Rabu, 21 Okt 2026
light_mode

Kontradiktif Rezim Sekuler, Ajarannya Ditolak Dananya Ditarik

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 29 Jan 2021
  • print Cetak

Oleh: Nelly, M.Pd
Akademisi dan Pemerhati Masalah Keumatan, tinggal di Sidikalang

Negeri kaya raya itu bergelar sebagai bumi gemah rifah loh jinawi, apa yang tak ada bumi pertiwi ini. Hutannya terhampar menyimpan kekayaan alam yang tak terhitung jumlahnya. Laut, sungai, danau, teluknya terbentang luas memiliki keaneka ragaman hayati yang tak ternilai. Kiranya dengan setumpuk sumber daya alam melimpah ini, tentunya negara akan dengan mudah mengurus negeri ini dan membiayai seluruh keperluan negara termasuk memenuhi kebutuhan rakyatnya.

Namun semua sungguh bertolak belakang dengan fakta yang ada, ironi negeri ini sekarang dililit utang menggunung, ekonomi kolaps dan bahkan untuk membiayai bangsanya saja negara mesti narik pajak kepada rakyat. Seakan kehabisan kreatifitas dari para punggawa dalam mengelola APBN dan menghasilkan harta untuk kelola negeri, hingga tercetus program baru wakaf uang dari umat Islam.

Seperti dilansir dari laman berita ARAHKATA, Presiden Joko Widodo meluncurkan Gerakan Nasional Wakaf Uang (GNWU) pada Senin, 25 Januari 2021. Acara peluncuran tersebut berlangsung di Istana Negara, Jakarta, dan diikuti sejumlah hadirin secara virtual. Dalam sambutannya, Presiden yang juga bertindak selaku Ketua Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) menjelaskan bahwa pemerintah terus berupaya mencari jalan untuk mengurangi ketimpangan sosial dan mewujudkan pemerataan pembangunan di seluruh pelosok Tanah Air.

Salah satu langkah tersebut ialah melalui pengembangan dan pengelolaan lembaga keuangan syariah. Sementara pada peluncuran GWNU, Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengungkapkan, potensi wakaf uang di Tanah Air mencapai Rp 180 triliun.

Potensi yang besar tersebut karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam dan memiliki tingkat kedermawanan yang tinggi. Terkait peluncuran GNWU dan Brand Ekonomi Syariah 2021 ini, pemerintah melalui Kementerian Keuangan menargetkan dapat membangun sejumlah sarana infrastuktur senilai Rp 597 miliar yang berasal dari dana wakaf.

Program kebijakan wakaf uang tersebutpun mendapat tanggapan dari berbagai pihak, dilansir dari laman berita GALAMEDIA, Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hidayat Nur Wahid (HNW) mengeritik terhadap Gerakan Nasional Wakaf Uang (GNWU), yang diluncurkan Pemerintah. Wakil Ketua MPR RI ini menilai apa yang dilakukan rezim Jokowi sangat bertolak belakang dengan sikap politiknya. Terutama menyangkut Islam. HNW pun sepakat dengan apa yang disampaikan Rizal Ramli terkait hal itu. Kebijakan itu kontradiktif, karena satu sisi berharap dana umat, tapi sisi lain tidak suka politik Islam (28/1/2020).

Senada dengan HNW, dilansir dari laman BeritaHits.id, Ustaz Tengku Zulkarnain kembali memberikan kritik pedas untuk gerakan wakaf uang yang baru-baru ini dicanangkan oleh presiden. Tengku Zul menegaskan bahwa wakaf adalah salah satu bentuk syariat Islam dan mengingatkan agar tak jadi ajaran lintas agama. Lewat beberapa cuitan di akun Twitternya, Tengku Zul menyebut tugas utama negara adalah mengentaskan kemiskinan dengan APBN. Wakaf, menurut Tengku Zul selayaknya dikelola oleh umat dan ormasnya untuk umat Islam (27/1/2021).

Iya, politik yang dimainkan rezim hari ini memang sangat terlihat kontradiksi yang selalu terulang. Lebih ironi lagi, dana umat ingin dihimpun baik dana haji, zakat, wakaf, umrah, namun di sisi lain ajaran Islam khilafah ditolak bahkan dituduh ajaran radikal, ulamanya dikriminalisasi hingga dipenjarakan.

Bahkan yang dikhwatirkan, jika dana umat itu disedot untuk digunakan pemerintah, yang terjadi justru akan ada penyelewengan.

Apalagi banyaknya korupsi yang dilakukan oknum dalam menggerogoti uang negara dan uang rakyat. Seperti korupsi kondensat, jiwasraya, asabri, bpjs tenaga kerja, bansos termasuk untuk disabilitas.

Ironi Negeri Demokrasi Sekuler

Hari ini di tengah ketidakpastian hidup, kemiskinan merajalela, pekerjaan sulit, pandemi belum berakhir. Umat digerogoti dengan isu radikalisme, teroris, islamofobia, umat malah diminta wakaf uang.

Sementara keimanan dan ketakwaan umat tak diurus negara. Lebih parah lagi dalam kehidupan serba sekuler, Islam selalu dijadikan kambing hitam dan tertuduh. Mereka yang lantang menyuarakan kebenaran dipersekusi, kriminalisasi ulama telanjang terjadi, ketidakadilan jadi tontonan sehari-hari.

Andai saja para pemimpin negeri ini mencontohkan kepedulian terhadap agama dan meyakinkan bahwa kesemuanya ini adalah bagian untuk menegakkan agama dan memberikan kebaikan bagi semua umat. Maka tanpa perlu meminta saja rakyat sudah pasti inisiatif membantu dan mengumpulkan segenaf kemampuan, sumbangsih dan kekuatan untuk negeri ini.

Sudah saatnya negeri ini introspeksi, apa sebenarnya yang menjadi masalah bangsa ini.

Jangan Islam yang selalu dijadikan masalah, yang menista Islam didiamkan, yang hina Islam bebas berkeliaran sementara ulama hanif dan selalu melakukan kebaikan untuk negeri malah dipenjara. Para pendakwah dipramming negatif, dikatakan radikal, intoleran.

Bahkan yang menyedihkan negeri mayoritas Muslim ini menolak syariat Islam.

Ajaran Islam dimonsterisasi seakan seburuk-buruk sistem. Padahal sejarah telah menorehkan tintah bahwa umat di bawah kepemimpinan Islam hidup damai, sejahtera, merasakan keadilan, makmur, dan ini berlangsung bukan setahun dua tahun namun ratusan tahun lamanya.

Mengapa juga Islam dan umatnya selalu tertuduh makar, intoleran, anti kebhinekaan? padahal umat Islam adalah kaum yang paling peduli pada negerinya. Siapa pahlawan yang mengusir penjajah? bukankah mereka umat Islam, ulama dan santri? jangan ditanya umat Islam tentang perjuangan membela tanah air, sebab merekalah rela korbankan harta, bahkan nyawa, andai diperlukan melindungi negeri yang menjamin tegaknya agama mereka.

Wallahu a’lam bis showab

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • KESUSASTRAAN MANDAILING (3-selesai)

    KESUSASTRAAN MANDAILING (3-selesai)

    • calendar_month Rabu, 14 Okt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh: Askolani Nasution   SASTRA ENTERTAINMENT Sastra dalam lirik lagu patut ditandai sebagai bentuk sastra. Tentu karena kita meyakini bahwa lirik lagu merupakan musikalisasi puisi. Hal ini menjadi penting karena pada saat sastra literer Mandailing meredup, musikalisasi puisi tersebut menguat perannya. Lirik lagu Mandailing bukan hanya ungkapan perasaan, tetapi beberapa penulis lagu ternyata mampu […]

  • Advokad Senior M.Amin Nasution: Tindakan Kades Jambur Baru Duduki “Moral Hazard”

    Advokad Senior M.Amin Nasution: Tindakan Kades Jambur Baru Duduki “Moral Hazard”

    • calendar_month Jumat, 3 Apr 2026
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Jakarta ||Mandailing Online – Advokat Senior ,M. Amin Nasution, SH, MH, menyatakan bahwa tindakan Kepala Desa Jambur Baru, Riswan Haedy, yang diduga merusak jalan atau aset daerah untuk memuluskan Dana Desa APBDes 2024/2025, tergolong ” Moral Hazard” “Tindakan itu sangat merusak tatanan sistem pemerintahan desa, terutama tata kelola pemerintahan desa,” kata Mod. Amin Nasution Jum’at […]

  • Nasdem Usul Syarat Baru Pengajuan Capres

    Nasdem Usul Syarat Baru Pengajuan Capres

    • calendar_month Sabtu, 28 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    JAKARTA, – Partai Nasdem menyumbang perspektif baru dalam perkembangan pembahasan revisi UU Pemilihan Presiden (Pilpres) yang kini sedang berproses di parlemen. Terkait dengan syarat pengusulan pasangan capres-cawapres, partai yang akan mengikuti pemilu kali pertama pada 2014 itu mengusulkan agar penentuan tidak lagi didasarkan pada persentase perolehan suara atau kursi. Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai […]

  • Arsidin Batubara Surati Bupati Prihal Abrasi Tabuyung

    Arsidin Batubara Surati Bupati Prihal Abrasi Tabuyung

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Anggota DPRD Madina, Arsidin Batubara, SE,Msi menyurati Bupati Madina terkait abrasi pantai Desa Tabuyung, Kecamatan Muara Batang Gadis. Surat itu tertanggal 6 Mei 2020. Dalam suratnya Arsidin mengabarkan bahwa abrasi pantai laut Desa Tabuyung kembali terjadi pada tanggal 1 Mei 2020. Menjawab Mandailng Online, Kamis (7/5/2020) Arsidin Batubara menyatakan bahwa abrasi […]

  • Di Madina Prabowo-Hatta 76,1 %, Jokowi-JK 23,8 %

    Di Madina Prabowo-Hatta 76,1 %, Jokowi-JK 23,8 %

    • calendar_month Sabtu, 12 Jul 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) pasangan Prabowo-Hatta memperoleh suara 147.000 atau 76,1 %, sedangkan pasangan Jokowi-JK memperoleh 45.876 suara atau 23,8 %. Demikian dirilis tim Merah Putih yang ditandatangani Ketua Koalesi Merah Putih, As Imran Khaitamy Daulay, SH dan Sekretaris Dahler Nasution tertanggal 9 Juli 2014. Sejauh ini belum ada konfirmasi […]

  • MUI Madina Godok Fatwa Soal Laki Berparas Wanita

    MUI Madina Godok Fatwa Soal Laki Berparas Wanita

    • calendar_month Selasa, 13 Jun 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online) –  banyaknya kaum laki laki yang berlagak layaknya sebagai wanita membuat ke khawatiran masyarakat sehingga Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) berinisiatif menggodok Fatwa tentang  hukum laki laki berlagak wanita. Ketua MUI Madina H.Muhammad Natsir pada wartawan mengatakan,  majelis Fatwa MUI Madina tengah menggodok melalui muzakaroh bagaimana hukumnya terkait banyaknya […]

expand_less