Rabu, 21 Okt 2026
light_mode

Dari Batta ke Batak

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 28 Nov 2019
  • print Cetak

Prof. Uli Kozok

 

Profesor Uli Kozok memosting artikel singkat di akun facebooknya pada 25 November 2019 memaparkan masa awal sebutan “Batak”.

Artikel singkat berjudul “Dari Batta ke Batak” ini memaparkan kajian-kajian bahwa sebutan “Batak” baru muncul pada abad 19 dari pihak luar seperti Aceh dan Melayu.

Merujuk naskah-naskah kuno maupun catatan para misionaris Jerman yang dimuat di majalah BRMG.

Istilah Batak atau Batta relatif jarang digunakan dan yang lebih sering muncul adalah sebutan Toba yang tidak hanya digunakan sebagai nama daerah, tetapi juga sebagai nama etnis.

Profesor Uli Kozok telah lama melakukan penelitian di Tapanuli, Sumatera Utara.

Berikut ini artikel yang ditulis Profesor Uli Kozok yang dicopy Mandailing Online tanpa merubah apapun :

Dari Batta ke Batak

Selama abad ke-19 bahan tulisan yang dihasilkan oleh orang Batak hanya berupa naskah kulit kayu (pustaha), bambu dan tulang.

Selain Willem Iskander dari Mandailing, seorang guru sekolah yang menulis sebuah buku bacaan yang dicetak pada tahun 1872 di Batavia, tidak ada satu pun orang Batak yang menulis buku.

Saya belum sempat untuk merangkum tulisan yang dipublikasi setelah tahun 1900, tetapi kalau tidak salah publikasi pertama baru muncul seusai perang dunia pertama (1918).

Oleh sebab itu kita harus mengandalkan sumber tulisan dari luar Batak. yang kebanyakan ditulis oleh orang Eropa (terutama Jerman), tetapi ada juga yang dari Tionghoa, Arab, Aceh, dan Melayu.

Pada siapa yang ingin membaca sebutan-sebutan pertama mengenai orang Batak silakan baca artikel Anthony Reid bertajuk “Is there a Batak history”.

Perihal etnisitas Batak banyak diperdebatkan di media sosial dan juga di surat kabar. Berikut ini sumbangan sederhana berdasarkan salah satu sumber yang sangat penting, ialah catatan para misionaris Jerman yang dimuat di majalah BRMG yang tebalnya beberapa ribu halaman.

Menarik untuk dicatat bahwa ejaan “Batak” masih relatif baru. Pada abad ke 1900 orang Eropa menyebut orang Batak sebagai Batta, dan sekali-sekali, Bata. Hanya H.N. van der Tuuk yang menggunakan ejaan “Batak” sejak tahun 1860an. Istilah Batak baru mulai populer setelah tahun 1904.

Yang menarik untuk diamati adalah bahwa istilah Batak/Batta hanya digunakan untuk merujuk kepada sesuatu yang bersifat “universal”, seperti Batta-Mission (misi Batak), dsb. Oleh sebab itu istilah Batak atau Batta relatif jarang digunakan dan yang lebih sering muncul adalah sebutan yang berkaitan dengan daerah.

Istilah Toba sangat sering digunakan, tetapi tidak pernah dalam arti “Batak Toba” yang baru menjadi populer pada abad ke-20.

Toba merujuk pada daerah di sebelah selatan Danau Toba di sekitar Balige dan Laguboti. Toba tidak hanya digunakan sebagai nama daerah, tetapi juga sebagai nama etnis. Lain daerah yang disebut adalah “Pulau Toba” (yang secara keliru dinamakan Belanda menjadi “Pulau Samosir”), Uluan, Silindung, Angkola, Mandailing, Habinsaran, Padang Bolak, Asahan, dan Batang Toru.

Yang menarik untuk dicatat adalah bahwa pada abad ke-19 sebutan “Toba” sebagai etnisitas tidak digunakan untuk orang Silindung. Para misionaris juga sering menekankan bahwa ada perbedaan secara budaya dan linguistik antara Silindung dan Toba. Dari cerita-cerita para misionaris menjadi jelas bahwa pada abad ke-19 orang Silindung dan orang Toba masih belum menganggap dirinya sebagai satu kelompok etnis.

Tadi saya sebutkan bahwa selain sumber Eropa ada pula sumber Batak yang berupa naskah. Yang menarik untuk dicatat adalah bahwa istilah “Batak” hampir tidak pernah disebut. Saya sendiri belum pernah menemukannya, dan saya belum sempat bertanya pada ahli pernaskahan Batak yang lain seperti Manguji Nababan, Robert Sibarani, Nelson Lumbantoruan, Roberta Zollo, atau Giuseppina Monaco, tetapi saya yakin bahwa mereka bisa konfirmasikan bahwa istilah “Batak” jarang sekali atau malahan tidak pernah muncul di dalam pustaha.

Istilah Batak di dahulu kala memang terutama digunakan oleh pihak luar (Aceh, Melayu dan orang asing) untuk merujuk pada kelompok non-Muslim yang mendiami pedalaman Sumatera Utara. Baru pada abad ke-19 istilah Batak dipopulerkan oleh orang Eropa sehingga secara lama-kelamaan menjadi sebutan etnis yang juga diterima oleh orang Batak (alias Batak Toba).

Sedangkan Toba dalam arti Batak Toba (bila merujuk kepada ke-6 kelompok etnis di bawah naungan lebel “Batak”), malah baru mulai menjadi populer pada abad ke-20.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketua Rayon dan Satgas Obrak-abrik Kantor AMPI

    • calendar_month Jumat, 24 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Mau Daftarkan Calon Ketua, Panitia Musda Tidak di Tempat PALUTA-Kantor Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) diobrak-abrik beberapa Ketua Rayon dan Satgas AMPI yang berasal dari kecamatan di Paluta, Kamis (23/2) sekira pukul 12.45 WIB. Sehingga delepan kursi dan satu kipas angin rusak. Kemudian pintu belakang jebol. Aksi perusakan di aula […]

  • 50 Persen Pengguna Narkoba Pelajar SMA

    50 Persen Pengguna Narkoba Pelajar SMA

    • calendar_month Rabu, 30 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MASA depan bangsa ini tergantung sepenuhnya pada upaya pembebasan generasi muda dari dampak buruk penyalahgunaan narkoba. Hasil penelitian Badan Narkotika Nasional menunjukan jumlah penyalahguna narkoba pada kelompok pelajar mencapai 22 persen dari total penyalahguna berjumlah 4 juta orang. Dari 22 persen itu 50 persen penyalahguna merupakan pelajar SMA/K. Menanggapi hal itu Dedi Dwitagama, praktisi dan […]

  • Tiga Pemeran Yang Dipuja Penonton di Film “Marina”

    Tiga Pemeran Yang Dipuja Penonton di Film “Marina”

    • calendar_month Jumat, 1 Jul 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Ada tiga pemain di film Mandailing “Marina” yang dipuja penonton. Ketiganya adalah bocah. Dua bocah laki-laki dan satu bocah perempuan. Ketiganya direkrut dari salah satu desa terdekat dari Rodang Tinapor, Desa Bonan Dolok Kecamatan Siabu. Kedua bocah laki-laki itu bernama Abdul Rosi dan Irpan Raja memerankan Lian dan Makbul. Mereka sehari-hari tak berbaju, dengan kulit […]

  • Raul Lemos Segera Diperiksa Polisi, Aniaya Wartawan Global

    Raul Lemos Segera Diperiksa Polisi, Aniaya Wartawan Global

    • calendar_month Selasa, 26 Jul 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Baharudin Djafar mengatakan pihak kepolisian akan menindaklanjuti laporan wartawan Global TV, Zaky Makmun, terkait dugaan penganiayaan yang dilakukan suami penyanyi Krisdayanti, Raul Lemos. Polres Bandara terima laporan dari korban bahwa dia dianiaya oleh saudara Lemos. Dalam waktu dekat terlapor Raul akan segera kami periksa di sana Raul Lemos […]

  • Sekitar 430 Ha Sawah di Panyabungan Kekeringan

    Sekitar 430 Ha Sawah di Panyabungan Kekeringan

    • calendar_month Selasa, 28 Jul 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sedikitnya 430 hektar persawahan di kawasan Saba Palas, Desa Panyabungan Jae, Kecamatan Panyabungan, Mandailing Natal (Madina) mengalami kekeringan akibat kekurangan air. Kondisi tanah di persawahan saat sudah retak akibat kekeringan retak – retak dan terancam gagal panen. Kekurangan suplai air ke kawasan persawahan itu berlansung sejak masa persemaian. Hingga sekarang […]

  • 18 Desa di Kecamatan Siabu Dikabarkan Buat Mosi Tidak Percaya Pada Camat, Meminta Bupati Copot Jabatannya

    18 Desa di Kecamatan Siabu Dikabarkan Buat Mosi Tidak Percaya Pada Camat, Meminta Bupati Copot Jabatannya

    • calendar_month Rabu, 13 Des 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online )- Desas desus Camat Siabu Syukur Soripada di mosi 18 Desa karena tidak adanya hubungan baik beredar luas di kalangan masyarakat di Kecamatan Siabu. Surat mosi tidak percaya  pada Camat Siabu itu kabarnya sudah sampai ke Bupati Mandailing Natal H.M.Ja’far Sukhairi Nasution. Para Kepala Desa meminta Bupati mencopot jabatan Camat Syukur Soripada […]

expand_less