jasinaloan   Di wilayah Propinsi Sumatera Utara dapat dijumpai beberapa kelompok etnis. Salah satu diantaranya adalah Orang Mandailing. Di samping memiliki adat-istiadatnya sendiri, Orang  Mandailing juga memiliki bahasa ibunya yang disebut Hata (Bahasa) Mandailing. Bahasa Mandailing memiliki kekhasan, baik dari segi bentuk, proses pembentukan kata, makna kata maupun berdasarkan ragam pemakaiannya.  Dalam hal ini, penulis […]

  • Ujian Bagi Demokrat Adalah Nazaruddin

    Ujian Bagi Demokrat Adalah Nazaruddin

    • calendar_month Minggu, 24 Jul 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    TANJUNGPINANG – Pakar politik Zamzami A Karim mengatakan pernyataan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin dari tempat persembunyian yang dipublikasikan berbagai media massa merupakan ujian berat bagi Partai Demokrat. “Ini sebagai ujian berat, apakah Partai Demokrat memang partai pionir dalam agenda reformasi dan pemberantasan korupsi atau tidak berbeda dengan partai lain yang mudah tergoda […]

  • MTQ Tingkat Sumut akan Digelar di Sergai

    MTQ Tingkat Sumut akan Digelar di Sergai

    • calendar_month Kamis, 12 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    BINGKISAN Bupati Sergai Ir H T Erry Nuradi MSi didampingi Sekdakab Drs H Haris Fadillah MSi menyerahkan bingkisan kepada rombongan tim LPTQ Propinsi Sumatera Utara usai melakukan kunjungan ke Kabupaten Sergai di ruang rapat Wabup Sergai kompleks Kantor Bupati Sergai di Sei Rampah, Selasa (10/1). ( medanbisnis/jhonni sitompul)

  • Bayi Mata Satu Lahir di Madina

    Bayi Mata Satu Lahir di Madina

    • calendar_month Kamis, 13 Sep 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bayi memiliki mata satu lahir di RSU Panyabungan, Mandailing Natal, Kamis (13/9/2018). Infomasi yang dihimpun di RSU Panyabungan, bayi ini merupakan anak ke-5 dari pasangan Yulianti dan Rianto berasal dari pulau Jawa berdomisili di Kayujati, Panyabungan. Menurut keterangan sejumlah warga Kayujati, Rianto berprofesi pekerja tambang emas di kawasan perbukian Hutabargot […]

  • Lowongan CPNS dibuka 18-29 Agustus

    Lowongan CPNS dibuka 18-29 Agustus

    • calendar_month Rabu, 6 Agt 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    MEDAN – Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Azwar Abubakar melalui Sekretaris Menteri Tasdik Kinanto telah mengirimkan surat bernomor: B/2870/M.PAN/7/2014 tertanggal 25 Juli 2014 kepada para Pejabat Pembina Kepegawaian Pusat dan Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah agar mematuhi jadwal kegiatan pelaksanaan seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Tahun 2014. Dalam lampiran surat itu disebutkan, […]

  • TKA di Madina Dominasi dari Negara China

    TKA di Madina Dominasi dari Negara China

    • calendar_month Kamis, 20 Jun 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA : Mandailing Online– Data Tenaga Kerja Asing ( TKA) di Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) masih di nominasi perusahaan panas bumi PT. Sorik Marapi Geotermal Power ( SMGP ) yang beroperasi di Kecamatan Puncak Sorik Marapai. Kepala Dinas Tenaga Kerja Madina menyebut, ada 28 orang TKA dari Negara China yang bekerja di PT. […]

expand_less