Selasa, 21 Jul 2026
light_mode

Peradaban Sungai Batang Gadis dan Batang Angkola (Bagian II)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 22 Mar 2021
  • print Cetak

Oleh: Muhammad Falah Nasution
Guru Sejarah SMAN 2 Plus Panyabungan/Alumni Pend. Sejarah FIS UNIMED

Menurut Drs. Askolani, selaku budayawan Mandailing, mengatakan bahwa sungai Batang Angkola menjadi rute transportasi air dalam pengangkutan kapur barus dan kemenyan dari dataran tinggi Tapanuli Bagian Selatan menuju Barus melewati laut barat Sumatera pada perdagangan kapur barus di Barus saat itu. Sedangkan sungai Batang Gadis terdapat penambangan emas di sekitaran sungainya. Hal itu memiliki keterkaitan dengan sebutan pada tanah Mandailing sebagai “Tano Sere” atau tanah emas. Penambangan emas disekitaran sungai Batang Gadis diperkuat lagi dengan adanya lubang penggalian emas oleh masyarakat pada masa itu yang terletak tidak jauh dari Lumpatan Harimau (sekitaran muara).

Selain hal di atas, awal abad ke-16 M pada masa kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara, pulau Sumatera dikatakan sebagai penghasil emas dengan jumlah yang banyak diperoleh dari pedalaman ke Pedir di pantai Timur Aceh (MeKinnon, 2013: 19). Pernyataan itu ditulis seorang penulis Portugis bernama Tome Pires yang dapat memberikan penguatan bahwa daerah aliran sungai (DAS) Batang Gadis dan Batang Angkola penghasil emas dengan adanya penambangan emas pada masa itu.

Pernyataan bahwa sungai Batang Angkola sebagai rute perdagangan dalam perdagangan kapur barus dan kemenyan di Barus dapat dikaitkan dan dikatkan dengan sumber-sumber yang menyinggung daerah-daerah di Tapanuli Bagian Selatan sebagai penghasil kapur barus dan kemenyan. Dalam sebuah jurnal yang berjudul “The Trans-Sumatra Trade and the Ethnicization of the Batak” oleh Leonard Y. Andaya (2002) menyebut bahwa keberadaan kapur barus dan kemenyan tumbuh di tanah Sumatera, yaitu Singkel dan Air Bangis di Sumatera barat laut. Selain itu, dalam  jurnal ini dikatakan bahwa jenis tanaman ini ditemukan di sebelah utara Padang Sidempuan ke daerah sekitar Tarutung. Sehingga tidak menutup kemungkinan sungai Batang Angkola dijadikan sebagai rute perdagangan mengangkut komoditi kapur barus dan kemenyan menuju Barus.

Pada perkembangan selanjutnya, akhir abad ke-8 M Kerajaan Sriwijaya menguasai perdagangan (monopoli) kapur barus dengan salah satunya mencegah ekspor kapur barus ke pelabuhan di Delta Mekong. Adanya monopoli perdagangan kapur barus oleh Sriwijaya di daerah laut barat Sumatera ini telah melibatkan daerah aliran sungai Batang Angkola dan sungai Batang Gadis sebagai lintasan perdagangan dalam pengangkutan komoditi kapur barus dan kemenyan dari huta barat laut Sumatera. Padang Lawas sebagai pusat pengumpulan komoditi dan selanjutnya komoditi tersebut dibawa melintasi pegunungan menuju lembah Angkola dekat Si Abu (Siabu sekarang) dan dilanjutkan ke selatan melalui Bonan Dolok ke Penyabungan dan Hutanopa di lembah Batang Gadis dan melewati beberapa daerah sampai tiba di kerajaan Sriwijaya.

Sungai Batang Gadis dan Sungai Batang Angkola: Situs-situs Hindu-Buddha

Jalur perdagangan yang telah ada di sungai Batang Gadis dan Batang Angkola serta di daerah aliran sungai kedua sungai tersebut telah meninggalkan hasil kebudayaan masyarakatnya. Hasil kebudayaan yang ditinggalkan berupa candi-candi atau dalam sebutan pada masyarakat Mandailing disebut “biara” yang bercorak Hindu-Buddha. Hal tersebut memberikan tanda bahwa pada masa lalu di daerah kedua sungai tersebut masyarakat dengan kebudayaan Hindu-Buddha datang dan bertempat tinggal di daerah tersebut, sehingga melahirkan situs-situs berkebudyaan yang dibawanya.

Pada masyarakat Hindu-Buddha di Nusantara, bangunan candi bukanlah sekedar bangunan saja.  Candi bagi masyarakatnya memiliki fungsi dan berarti penting dalam politik dan religi. Candi pada masyarakat Hindu memilik fungsi sebagai tempat pemakaman, sedangkan candi pada masyarakat Buddha berfungsi sebagai tempat peribadatan (Darini, 2013: 59-60).

Peninggalan kebudayaan bercorak Hindu-Buddha di DAS Batang Gadis dan Batang Angkola ditemukan 5 situs yakni situs Biara Dagang dan Biara Balik atau Saba Biara di Pidoli Lombang, Panyabungan; situs Huta Siantar di Panyabungan dan situs Sibaluang di Siabu, serta situs Biara Simangambat di Desa Simangambat (Soedewo, 2008: 49). Jika dikelompokkan berdasarkan daerah ditemukannya situs-situs candi tersebut pada setiap aliran kedua sungai, maka dapat dilihat situs Biara Dagang dan Biara Balik atau Saba Biara di Pidoli Lombang, Panyabungan dan Situs Huta Siantar di Panyabungan terdapat di DAS Batang Gadis sedangkan Situs Sibaluang di Siabu dan Situs Biara Simangambat di Desa Simangambat terdapat di DAS Batang Angkola.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dianalisis antara keberadaan kelima situs dengan perdagangan internasional dan perdagangan Sumatera pada saat itu memiliki keterkaitan dan hubungan antara keduanya. Selain itu, adanya aktifitas perdagangan berbagai suku bangsa di Sumatera Timur pada awal tarikh telah meninggalkan peradaban manusia berupa jalur perdagangan dan bangunan megah dan indah berupa candi-candi.

Referensi

Andaya, Leonard Y. 2002. The Trans-Sumatra Trade and the Ethnicization of the Batak. KITLV. Volume 158, No. 3. Diunduh dari situs http://www.jstor.org/stable/27865844

Asnan, Gusti. 2016. Sungai  & Sejarah Sumatra. Yogyakarta: Ombak

Azhari, Ichwan. 2017. “Politik Historiografi” Sejarah Lokal: Kisah Kemenyan dan Kapur dari Barus, Sumatera Utara. Jurnal Sejarah dan Budaya No. 1.

Darini, Ririn. 2013. Sejarah Kebudayaan Indonesia Masa Hindu-Buddha. Yogyakarta: Ombak

MeKinnon, Edmund Edwards. Kota China: Konteks dan Makna Dalam Perdagangan Asia Tenggara pada Abad Kedua Belas hingga Abad Keempat Belas. Medan Estate: Unimed Press

Reid, Anthony. (2011). Menuju Sejarah Sumatrs: Antara Indonesia dan Dunia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia

BPS Kabupaten Mandailing Natal. 2010. Statistik Daerah Kabupaten Mandailing Natal 2010.

Diunduh dari situs https://mandailingnatalkab.bps.go.id

Soedewo, Ery. 2008. Sumberdaya Lahan Basah di Situs-Situs Masa Hindu-Buddha di Daerah Aliran Sungai Batang Gadis dan Batang Angkola. Jurnal Berkala Arkeologi Sangkhakala. Volume 22. No. 11.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Atika Letakkan Batu Pertama Pembangunan Masjid Taqwa di Hutabangun Jae

    Atika Letakkan Batu Pertama Pembangunan Masjid Taqwa di Hutabangun Jae

    • calendar_month Sabtu, 6 Agt 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    BUKIT MALINTANG (Mandailing Online) – Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina) Atika Azmi Utammi Nasution menghadiri Peletakan Batu Pertama Masjid Taqwa dan Peresmian Ranting Muhammadiyah di Desa Hutabangun Jae, Kecamatan Bukit Malintang, Sabtu (6/8) Atika mengaku senang dapat berkumpul dan bersilaturahmi pada acara peletakan batu pertama Masjid Taqwa. Atika merasa bangga kepada ibu-ibu Aisyiyah yang sangat […]

  • Ganja Dibeli Rp. 600.000/Kg, Akan Dijual ke Labuhan Batu

    Ganja Dibeli Rp. 600.000/Kg, Akan Dijual ke Labuhan Batu

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pengakuan 3 warga Kabupaten Labuhan Batu yang ditangkap Resnarkoba Polres Madina, Rabu (3/6) di desa  Salambue, Panyabungan, ganja yang mereka bawa rencananya akan dipasarkan di Negeri Lama, Kabupaten Labuhan Batu. Berita sebelumnya silahkan baca di http://www.mandailingonline.com/3-orang-bawa-ganja-42-kg-dari-panyabungan-timur-ditangkap-di-salambue/ Ganja kering tersebut dibeli ketiga tersangka di Desa Hutabangun, Kecamatan Panyabungan Timur, Mandailing Natal […]

  • Mantan Kadis Keuangan Waskito Daulay Diduga Terlibat

    Mantan Kadis Keuangan Waskito Daulay Diduga Terlibat

    • calendar_month Kamis, 25 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Pengadaan lahan untuk pembangunan stadion milik Pemkab Mandailing Natal (Madina) seluas sekitar 5 hektar di Desa Gunung Tua, Kecamatan Panyabungan, diduga melibatkan mantan Kadis Keuangan Madina Waskito AP Daulay. Informasi yang diperoleh, Rabu (24/08/2011), sekitar Tahun 2003 Pemkab Madina berkeinginan membangun sebuah stadion untuk fasilitas olahraga. Bupati Madina ketika itu Amru Helmy Daulay lantas […]

  • Mahasiswa Nilai Kejatisu Lamban Tuntaskan Dugaan Korupsi Dana Stunting Madina

    Mahasiswa Nilai Kejatisu Lamban Tuntaskan Dugaan Korupsi Dana Stunting Madina

    • calendar_month Senin, 4 Agt 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA ( Mandailing Online ): Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara ( Kejatisu ) nampaknya belum berani menaikkan status kasus dugaan korupsi dana stunting di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) tahun 2022-2023. Padahal kasus ini ditangani Kejatisu sudah hampir satu tahun. Sejumlah pejabat Pemkab Madina yang berhubungan dengan dana itu pun telah diperiksa penyidik di Kejatisu. Masyarakat Kabupaten […]

  • Wilayah Mandailing Dari Pasaman Hingga Perbatasan Riau

    Wilayah Mandailing Dari Pasaman Hingga Perbatasan Riau

    • calendar_month Selasa, 17 Des 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Manailing Online) – Sejatinya wilayah Mandailing sangat luas, mulai dari garis Gunung Opir di Pasaman (Sumatera Barat) di arah tenggara, kemudian perbatasan Riau arah Timur, serta ujung Batang Toru (batas dengan Tapanuli Tengah). Hanya saja, oleh kepentingan administrasi pemerintahan, wilayah Mandailing itu lama-lama menjadi ciut. Itu diungkapkan Budayawan Mandailing, Pandapotan Nasution pada pembukaan acara […]

  • Merdeka 100 Persen ala Tan Malaka

    Merdeka 100 Persen ala Tan Malaka

    • calendar_month Jumat, 3 Jun 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Hengky Datuk Tan Malaka VII Lahir sebagai Ibrahim bergelar Datuk Tan Malaka, di Nagari Pandan Gadang, Suliki, Sumatra Barat pada 2 Juni 1894. Seorang pejuang nasionalis dan pemikir yang begitu revolusioner, radikal dan militan. Bahkan pemikiran-pemikirannya begitu berbobot dan didukung sikapnya yang konsisten. Dia adalah tokoh pencetus Republik Indonesia. Menjelang peristiwa yang begitu sakral […]

expand_less