Rabu, 7 Okt 2026
light_mode

Pemekaran: Jalan Pintas Penguasaan atau Jalan Panjang Kesejahteraan?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum

 

Ada satu kesalahan berpikir yang terus berulang setiap kali wacana pemekaran daerah muncul: seolah-olah membelah wilayah otomatis berarti membagi kesejahteraan. Padahal, pengalaman sejak era Reformasi 1998 justru menunjukkan hal yang lebih rumit — dan seringkali lebih pahit.

Pemekaran, dalam praktiknya – baik untuk provinsi atau kabupaten/kota, terlalu sering menjadi proyek elite, bukan jawaban atas kebutuhan rakyat.

Kehendak memekarkan Sumatera Tengah, Tapanuli, Asahan Labuhanbatu dan Nias, serta Pantai Barat Mandailing dan lain-lain, belum tentu bisa mempercepat kesejahteraan ke rakyat.

 

Pertama: Evaluasi yang Sengaja Dilupakan

Mari jujur. Sudah puluhan daerah otonom baru lahir sejak awal 2000-an. Tapi pertanyaannya sederhana: apakah rakyatnya lebih makmur?

Banyak studi dan pengalaman lapangan menunjukkan pola yang berulang:
– APBD habis untuk belanja birokrasi, bukan pelayanan publik;
– Pilkada berubah menjadi arena transaksi;
– Infrastruktur dasar tetap tertinggal

Alih-alih memperpendek rentang kendali pelayanan, pemekaran sering hanya memperpendek jalur distribusi kekuasaan.

Dan di titik ini, demokrasi lokal justru mengalami degradasi: dari partisipasi menjadi transaksional.

 

Kedua: Pemekaran sebagai Proyek Penguasaan

Ini bagian yang jarang diucapkan terang-terangan.

Pemekaran seringkali bukan tentang mendekatkan negara ke rakyat, tapi mendekatkan sumber daya ke kelompok tertentu. Ketika wilayah dipecah, yang berubah bukan hanya peta administrasi — tetapi juga:
– peta konsesi sumber daya alam;
– peta jaringan patronase;
– peta kontrol atas tenaga kerja lokal.

Dengan kata lain, pemekaran bisa menjadi strategi untuk “memotong garis komando” — agar akses terhadap SDA dan SDM tidak lagi terlalu panjang dan bisa dikendalikan lebih sempit.

Ini bukan asumsi liar. Ini sudah menjadi pola. Cermati baik-baik!

Dan kalau ini yang terjadi, maka pemekaran bukanlah desentralisasi — melainkan fragmentasi kekuasaan yang lebih eksploitatif.

 

Ketiga: Ilusi Kedaulatan Tanpa Kapasitas

Banyak yang mengira, dengan menjadi daerah otonom, otomatis punya kuasa menentukan nasib sendiri.

Padahal yang sering terjadi justru sebaliknya:
– kapasitas fiskal lemah;
– ketergantungan tinggi ke pusat;
– birokrasi belum matang; dan
– elite lokal belum siap secara etik maupun teknokratik.

Akhirnya, daerah baru hanya menjadi “negara kecil” yang rapuh — mudah ditarik ke dalam permainan oligarki yang lebih besar.

Kedaulatan tanpa kapasitas hanyalah ilusi administratif.

 

Keempat: Demokrasi yang Dipersempit Jadi Ambisi Jabatan

Ini deskripsi yang paling vulgar.

Pemekaran sering dihitung dengan logika:
“Berapa kursi bupati? Berapa kursi DPRD? Siapa dapat posisi?”

Bukan:
“Bagaimana desain ekonomi wilayahnya? Apa basis produksinya? Siapa yang menguasai rantai nilai?”

Kalau motifnya hanya memperbanyak jabatan, maka pemekaran bukanlah solusi — melainkan reproduksi masalah dalam skala yang lebih kecil.

Dan pada titik ini, rakyat hanya menjadi penonton dari kompetisi elite yang makin sempit tapi makin intens.

 

Lalu, Harus Bagaimana?

Pemekaran tidak salah. Tapi tanpa kesadaran kolektif yang matang, ia bisa menjadi jebakan struktural.

Ada prasyarat yang tidak bisa ditawar:
1. Kesadaran Kritis Kolektif
Masyarakat harus tahu: untuk siapa pemekaran ini? Siapa yang akan diuntungkan?

2. Desain Ekonomi yang Jelas
Bukan sekadar batas wilayah, tapi bagaimana daerah itu hidup dan berkembang.

3. Kesiapan SDM dan Etika Elite

Tanpa ini, otonomi hanya akan melahirkan raja-raja kecil.

4. Penguasaan atas SDA oleh Rakyat
Kalau tidak, pemekaran hanya mempermudah eksploitasi dalam skala lokal.

 

Penutup: Jangan Jadikan Pemekaran sebagai Jalan Pintas

Kalau pemekaran hanya dihitung sebagai cara agar “lebih mudah jadi bupati atau gubernur”, maka kita sedang membangun masa depan di atas fondasi yang rapuh.

Pemekaran seharusnya adalah jalan panjang menuju kedaulatan rakyat — bukan jalan pintas menuju kekuasaan segelintir orang.

Kalau tidak siap dengan itu, lebih baik tidak usah dimekarkan.

Karena daerah yang kecil tapi dikuasai oligarki, tetap saja besar dalam ketimpangan.***

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pelantikan Oji Ganding Menjadi Anggota DPRD Masih Belum Jelas

    Pelantikan Oji Ganding Menjadi Anggota DPRD Masih Belum Jelas

    • calendar_month Senin, 1 Sep 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kehadiran Ali Makmur Nasution alias Oji Ganding di DPRD Mandailing Natal (Madina) untuk pelantikan dan pengambilan sumpah menjadi anggota DPRD Madina besok Selasa (2/9/2014) masih belum jelas. Oji Ganding masih menghadapi kendala izin keluar dari Lembaga Pemasayarakatan Sipapaga Panyabungan, sebab hingga malam ini pihak penjara mengaku belum ada menerima permohonan izin […]

  • Legenda “Seri Bulan, Bujing Sambilan Jogi” di Gua Pastap

    Legenda “Seri Bulan, Bujing Sambilan Jogi” di Gua Pastap

    • calendar_month Selasa, 24 Mei 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Diceritakan kembali: Askolani Nasution ……………… Cerita ini saya tulis dari kesaksian sesepuh desa di lokasi Gua Pastap, tanggal 6 Desember 2021. Ketika itu saya membawa peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Prof Dr Obing Katubi dan Tim Literasi dari UMTS. Belum pernah dipublikasikan secara luas. (Askolani Nasution) ………………. Tersebutlah di sebuah luat Tangga Bosi, […]

  • Komunitas Madina Kreatif Madani Dukung Sahata di Pilkada Madina

    Komunitas Madina Kreatif Madani Dukung Sahata di Pilkada Madina

    • calendar_month Senin, 4 Nov 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Komunitas Madina Kreatif Madani mendukung penuh pasangan calon (Paslon) bupati dan wakil bupati Madina nomor urut 2, H. Saipullah Nasution dan Atika Azmi Utammi Nasution di Pilkada serentak 2024. Dukungan itu disampaikan oleh Ketua Komunitas Madina Kreatif Madani, Muhammad Ja’par Nasution, SKM di Panyabungan, Senin (4/11/2024). Ja’par menilai Paslon Saipullah-Atika […]

  • Lahir dari Orang Tua Mualaf, Abdullah Johnson tak Ingin ke ‘Lain Hati’

    Lahir dari Orang Tua Mualaf, Abdullah Johnson tak Ingin ke ‘Lain Hati’

    • calendar_month Jumat, 20 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Pria kelahiran London, Inggris 38 tahun lalu itu memiliki ayah dan ibu mualaf yang memeluk Islam ketika keduanya masih mahasiswa, jauh sebelum ia dilahirkan. Johnson menuturkan ayahnya mengenal Islam dari sebuah komunitas yang mempertemukan ia dengan ilmu-ilmu tentang islam. Sementara ibunya, yang lebih dahulu meenjadi Muslim memutuskan bersyahadat karena belajar Agama Islam dengan seorang teman. […]

  • Kadis Pendidikan Madina Akan Hidupkan Kembali Beasiswa

    Kadis Pendidikan Madina Akan Hidupkan Kembali Beasiswa

    • calendar_month Senin, 6 Agt 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kepala Dinas Pendidikan Madina, Daud Batubara akan berupaya menghidupkan kembali program beasiswa untuk siswa berprestasi dari keluarga miskin. Itu dikatakan Daud Batubara menjawab Mandailing Online di ruang kerjanya, Senin (6/8/2018). Menurutnya, beasiswa itu sangat bersifat urgen sebagai salah satu upaya membantu putra-putri Mandailing Natal (Madina) yang berprestasi namun tak mampu membiayai […]

  • Kiprah Para Tokoh Gunung Tua Panyabungan dalam Perjalanan Kebangsaan Indonesia

    Kiprah Para Tokoh Gunung Tua Panyabungan dalam Perjalanan Kebangsaan Indonesia

    • calendar_month Kamis, 4 Agt 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Pengantar redaksi: Berikut ini catatan ringkas yang disusun oleh Askolani Nasution tentang sejumlah tokoh dari Mandailing yang mewarnai dinamika kebangsaan sejak era pertengahan 1800-an hingga awal kemerdekaan Indonesia. Mereka memiliki peran penting di dalam gerak dinamika kebangsaan, baik peran dalam ilmu pengetahuan maupun gerakan kemerdekaan. Mengejutkan, karena semua tokoh-tokoh dalam catatan ini berasal dari satu […]

expand_less