Jumat, 6 Nov 2026
light_mode

Demo, Mahasiswa UGN Pertanyakan Status Lahan

  • account_circle Redaksi Abdul Holik
  • calendar_month Minggu, 15 Feb 2015
  • print Cetak

SIDIMPUAN – Rupanya, selain menuntut kejelasan tentang status kampus UGN yang belum kunjung menjadi PTN, puluhan mahasiswa yang melakukan aksi unjuk rasa di kampus I Jalan Sutomo juga mempertanyakan persoalan lahan milik kampus mereka yang berada di daerah Simarsayang.

Hendra Ibrahim Siregar, selaku kordinator aksi, saat diterima pihak Yayasan bersama dengan puluhan mahasiswa lainnya, di ruangan Aula Kampus I Jalan Sutomo Kota Psp, Rabu (11/2), menanyakan permasalahan lahan di Simarsayang  yang diketahui  milik Universitas Graha Nusantara seluas 16 hektare.

Namun diketahui, saat ini yang tinggal dan sudah bersertifikat hanya seluas 4 hektare lagi. Bukan itu saja, ia dan mahasiswa lainnya juga merasa geram dan kesal melihat kondisi kampus mereka yang juga ada di Simarsayang, diketahui ada yang dijadikan sebagai lokasi hiburan.

“Mirisnya lagi, kami melihat ada bangunan bercat biru yang menurut kami adalah bangunan milik UGN sudah berubah fungsi. Sebab sudah dijadikan sebagai tempat untuk karaoke dan hiburan. Sangat sedih sekali,” lanjutnya.

Atas hal itu, ia dan kawan-kawan lainnya berniat untuk menyusun gerakan guna mengembalikan apa yang menjadi hak dan asset kampus mereka.

“Kalau pihak UGN tidak bisa mengatasi hal tersebut, kami akan merebut apa yang menjadi hak dan milik kampus kami. Terlebih dengan permasalahan lahan yang sekarang hanya tinggal 4 hektare lagi, bila perlu akan kami buat gerakan untuk mengambil alih lahan yang hilang tersebut,” pungkasnya.

Sementara itu pihak Yayasan Ir H Soripada Harahap didampingi pengurus lainnya, menanggapi pertanyaan mahasiswa mengatakan, ia membenarkan sekitar tahun 1985 lalu, pihak pemkab Tapsel melalui BPN (dulu agraria,red) memberikan tanah seluas 16 hektare untuk dijadikan sebagai kampus di Simarsayang. Namun, akibat tidak adanya pihak yang mengurusnya, lambat laun, status tanah tersebut akhirnya hanya tinggal 4 hektar lagi.

“Memang dulu ada seluas 16 hektare, namun karena tidak ada yang mengurusnya, akhirnya yang dapat disertifikat tinggal 4 hektare lagi,” ujarnya tanpa dapat menjelaskan ke mana selebihnya lahan yang diduga ‘hilang’ tersebut.(.metrosiantar)

“Tahulah, dulu kan orang mudah saja mencap itu sebagai tanah miliknya, asal sudah ditanami diklaim sebagai tanahnya. Dan itulah yang terjadi sekarang ini. Intinya, dulu dibiarkan saja dan tidak ada yang mengrusnya untuk disertifikat,” pungkas sejumlah pengurus yayasan lainnya.

  • Penulis: Redaksi Abdul Holik

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tambang Emas Ilegal di Sininjom MBG Terus Beroperasi. Sulitnya Akses Lokasi Diduga Disengaja Pelaku Untuk Menghindari Petugas

    Tambang Emas Ilegal di Sininjom MBG Terus Beroperasi. Sulitnya Akses Lokasi Diduga Disengaja Pelaku Untuk Menghindari Petugas

    • calendar_month Minggu, 8 Des 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Muara Batang Gadis ( Mandailing Online) : Aktifitas tambang emas ilegal dengan menggunakan alat berat dikawasan hutan taman nasional batang gadis tepatnya di siulangaling sininjom, Desa Ranto Panjang, Kecamatan Muara Batang Gadis, Kabupaten Mandailing Natal terus beroperasi. Sulitnya jangkauan kelokasi mungkin menjadi salah satu cara pelaku melakukan aktifitas penambangan di lokasi secara bebas. Sumber Mandailing […]

  • Tapteng Layak Dilibatkan Konsorsium Danau Toba

    Tapteng Layak Dilibatkan Konsorsium Danau Toba

    • calendar_month Selasa, 9 Feb 2016
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

      Tapteng –  Meski tidak berada di pesisir Danau Toba, namun Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) layak dilibatkan dalam Konsorsium Pembangunan Destinasi Wisata Danau Toba yang baru-baru ini digagas 5 kementerian RI. Pasalnya, selain memiliki potensi pariwisata yang dapat mendukung dan menjadi bagian dari destinasi wisata Danau Toba, Tapteng saat ini telah memiliki pelabuhan laut yang […]

  • Desa Ranjau Batu Kini Punya Gedung Madrasah

    Desa Ranjau Batu Kini Punya Gedung Madrasah

    • calendar_month Rabu, 6 Apr 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MUARA SIPONGI (Mandailing Online) – Desa Ranjau Batu Kecamatan Muara Sipongi, Mandailing Natal kini telah memiliki bangunan madrasah. Biaya pembangunannya berasal dari Dana Desa Dan kini, anak-anak juga telah dengan nyaman belajar agama dan bahasa Arab dibangunan yang memiliki 2 lokal itu. Warga juga sangat mengapresiasi keberhasilan pembangunan gedung madrasah tersebut. Sebab, madrasah sangat urgen […]

  • Pemerintah Diharap Tetapkan Willem Iskander dan Syeikh Musthofa Jadi Pahlawan Nasional

    Pemerintah Diharap Tetapkan Willem Iskander dan Syeikh Musthofa Jadi Pahlawan Nasional

    • calendar_month Kamis, 2 Sep 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pemerintah Indonesia diharap menetapkan Syeikh Mustafa Husein Nasution dan Willem Iskander (Sutan Sati Nasution) menjadi pahlawan nasional di bidang pendidikan. Harapan itu dicuatkan Ketua Umum Ikatan Pemuda Mandailing, Tan Gozali dalam rilis pers diterima Mandailing Online, Kamis (2/9/2021). Kedua tokoh itu memiliki peran besar sebagai pelopor pendidikan Bumi Poetra sebelum kemerdekaan. […]

  • Ribuan Warga Blokir Jalinsum, Tuntut SMGP Angkat Kaki Dari Madina

    Ribuan Warga Blokir Jalinsum, Tuntut SMGP Angkat Kaki Dari Madina

    • calendar_month Selasa, 11 Nov 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Ribuan  warga dari lima kecamatan di Mandailing Natal (Madina) menutup jalur negara atau jalan lintas sumatera, Selasa ( 11/11) menuntut pemerintah agar mengeluarkan PT.Sorik Marapi Gheotermal Power (SMGP) dari Madina. Gerakan masyarakat 5 kecamatan ini merupakan lanjutan dari aksi-aksi unjukrasa sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan situasi investasi eksplorasi panas bumi bagi […]

  • PT BAS Dinilai Rugikan Negara Rp30 M

    PT BAS Dinilai Rugikan Negara Rp30 M

    • calendar_month Senin, 2 Nov 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    PALUTA- Kesatuan Aksi Mahasiswa Paluta (KAMP) Paluta meminta kepada Kapoldasu dan Kejatisu untuk segera mengusut tuntas atas kerugian negara Rp30 miliar yang belum dibayarkan oleh PT BAS kepada Menteri Kehutanan melalui Kepala Kantor Wilayah Departemen Kehutanan Provinsi Sumatera Utara dari tahun 1999 hingga saat ini. Tak hanya itu, KAMP Paluta juga meminta kepada PT BAS […]

expand_less