Sabtu, 13 Jun 2026
light_mode

Dari Batta ke Batak

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 28 Nov 2019
  • print Cetak

Prof. Uli Kozok

 

Profesor Uli Kozok memosting artikel singkat di akun facebooknya pada 25 November 2019 memaparkan masa awal sebutan “Batak”.

Artikel singkat berjudul “Dari Batta ke Batak” ini memaparkan kajian-kajian bahwa sebutan “Batak” baru muncul pada abad 19 dari pihak luar seperti Aceh dan Melayu.

Merujuk naskah-naskah kuno maupun catatan para misionaris Jerman yang dimuat di majalah BRMG.

Istilah Batak atau Batta relatif jarang digunakan dan yang lebih sering muncul adalah sebutan Toba yang tidak hanya digunakan sebagai nama daerah, tetapi juga sebagai nama etnis.

Profesor Uli Kozok telah lama melakukan penelitian di Tapanuli, Sumatera Utara.

Berikut ini artikel yang ditulis Profesor Uli Kozok yang dicopy Mandailing Online tanpa merubah apapun :

Dari Batta ke Batak

Selama abad ke-19 bahan tulisan yang dihasilkan oleh orang Batak hanya berupa naskah kulit kayu (pustaha), bambu dan tulang.

Selain Willem Iskander dari Mandailing, seorang guru sekolah yang menulis sebuah buku bacaan yang dicetak pada tahun 1872 di Batavia, tidak ada satu pun orang Batak yang menulis buku.

Saya belum sempat untuk merangkum tulisan yang dipublikasi setelah tahun 1900, tetapi kalau tidak salah publikasi pertama baru muncul seusai perang dunia pertama (1918).

Oleh sebab itu kita harus mengandalkan sumber tulisan dari luar Batak. yang kebanyakan ditulis oleh orang Eropa (terutama Jerman), tetapi ada juga yang dari Tionghoa, Arab, Aceh, dan Melayu.

Pada siapa yang ingin membaca sebutan-sebutan pertama mengenai orang Batak silakan baca artikel Anthony Reid bertajuk “Is there a Batak history”.

Perihal etnisitas Batak banyak diperdebatkan di media sosial dan juga di surat kabar. Berikut ini sumbangan sederhana berdasarkan salah satu sumber yang sangat penting, ialah catatan para misionaris Jerman yang dimuat di majalah BRMG yang tebalnya beberapa ribu halaman.

Menarik untuk dicatat bahwa ejaan “Batak” masih relatif baru. Pada abad ke 1900 orang Eropa menyebut orang Batak sebagai Batta, dan sekali-sekali, Bata. Hanya H.N. van der Tuuk yang menggunakan ejaan “Batak” sejak tahun 1860an. Istilah Batak baru mulai populer setelah tahun 1904.

Yang menarik untuk diamati adalah bahwa istilah Batak/Batta hanya digunakan untuk merujuk kepada sesuatu yang bersifat “universal”, seperti Batta-Mission (misi Batak), dsb. Oleh sebab itu istilah Batak atau Batta relatif jarang digunakan dan yang lebih sering muncul adalah sebutan yang berkaitan dengan daerah.

Istilah Toba sangat sering digunakan, tetapi tidak pernah dalam arti “Batak Toba” yang baru menjadi populer pada abad ke-20.

Toba merujuk pada daerah di sebelah selatan Danau Toba di sekitar Balige dan Laguboti. Toba tidak hanya digunakan sebagai nama daerah, tetapi juga sebagai nama etnis. Lain daerah yang disebut adalah “Pulau Toba” (yang secara keliru dinamakan Belanda menjadi “Pulau Samosir”), Uluan, Silindung, Angkola, Mandailing, Habinsaran, Padang Bolak, Asahan, dan Batang Toru.

Yang menarik untuk dicatat adalah bahwa pada abad ke-19 sebutan “Toba” sebagai etnisitas tidak digunakan untuk orang Silindung. Para misionaris juga sering menekankan bahwa ada perbedaan secara budaya dan linguistik antara Silindung dan Toba. Dari cerita-cerita para misionaris menjadi jelas bahwa pada abad ke-19 orang Silindung dan orang Toba masih belum menganggap dirinya sebagai satu kelompok etnis.

Tadi saya sebutkan bahwa selain sumber Eropa ada pula sumber Batak yang berupa naskah. Yang menarik untuk dicatat adalah bahwa istilah “Batak” hampir tidak pernah disebut. Saya sendiri belum pernah menemukannya, dan saya belum sempat bertanya pada ahli pernaskahan Batak yang lain seperti Manguji Nababan, Robert Sibarani, Nelson Lumbantoruan, Roberta Zollo, atau Giuseppina Monaco, tetapi saya yakin bahwa mereka bisa konfirmasikan bahwa istilah “Batak” jarang sekali atau malahan tidak pernah muncul di dalam pustaha.

Istilah Batak di dahulu kala memang terutama digunakan oleh pihak luar (Aceh, Melayu dan orang asing) untuk merujuk pada kelompok non-Muslim yang mendiami pedalaman Sumatera Utara. Baru pada abad ke-19 istilah Batak dipopulerkan oleh orang Eropa sehingga secara lama-kelamaan menjadi sebutan etnis yang juga diterima oleh orang Batak (alias Batak Toba).

Sedangkan Toba dalam arti Batak Toba (bila merujuk kepada ke-6 kelompok etnis di bawah naungan lebel “Batak”), malah baru mulai menjadi populer pada abad ke-20.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • RI ‘kebakaran jenggot’ disadap AS

    RI ‘kebakaran jenggot’ disadap AS

    • calendar_month Jumat, 1 Nov 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    JAKARTA (Mandailing Online)- Anggota Komisi III DPR, Eva Kusuma Sundari mengaku tidak kaget mendengar adanya aksi spionase atau penyadapan yang dilakukan Amerika Serikat (AS) di Indonesia. Menurut dia, aksi spionase yang dilakukan pihak intelijen AS sudah lama terjadi di Indonesia. Bahkan, jatuhnya pemerintahan Soekarno itu merupakan hasil dari kerja intelijen asing. Pernyataan tersebut disampaikan dalam […]

  • Terkait Riksus Dinas Perdagangan Madina, Inspektorat Mintai Keterangan Juru Pungut Retribusi, Temuan BPK-RI Sudah Ditindak Lanjuti

    Terkait Riksus Dinas Perdagangan Madina, Inspektorat Mintai Keterangan Juru Pungut Retribusi, Temuan BPK-RI Sudah Ditindak Lanjuti

    • calendar_month Senin, 3 Jun 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online) : Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) kembali meraih prestasi dengan mempertahankan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Opini WTP ini diraih berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun Anggaran 2023 oleh Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Perwakilan Sumatera Utara ( BPK RI ). Didapatkannya raihan WTP oleh Pemkab Madina […]

  • Calon Haji Termuda Anni Kholilah 20 Tahun dari Kayu laut

    Calon Haji Termuda Anni Kholilah 20 Tahun dari Kayu laut

    • calendar_month Selasa, 2 Agt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Calon haji usia termuda dari Kabupaten Mandailing Natal tahun ini bernama Anni Kholilah umur 20 tahun dari Desa Kayu Laut, Panyabungan Selatan. Data itu diperoleh dari Plt Kepala Bagian Kesra Pemkab Mandailing Natal, Taufik Lubis di sela penutupan manasik akbar di di mesjid agung  Nur Ala Nur, Panyabungan, Senin (1/8). Sedangkan […]

  • 1 Positif, 27 OTG di Madina

    1 Positif, 27 OTG di Madina

    • calendar_month Jumat, 5 Jun 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sebanyak 27 orang ditetapkan dalam status OTG di Kabupaten Mandailing Natal, Sumut. Perkembangan itu menyusul seorang pria berinisial ARL (usia 55 tahun) asal Desa Padang Bulan Muara Soro, Kotanopan, Mandailing Natal terkonfirmasi positif terinfeksi Covid-19. Pria itu kini dalam perawatan di RS Martha Friska Medan. ARL ditetapkan positif berdasar hasil swab […]

  • Film “Senandung Willem” Bernuansa Tahun 1800-an

    Film “Senandung Willem” Bernuansa Tahun 1800-an

    • calendar_month Kamis, 13 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    Bersama Gubernur Hindia Belanda– Salah satu adegan film Senandung Willem yang digarap Tympanum Novem Film. Film yang merupakan proyek Dinas Pariwisata Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Mandailing Natal ini, dipercayakan digarap oleh Tympanum Novem. Film ini mengisahkan tokoh Willem Iskander yang punya andil besar dalam pendidikan di Mandailing pada tahun 1800-an. (hol)

  • Kabid PTK: Saya Hanya Boneka di Jabatan Ini

    Kabid PTK: Saya Hanya Boneka di Jabatan Ini

    • calendar_month Senin, 1 Agt 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pengakuan mengejutkan keluar dari Kabid PTK Dinas Pendidikan Mandailing Natal (Disdik Madina) Zulhamsyah saat mengikuti RDP dengan Komisi I. Zulham mengaku hanya boneka di jabatan yang ia duduki. Hal itu ia ungkapkan ketika menjawab pertanyaan dari Asmaruddin Nasution terkait isu adanya mahar sampai Rp 200 juta rupiah yang mengiringi pergantian kepala […]

expand_less