Rabu, 21 Okt 2026
light_mode

Citayam Fashion Week, Potret Salah Urus Generasi

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Minggu, 24 Jul 2022
  • print Cetak

Oleh: Mariani Siregar, M.Pd.I
Dosen dan Pengamat Politik

Kini sedang ramai bicara soal Citayam fashion week yang viral di media sosial. Pasalnya, remaja atau anak-anak muda dari daerah SCBD (Sudirman-Citayam-Bojonggede-Depok)  suka berkumpul-kumpul dan melakukan atraksi fashion di jalan Sudirman tersebut. Hingga akhirnya, aksi mereka menjadi viral bahkan dijadikan sebagai spot membuat konten-konten khususnya fashion.

Kabarnya, seperti dilansir dari tribunnews.com, anak-anak ABG yang tergabung bisa memperoleh penghasilan harian yang lumayan. Sebab para professional konten creator yang ada di jalan Sudirman tersebut akan mengajak mereka membuat konten-konten dengan outfit yang mereka kenakan. Nominalnya mulai dari 50.000 rupiah hingga 1.000.000 rupiah. Tergantung jenis konten yang akan dimuat. Jika ada endorsenya bisa mencapai 700 ribu-1 juta rupiah.

Tentu saja tempat yang tadinya hanya sekedar nongkrong dan jajan di pinggiran jalan pusat bisnis Jakarta itu, sekarang banyak diminati karena dianggap bisa memberikan harapan dan peluang mengubah nasib. Atau bahkan hanya demi sesuap nasi bagi yang mencari penghidupan.

Bagi pemilik creasi (creator konten) profesional, hal tersebut akan membuat kontennya semakin melejit dan mendapatkan keuntungan yang terus-menerus bertambah. Meskipun hanya untuk sekedar kreativitas, mereka juga tidak melupakan hasil materi yang bisa diraih. Karena membuat konten-konten tertentu terkadang membutuhkan pengeluaran yang tidak sedikit.

Hanya saja, jika ditelusuri lebih dalam lagi tentang fenomena Citayam ini banyak kejanggalan dan pertanyaan yang bisa muncul di benak masyarakat. Mulai dari latar belakang para creator, atau para street model dadakan, hingga izin penggunan jalan raya dijadikan panggung layaknya catwalk yang digelar untuk para model fashion. Kemudian, dampak kerumunan terhadap ketertiban lalu lintas, hingga siapa yang paling diuntungkan dalam aksi yang konon katanya ajang kreativitas generasi dan layak diapresiasi.

Citayam Fashion Week, Kegagalan Negara Kapitalis Mengurus Generasi

Seperti diberitakan oleh beberapa media massa online, bahwa fenomena Citayam disambut positif oleh beberapa tokoh pejabat, artis, bahkan ada juga sosiolog karena dianggap sebagai hasil kreasi anak muda. Apalagi fenomena fashion street adalah trend masyarakat di negara-negara maju seperti Eropa dan Jepang.

Jika di Jepang dikenal dengan istilah Harajuku, sementara di Citayam mereka sebut dengan Haraduku (karena berada di daerah Dukuh Atas). Sehingga munculnya Citayam fashion week dinilai sebagai suatu kemajuan hidup dan kretaifitas anak bangsa. Tetapi, benarkah demikian?

Beberapa pejabat yang telah ikut meramaikan fashion Citayam seperti Ridwan Kamil, Anis Baswedan bahkan membawa beberapa kedutaan negara lain. Tidak lupa para artis dan model kenamaan tanah air bergantian datang untuk meramaikan Citayam Fashion week.

Sandiaga Uno, menteri periwisata ikut serta memberikan komentar. Menurutnya, keberadaan Citayam fashion week nantinya bisa meningkatkan produktifitas seperti pemasaran produk-produk UMKM oleh para konten creator professional atau anak-anak pelaku Citayam fashion week.

Namun di sisi lain, ada juga kabar yang mengejutkan masyarakat tentang penolakan beasiswa dari pelaku Citayam Fashion Week oleh pemerintah. Bukankah beasiswa termasuk impian setiap usia pelajar, apalagi jika berprestasi? Lalu apa sebenarnya di balik Citayam Fahion Week? Benarkah layak diapresiasi? Beberpa poin berikut setidaknya mendudukkan pemahaman agar bijak menyikapinya.

Pertama, Citayam Fashion Week sebagai fenomena, tentu tidak muncul tiba-tiba begitu saja. Sebab, mereka  adalah generasi hari ini yang cenderung lebih akrab dan peduli terhadap gadget dan internet. Kemudian muncul trend membuat kreasi, konten, status yang tidak hanya dilihat oleh orang lain melainkan berpeluang menghasilkan pendapatan. Sudah banyak para artis yang lahir bahkan bisa meraih pundi-pundi rupiah dari sosial-media. Dan tentu saja mereka yang dinilai sukses terkenal jadi salah satu trendsetter.

Sehingga, berkumpulnya atau nongkrongnya anak-anak muda di Sudirman yang datang dari daerah pingiran Jakarta seperti Citayam (CSBD) melihat bahwa ada peluang untuk viral jika membuat konten-konten menarik perhatian publik. Apalagi jika disponsori oleh beberapa pihak termasuk kerjasama dengan konten creator professional seperti yang diberitakan.

Sebab itu jualah kemungkinan dari segi minat belajar/pendidikan seperti tawaran beasiswa itu ditolak. Logika mereka sederhana sebenarnya dan juga praktis. Para aktor Citayam fashion week hanya menginginkan satu hal, yakni materi. Baik secara langsung dari sponsor maupun dari penghasilan konten yang disebar dan mendapatkan viewers juga endorse. Jika sudah demikian, bukankah mereka akan terpikir untuk apa lagi dapat beasiswa atau sekolah? Toh, sekolah tinggi-tinggi juga yang jadi penguasa dan pejabat negeri adalah mereka-mereka saja.

Kedua, dari segi realitas kehidupan sosial. Andaikata pun ada yang diberikan beasiswa dan diterima, atau mereka tetap bersekolah, adakah negara menjamin jika mereka akan diberikan lapangan kerja sesuai keahlian, minat dan bakat? Misalnya saja, membuka lapangan kerja di bidang perkebunan, pertanian, pertambangan, perbangunan, bisnis. Padahal, kesemuanya adalah hak generasi negeri ini yang harus dikelola oleh negara.

Sempitnya lapangan kerja dan mahalnya harga kebutuhan hidup akibat sistem kapitalisme di negeri ini telah membuat generasi lebih cenderung menyukai cara-cara instan untuk meraih materi. Tanpa berfikir panjang standarnya halal atau haram, merugikan atau mangunguntungkan dirinya dan orang lain, dan sebagainya. Pokoknya, hidup alirkan masing-masing.

Walhasil, negara kehilangan perannnya dalam mengurus generasi ini bahkan ironisnya mendukung kegagalan tersebut dengan mendorong generasi-generasi ini untuk berkarya instan dan dibangga-banggakan. Sehingga di sisi lain, pengeluaran negara untuk membuka lapangan kerja tampaknya berkurang dan tidak jadi persoalan yang berat. Karena dianggap, generasi gadget hari ini mampu berkarya dan menghidupi sendiri kehidupannya dengan konten-konten sesuai karyanya. Artinya, lapangan kerja diberikan ke WNA pun nantinya tidak akan jadi masalah besar bagi generasi negeri ini.

Ketiga, dari segi ketertiban dan keamanan lingkungan. Pelaku Citayam fashion week dinilai kurang memahami peraturan. Seperti mengganggu lalu lintas masyarakat yang berkendaraan karena mereka beraksi di jalan raya. Padahal, jalan raya adalah hak umum dan kenderaraan bukan untuk panggung fashion jalan (fashion street). Hal tersebut juga memperkuat dugaan bahwa generasi negeri inipun kepeduliaannya terhadap peraturan dan kepentingan serta keselamatan umum sudah minim. Bukankah ini wajah asli dari generasi individuliastik hasil didikan sistem kapitalis?

Keempat, dari segi religion values (nilai-nilai agama). Jika melihat fakta yang ditampilkan oleh para pelaku Citayam fashion week, secara nilai agama khususnya Islam amat ironis. Bagi kaum hawa dalam Islam tentu tidak dibenarkan berlenggak-lenggok di depan umum dengan menari-nari ditambah mekap tabarruj juga pakaiannya yang mengumbar aurat di publik. Selain itu, juga sebagian gayanya seperti mengalami penyimpangan gender. Cowok berlagak bak cewek melenggang, pun begitu sebaliknya.

Dengan demikian, berdasarkan keempat poin analisis tersebut, lalu apa yang layak didukung dari fenomena Citayam fashion week? Bukankah sudah terbukti nyata bahwa hal tersebut merupakan potret salah urusnya negara ini mengayomi generasi muda. Belum lagi nanti bisa jadi dimanfaatkan dalam politik praktis mendulang citra para sebagian politisi dan pejabat yang kelihatannya mendukung dan menodorongnya sehingga dianggap akrab dengan kaum millennial. Segala kemungkinan bisa terkait bukan?

Islam Solusi Cerdas Mengurus Generasi

Bicara tentang fakta atau fenomena yang dipandang sebagai masalah, tentu mebutuhkan solusi untuk menyelesaikannya. Maka untuk fenomena Citayam fashion week yang terjadi akibat salah urus negara terhadap pemuda/generasi muda, maka Islam adalah jawabannya sebagai solusi.

Islam dengan syariatnya mengatur urusan kehidupan manusia dengen totalitas, tidak terkecuali mengarahkan para penguasa untuk mengelola negara atau rakyatnya. Sehingga tidak terjadi kezaliman dan kerusakan akibat kelalaian yang berasal dari kesalahan mengurusnya.

Adapun Islam memberikan solusi dalam menghadapi Citayam fashion week adalah sebagai berikut.

Pertama, karena fenomena Citayam adalah persoalan pengahasilan materi (uang), tentu berhubungan dengan lapangan kerja. Maka di sinilah kewajiban negara menurut Islam untuk membuka lapangan kerja bagi pemuda (generasi millennial) dengan seluas-luasnya. Negara harus mengelola sumber daya alam dengan benar yaitu tanpa investor asing negara-negara kapitalis (kafir harb). Sebab investasi adalah utang, dan utang adalah sandera politik untuk memuluskan penjajahan dalam ideologi kapitalis.

Kedua, urusan lapangan kerja adalah urusan pengelolaan SDA, maka negara harus berani mencabut para investor negara-negara kapitalis seperti China, AS, Australia, Jerman, Inggris dari negeri ini. Serta mencampakkan pemikiran-pemikiran mereka (ideologi kapitalisme) yang telah menancap di benak masyarakat. Caranya, dengan menerapkan syariat Islam secara totalitas.

Sejarah memiliki bukti-bukti yang valid tentang kisah suksesnya generasi di zaman kejayaan Islam. Zaman yang menerapkan Islam sebagai ideologinya, hukumnya, dan tata sosio kulturnya.

Sehingga lahirlah pemuda/generasi-generasi hebat dan cemerlang sekelas Ali bin Abu Thalib, Bilal bin Rabah, Muhammad Al-Fatih, Muhammad bin Qassim, Ibnu Sina, Imam al-Ghazali, Imam Syafi’I dan ratusan ulama serta saintis Muslim lainnya. Semuanya adalah generasi muda emas hasil penerapan syariat Islam.

Tentunya keberhasil para generasi suatu negeri harus ditopang oleh ideologi yang kuat. Dan itu hanyalah Islam. Karena merupakan ideologi yang bersumber dari wahyu bukan buatan manusia tentu mengalahkan yang lainnya. Islam sangat memperhatikan generasi muda karena dipandang sebagai aset berharga yang menopang masa depan agama, bangsa, negara, bahkan dunia.

Penerapan Islam secara totalitas akan menjadi jawaban yang tepat untuk menyelesaikan gagalnya negara atau salah urus generasi negeri ini. Allahu a’lam bissawab.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • DPRD Madina Diminta Panggil Kakan Pertamanan

    DPRD Madina Diminta Panggil Kakan Pertamanan

    • calendar_month Kamis, 27 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    *Terkait Sampah Menumpuk PANYABUNGAN : Terkait sampah yang menunpuk di sepangjang jalan Abri kelurahan Panyabungan II Kecamatan Panyabungan Kota Kabupaten Mandailing Natal, di minta kepada DPRD Madina harus panggil Kepala kantor Pertamanan, Kebersihan dan Pemadam Kebakaran. Hal ini Sampah di sepanjang Jalan Abri Kelurahan Panyabungan II, tumpukan sampah di sepanjang jalan Abri tersebut lebih disebabkan […]

  • Seluruh Galundung di Kota Panyabungan Ditertibkan Tahun 2015

    Seluruh Galundung di Kota Panyabungan Ditertibkan Tahun 2015

    • calendar_month Rabu, 24 Sep 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Seluruh unit-unit gelondongan batu emas (Galundung-bahasa Mandailing) yang berserak di pemukiman-pemukiman kota Panyabungan, Mandailing Natal akan ditertibkan pada tahun 2015. Pihak Polres dan Pemkab Madina sudah melakukan koordinasi terkait rencana penertiban ini. Saat ini pihak Pemkab Madina sudah menyatakan akan menampung anggaran dananya pada tahun 2015, sehingga program penertiban gelondongan […]

  • Mandailing dan Kebenaran yang Memerdekakan

    Mandailing dan Kebenaran yang Memerdekakan

    • calendar_month Rabu, 15 Nov 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Keluhuran ilmu pengetahuan adalah anugrah yang sangat penting yang diberikan tuhan kepada manusia. Dengan  ilmu pengetahuan, kita semakin memahami semua yang ada di sekeliling kita, termasuk sejarah masa lampau. Kebenaran mampu diungkap manusia dengan perangkat-perangkat ilmu pengetahuan itu. Oleh karenanya, wahyu yang diturunkan Allah Swt kepada Rasululah SAW adalah “iqra”. Bacalah. Kebenaran itu memerdekakan. Demikian […]

  • 69 tewas selama Lebaran di Sumut

    69 tewas selama Lebaran di Sumut

    • calendar_month Senin, 27 Agt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN- (MO), Hingga hari ke-14 selama Lebaran, pelaksanaan Operasi Ketupat Toba 2012 yang digelar di wilayah hukum Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Poldasu) terjadi 249 kasus kecelakaan lalulintas dengan mengakibatkan 69 orang tewas akibat kecelakaan lalulintas (Lakalantas) dan 188 orang mengalami luka berat serta 332 orang cidera ringan dengan kerugian materi mencapai Rp786.570.000,-. “Selama 14 hari […]

  • Syamsul Hobi Beli Berlian

    Syamsul Hobi Beli Berlian

    • calendar_month Selasa, 19 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA- Masih ingat berita mengenai penggeledahan rumah pribadi Syamsul Arifin, yang beralamat di Jalan STM Suka Darma Nomor 12, Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Medan Johor, Sumut pada 15 Nopember 2010? Saat itu, tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyita uang cash ratusan juta rupiah, ratusan juta uang asing, serta sejumlah emas dan berlian. Untuk uangnya saja […]

  • Mobil Terseret Kereta Api 150 Meter, Dua Tewas

    Mobil Terseret Kereta Api 150 Meter, Dua Tewas

    • calendar_month Jumat, 18 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    LUBUK PAKAM- Kecelakaan di perlintasan kereta api (KA) kembali terjadi. Minggu (13/3), KA Kelas Eksekutif Sei Bilah menyeruduk kijang kapsul warna hitam mengenakan nopol dinas (warna merah) BB 158 F, di Desa Tumpatan Pasar Sore Kecamatan Beringin, sekitar pukul 15.30 WIB. Akibat peritiswa ini pengemudi mobil Ali Usman (53) warga Desa Kampung Sepiah, Kota Padang […]

expand_less