Selasa, 13 Okt 2026
light_mode

Investasi Kapitalis Berkedok Wisata Medis?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 11 Nov 2020
  • print Cetak

Oleh : Nahdoh Fikriyyah Islam
Dosen dan Pengamat Politik

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan sejumlah rumah sakit (RS) asing akan masuk ke tanah air. Mereka berasal dari Australia hingga Singapura. Hal itu disampaikan Luhut dalam acara Outlook 2021: The Year of Opportunity yang digelar secara virtual, Rabu (21/10/2020). Mulanya, dia menyinggung ongkos yang dikeluarkan setiap tahun untuk wisata medis yang mencapai US$ 6 miliar hingga US$ 7 miliar.

Oleh karena itu, pemerintah berkeinginan untuk mendorong investasi RS asing di dalam negeri. Ia mengungkapkan, ada beberapa RS yang sudah diajak berinvestasi. Mereka antara lain Mayo Clinic, John Hopkins Medicine, dan Anderson Hospital. Ihwal wisata medis ini pernah disinggung Luhut beberapa waktu lalu. Ia pun memerintahkan BKPM yang dikepalai oleh Bahlil Lahadalia mendatangkan RS asing ke Indonesia. Permintaan Luhut diiringi dengan rencana pemerintah untuk memperbolehkan dan mengizinkan dokter asing lebih banyak di Indonesia.

Dikutip dari Instagram resminya, Luhut mengatakan rencana ini dikaji karena berbagai pertimbangan, di antaranya adalah fakta bahwa bahwa rata-rata pengeluaran wisatawan medis sebesar US$ 3,000 – 10,000 per orang. Menurut Luhut, lewat wisata medis ini nantinya pemerintah ingin Indonesia melakukan diversifikasi ekonomi, menarik investasi luar negeri, penyediaan lapangan pekerjaan, pembangunan industri layanan kesehatan di Indonesia, serta menahan laju layanan kesehatan serta devisa kita agar tidak mengalir ke negara-negara yang lebih sejahtera. (cncbindonesia. 23/10/2020)

Hidup dalam naungan kapitalisme sungguh pelik. Setiap permasalahan yang muncul diambil langkah penyelesaian tetapi justru mengundang banyak question mark dan mendatangkan problem—problem cabang yang baru. Sehingga akar permasalahannya tidak tersentuh dan masalah tak kunjung beres. Apalagi jika bicara soal poin kesehatan alias dunia medis. Dalam dunia bisnis kapitalis, medis adalah salah satu lahan basah yang menggiurkan. Jadi, wajar-wajar saja jika penguasa yang isi kepalanya adalah kapitalisme tidak mengabaikan aspek kehidupan yag satu ini sebagai peluang keuntungan material.

Dunia medis bukan hanya mengalami banyak masalah di dalam negeri. Bahkan di luar negeri dengan teknologi canggih sekalipun, tidak lepas dari skandal bisnis. Tentu saja, pada keadaan ini, pasien atau masyarakat secara umum adalah korbannya. Itulah cara mereka meraup keuntungan. Bayangkan saja, mulai dari bisnis obat, alat, hingga kini mendatangkan medical tools sampai kepada RS serta tenaga medisnya. Apakah hal ini akan menguntungkan Indoneisa seperti ucapan Luhut? Atau justru malah sebaliknya? Tentu menjawabnya harus dilakukan analisis dengan sudut pandang yang shahih.

Pertama, wisata medis yang selama ini berlangsung dari dan oleh Indonesia ke luar negeri sebenarnya sudah lama dilakukan. Semisal program changed student atau studi banding ke luar negeri. Program ini tentu saja merogok kantong Negara. Namun, tujuan penyelenggaraannya sebenarnya mulia. Yaitu untuk belajar demi peningkatan keilmuwan dunia kesehatan di kalangan medis Indonesia. Sehinggaa ketika paramedis kembali ke tanah air, mereka akan membawa bayak ilmu dan pengalaman di luar negeri. Kelak, semua itu akan membantu masyarakat dalam mendapatkan pelayanan medis terbaik. Dan sudah menjadi kewajiban Negara meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat dalam semua aspek kehidupan, terlebih aspek kesehatan.

Kedua, jika sekarang praktek wisata medis harus diganti dengan mendatangkan perangkatnya ke Indonesia , apakah akan lebih efektif dan menghemat dana? Itukah tujuan utama wisata medis yang dicanangkan Luhut? Ataukah ada maksud lain? Sebab Luhut terlihat antusias mengeluarkan ide kerjasama dengan asing dalam bidang kesehatan khususnya RS dan prangkat-perangkatnya, padahal Luut sendiri bukanlah orang medis atau bukan Menkes. Jika alasannya menghemat dana Negara, lalu darimana dana mendatangkan tenaga medis asing ke Indonesia? Siapa yang membiayai pendirian RS internasional tersebut? Free kah? Atau semua dibangun diatas perjanjian utang baru?

Ketiga, alasan Luhut untuk mencanangkan program wisata medis agar memberikan banyak kemajuan seperti tenaga internasional, RS stanndar internasional, lapangan kerja, dan menahan masyarakat tidak berobat ke luar negeri lagi seperti Singapura. Harapan Luhut tersebut sangat bagus. Betul, disatu sisi masyarakat Indonesia banyak berobat ke luar negeri karena merasa pelayanan dan peralatannya jauh lebih memuaskan meskipun harus mengendorkan tabungan.

Kekecewaan masyarakat terhadap layanan medis di dalam negeri yang jauh dari keramahan servis dan minimnya peralatan yang canggih bukanlah rahasia lagi. Sudah menjadi keluhan umum mayoritas pesakit. Lalu jika dikaitkan dengan ketersediaan lapangan kerja, ini juga sulit diterima. Bagaimana mungkin RS kelas internasional akan merekrut tenaga dari Indonesia sementara sarjana medis Indonesia tidak fasih bahasa internasional secara mayoritas? Andaipun ada yang bias, hanya  terhitung jari bukan? Selebihnya, mereka yang dari luar negeri jualah pengisi posisi-posisi di RS Internasional tersebut.

Keempat, wisata medis yang dicanangkan oleh pemerintah melalui usulan Luhut terlihat hanyalah pesanan para pemodal bisnis kesehatan. Dan ide tersebut adalah harga yang harus dibayar oleh Indonesia dari hasil kerjasama antarnegara yang notabene hanya merugikan bangsa ini. Belum lagi tenaga medis Indonesia akan kehilangan lapangan kerja sebab diisi paramedis asing. Dan tentu juga akan kalah saing walaupun klinik dan RS milik anak bangsa banyak didirikan. Pelayanan dan fasilitas lokal tentu hanya akan menyentuh kalangan menengah ke bawah.

Kelima, jika klinik dan RS dalam negeri mengikuti standar internasional, tentu butuh modal banyak. Untuk mendapatkan modal kembali dan keuntungan, pihak klinik  dan RS akan membuat biaya berobat yang sangat sulit dijangkau masyarakat luas. Walhasil, kesehatan akan semakin terpuruk dalam hal pengelolaan juga pelayanan. Dengan kata lain, hanya mereka yang mampulah nantinya bisa menyentuh faislitas bagus. Ada harga ada barang! Begitulah istilah pasar kapitalis! Sadis bukan?

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa wisata medis ala Luhut hanyalah bisnis kapitaliisme yang terus ingin mencengram negeri ini. Hingga bidang kesehatan pun, kapitalisme tidak mengizinkan Indonesia mengelola sendiri. Tidak ada lagi kedaulatan bahkan untuk hidup sehat dengan mudah dan murah di negeri sendiri. Kesehatan dan nyawa rakyat pun kian tergadai oleh peraturan-peraturan dzalim kapitalis ala rezim.

Tentu sangat berbeda jauh dengan praktek pengelolaan dalam sistem Islam. Sistem Islam telah menunjukkan bukti bahwa pengelolaan kesehatan di bawah syariat Islam telah memberikan sumbangan luar biasa terhadap ilmu dan teknologi pengobatan dunia. Dimana tidak ada satupun peradaban sebelumnya yang mampu melakukan demikian.

Islam memandang bahwa kesehatan adalah kebutuhan pokok manusia/rakyat. Pengelolaannya wajib ditangani oleh pemimpin. Pelayanan kesehatan harus murah dan mudah. haram menggadaikannya kepada pihak swasta apalagi asing yang bertujuan untuk komersialisasi/bisnis kapitalis. Keilmuwan dan teknologi kesehatan bisa saja dipelajari dari luar atau mendatangkan tenaga luar ke dalam negeri atau wisata medis. Hanya saja, tujuannya adalah untuk Negara dan rakyat. Bukan karpet merah bagi pengusaha /pebisnis kesehatan seperti kapitalisme.

Sudah semakin jelas, bahwa kapitalisme yang diadopsi penguasa negeri ini telah membawa rakyat semakin sengsara dan tidak jelas arah. Bahkan untuk sehat pun harus disetir oleh kapitalisme. Semua aspek kehidupan telah dikepung kapitalisme dan tinggal menunggu jurang kehancuran.

Oleh karena itu, saatnya generasi negeri ini bangkit dan menyadari dengan sesadar-sadarnya bahwa harapan satu-satunya untuk Indonesia bebas tekanan dan komersialisasi kaum kapitalisme global hanyalah dengan menerapkan syariat Islam secara totalitas. Wallahu’alam bissawab.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jenazah Hasanuddin Ditemukan Bersimbah Darah

    Jenazah Hasanuddin Ditemukan Bersimbah Darah

    • calendar_month Sabtu, 18 Nov 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Warga Kelurahan Kota Siantar, Panyabungan, Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara dikejutkan penemuan jenzah pria bersimbah darah, Sabtu dini hari (18/11/2017). Korban diketahui bernama Hasanuddin (40), warga Kelurahan Kota Siantar. Istri korban, Halimah Lubis (35) yang didampingi putrinya yang masih duduk di bangku SD menangis histeris begitu melihat jenazah korban. Kasat Reskrim […]

  • Nis’at Siddiq : Harun Mustafa Nasution Pigur yang Jujur

    Nis’at Siddiq : Harun Mustafa Nasution Pigur yang Jujur

    • calendar_month Senin, 7 Okt 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA ( Mandailing Online ): Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Amanat Nasional (PAN) Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Nis’at Siddiq mengungkapkan Harun Mustafa Nasution merupakan pigur yang jujur. Hal ini diungkapkan oleh Nis’at Siddiq menilai sosok Harun yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Sumatra Utara periode 2019-2024. “Pak Harun menurut saya adalah sosok yang […]

  • Atika Minta Setiap Lembaga Dukung Asta Cita Presiden Prabowo

    Atika Minta Setiap Lembaga Dukung Asta Cita Presiden Prabowo

    • calendar_month Jumat, 17 Okt 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Wakil Bupati Mandailing Natal Atika Azmi Utammi Nasution meminta setiap lembaga, termasuk partai politik, mendukung Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat. Permintaan itu disampaikan Atika saat menghadiri rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) ke-14 Partai Nasional Demokrat (NasDem) di Kantor DPD NasDem Madina, Panyabungan, Mandailing Natal (Madina), Jumat […]

  • PT SMGP Bersama Petani Kembangkan Budidaya Ikan di Purba Lamo

    PT SMGP Bersama Petani Kembangkan Budidaya Ikan di Purba Lamo

    • calendar_month Rabu, 16 Sep 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    LEMBAH SORIK MARAPI (Mandailing Online) – Purba Lamo adalah salah satu desa di kawasan Kecamatan Lembah Sorik Marapi, Mandailing Natal yang usaha pencaharian masyarakatnya mayoritas bertani, dan ada juga masyarakat yang beternak ikan tawar. Namun, kendala bagi yang beternak ikan tawar ini adalah kurangnya biaya. Terkait itu, PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP) memberikan bantuan […]

  • Menantu Rahudman Dan Keponakan Sekda Tak Lulus CPNS

    Menantu Rahudman Dan Keponakan Sekda Tak Lulus CPNS

    • calendar_month Minggu, 26 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN: Benarkah terjadi ‘permainan’ dalam seleksi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Pemko Medan? Benarkah pengumuman ‘ditukangi’ untuk meluluskan orang-orang tertentu? Tidak hanya Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Medan Lahum Lubis, SH, MM yang bersikukuh kalau pengumuman dilakukan sesuai prosedur. Tapi, Walikota Medan Drs H Rahudman Harahap, MM juga mengungkapkan, Pemko Medan saat mengumumkan kelulusan […]

  • Merdeka Ketika Pemerintah Tersinggung

    Merdeka Ketika Pemerintah Tersinggung

    • calendar_month Jumat, 17 Agt 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Askolani Nasution   Bayangan kita tentang merdeka adalah ketika semua warga negara mendapat jaminan hidup yang layak: rumah yang layak sebagaimana sepatutnya rumah, makan yang layak, jaminan kesehatan dan hari tua, jaminan memperoleh pendidikan yang layak, dan jaminan mengekspresikan hak-hak politiknya. Seluruh item itu dibahasakan dua hal: menjadi jaminan memperoleh pekerjaan yang layak […]

expand_less